Oregairu Bab 7 Bagian 3

==========================================================
Dilihat-lihat lagi, Episode 3 ini panjang banget kalau dalam LN-nya... Banyak adegan yang diringkas bahkan ditiadakan di anime-nya...
Contohnya ya... Adegan seperti di gambar ini... (Sekali lagi terima kasih agan Rize atas taipsetingnya, ditunggu Saekano-nya)
Jadi kalau mau tahu seperti apa visualisasi (yang lumayan lengkap) dari LN-nya, silakan baca manga-nya...
Info tambahan lagi, kanji untuk "kuda" (馬, uma) jika ditambah kanji 鹿, maka akan membentuk kata "bodoh" (馬鹿, baka)...
Info lagi, ternyata sulit menarasikan adegan pertandingan olahraga, ane kira kayak komentator bola begitu, ternyata malah kayak narasi novel aksi, dan itu salah satu alasan ane gak berani ambil genre lain... Satu lagi, di bagian ini ada lagi ilustrasinya...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 3


Pertandingan pun dimulai, dan emosi-emosi saling bergesekan seiring poin yang masuk dalam pasang surutnya serangan maupun pertahanan.

Saat pertandingan baru dimulai, sorakan penonton begitu bergemuruh dan dipenuhi teriakan histeris. Namun sejalan dengan berlangsungnya pertandingan, mata mereka mengikuti ke mana arah pergerakan bola sambil menahan napasnya. Kemudian mereka menghela napas dan bersorak gembira saat poin tercipta. Ini benar-benar mirip seperti pertandingan profesional yang disiarkan di TV.

Di setiap reli panjang yang saling berganti, dengan poin yang saling berbalas, bisa kurasakan kegelisahan yang semakin mengikis syarafku.

Pada akhirnya, keseimbangan tadi dihancurkan oleh servis si gulungan vertikal itu.

*Ping!* Kudengar suara pukulan raketnya. Segera setelahnya, bola melesat turun ke lapangan layaknya sebuah peluru dan semakin membesar di penglihatanku.

Apa-apaan yang barusan itu...? Entah cuma aku, atau memang bolanya juga melesat seperti gulungan vertikal?

Intinya, Nyonya Kupu-Kupu itu ternyata benar-benar pemain kelas atas.

"Ternyata ia memang jago..."

Gumamku tanpa sadar.

"Apa kubilang."

Jawab Yuigahama dengan begitu bangga. Bukankah ia harusnya ada di pihakku?

"Kau sendiri belum memukul satu bola pun sampai sekarang..."

"Ah, eng, sebenarnya... aku jarang main tenis."

Yuigahama terkikih gugup di depanku.

"...kau... kau jarang main tenis tapi memaksakan diri ikut bermain?"

"Eng... i-iya, aku salah!"

Justru sebaliknya... perempuan ini terlalu baik. Ia jarang bermain tenis, dan ia masih memaksakan diri bermain di depan orang banyak demi membela Totsuka... tak semua orang bisa berbuat begitu. Dan itu bisa jadi lebih keren lagi andai ia memang jago bermain tenis. Tapi hidup tak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Aku masih bisa melawan dengan servis terarah dan pengembalian bola terukur yang kuasah lewat latihan memukul bola ke tembok. Namun saat mendekati paruh kedua, perbedaan skor kami kian melebar.

Itu karena lawan kami hampir selalu terfokus pada Yuigahama.

Mereka mungkin terkejut karena aku bisa menangani dan mengubah arah sasaran mereka... atau bisa jadi mereka yang tak menghiraukan keberadaanku.

"Yuigahama, kau jaga bagian depan. Biar aku yang urus bagian belakang."

"Oke."

Setelah menetapkan strategi dasar, kami pun bersiap di posisi yang sudah direncanakan.

Servis Hayama yang keras dan cepat mengarah ke kami. Bolanya melesat ke pojok jauh lapangan dengan akurasi terukur dan melayang melewati kami. Aku melompat ke samping sambil bersusah payah menggapainya. Kujulurkan raketku sejauh mungkin supaya bisa mengenai bolanya. Lalu dengan sekuat tenaga kukembalikan bola itu.

