Oregairu Bab 7 Bagian 5

==========================================================
Setelah sebelumnya karakter lain yang sering mendapat sorotan, kini, di bagian ini, sang protagonis kita, tampil dengan kerennya...
Ane sempat lupa kalau Hachiman itu memang keren...
Jadi, pesan moral di bagian ini adalah, "Plot twist itu nyata adanya"...
Biar begitu, mungkin gak hanya ane saja, tapi agan sekalian setelah membaca bagian ini, mungkin bakal berpikir kalau Hachiman memang wajar "dianggap kalah"...
Bagaimana menurut agan sekalian...?

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 5


Keheningan yang tak wajar menyelimuti lapangan. Satu-satunya yang bisa terdengar hanyalah suara bola yang memantul di tanah.

Di tengah suasana tegang yang aneh itu, aku memaksa kesadaran yang ada jauh dalam diriku.

Aku bisa... aku bisa... aku meyakinkan diriku — tidak, aku sudah yakin akan diriku.

Lagi pula, tak ada alasan bagiku untuk kalah di sini.

Aku adalah orang yang sudah bertahan seorang diri dari sia-sia, menyedihkan dan menyakitkannya kehidupan sekolah, yang sudah menjalani pahit dan menderitanya masa remaja ini seorang diri. Jadi tak ada alasan bagiku kalah dari mereka yang menggantungkan diri pada orang banyak di setiap langkahnya.

Istirahat makan siang akan segera berakhir.

Biasanya di waktu seperti ini aku sudah menyantap habis makan siangku di dekat ruang UKS di seberang lapangan.

Ingatan tentang pembicaraanku dengan Yuigahama di tempat itu, obrolan pertamaku dengan Totsuka, semuanya terlintas di benakku.

Kubuka telingaku lebar-lebar.

Tak bisa kudengar suara mengejek Miura; tak bisa kudengar suara sorakan para penonton...

Tapi aku mendengar suara itu... suara yang aku, dan mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya sepanjang tahun ini.

Di saat itu, kulancarkan sebuah servis.

Itu adalah servis ringan, mudah dan tak bertenaga yang melambung tinggi ke angkasa.

Kulihat Miura bergegas menuju ke arah bola. Kulihat Hayama dengan sigap mengikutinya. Kulihat para penonton yang tampak merasa kecewa. Sekilas kulirik Totsuka yang pandangannya sudah tertunduk ke tanah. Kuabaikan Zaimokuza yang sedang mengepalkan tangannya. Aku saling bertatapan dengan Yuigahama yang mulai berdoa. Lalu pandanganku pun tertuju pada senyum kemenangan yang disunggingkan Yukinoshita.

Pukulan bolaku melayang ke arah yang tak tentu.

"Hyaaahh!!"

Miura menjerit layaknya seekor ular buas dan akhirnya sampai di posisi bola akan mendarat.

Tepat pada saat itu, angin pun berhembus.

Miura mungkin tidak tahu...

...soal istimewanya angin laut yang berhembus di penghujung istirahat makan siang, yang membuat unik SMA Soubu dan lingkungan sekitarnya.

Bolanya goyah dan tersapu naik ke atas oleh angin. Membuatnya menjauh dari Miura dan memantul di tepi lapangan, tetapi hayama sudah berlari mengejar bolanya.

Hayama mungkin tidak tahu...

...kalau angin ini tak hanya berhembus satu kali saja.

Cuma aku satu-satunya yang tahu soal ini. Aku, yang sepanjang tahun duduk di sana seorang diri, yang tak berbicara dengan siapa pun, yang hanya menghabiskan waktu tanpa ada yang tahu... dan hanya angin itu satu-satunya yang tahu tentang masa-masa tenang yang kuhabiskan seorang diri.

Dan itulah bola melengkung ajaib yang hanya aku, dan memang cuma aku, yang sanggup melakukannya.

Hembusan angin yang kedua menyapu naik bolanya, meskipun bola itu telah memantul.

Setelah itu, bolanya jatuh ke tanah di pojok paling ujung lapangan kemudian menggelinding.

Mulut semua orang pun terbungkam, telinga mereka pun terbuka lebar, dan mata mereka pun terbelalak.

"Ah, kini aku ingat pernah mendengarnya... sebuah keahlian yang membuat penggunanya bisa mengendalikan angin sesukanya, Pewaris Angin, Eulen Sypheed!"

Cuma Zaimokuza satu-satunya anak yang tak mendapat arahan dan malah berteriak keras.

Kuharap ia berhenti menamai secara acak pukulanku barusan. Sial... suasananya malah jadi rusak gara-gara dirinya.

"Eng-enggak mungkin..."

