Oregairu 2 Bab 1 Bagian 6

==========================================================
Bingung mau komentar apa...
Oiya, Saize itu singkatan dari Saizeriya, restoran italia yang terkenal di Jepang sana... Untuk berikutnya, sepertinya bakal sering ketemu dengan kata Saize...
Satu lagi, ane lupa persisnya, tapi ada saat di mana Yui waktu itu ditanya mau kuliah di mana, dan dia jawab mau masuk jurusan seni liberal... Mungkin karena cerita di bagian ini alasannya...
Untuk bab berikutnya ane selesaikan langsung satu bab...
Atas request, ane bakal lanjutin SPS... Sebisanya... Hkhkhkhk...
Selesai juga satu bab...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 6



Sambil merangkul kepala Yukinoshita dan membelainya, Yuigahama berbicara, "Tahu enggak, Hikki? Aku cukup kaget saat tahu kalau kau ternyata rajin belajar, lo."

"Yah, aku belajar bukannya karena mau maju lewat pendidikan seperti murid-murid yang lain. Biar satu pun, tak ada bimbel musim panas yang kuikuti."

SMA Soubu di Kota Chiba memang didedikasikan bagi murid-murid yang berencana melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Alhasil, tingkat murid yang mendaftar ke perguruan tinggi itu cukup tinggi. Murid-murid lain yang sadar akan hal tersebut mungkin sudah punya bayangan soal ujian masuk sejak musim panas tahun kedua mereka di sekolah. Waktu semakin menipis ketika mereka cemas tentang apa harus mengikuti seminar pendidikan di Tsudanuma atau Pusat Bimbel Kawai ataupun sekolah di Inage-Kaigan.



"Oh, satu lagi," tambahku. "Aku sedang mengincar beasiswa untuk sekolah persiapan."

"... behasiswa?" ulang Yuigahama.

"Dalam kasusmu, kau tak perlu mengincar apa pun jika sudah mencapai titik batasmu," ujar Yukinoshita. "Kau lebih seperti limbah."

"Ada apa ini, Yukinoshita? Hari ini sikapmu jadi baik. Kupikir kau terang-terangan menolak hakku untuk hidup."

"Saran yang tepat," Yukinoshita menempelkan jarinya ke dahi, kesan jijik terlihat pada wajahnya.

"Oi, oi, behasiswa itu apa?"

Tampaknya Yuigahama telah lepas dari arah pembicaraan sejak di bagian beasiswa. Ampun, deh, Yuigahama.

"Beasiswa adalah dana yang kauperoleh atas usaha belajarmu," jelas Yukinoshita.

"Sekolah persiapan zaman sekarang akan membebaskan iuran pendidikan bagi murid-murid yang berprestasi," kataku. "Intinya, jika aku mendapat beasiswa, maka uang yang diberikan orang tuaku untuk membayar iuran tersebut akan beralih padaku."

Aku sedikit menari saat kenyataan itu menghampiri diriku. Di hadapan adikku yang sudah memandang jijik, aku mulai breakdance di kamar.

Orang tuaku akan beristirahat dengan tenang jika aku rajin belajar dengan niatan jelas dan memperoleh hasil untuk membenarkan investasi mereka. Dan aku bisa mendapatkan uang selagi aku melakukannya. Boleh dibilang, ini merupakan rencana ulung.

Namun kedua perempuan ini menatap penuh keraguan pada diriku. "Bukannya itu curang ...?"

"Ia takkan ambil pusing karena kau tak bisa menuntut tindakannya yang telah merugikan orang tua dengan memakai pendekatan berorientasi hasil untuk kelas yang diikutinya, dan itu hanyalah soal sekolah persiapan yang menerima murid berbeasiswa saja. Dikarenakan menyimpangnya kepribadian anak ini, kau takkan bisa menyebutnya curang," ucap Yukinoshita sinis.

Te-terus kenapa? Kebohongan kecil takkan menyakiti siapa-siapa.

Yuigahama menatap ke arahku. "Jadi itu rencana kehidupanmu, toh ...," gumamnya. Setelahnya, lengan baju Yukinoshita pun ia pegang lebih erat lagi.

Terkejut karena perlakuan Yuigahama yang lebih intens, Yukinoshita menatap tajam wajah perempuan itu dengan perhatian sesaat. "Ada apa ...?"

"Oh, eng ..., enggak juga, sih ...," jawab Yuigahama, tanpa membodohi siapa pun dengan tawa gugupnya. "Karena kalian anak yang pintar, aku jadi berpikir apa kita masih bisa bertemu lagi setelah lulus?"

"Tentu ...," ucap Yukinoshita sambil tersenyum kecil. "Aku salah satu orang yang tak ingin lagi bertemu Hikigaya."

Aku hanya mengangkat bahu ketika mendengarnya. Bingung karena kurangnya reaksi verbalku, Yukinoshita menatapku dengan pandangan aneh. Tak kusangka. Kali ini aku setuju dengan Yukinoshita.