Pengembalianku mendarat di sisi lawan, namun Nyonya Kupu-Kupu seolah sudah bersiap. Ia lalu melesatkan bola ke arah berlawanan. Aku bahkan tak menunggu untuk melihat arah datangnya bola. Aku hanya bergegas maju ke sisi tersebut, yang kukira bolanya akan mengarah ke sana.

Kakiku yang sulit kukendalikan ini masih mau menuruti kehendakku. Kuhadapi bola itu, dan saat memantul kembali, kupukul keras ke arah pojok lapangan.

Akan tetapi, Hayama sepertinya sudah mengetahui rencanaku — ia menunggu pukulanku. Ia mengubah keadaan dengan sebuah drop shot yang mengarah di antara Yuigahama dan aku.

Aku kehilangan keseimbangan hingga tak mungkin meraih bola itu. Aku memandang Yuigahama dengan tatapan memohon, dan ia berlari ke arah bola lalu mengembalikannya... namun ia terlalu kuat memukul bolanya, sehingga bola itu pun melayang tinggi ke angkasa, dan jatuh tepat di posisi Nyonya Kupu-Kupu berdiri.

Bola itu pun dismes keras dengan sekuat tenaga ke arah kami. Nyonya Kupu-Kupu tersenyum sadis saat bola tersebut menyerempet pipi Yuigahama dan melaju ke arah pojok kosong lapangan.

"Kau tak apa-apa?"

Tanpa mengambil bola aku langsung berseru pada Yuigahama yang sudah jatuh terduduk di belakang.

"...yang tadi itu mengerikan sekali..."

Saat mendengar gumaman Yuigahama yang matanya sudah berkaca-kaca itu, Nyonya Kupu-Kupu sesaat terlihat cemas.

"Yumiko, kau memang kejam."

"Ha...?! Bukan, bukan begitu! Yang tadi itu wajar-wajar saja, kok! Enggak mungkin aku sekejam itu!"

"Ah, berarti kau memang manusia sadis."

Gurau Hayama dan Nyonya Kupu-Kupu sambil kemudian tersenyum. Para penonton pun tampak terpengaruh oleh mereka dan ikut tersenyum.

"...Hikki, ayo menangkan pertandingan ini."

Yuigahama lalu berdiri dan mengambil raketnya. "A-aduh!" Kudengar ia sedikit mengaduh.

"Hei, yakin kau tak apa-apa?"

"Maaf... kurasa kakiku terkilir."

Yuigahama tersenyum malu-malu padaku. Matanya pun sudah dipenuhi air mata.

"Kalau kita kalah, nanti bisa jadi masalah buat Sai... ah, gawat, kalau begini bisa gawat... kalau sampai gagal, minta maaf saja enggak bakal cukup... uh!"

Yuigama lalu menggigit bibirnya karena frustasi.

"Baiklah, kita pikirkan jalan keluarnya. Jika terpaksa, kita bisa mendandani Zaimokuza dengan pakaian perempuan."

"Jelas langsung ketahuan, dong!"

"Benar juga... begini saja... kau istirahat dulu di luar. Biar sisanya aku yang urus."

"...terus?"

"Sejak zaman dahulu kala, ada sebuah teknik terlarang dalam olahraga tenis. Teknik itu bernama, Raketku jadi roket!"

"Itu jelas pelanggaran!"

"...ya sudah, jika situasinya memang jadi buruk, aku akan bersikap serius. Kalau sudah serius, aku bisa menjadi ahli dalam bersujud dan menjilat kaki lawanku."

"Itu memang serius tapi dalam cara yang salah..."

Yuigahama tampak terkejut dan berdesah lalu tersenyum. Matanya sudah sembab karena air mata. Mungkin karena kakinya yang terkilir atau mungkin karena ia tertawa hingga tanpa sadar menangis. Dengan matanya yang sudah memerah, ia mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Ah, Hikki memang bodoh... kepribadianmu buruk, bahkan saat terdesak pun tetap sama buruknya. Biar begitu, kau enggak mau menyerah... kau tetap maju seperti orang bodoh dan menantang lawanmu dengan cara menjijikkan dan menyedihkan... aku akan mengingatnya."

