Oregairu Bab 7 Bagian 4

==========================================================
Andai ane gak pernah nonton anime-nya mungkin ane bakal lebih deg-degan baca bagian ini...
Sumpah... Mulai dari awal sampai akhir, penggambaran kejadiannya begitu bagus, hingga di akhir bagian (yang rasanya kayak plot twist) bikin ane gak sabar mau tahu kelanjutannya... (Walau sebenarnya sudah tahu seperti apa ceritanya...)
Yang pasti bagian-bagian terakhir ini memang pantas dijadikan klimaks dalam LN ini...
Tambahan... Staccato adalah istilah dalam musik yang cara memainkan atau menyanyikan atau memperdengarkan suatu nada atau serangkaian nada pendek-pendek, terputus-putus...

Hiei adalah salah satu karakter dari seri Yu Yu Hakusho yang berwatak dingin dan tetap bersikap kalem meski dalam keadaan terdesak...
Mungkin untuk ke depannya hingga minggu ketiga bulan ini update akan lebih lama, karena RL dan fokus ke proyek lainnya...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 4


Begitulah, semua pihak yang berhubungan dengan pertandingan tenis ini pun berkumpul. Pertandingan ini akhirnya melaju ke fase final yang sesungguhnya.

Tim Hayama dan Miura yang pertama kali jalan. Nyonya Kupu-Kupu alias perempuan gulungan vertikal alias Miura yang melakukan servis.

"Oh, iya, Yukinoshita. Entah kau tahu soal ini atau enggak, tapi aku benaran jago dalam tenis."

Ujar Miura sewaktu berulang kali memantulkan bola tenis ke tanah lalu menangkapnya, hampir seperti sedang mendribel bola basket. Tapi Yukinoshita bergeming; matanya hanya menunggu kelanjutan aksi Miura.

Miura tersenyum. Senyumnya itu sungguh berbeda dengan senyum yang ditunjukkan Yukinoshita sebelumnya... itu adalah senyum seekor hewan buas.

"Jangan salahkan aku kalau bolanya mengenai wajahmu."

...wuah, menakutkan. Ini pertama kalinya kudengar seseorang membuat prediksi seperti itu.

Saat memikirkannya, kudengar suara *wuuuss* dan sedikit bunyi dari bola yang dipukul.

Bolanya melesat kencang ke sisi kiri Yukinoshita dan menyerempet garis sisi kiri lapangan. Yukinoshita adalah pengguna tangan kanan, jadi pukulan itu ada di luar jangkauannya.

"...gampang."

Bersamaan dengan kudengarnya bisikan itu, Yukinoshita sudah bersiap untuk mengembalikan bola. Ia memancangkan kaki kirinya ke tanah dan menggunakannya sebagai tumpuan, lalu ia berputar seolah sedang berdansa waltz. Itu adalah backhand sempurna yang dilancarkan oleh raket yang digenggam tangan kanannya.

Raketnya berayun layaknya pedang samurai, dan bola yang dikembalikannya melaju kencang ke arah Miura.

Bolanya jatuh ke sisi Miura, dekat di kakinya, dan ia sedikit terpekik sewaktu bolanya memantul kembali. Pengembalian cepat tadi membuat Miura tersentak.

"Entah kau tahu soal ini atau tidak, tapi aku juga benar-benar jago dalam tenis."

Yukinoshita menghunuskan raketnya ke arah Miura dan menatap dingin perempuan itu, hampir seakan sedang melihat seekor serangga. Miura termundur ke belakang, menatap balik Yukinoshita dengan rasa takut dan benci. Bibirnya sedikit menekuk dan ia mulai melontarkan umpatan. Sampai bisa membuat Ratu Miura jadi terlihat seperti itu... Yukinoshita memang luar biasa.

"...hebat juga kau bisa mengembalikan bola tadi."

Yukinoshita tak menunjukkan sedikit pun reaksi terhadap ekspresi menggertak yang ditampakkan wajah Miura, melainkan hanya tertuju tepat pada satu titik.

"Wajah perempuan itu mirip sekali seperti wajah para senior yang dulu pernah mengerjaiku. Mudah untuk mengetahui betapa rendahnya orang tersebut."

