Oregairu 2 Bab 1 Bagian 5

==========================================================
Akhirnya ada juga ilustrasinya...
Bagian yang gak ada di anime-nya... Dan percakapan yang cukup menghibur...
Betewe, rencananya penerjamahan Sakurasou mau dihidupkan kembali, biar gak lupa jalan ceritanya, silakan baca-baca dulu yang Jilid 1 Bab 1 Bagian 1...
Yah, sebenarnya ada juga rencana mau lanjutin seri lainnya, tapi masih belum ketemu yang pas, khususnya yang SPS, itu seri bagus banget, bukan hanya karena tema musikal remaja kayak Shigatsu musim-musim kemarin (gak menyinggung dosa proyek lain, hkhkhkhk), tapi memang karena ceritanya benar-benar bagus...
Lanjut ke catatan terjemahan... Misuzu Kaneko adalah penyair yang menulis "Watashi to Kotori to Suzu to" (yang harfiahnya: Saya, Lonceng dan Seekor Burung), yang di dalamnya terdapat kalimat, "Setiap orang itu berbeda, setiap orang itu punya hal bagus."...
AT Field adalah kemampuan spesial yang digunakan oleh pilot Eva dalam seri Neon Genesis Evangelion... Semakin kacau keadaan psikis sang pilot, semakin kuat AT Field yang bisa dihasilkan...

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 5


Yuigahama bersandar malas di kursi tanpa mengutak-utik ponselnya yang biasa ia gunakan untuk menghabiskan waktu. Karena itu dadanya tanpa sadar jadi terpampang jelas, yang membuat pikiranku tidak tenang, sehingga kualihkan pandanganku ke arah Yukinoshita yang dadanya tak memberi kesan serupa.

Yukinoshita, yang dadanya merupakan simbol kemenangan dari Konten Aman, menutup buku bacaannya. "Kalau memang tak ada yang dilakukan, kenapa tidak belajar saja?" ucapnya pada Yuigahama dengan nada ketidaksetujuan. "Lagi pula, sebentar lagi UTS."

Dari cara bicaranya, Yukinoshita memang kurang peka soal kepentingan yang mendesak. Bagi dirinya, itu sepenuhnya masalah orang lain. Namun itu kian mempertegas  bagi Yukinoshita, UTS tak lebih dari kegiatan rutin. Perempuan ini memang murid nomor satu jika berhadapan dengan apa pun materi yang bisa diujikan. Tak bisa disangkal bahwa UTS sekalipun tak bakal membuatnya cemas.

Yuigahama mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seakan ia juga sadar jika sedang dibicarakan. "Apa gunanya belajar?" gumamnya tertahan. "Enggak bisa juga dipakai di kehidupan nyata ...."

"Kau baru saja mengucapkan kalimat khas anak lemot!" tegasku. Yang barusan itu begitu gampang ditebak hingga membuatku lepas kendali. Bisa-bisanya di zaman sekarang masih ada yang berkata begitu?

Tersindir karena disebut lemot, Yuigahama sungguh-sungguh mempertahankan keadaannya. "Maksudku, belajar itu enggak ada gunanya! Masa SMA itu singkat dan hal yang semacam itu buang-buang waktu! Hidup itu hanya sekali, 'kan?"

"Makanya jangan dibuat main-main."

"Ampun deh .... Enggak usah sok bijak!"

"Aku berpikir jangka panjang."

"Kalau dalam kasusmu," sela Yukinoshita, "kau sudah gagal di setiap aspek kehidupan SMA."

Hampir benar. Kita tak selalu bisa memenangkan segalanya. Eh, tunggu! Apa tadi ia bilang kalau aku tak punya kehidupan? Apa aku perlu check out dari keberadaan fana ini seperti halnya check out dari hotel?

"Asal kautahu, ya .... Aku tidak gagal .... Aku hanya berbeda dari orang kebanyakan. Beginilah kepribadianku! Setiap orang itu berbeda, setiap orang itu punya hal bagus!"

"Be-betul! Beginilah kepribadianku! Payah dalam belajar adalah bagian dari kepribadianku!"

Kami berdua menegaskan kalimat klise yang konyol di saat bersamaan. Tapi jujur, kepribadian adalah kata yang tepat.

"Misuzu Kaneko akan bangkit dari kuburnya jika mendengar hal barusan ...," Yukinoshita berdesah sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Yuigahama, yang kaukatakan sebelumnya soal belajar tak ada gunanya itu tidaklah tepat. Faktanya, belajar adalah perilaku untuk menemukan makna dari diri sendiri. Oleh sebab itu, berbeda orang bisa berbeda alasan untuk belajar, namun tak ada alasan untuk menyangkal seluruh tujuan dari belajar."

Argumen yang logis. Begitu logis hingga bisa dirasa benar jika dikemukakan ke pemikiran orang dewasa — yang mana hal tersebut akan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Bahkan sebuah pernyataan mengecoh sederhana seperti, Apa itu belajar? akan memberi dampak serupa. Maka siapa pun yang berusaha menjadi orang dewasa di zaman sekarang takkan mendapat pesan tersiratnya.

Sayangnya, aku tak pamer soal betapa pintarnya diriku dengan menyampaikan kesimpulan seperti barusan. Orang yang tampaknya benar-benar meyakininya ialah Yukinoshita.