"Kau ini bicara ap—"

"Kurasa aku sudah enggak sanggup lagi..."

Sela Yuigahama dengan nada kesal.

Ia lalu berbalik membelakangiku dan beranjak pergi. "Permisi, permisi!" Serunya sewaktu membelah kerumunan penonton yang sedang kebingungan.

"...perempuan itu bicara apa, sih...?"

Ditinggalkan sendiri di tengah lapangan, kupandangi Yuigahama yang keluar seiring sosoknya yang mulai menghilang. Lalu kudengar suara tawa menjengkelkan yang bergema di lapangan.

"Ada apa, nih? Bertengkar sama temanmu, ya? Terus ditinggalkan, ya?"

"Konyol sekali... selama ini aku tak pernah bertengkar dengan siapa pun. Dan aku tak punya kedekatan dengan siapa pun sampai bisa bertengkar dengan mereka."

"Eh..."

Hayama dan Nyonya Kupu-Kupu tersentak karena ucapanku.

Hmm...? Harusnya mereka tertawa tadi...

Oh, aku paham. Humor merendahkan diri barusan hanya berlaku pada orang yang sudah dekat dengan kita saja...

Hanya Zaimokuza satu-satunya yang berusaha menahan tawa. Aku berdecak dan membalikkan badan hanya untuk melihat dirinya yang berlagak cuek dengan berpura-pura sedang bicara pada seseorang di tengah kerumunan penonton.

...bajingan itu mau melarikan diri, ya...? Pada situasi begini, aku sekalipun pasti akan berlagak cuek dan melarikan diri. Totsuka pun sampai memandangku dengan tatapan memelas.

Uh, baiklah... ini saatnya untuk memohon ampun. Akan kutunjukkan kalau aku bisa serius.

Untuk bisa mengambil hati orang lain, kita memang harus membuang harga diri dan sebisa mungkin menjilat mereka... aku bangga bisa melakukannya.

Mungkin cuma aku satu-satunya yang merasakan sebuah dorongan besar untuk mengeluarkan diriku dari suasana tegang ini... kemudian kudengar penonton mulai ramai bergumam.

Dan tembok manusia itu pun perlahan terbelah dua.

"Ada apa sampai jadi ramai begini?"

Rupanya itu Yukinoshita — ia mengenakan seragam olahraga satu setel dengan roknya, dan itu terlihat kurang mengenakkan. Ia datang dengan membawa kotak P3K di tangannya.

"Ah, kau ini ke mana saja...? Terus kenapa bajumu begitu?"

"Aku juga kurang tahu... Yuigahama mendatangiku dan memintaku memakai ini."

Ujar Yukinoshita sambil berbalik, kemudian Yuigahama muncul di sampingnya. Tampaknya mereka saling bertukar pakaian, dan Yuigahama sedang mengenakan seragam Yukinoshita. Mereka ganti baju di mana? Masa di luar?! Hmm...

"Rasanya kesal kalau kita kalah padahal sudah sampai sejauh ini, makanya Yukinon akan bermain untuk kita."

"Kenapa harus aku...?"

"Yah, soalnya Yukinon itu teman yang paling bisa diandalkan di dunia!"

Yuikinoshita sedikit tersentak saat mendengar tanggapan Yuigahama tadi.

"Te... teman?"

"Yak, teman."

Sanggah Yuigahama tanpa pikir panjang. Tunggu dulu, rasanya yang tadi itu agak...

"Apa kau meminta tolong temanmu untuk melakukan hal seperti ini? Rasanya kau hanya memanfaatkannya saja..."

"Eh? Untuk yang begini, aku hanya bisa meminta tolong temanku saja. Kenapa juga kita harus memohon pada orang yang enggak peduli untuk melakukan hal-hal penting buat kita?"

Jawabnya seolah itu adalah hal paling wajar untuk diucapkan.

Oh, begitu rupanya...