Yukinoshita menyunggingkan senyum kemenangan lalu mulai menyerang.

Bahkan pertahanannya adalah serangan. Ini tak seperti yang biasanya orang lawas katakan, Pertahanan terbaik adalah menyerang — permainan bertahannya begitu agresif. Ia akan menjatuhkan servis tepat ke sisi lapangan lawan sebagai balasannya, dan setiap bola yang menuju ke arahnya akan dikembalikan sepenuh tenaga.

Para penonton pun menjadi kecanduan akan keindahan permainannya.

"Fuahaha! Anak buahku sungguh kuat! Ayo libas mereka semua!"

Zaimokuza terjebak dalam aroma kemenangan dan akhirnya kembali ke pihak kami, dan kini ia benar-benar berada di pusat perhatian. Itu membuatku jengkel... tapi di sisi lain, fakta bahwa Zaimokuza berada di pihak kami adalah tanda kalau keadaan sudah berbalik.

Saat aku dan Yuigahama yang bermain tadi, kami merasa benar-benar sedang bermain di kandang lawan, tapi perlahan kini para penonton berpihak ke sisi Yukinoshita. Soalnya, semua anak lelaki kini tengah memandang Yukinoshita dengan menggebu-gebu.

Yah, memang benar kalau Yukinoshita adalah spesies yang berbeda, dan tak banyak yang tahu seperti apa sifat aslinya. Dan tentu saja ia juga begitu cantik. Ia juga punya aura misterius yang mengelilinginya; kesan yang dipancarkannya bagai sekuntum bunga yang tumbuh di puncak tertinggi sebuah gunung, yang tak mungkin untuk dipetik. Bukan berarti kalau ia terlihat menakutkan, tapi dirinya terasa seperti sesosok makhluk yang tak tersentuh yang tak boleh diajak bicara.

Sudah tentu Yuigahama punya keberanian yang besar hingga bisa sedikit menembus penghalang itu... dan bisa jadi ia juga orang yang sangat bodoh.

Akan tetapi, sikap jujurnya yang kolot dan kebaikannya yang apa adanya itu mampu menggetarkan hati Yukinoshita. Yuigahama satu-satunya manusia yang sanggup meyakinkan Yukinoshita agar bisa datang kemari hari ini, dan Yukinoshita pun bermain dengan segenap kemampuannya demi membalas keberanian Yuigahama itu. Ia mungkin takkan datang andai aku yang memintanya.



Selisih angka kami yang besar perlahan menipis.

Sewaktu menyaksikan Yukinoshita yang berputar ke kiri dan ke kanan di tengah lapangan, aku selalu membayangkan kalau ia tampak seperti seekor peri. Gerak kakinya yang bagai tarian itu merupakan atraksi seorang bintang di atas panggung. Aku hanya pemain figuran di sini, dan setiap kali menerima bola, aku merinding saat semua orang menatapku. Seakan mereka ingin berkata, Jangan kau!

Namun harapan para penonton terkabulkan — kini giliran Yukinoshita yang melakukan servis.

Ia cengekeram bolanya lalu melambungkannya ke udara. Bola itu hampir tampak seperti terisap oleh langit biru sewaktu melayang ke tengah lapangan. Bola tersebut tampak takkan jatuh di dekat posisi Yukinoshita berada.

Semua orang bakal mengira kalau bolanya luput, akan tetapi...

Yukinoshita terbang.

Ia melangkah ke depan dengan kaki kanannya, membuat dorongan dengan kaki kiri, lalu melompat saat kedua kakinya sejajar. Itu merupakan langkah ringan layaknya staccato.

Kemudian ia melayang ke udara dengan anggunnya. Posisi tubuhnya bagai seekor elang yang dengan halusnya meluncur ke angkasa, dan tak ada seorang pun yang tidak terkejut oleh pemandangan tadi. Dirinya begitu gesit dan elok dipandang. Tak ada yang berkedip sewaktu mereka merekam kejadian ini di ingatan mereka.

Suara melengking terpekik melalui udara, kemudian bolanya bergulir jauh di atas tanah. Para penonton, aku, Hayama, Miura... tak seorang pun yang sanggup menggerakkan diri.