Miura tampak sangat syok. Gumamannya mulai memancing reaksi penonton; mulanya mereka hanya berbisik-bisik, namun perlahan suara mereka berubah menjadi seruan, "Eulen Sylpheed! Eulen Sylpheed!" Ya Tuhan, semoga itu tidak sampai jadi heboh...

"Kami gagal... yang tadi itu memang bola melengkung ajaib."

Hayama menghadapiku sambil tersenyum. Ia tersenyum layaknya kami sudah berteman lama... sewaktu membalas senyumnya itu, kugenggam erat bola dan berdiri tanpa bisa bergerak.

Aku benar-benar tak tahu harus seperti apa menanggapi situasi seperti ini.

Yang ada, aku malah memulai percakapan sia-sia.

"Hayama. Apa saat kecil kau pernah memainkan bisbol?"

"Iya. Aku sering memainkannya... kenapa?"

Hayama tampak kebingungan akan pertanyaan yang tiba-tiba kusodorkan padanya itu, tapi ia tetap menjawabku tanpa ragu. Mungkin ia memang orang yang baik...

"Perlu berapa banyak orang supaya bisa memainkannya?"

"Eh...? Kalau enggak sampai delapan belas orang, kau enggak bisa bermain bisbol."

"Ya, sudah kuduga... tapi asal tahu saja, selama ini aku memainkannya seorang diri."

"Eh? Maksudmu?"

Tanya balik Hayama, tapi kupikir ia takkan mengerti andai kujelaskan.

Maksudku tadi bukanlah permainan bisbol tunggal.

Apa mereka mengerti deritanya mengayuh sepeda sendirian layaknya orang bodoh di tengah teriknya matahari musim panas dan menusuknya hawa musim dingin? Yang biasanya mereka alihkan dengan keluhan, Panas banget! Dingin banget! Gawat, nih! Dan semua itu sudah kulalui seorang diri.

Memangnya mereka tahu... memangnya mereka mengerti betapa menakutkannya saat tak bisa bertanya pada siapa-siapa mengenai bahan ujian yang akan datang, dan akhirnya diam-diam belajar sendirian lalu menerima langsung akibatnya. Mereka bisa sampai seperti ini karena mereka saling memeriksa jawaban masing-masing, saling membandingkan nilai ujian mereka, saling membodoh-bodohi ataupun memuji satu sama lain dan lari dari kenyataan, sementara aku menghadapi kenyataan itu seorang diri.

Apa kira-kira pendapat mereka? Bukankah aku tampak seperti manusia paling tangguh?

Tersapu oleh emosi-emosi itu, aku bersiap melakukan servis.

Kutekuk satu kaki ke depan dan menarik kencang satu sisi tubuhku ke belakang layaknya busur yang siap menembak. Lalu kulambungkan bola ke udara. Kugenggam erat raketku dengan kedua tangan dan memosisikannya di belakang leherku.

Lagit yang biru, musim semi yang hendak berlalu, dan musim panas yang akan menghampiri... aku sudah muak dan mengutuk semua itu.

"Masa Remaja, sialan!!!"

Dengan segenap kekuatan, seiring bola turun mendekatiku, kupukul bola ke udara dengan ayunan ke atas.

Bolanya sampai menimbulkan bunyi *takk!* sewaktu tepat menghantam tepi rangka raketku, yang kemudian melesat naik ke atas seakan langit yang mengisapnya.

Bola itu pun naik semakin tinggi. Pada titik tertentu, bolanya terlihat seperti bintik yang lebih kecil dari sebutir beras.

"I-itu... sang roh kehancuran yang melambung tinggi menembus langit, Meteor Strike!"

Seru Zaimokuza sambil mencondongkan badannya ke depan. Lagi-lagi... kenapa ia harus memberi nama untuk pukulanku?

"Meteor Strike..." Beberapa anak lain di antara para penonton pun mulai membisikkannya. Ya ampun, kenapa mereka juga ikut-ikutan?!

Itu bukan perkara besar... itu hanya sekadar permainan pukul-tangkap.

Biar kujelaskan. Saat masih kecil, aku tidak punya banyak teman, maka dari itu kukembangkan sebuah olahraga baru dari bisbol tunggal — aku melempar, memukul, dan menangkap bolanya sendiri. Saat berusaha merancang skema agar permainan bisa berlangsung lebih lama, aku sadar bahwa cara terbaik untuk memperlama irama permainan adalah dengan skema pukul-tangkap itu sendiri.

Jika bolanya berhasil kutangkap, maka si pemukul dinyatakan out, dan jika bolanya luput tapi bisa ditangkap setelah memantul, maka pukulan itu dianggap masuk. Jika aku memukul bolanya terlalu jauh, maka itu kuhitung sebagai home run. Salah satu kelemahan permainan ini adalah sekali aku memutuskan bermain di pihak mana (entah sebagai pemukul atau penangkap), maka permainan akan cenderung berat sebelah. Untuk memainkan bisbol ini, sangatlah penting untuk bersikap obyektif seolah sedang bermain suten dengan diri sendiri. Yang seperti ini tak patut dicontoh; bermain dengan teman-teman jauh lebih bijaksana.