Di masa lalu, aku sering terpedaya untuk menggantikan tugas piket anak lain karena mereka berkata, Kita ini teman, 'kan? Itu sebabnya aku belum terbiasa dengan pemandangan yang diperlihatkan Yuigahama ini. Begitu rupanya. Berarti aku memang berteman dengan anak-anak itu... barangkali.

Tak menutup kemungkinan Yukinoshita memikirkan hal yang sama denganku. Ia menempelkan jari di bibirnya seakan sedang memikirkan sesuatu.

Kecurigaannya terlalu berlebihan; aku pun bukan tipe yang gampang percaya orang lain.

Tapi Yuigahama ini beda cerita. Intinya, anak ini terlalu polos.

"Hei, mungkin ia hanya bersikap jujur. Lagi pula, anak ini terlalu polos."

Saat aku berkata begitu, sikap tegas Yukinoshita langsung melunak. Ia menyunggingkan senyum penuh makna pada kami dan mengibaskan rambutnya dengan sebelah tangan seperti yang biasanya ia lakukan.

"Tolong jangan anggap remeh diriku... mungkin kelihatannya saja begini, tapi aku cukup jeli dalam menanggapi orang lain. Dan mustahil seseorang yang bisa bersikap baik padaku maupun pada Hikigaya adalah orang yang jahat."

"Logika yang cukup mengesalkan..."

"Tapi memang itu kenyataannya."

Sudah pasti begitu.

"Aku tak keberatan diminta bermain tenis, tapi... bisa aku minta waktu sebentar?"

Tanya Yukinoshita, lalu ia berjalan mendekati Totsuka.

"Setidaknya kau bisa merawat lukamu dulu, ya 'kan?"

Totsuka tampak sedikit kebingungan sewaktu menerima kotak P3K yang disodorkan padanya.

"Eh, ah, iya..."

"Yukinon, jadi tadi kau pergi untuk mengambil itu... kau memang baik."

"Begitukah? Walau ada beberapa anak lelaki diam-diam menjulukiku Ratu Es..."

"Ke-kenapa kau bisa tahu... Argh! Kau membaca Daftar Orang yang Takkan Kumaafkan milikku, ya?!"

Sial. Aku sudah menyebut Yukinoshita dengan kata-kata buruk di buku itu.

"Aku terkejut. Jadi kau benar-benar menjulukiku begitu? ... yah, aku juga tak peduli orang berpikir apa."

Yukinoshita membalikkan badannya ke arahku. Meski begitu, ekspresi dingin yang ia tunjukkan tak terlihat seperti biasanya, melainkan sedikit diwarnai oleh keraguan. Suaranya perlahan beralih dari kepercayaan diri menjadi sesuatu yang lebih rapuh. Ia tiba-tiba memalingkan pandangannya.

"...dan... aku tak keberatan kalau kau menganggapku... temanmu..."


Hampir kudengar suara *pop* sewaktu pipi Yukinoshita mulai tampak merah padam. Ia genggam raket yang diambilnya dari Yuigahama tadi dan sekilas terlihat sedang menundukkan wajah.

Itu terlihat begitu menggemaskan hingga cukup layak untuk diberi pelukan... oleh Yuigahama.

"Yukinon!"

"Hentikan... jangan menempel begitu padaku. Aku jadi tak bisa bergerak..."

...eh? Bukankah ini titik di mana ia harusnya bersikap lembut padaku? Entah hanya aku, atau ia cuma bersikap lembut pada Yuigahama saja? Harusnya tak begitu, bukan? Apa kami sedang di dalam kisah komedi romantis di mana lelaki mendapat cinta lelaki lain dan perempuan mendapat cinta perempuan lainnya?

Semua dewa komedi romantis memang konyol.

Setelah Yukinoshita berhasil melepaskan diri dari Yuigahama, ia berdeham beberapa kali dan lanjut berbicara.

"Sungguh sebuah penyesalan bisa berpasangan dengan lelaki ini, tapi, yah... mau bagaimana lagi? Aku terima permintaanmu. Aku hanya perlu memenangkan pertandingan ini saja, bukan?"