Yah, orang-orang seperti itu memang ada di dunia ini. Mereka yang begitu giat belajar sehingga bisa masuk ke sekolah favorit justru terasingkan dari teman-teman SMP-nya. Tipe seperti mereka sudah memutuskan untuk membuang jauh masa lalu dan berjanji takkan lagi menemui teman-teman sekelasnya. Yuigahama kurang lebih menggambarkan jelas tipe tersebut.

Lalu ada pula orang-orang yang tetap akrab bersahabat dengan tetap saling berkomunikasi di kelompoknya. Lewat teknologi, mereka bisa menjaga secuil kedekatan di antaranya. Kebanyakan dari mereka yang menolak untuk tetap berhubungan justru berakhir sendirian. Yang ingin kusampaikan adalah kita hanya bisa menjaga komunikasi lewat telepon dan SMS saja, selebihnya tidak ada. Apakah yang seperti itu bisa disebut persahabatan? Kuyakin banyak yang beranggapan begitu. Itu artinya, bagi semua orang, ponsel bisa menangani segalanya, dan jumlah teman yang kita punya bisa disamaartikan dengan jumlah nomor kontak yang kita punya pula.

Yuigahama menggenggam erat ponsel-nya sembari sekilas tersenyum pada Yukinoshita. "Enggak akan ada masalah karena kita masing-masing punya ponsel. Kita masih bisa saling berhubungan!"

"Benar, tapi kuharap kau berhenti mengirimiku SMS setiap hari ...," jawab Yukinoshita.

"Eh?! Ka-kau enggak suka ...?"

Yukinoshita hening sesaat, memikirkan kata-kata yang tepat. "Rasanya sangat mengganggu."

"Jujur amat!"

... mereka berdua justru terlihat akur. Sejak kapan mereka seakrab itu sampai-sampai saling berkirim SMS? Lagi pula, tak bisa kubayangkan seperti apa SMS yang dikirim Yukinoshita. "Memangnya setiap hari kau mengirim SMS yang seperti apa?"

"Eng ...," gumam Yuigahama. "Yah, kayak, Hari ini aku makan kue sus, lo."

"Kujawab, Iya," ucap Yukinoshita.

"Yukinon, kau bisa buat kue sus, enggak?! Soalnya aku mau coba makan jenis kue yang lain!"

"Boleh."

"Keahlian mengobrol yang hebat, Yukinoshita ...."

Yukinoshita memalingkan pandangan seakan merasa bersalah. "Kurang ada manfaatnya," gumamnya. Menyedihkan, karena aku tahu yang dirasakannya.

Serius, apa sebenarnya yang ingin disampaikan di percakapan singkat itu? Pembahasan seputar cuaca sudah jadi hal pokok dalam percakapan, tapi itu akan berakhir setelah ada yang bilang, Cuacanya cerah, ya? lalu dijawab, Iya. Itu sama saja sewaktu menelepon lalu berkata, Hmm, eh, eng ..., ada bidadari lewat. Hehehe, suasana hening yang canggung mulai melanda setelahnya.

"Ya ..., aku tak terlalu mengurus kalau soal ponsel, sih," kataku. "Menurutku itu merupakan pemaknaan yang salah dari komunikasi."

Menurutku yang namanya ponsel ini adalah sebuah bentuk perangkat yang mempertegas perilaku penyendiri. Kita bisa mengabaikan ponsel kita ketika ada panggilan masuk, memblokir nomor, tak membalas SMS — hal semacam itu. Kita bisa memilih antara menerima atau menolak segala komunikasi tergantung suasana hati kala itu.

"Benar. Sang penerima diharuskan menjawab SMS ataupun panggilan masuk," Yukinoshita mengangguk setuju akan gumaman santaiku.

Ia cukup lumayan jika hanya dilihat dari wajahnya saja. Aku jadi terpikir, mungkin itulah alasan kenapa banyak anak yang menanyakan nomor ponsel maupun alamat surel-nya.

Bagiku, ada satu waktu ketika aku mengumpulkan semua keberanianku untuk menanyakan nomor ponsel dari seorang perempuan manis. Itu terjadi sewaktu aku masih jadi anak SMP yang lugu. Saat aku bertanya di mana rumahnya, ia menjawab, "Maaf, ya, bateraiku habis. Nanti saja aku SMS, ya?" masih menjadi misteri mengenai alasan ia tak pernah memberi tahu alamatnya dan tak mengirim SMS padaku. Hingga kini aku masih menunggunya ....

"Selain itu, aku tak mau melihat SMS yang membuatku jijik ...," aku Yukinoshita seolah ingin menambahkan.

"Hmm ...?" Yuigahama menempelkan telujuknya di dagu sambil memiringkan kepalanya. "Jadi artinya ..., SMS-ku membuatmu jijik, ya?"

"... aku tak berkata begitu." Yukinoshita, yang sedari tadi menatap ke arah Yuigahama, mengalihkan pandangannya. "Hanya terasa mengganggu saja," wajahnya lalu memerah. Menurutku itu adalah reaksi yang menggemaskan, tapi karena tak ada hubungannya denganku, jadi aku tak menghiraukannya.

