Oregairu 2 Bab 1 Bagian 4

==========================================================
Ini salah satu bagian yang kocak yang pernah ane baca di LN Oregairu, dan sudah ane buat senatural mungkin percakapannya agar bisa terasa kelucuannya... Mudahan agan sekalian bisa ngakak bacanya... Amin...
Lanjut ke catatan penerjemahan...
Game Shanghai Mahjong adalah game mencocokkan dua keping mahyong yang sama dari kumpulan kepingan yang tersusun secara acak, permainan selesai manakala seluruh keping telah dicocokkan... Kalau penasaran seperti apa, cek saja di game bawaan windows, ada, kok... Yang membedakan dengan Strip Mahjong adalah terdapat gambar latar di balik susunan kepingan, yang akan terlihat utuh jika seluruh keping selesai dicocokkan, dan gambar yang digunakan adalah gambar dengan konten dewasa...
Dan memang, sangat berbeda sekali dengan cara bermain mahyong yang asli...
Untuk referensi Devilman, bisa dilihat di sini...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 4


Lantai empat paviliun, sisi sebelah timur jika ingin melihat pemandangan di bawah, di sana ada sebuah ruang yang menyediakan hal tersebut.

Suara-suara dari masa remaja terdengar dari luar jendela yang terbuka. Suara-suara dari anak-anak rajin di tengah kegiatan klub mereka menggema ke luar ruangan, bercampur dengan bunyi dentangan pemukul besi dan lengkingan peluit seiring alunan klarinet dan terompet dari orkestra simfoni.

Di tengah musik latar dari masa remaja tersebut, apa yang sedang kami lakukan di Klub Layanan Sosial? Sama sekali tak ada. Aku sedang membaca shoujo manga yang kupinjam dari adikku, Yukinoshita telah tenggelam dalam buku bacaan seukuran saku yang bersampul kulit miliknya, dan Yuigahama mengutak-atik ponsel-nya dengan tak semangat.

Seperti biasanya, ketika seharusnya menjalani masa remaja dengan sebaik-baiknya, kami malah melakukan hal tak berguna.

Klub payah macam apa yang kegiatannya malah menghabiskan waktu begini? Ini seperti Klub Rugbi yang diubah menjadi Klub Mahyong. Kudengar mereka memainkan separuh permainan sebelum dan sesudah latihan. Itu sebabnya, bisa selalu terlihat koin dari Klub Rugbi (mata uang yang digunakan bukanlah uang sungguhan, tetapi hampir mirip dengan koin mata uang yen) berserakan di ruang klub dan di lorong keesokan harinya. Yah, menurutku itu memanglah mahyong. Tapi bagi mereka, itu adalah bentuk komunikasi kekinian dan lembaran masa remaja yang berkilauan.

Kira-kira ada berapa anak yang ikut bermain yang memang tahu cara memainkan mahyong?

Tak banyak yang memainkan game Shanghai Mahjong ataupun Strip Mahjong di Pusat Permainan Tsudanuma seperti diriku. Aku cukup yakin mereka hanya memelajari cara bermain mahyong agar mereka bisa berbaur dengan sesamanya. Kebetulan, cara bermain mahyong sungguh berbeda dengan game Shanghai Mahjong meski menggunakan keping yang sama. Jadi intinya, hanya ada satu alasan kenapa seseorang ingin memelajari game Strip Mahjong. Energi akan benar-benar terkumpul saat ada payudara di bidang pandangnya.

Memiliki hal-hal mendasar yang sudah umum merupakan sesuatu yang sangat diperlukan jika ingin menjalin pertemanan. Seperti itulah yang dimiliki oleh anak semacam Yui Yuigahama.

Pemikiran itu terlintas di benakku sewaktu aku selesai memeriksa apakah tokoh-tokohnya telah melakukan perbuatan mesum di dalam shoujo manga yang kini sedang kubaca. Ketika selesai, kualihkan pandanganku ke arah Yuigahama. Ia sedang menggenggam ponsel di salah satu tangannya sambil menyunggingkan senyum tipis. Tapi ia berdesah panjang begitu lembut hingga hampir tak terdengar. Tak bisa kudengar jelas desahannya, tapi aku sadar betapa panjang ia menghela napas. Itu terlihat dari rongga dadanya yang mengempis.

"Ada apa?"