"Sip! ...yah, aku juga enggak bisa berbuat banyak agar Hikki bisa menang."

"Maaf sampai membuatmu melakukan ini."

Kubungkukkan badan ini, tapi Yukinoshita hanya menatapku dingin.

"...jangan salah sangka. Aku melakukan ini bukan demi dirimu."

"Ha ha ha, kau memang tsundere."

Ha ha ha, ya ampun, ha ha ha ha... sudah lama aku tak mendengar hal seklise itu.

"Tsundere...? Entah kenapa, kata-kata itu membuat bulu kudukku merinding."

Ya, itu memang benar... kurasa sudah jelas kalau Yukinoshita takkan tahu apa itu tsundere... terlebih, perempuan itu takkan berbohong — ia akan selalu berkata sejujurnya, tak peduli betapa kejamnya itu. Jadi kemungkinan ia tak berbohong saat berkata kalau ini bukan demi diriku.

Yah, bukan berarti aku ingin ia agar menyukaiku atau semacam itu, jadi ya, sudahlah.

"Yang penting, nanti perlihatkan padaku daftar yang kausebut tadi. Akan kuperiksa dan kuperbagus untukmu."

Yukinoshita lalu tersenyum manis kepadaku, mengingatkanku akan sebuah bunga yang mulai mekar. Tapi kenapa senyumnya tak sedikit pun menghangatkan hatiku...?

Aku justru merasa ketakutan. Rasanya seperti sedang ditatap seekor harimau.

Bila memang ada harimau di depanku... hmm... berarti ada serigala di belakangku. Atau mungkin seekor kuda.

"Yukinoshita... ya? Maaf sebelumnya, tapi aku enggak akan menahan diri siapa pun lawannya. Kau merasa seperti tuan putri, 'kan? Kalau enggak mau terluka, mending pergi dan menyerah saja sana."

Aku berbalik dan melihat Miura sedang berdiri sembari memelintir gulungan vertikalnya sewaktu melihat ke arah kami sambil tersenyum kejam. Miura bodoh... menantang Yukinoshita sama saja mencari mati...

"Percayalah, aku yang akan menahan diri untukmu. Akan kuhancurkan kebanggaanmu itu sampai berkeping-keping."

Ujar Yukinoshita sambil tersenyum seolah ia tak mungkin dikalahkan. Setidaknya ia tampak tak terkalahkan di hadapanku.

Ia adalah musuh yang mengerikan, tapi hati akan sangat tenang jika berada di pihaknya... aku sungguh kasihan pada pihak yang menjadikannya musuh.

Baik Hayama maupun Miura sudah mempersiapkan diri mereka. Senyum penuh makna yang disunggingkan Yukinoshita pun tampak indah sekaligus cukup dingin untuk membekukan orang lain.

"Cukup sudah kaulecehkan tema—"

Yukinsohita keceplosan bicara kemudian sedikit tersipu. Mungkin masih terasa memalukan baginya untuk memakai kata itu, makanya ia diam-diam menggelengkan kepalanya sebelum kembali berbicara.

"...cukup sudah kaulecehkan anggota klub kami. Bersiaplah... asal kau tahu, mungkin kelihatannya saja begini, tapi aku adalah tipe pendendam."

Bukan, bukan mungkin lagi... tapi seratus sepuluh persen ia tipe pendendam.




7 tanggapan:

Ane selalu merinding kalo baca snence yang melibatkan Hikitani dengan Yukinoshita
Oregairu,oregiru...!
Kenapa kau tak di pasarkan di negara ini :v

Etto,itu yang di gambar,apa itu manga-nya Oregairu?

Iya itu manga-nya gan... Yang dari seri - Mougenroku - (Monologue)...

arigato gan ..
tu beneran ad mana nye gan ? klo ad bgi link nye donk .. onegai ...

Ane kira kagak ada mangan-nya :v


Benaran ada kok, gan...

http://goo.gl/Be5qmH

Tapi bahasa Inggris...

yg manga subindonye gk ad gan ?

Gak ada gan...
Ane aja berharap, semoga ada yang mau menerjemahkan manga-nya,,,

Posting Komentar