"...ser... servis lompat..."

Ucapku, namun aku hampir kehilangan kata-kata. Menyaksikan hal tak masuk akal yang dilakukan Yukinoshita itu membuatku tak bisa menutup mulut yang menganga ini. Kami sempat jauh tertinggal, tapi ia dengan mudah mengejarnya. Bahkan kini kami unggul dua angka, dan jika kami berhasil meraih angka lagi, maka kami akan memenangkan pertandingan ini.

"Kau memang luar biasa. Tetap seperti itu dan kita menangkan ini dengan mudah."

Aku begitu yakin hingga bisa berkata begitu, namun Yukinoshita tiba-tiba merengut.

"Mauku memang begitu, tapi... rasanya itu mustahil."

Ingin kutanyakan alasan ia berkata begitu, namun kulihat Hayama sudah bersiap melakukan servis.

...terserahlah... tampaknya kami akan menang begitu Yukinoshita melancarkan pengembalian bola andalannya. Aku takkan lengah, aku yakin kalau kami akan menang sewaktu bersiap menghadapi servis itu.

Hayama juga tampak kehilangan sedikit motivasi untuk bermain; servisnya tak ia lakukan sekuat tenaga seperti sebelumnya. Servisnya memang cukup cepat, tapi itu hanya servis biasa, dan bolanya melaju ke ruang di antara aku Yukinoshita.

"Yukinoshita."

Kupikir bola itu lebih baik kuserahkan padanya, makanya tadi aku memanggil namanya. Namun ia tidak menanggapiku. Yang kudengar justru suara datar dari pantulan bola yang jatuh di antara kami.

"He-hei!"

"Hikigaya... apa kau tak keberatan jika aku sedikit sesumbar?"

"Hah? Lagi pula, ada apa dengan permainanmu barusan?"

Yukinoshita tak tampak peduli dengan ucapanku, tetapi justru menghela napas panjang dan menjatuhkan diri di tengah lapangan.

"Sejauh yang bisa kuingat, aku selalu bisa melakukan segala hal, karena itu aku tak pernah berlama-lama menanganinya."

"Terus kenapa mendadak bicara begitu?"

"Bahkan dalam tenis, ada seseorang yang melatihku di olahraga tersebut, namun setelah tiga hari aku bisa melampauinya... tidak, tidak hanya olahraga, bahkan musik juga. Aku bisa menguasainya hanya dalam tiga hari saja."

"Wah, kau mirip kebalikan dari pengangguran tiga hari. Dan ternyata kau memang cuma mau sesumbar! Jadi maksudnya semua ini apa?"

"Satu-satunya hal yang tak kuyakini adalah ketahanan fisikku."

Kudengar suara pantulan bola lainnya yang melesat dan berdesing di dekat Yukinoshita.

Sudah sangat terlambat mengatakan hal tersebut di saat seperti ini...

Karena Yukinoshita bisa melakukan segala hal, ia tak pernah terjebak dalam suatu hal, dan ia tak pernah berlama-lama dalam hal apa pun. Itu berarti ketahanan fisiknya adalah titik lemahnya. Pantas saja yang selalu ia lakukan hanyalah menonton kami sedang latihan saat istirahat makan siang... yah, jika diingat kembali, ini memang sudah kelihatan jelas. Jika ingin lebih baik dalam suatu hal, maka caranya adalah dengan berlatih, dan semakin banyak berlatih, semakin kita bisa meningkatkan ketahanan fisik kita.

Namun karena dari awal ia bisa melakukan segala hal dengan begitu baik, makanya ia tak pernah berlatih. Dan itu sebabnya ketahanan fisik yang dimiliki perempuan itu begitu lemah.

"Uh, tapi kau tak harus mengatakannya dengan suara sekeras itu, 'kan...?"

Aku menoleh ke arah Hayama dan Miura, lalu melihat Ratu Hewan Buas itu sedang tersenyum bengis.

"Oh, tapi kami sudah dengar, lo~~"

Ujar Miura dengan agresif. Terlihat kalau semua kesulitannya baru saja sirna. Tepat di sebelahnya, Hayama juga tertawa kecil.