Melihat ekspresi Yukinoshita, Yuigahama melompat dan mengeluarkan suara menggemaskan. Cukup misterius, Yukinoshita berbalik dengan wajah yang lebih lembut — ia benar-benar telah luluh. Sekali lagi, itu tak ada hubungannya denganku, jadi aku tak menghiraukannya.

"Oh, begitu. Rupanya ponsel enggak sesempurna itu," Yuigahama memeluk erat tubuh Yukinoshita, seolah meremukkan betapa rapuhnya ikatan mereka. "Aku akan giat belajar, deh .... Pasti luar biasa rasanya kalau bisa satu kuliah denganmu," ujarnya dengan suara pelan, tatapannya lalu tertuju ke bawah. "Kau sudah ada rencana mau kuliah di mana, Yukinon?"

"Belum, belum ada rencana pasti. Tapi setidaknya aku berencana masuk ke fakultas MIPA di perguruan tinggi negeri."

"Wah, kedengarannya intelek sekali!" tegas Yuigahama. Lalu ia melanjutkan, "Terus ..., kalau kau Hikki? Wa-wajar, dong, kalau aku bertanya juga."

"Jurusan seni liberal di perguruan tinggi swasta."

Senyum kembali terpancar di wajah Yuigahama. "Terdengar meyakinkan!"

Yang benar saja, reaksi macam apa itu? "Biar kutekankan, memelajari seni liberal di perguruan tinggi bukanlah hal sulit. Ayo minta maaf dulu sana, ke seluruh jurusan seni liberal di negeri ini. Kau dan aku bahkan ada di tingkatan yang berbeda."

"Oooh ..., ya sudah, aku akan lebih giat lagi!" Yuigahama lalu melepaskan pelukannya dari Yukinoshita. "Oke, semuanya sudah jelas. Mulai minggu ini kita akan belajar kelompok," terangnya dengan suara keras.

"... apa maksudmu?" tanya Yukinoshita ragu.

Yuigahama benar-benar mengabaikan pertanyaan itu dan segera melontarkan ide yang terorganisasi. "Kita enggak ada kegiatan klub sampai seminggu sebelum ujian, 'kan? Karena itu siangnya kita punya waktu senggang. Oh, Selasa boleh juga. Soalnya para guru minggu ini sedang jalan-jalan."

Astaga, jalan-jalan? Murid SMA macam apa yang sampai bisa berkata begitu?

Jalan-jalan yang Yuigahama bicarakan barusan adalah sebuah rapat dengan Dinas Pendidikan Kota. Karena para guru wajib untuk hadir, maka jam pelajaran dipotong dan kegiatan klub diliburkan.

Yah, bukan berarti aku setuju akan rencana Yuigahama. Yukinoshita, murid peringkat satu yang bercita-cita masuk ke fakultas MIPA di perguruan tinggi negeri, dan aku, murid peringkat tiga di pelajaran bahasa Jepang, bakal terganggu jika menjelang ujian. Lagi pula, aku punya semacam kepercayaan diri bila dibandingkan adik perempuanku yang bodoh — yang tak mendapat nilai memuaskan. Kapan pun ia punya soal yang tak bisa diselesaikan, aku tak bisa bersikap cuek untuk tidak menolongnya.

Jika ada sesuatu yang kubenci, pasti itu adalah diambilnya waktu privasi dariku. Aku bahkan tak menghadiri perayaan setelah festival olahrahga. Bu-bukan karena aku tidak diajak! Alasannya lebih karena aku menghargai waktuku sendiri, dan akan terasa menyiksa bagiku jika kuhabiskan itu dengan orang lain.

"Uhhh ...," cepat jawab dan tolak idenya, pikirku dalam hati karena tak mampu berkata-kata, seraya Yuigahama lanjut berbicara.

"Bagaimana kalau kita ke Saize di pusat kota?"

"Tak masalah ...," jawab Yukinoshita.

"Yuigahama, begini ...," aku mulai bersuara. Kalau aku tak segera mengatakan sesuatu, mereka benar-benar akan ke sana! Berhenti basa-basi dan tolak idenya, pikirku.

"Ini pertama kalinya kita jalan bareng, Yukinon!" sela Yuigahama. "Cuma kita berdua!"

"Iya," ucap Yukinoshita.

....

Rupanya dari awal aku memang tak diajak.

"Hikki, tadi kau mau bicara apa?" tanya Yuigahama.

"Bu-bukan apa-apa .... Selamat belajar."

Lagi pula, belajar sendiri itu lebih efisien. 

... aku takkan kalah.



Lanjut

2 tanggapan:

Aseek, masih di lanjut.

SNS mau di lanjut? Kayaknya ane perlu baca dari awal lagi tuh Novel.

Iya gan, bagus tuh... Rekomendasi ane...

Posting Komentar