Namun itulah simbol dari terasingnya diriku, dan itu pula yang menjadi senjata terkuatku.

Itu adalah palu yang jatuh dari kehampaan dan menghancurkan mereka yang mengagungkan masa remaja.

"A-apa itu?"

Miura mendongak ke atas sambil kebingungan. Hayama pun menatap tinggi ke angkasa, namun ekspresinya mendadak berubah panik lalu berteriak.

"Yumiko! Mundur!"

Teriak Hayama pada Miura yang kini terpaku dengan wajah syok. Sudah kuduga, Hayama sadar dengan yang sedang terjadi... sayangnya, ia sudah terlambat.

Bola tenis itu pun terus melaju ke atas, tapi kecepatannya berangsur berkurang akibat pengaruh gravitasi, hingga dua daya itu mencapai titik keseimbangan lalu membuat laju bola terhenti.

Ketika kemudian keseimbangan itu hancur, energi potensial bola berubah menjadi energi kinetik. Bola itu pun mulai terjun bebas. Seketika menghantam tanah, energi dari bola itu hendak meledak.

Setelah melayang begitu lama di angkasa, bola tersebut akhirnya memecut tanah hingga menciptakan kepulan debu, lalu memantul kembali, melambung tinggi ke udara.

Bermaksud ingin memukul balik, Miura mengejar bola itu sambil menerobos kepulan debu dengan langkah tak beraturan. Bolanya terbang tak menentu menuju pagar ram di belakang lapangan.

Gawat... Miura akan menabrak pagar ram tersebut.

"Ugh!"

Hayama membuang raketnya dan berlari mengejar Miura.

Apa ia akan sempat?! Ataukah tidak sempat?!

Sesaat dua anak tersebut menghilang dari pandangan di antara kepulan debu.

Seketika suasana jadi sunyi senyap.

Kudengar suara seseorang menelan ludahnya... nyatanya, mungkin itu diriku sendiri.

Lalu kepulan debu tersebut perlahan menghilang, dan dua anak tadi kembali terlihat.

Punggung Hayama sudah menghantam pagar ram sambil memeluk Miura untuk melindunginya. Wajah Miura tersipu sembari ia mencengkeram lembut baju Hayama.

Sesaat kemudian, suasana meledak dalam sorakan keras dan tepuk tangan yang bergemuruh. Itu adalah apresiasi penuh seluruh penonton.

Hayama membelai kepala Miura untuk menenangkannya, dan wajah Miura pun semakin memerah.

Sambil bersorak, para penonton pun mengelilingi Hayama dan Miura.

"HA~ YA~ TO~ GO!! HA~ YA~ TO~ GO!!"

Dalam suasana gegap gempita itu, bel penanda berakhirnya istirahat makan siang pun berbunyi. Rasanya benar-benar seperti menyaksikan adegan ciuman yang dilanjutkan dengan kredit penutup dalam sebuah film.

Pada akhirnya semua orang sudah diliputi oleh rasa puas dan kelelahan. Mereka seperti habis menonton sebuah film heroik yang menegangkan atau membaca sebuah komedi romantis remaja yang menghibur.

Dan begitulah, para murid menyanjung dua anak itu dengan sorakan, "Hore! Hore!" Lalu sosok mereka menghilang ke dalam gedung sekolah.

TAMAT.

Ah, aje gile.




9 tanggapan:

peramax gann ....
arigatogazaimasu ...

Hachiman keren kan...
Hkhkhkhkhk....

Kemenangan dengan rasa kekalahan :v

Hikigaya memang kece :v
Lanjut gan :D

Hmm... Baiklah, izinkan ane menuangkan pendapat...

*Ceileh... Hkhkhk...

Menurut ane tujuan pertandingan tenis di cerita ini sudah berubah semenjak Yukinon ikut serta...

Bukan lagi untuk memperebutkan lapangan, tapi sudah cenderung ke pertaruhan harga diri yang imbasnya ke persaingan popularitas...

Hachiman kalah bukan karena kesalahannya.. Justru dia berhasil mengembalikan dominasi (secara moral) yang sudah diciptakan Yukinon...

Tapi di sinilah hebatnya kuasa "The Zone" milik Hayama... Poin bukanlah kunci untuk menang... Karena sebenarnya penontonlah yang menjadi juri dalam pertandingan... Dan tindakan heroik Hayama berhasil memenangkan hati seluruh juri yang ada di lapangan, gak terkecuali Hachiman sendiri...

Karena itu ane merasa kalau Hachiman memang pantas dianggap kalah di pertandingan ini...

Sori tl;dr...

Hkhkhkhk...

Posting Komentar