Ini situasi yang paling buruk... sesaat setelah kami memimpin pertandingan, mendadak perolehan angka menjadi deuce.

Kami memang pemain pemula dalam tenis yang memiliki peraturan aneh ini. Tapi kami paham kalau dalam keadaan deuce, kemenangan bisa diraih kalau bisa memimpin dengan selisih dua angka.

Andalan kami, Yukinoshita, sudah kehabisan seluruh staminanya dan kini hanya terdiam. Tak hanya itu, lawan kami sudah sadar betul akan situasi ini. Buktinya, servisku sudah tak ampuh lagi melawan mereka — mereka dengan mudah mengembalikannya, dan akhirnya jadi seperti itu.

"Ia boleh saja mengganggu jalannya pertandingan tadi, tapi sepertinya semua sudah berakhir, ya 'kan?"

Aku tak bisa membalas ucapan agresif Miura tadi. Yukinoshita pun masih terdiam... malahan, ia sempat mengangguk. Ia tampak kelelahan. Apa-apaan itu? Memangnya ia itu Hiei, apa?

Miura memandang angkuh ke arah kami dan tertawa dengan senangnya. Sepertinya ia ingin segera mengakhiri ini. Aku merasa seperti sedang ditatap oleh seekor ular... memangnya perempuan ini anaconda, apa?

Hayama merasakan suasana berbahaya ini dan mencoba menyela.

"Su-sudah, sudah, semuanya sudah berusaha keras... enggak usah terlalu serius. Lagi pula pertandingannya menyenangkan, jadi kita anggap seri saja, ya?"

"Ap—? Hei, Hayato, kau itu bicara apa? Ini pertandingan, lo. Kita harus serius dan melakukannya sampai selesai."

Dengan kata lain, mereka akan memenangkan pertandingan dan secara sah mengambil alih lapangan ini dari Totsuka. Ditambah, ucapan, Melakukannya sampai selesai tadi... mengerikan sekali. Kira-kira apa yang mau ia perbuat kepadaku... aku sama sekali tak suka ini... jangan-jangan itu bakal menyakitkan? Aku tak suka saat semuanya jadi terasa menyakitkan...

Seketika aku berdiri menunggu, kudengar ada seseorang yang berdecak.

"Bisakah kalian tenang dulu?"

Ujar Yukinoshita terdengar tidak senang. Ia lalu lanjut berbicara sebelum Miura sempat menanggapinya.

"Anak ini yang akan mengakhiri pertandingannya. Jadi kalahlah dengan terhormat."

Semua yang di sini meragukan apa yang baru didengar mereka tadi. Tentu saja termasuk diriku... malahan, akulah yang paling terkejut di sini.

Mendadak semua mata tertuju padaku. Hingga tadi, keberadaanku tidaklah diakui, tidak pula diinginkan. Namun mendadak aku merasa keberadaanku kini begitu menguat.

Aku saling bertatapan dengan Zaimokuza. Untuk apa ia mengacungkan jempol segala?

Aku saling bertatapan dengan Totsuka. Untuk apa ia menatapku dengan penuh harap begitu?

Aku saling bertatapan dengan Yuigahama. Kuharap ia berhenti menyorakiku, sial... malu sekali rasanya.

Aku saling bertatapan dengan Yukinoshi— ah, ia sudah berpaling. Ia malah melemparkan bola padaku.

"Kau tahu sendiri, bukan...? Kadang aku memang melontarkan hinaan maupun cacian, tapi aku tak pernah menggembar-gemborkan kebohongan."

Angin pun terhenti, mungkin karena itu suaranya begitu jelas terlantang.

Ya, aku tahu itu... yang berbohong di sini hanyalah aku dan mereka saja.




5 tanggapan:

Yukinoshita kece dah!
Thanks gan,ane bakalan tetep nungu lanjutan LN ini

jangan kelaman updatetnya gan,hiks.. hiks...!

yosha akhirnye update jga ...
yukinon kakoi ...
arigatou gan ..

Hkhkhk...
Ditunggu aja gan...

Posting Komentar