Yang bertanya bukan diriku melainkan Yukinoshita. Tampaknya ia sadar akan perilaku Yuigahama yang tak biasanya itu meski tanpa melepas pandangannya dari buku. Mungkin karena ia mendengar desahan tadi. Devilman memang sakti, yang pendengaran iblisnya merupakan pendengaran neraka.

"Oh, eng ..., bukan apa-apa, sih," ujar Yuigahama. "Cuma ada SMS aneh saja. Makanya aku jadi kaget begitu."

"Hikigaya, kalau tak ingin dilaporkan ke polisi, sebaiknya segera kauhentikan mengirim SMS tak senonoh itu."

Ia langsung berasumsi kalau itu SMS cabul dan aku pengirimnya.

"Bukan aku, kok ...," belaku. "Mana buktinya? Ayo coba, mana ...?"

Sambil tersenyum sinis, Yukinoshita mengibaskan rambutnya melewati bahu. "Kau baru saja membuktikannya. Seperti itulah ucapan seorang kriminal. Mana buktinya? Kesimpulan yang hebat; Kenapa kau tak menjadi novelis saja? Tak mungkin aku satu ruangan dengan pembunuh."

"Yang terakhir tadi malah terdengar seperti ucapan sang korban ...," kataku. Ini terasa seperti pertanda kematian.

Yukinoshita mengangguk saat mendengar perkataanku. "Mungkin kau benar," jawabnya sembari membalik halaman bukunya. Tampaknya ia sedang membaca novel misteri atau semacamnya. 

"Enggak, Aku enggak merasa Hikki pelakunya, kok," ucap Yuigahama setelah jeda satu setengah menit.

Tangan Yukinoshita terhenti di tengah-tengah saat membalik halaman. Tatapannya sendiri seolah berkata, Mana buktinya? Ya ampun, apa sebegitunya ia menginginkan diriku menjadi sosok kriminal.

"Hmm ..., yah, soalnya isi SMS ini mengenai kelasku. Itu tandanya, Hikki enggak terlibat."

"Tapi aku sekelas denganmu ...," kataku.

"Masuk akal," ucap Yukinoshita. "Dengan begitu, Hikigaya tak bisa dijadikan tersangka."

"Jadi itu bisa dianggap sebagai bukti ...?"

Halo semuanya, di sini Hachiman Hikigaya dari kelas II-F.

Aku jadi dongkol sendiri karena tanpa sadar memperkenalkan diri dalam hati. Biarpun begitu, aku lolos dari tuduhan kriminal. Jadi mungkin itu ada bagusnya.

"Yah, kurasa yang seperti ini juga kadang-kadang terjadi," ucap Yuigahama serius sambil menutup ponsel-nya dengan keras. "Aku juga enggak begitu ambil pusing," ia berkata seperti dari pengalaman pribadi.

Kadang-kadang katanya, tapi asal ia tahu, aku tak pernah mendapat SMS itu.

... yang bagusnya, aku tak punya teman!

Tapi memang, orang yang punya banyak teman mau tak mau juga harus berurusan dengan banyak hal tak mengenakkan. Layaknya pekerjaan yang berat. Maka dari itu, aku telah terbebas dari hal yang amat memalukan yang sudah melumuri teman-teman sekelasku. Dengan seluruh pemikiran mendalamku, aku telah mencapai kesempurnaan Buddhisme. Aku memang hebat.

Setelahnya, Yuigahama enggan menyentuh kembali ponsel-nya.

Jelas aku tak mau mengira-ngira apa isi SMS-nya, kemungkinan itu bukan hal baik. Yuigahama memang bodoh karena bicara setengah-setengah, dan ia tipe orang bodoh yang perasaannya gampang dibaca. Ia begitu sentimentil karena selalu cemas sendiri akan diriku maupun Yukinoshita, dan mungkin ia juga memiliki sisi yang kadang berkecil hati akan beberapa hal.

Seakan memaksa untuk menekan rasa depresinya, Yuigahama bersandar di kursi lalu merenggangkan tubuh.

"... enggak ada yang bisa dilakukan."

4 tanggapan:

Adegan ini di animenya aja udah lucu, ane dulu bahkan sering puter-puter ulang nontonya.

Thanks.. izin membaca kelucuannya

Di bab ini memang banyak guyonannya gan... Hkhkhk...

Sama-sama gan... Selamat menikmati...

Posting Komentar