"Soalnya kau pintar, sih, Yukinon ...," ucap Yuigahama dengan suara pelan. "Rasanya malas kalau belajar .... Teman-temanku juga enggak ada yang belajar ...."

Yukinoshita mendadak memicingkan mata. Merasa suhu ruangan sudah turun sekitar sepuluh derajat karena heningnya Yukinoshita, Yuigahama menutup mulut karena terkejut. Tampak seolah ia masih mengingat semua hal mengerikan yang pernah diucapkan Yukinoshita sebelumnya.

Ia menyerah pada pendiriannya. "Ba-baiklah, aku akan belajar betul-betul!" tegasnya dengan serius. "O-omong-omong! Hikki, memangnya kau belajar?!"

Oh, ia mengelak dari amarah Yukinoshita. Rupanya rencana liciknya adalah dengan membebankan semua serangan kepadaku. Usaha yang bagus dari yuigahama.

"Ya, iyalah," jawabku.

"Pengkhianat! Kupikir kau lemot juga!"

"Enak saja. Aku ini peringkat tiga di pelajaran bahasa Jepang," aku berhenti sebentar agar dampaknya terasa. "Ditambah, di pelajaran lain pun nilaiku tidaklah buruk."

"Enggak mungkin .... Kok aku enggak tahu ...?"

Untungnya, pihak sekolah tidak memampang hasil ujian murid-muridnya. Mereka hanya memberi tahu peringkat dan nilai secara pribadi. Alhasil, sementara yang lainnya saling menunjukkan peringkat mereka, tak ada seorang pun yang tahu peringkatku — karena siapa pun tak bakal kuberi tahu. Hampir tepatnya, tak ada yang bertanya soal peringkatku.

Tentu saja tak ada yang secara umum bertanya soal diriku.

"Jadi sebenarnya kau pintar juga ya, Hikki?!"

"Itu bukan hal yang patut dibanggakan," tandas Yukinoshita.

"... kenapa kau yang jawab?" yah, tentu saja nilaiku tak bisa dibandingkan dengan Yukinoshita, biarpun begitu, nilaiku tidaklah buruk.

Itu artinya, Yuigahama adalah orang paling lemot di antara kami bertiga.

"Uh," rengeknya. "Jadi cuma aku saja yang dapat peran orang bodoh di sini."

"Jangan langsung menyimpulkan begitu, Yuigahama," nada suara dan ekspresi dingin Yukinoshita mulai mencair, dan matanya menunjukkan jelas sebuah keyakinan.

Mendengar ucapan tersebut, wajah Yuigahama berubah cerah bagaikan bohlam. "Yu-Yukinon!"

"Karaktermu tidak dibuat-buat. Kebodohanmu memang bawaan dari lahir."

"Waaaaaah!" Yuigahama memukul-mukul tubuh bagian depan Yukinoshita.

Terlihat seolah tak tahu seperti apa harus menanggapinya, Yukinoshita mengeluarkan desahan pendek yang terasa dipaksakan. "Yang ingin kusampaikan adalah hal bodoh jika menilai seseorang hanya dari nilai ujian dan peringkat saja. Bahkan di antara murid-murid berperingkat tinggi terdapat beberapa manusia rendahan."

"Hei, kenapa kau bicara begitu sambil melihatku?" tanyaku. Untuk sesaat, semua tatapan tertuju padaku. "Aku bicara begini untuk jaga-jaga, tapi tahukah kalian alasanku belajar karena aku memang suka?"

"Begitu ...."

"Begitulah orang yang tak punya kerjaan."

Dua perempuan tersebut bicara dalam kesinambungan. Yuigahama mengucapkan satu kata seruan tanda terkejut, sementara kalimat lengkapnya diselesaikan oleh Yukinoshita. Tanpa disadari, dahi mereka saling menempel.

"Memang, dan kau juga sama," ucapku pada Yukinoshita.

"Tapi kau tak menyangkalnya," ujarnya.

"Sudah! Aku jadi sedih, tahu!" teriak Yuigahama.

Yukinoshita dengan dingin berbicara seperti biasanya, namun Yuigahama justru menggebu-gebu berempati. Yuigahama memeluk hangat Yukinoshita, seolah mencoba meringankan luka di hati Yukinoshita. Ekspresi tak nyaman yang ditunjukkan Yukinoshita seolah berkata ... tak bisa bernapas! sementara Yuigahama merangkul erat dirinya.


Hei! Bagaimana denganku?! Aku tak punya hal yang bisa kulakukan selain belajar! Aku merenung sewaktu sudah dipastikan kalau tak ada pelukan maupun rangkulan yang akan datang ke arahku. Yah, kurasa akan terasa canggung bagiku jika ia memelukku. Begitulah yang kupikirkan.

Yang benar saja, kenapa para makhluk riajuu bisa sedekat itu bila saling mengasihi? Apa keintiman itu sudah jadi hal lumrah, ya? Memangnya mereka pikir mereka itu orang Amerika, ya? Mereka akan mengacau dan saling memukul demi bahan lelucon, tapi jika sudah terlalu serius, mereka akan saling berpelukan seolah itu hal yang paling cerdas untuk dilakukan. Jika para lelaki dan perempuan tersebut sampai memiloti Eva, mereka takkan mungkin bisa menggunakan AT Field. Tak ada batasan mengenai kebaikan dalam hati mereka.

0 tanggapan:

Posting Komentar