Otaria Jilid 1 Bab 2

=========================================================
Untuk LN ini ane, dan dengan alasan yang sering ane pakai, ane akan menggunakan gaya bahasa percakapan dikarenakan genrenya dan supaya ceritanya lebih gampang divisualisasikan di pikiran...
Tapi kayaknya, kalau yang biasa baca di sini juga gak bakal ambil pusing soal ini, apalagi yang sudah tahu gaya editing ane...
Selamat menikmati...
=========================================================


Bab 2


"Hah? Mana mungkin aku suka sama dia. Ayolah, bercandanya sampai di situ saja, ya?"

Suatu hari di musim panas yang tidak terlupakan, ketika aku masih kelas 3 SMP sehabis jam pelajaran sekolah ....

Kudengar sebuah suara manis yang tidak asing di telingaku.

"Oh, begitu. Baguslah! Aku cuma khawatir kalau-kalau Aikawa benaran suka sama si otaku itu~"

"Hei, sudah dong bercandanya."

"Soalnya kamu sering 'ngobrol sama Kashiwada, sih. Benar, 'kan?"

"Enggak, bukannya 'gitu. Kupikir bakal seru saja kalau mengobrol sama dia."

"Oh, jadi kamu cuma main-main saja ke dia?"

"Ya jelas, lah! Cuma itu alasanku mau mengobrol sama dia!"

Selama percakapan itu berlangsung, gelak tawa beberapa gadis di sana riuh terdengar.

Awalnya aku hendak masuk ke ruang kelas karena ada barang yang tertinggal. Akan tetapi, setelah mendengar suara-suara di dalam kelas itu, aku hanya bisa terdiam di tempat.

Perempuan dalam kelas yang bernama Aikawa Kizuna tersebut adalah seseorang yang kutaksir saat itu.

Apa suara dari dalam kelas ini benar-benar suara ramah yang sama dengan yang biasanya kudengar? Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha untuk tidak memercayai kenyataan ini.

Padahal dia gadis yang baik. Kalau dipikir lagi, kenapa juga gadis semanis dia mau-maunya mengobrol dengan otaku culun sepertiku? Aku selalu penasaran soal ini.

Tapi ....

"Mustahil aku suka sama dia."

....

"Kayaknya seru saja kalau bikin dia salah tingkah."

....

Kata-kata yang kudengar ini adalah perasaan sesungguhnya yang dia miliki.

Ucapannya saat itu terus terngiang di dalam otakku.

"Lagian, bukankah para otaku itu menjijikkan?"

"Betul. Obrolan di antara mereka itu kayaknya heboh banget. Sudah berisik, bikin kesal pula. Belum lagi aura menjijikkan mereka yang rasanya sampai memenuhi seisi kelas."

Kedua gadis yang bersama Aikawa tersebut terus saja melanjutkan hinaannya. Kata ganti mereka dalam percakapan barusan sudah jelas ditujukan pada kami, para otaku.

Memang benar aku dan teman-temanku sering membahas hal otaku di kelas. Tapi kami tidak sadar kalau sekitar kami bisa ikut mendengarnya, dan tidak pernah kubayangkan kalau yang lain akan menganggap jijik dan jengkel pada kami.

Saat itu juga, untuk pertama kalinya aku sadar seperti apa mereka memandang kami, para otaku.

Dan karena saking terkejutnya, aku sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatku berdiri.

Di hari itu juga, tanpa sengaja aku dipaksa menghadapi hari terburuk dalam hidupku — mendengar sendiri anggapan tentangku dari gadis yang kusuka, termasuk anggapan gadis-gadis lain tentang otaku yang menjijikkan bagi mereka.

Setelahnya, sisa hari-hariku di SMP kulalui tanpa bersemangat.

Agar tidak dianggap menjijikkan, sesering mungkin kucoba lebih peka dengan keberadaan orang-orang di sekitarku — menahan diri dari melakukan tindakan apa pun yang mencolok, dan terus berperilaku seperti itu. Meski teman-teman otaku-ku sedang membahas hal berbau otaku, aku tidak lagi ikut mengobrol dengan mereka karena sadar akan sekelilingku.

Gadis yang dulu kusuka, Aikawa Kizuna, masih suka mengobrol denganku, tapi setelah tahu perasaannya yang sebenarnya, aku tidak bisa lagi menaggapinya seperti sediakala.

Begitulah. Masa-masa SMP yang berharga menjadi kenangan paling menyakitkan bagi diriku.


Mundur
Lanjut

0 tanggapan:

Posting Komentar