Sakurasou Jilid 1 Bab 1

=========================================================
Halo-halo... Ane kembali lagi...
Sebenarnya ane belum kembali sepenuhnya, sih... Proyek ane pun sebenarnya masih belum ada yang dilanjutin... Terus kalau ini...?
Yang berbeda dari seri ini adalah, gaya penceritaannya yang mengambil sudut pandang orang ketiga... Jadi kalau nanti ketemu kalimat dengan struktur lengkap yang dicetak miring, itu tandanya monolog dari salah satu karakter...
Oke, lanjut ke penjelasan... Koushien merujuk pada dua ajang turnamen bisbol nasional tingkat SMA di Jepang... Soutai adalah pekan lomba olahraga SMA kalau di Indonesia ibaratnya O2SN...
Stasiun Gedaimae dalam raw-nya tertulis 芸大前駅 (Geidaimae-eki), di mana 芸大 (Geidai) adalah sebutan (yang juga kependekan) dari Institut Seni Tokyo (東京藝術大学 ,Tōkyō Geijutsu Daigaku), sehingga di sini terasa seperti 'Stasiun Depan Geidai (Institut Seni)'  yang sering mengecoh orang yang gak tahu...
Mentaiko adalah telur ikan Pollock yang diasinkan, dan Kota Fukuoka cukup terkenal dengan hidangan ini...
Hawks di sini adalah tim bisbol Fukuoka Softbank Hawks... 
Mashiro (ましろ) berarti putih (bersih), dan untuk beberapa kondisi juga bisa diartikan 'kosong'...
Nozomi adalah salah satu layanan kereta tercepatnya...

Nabe adalah jenis masakan yang terdiri dari berbagai sayuran, daging, ikan yang disajikan terpisah bersama periuk dengan kuah panas di dalamnya. Sang penyantap tinggal memasukkan bermacam sayuran, daging dan ikan tersebut ke dalam periuk berkuah yang dipanaskan tersebut sesuai selera sebelum dinikmati...
Jika ada yang bertanya kenapa saat nilai kurs yen menguat, itu malah menjadi masalah... Jawabannya karena walaupun penguatan mata uang merupakan hal yang baik di berbagai aspek, namun bagi Jepang, penguatan yen terlalu besar itu bisa merugikan pasar ekspor Jepang...
Blue Train (ブルートレイン) adalah layanan kereta api berkamar yang perlahan ditinggalkan di Jepang...
Zosui adalah sejenis masakan dari beras yang dimasak (direbus) dengan air atau sup hingga lembut...

Flipbook adalah sebuah buku yang berisi gambar berseri yang perlahan sedikit berubah tiap halaman demi halamannya, sehingga ketika halaman tersebut dibalik secara berentetan dengan cepat, gambar di dalamnya seakan teranimasikan...
Baumkuchen atau "Kue Pohon" adalah kue khas Jerman yang populer pada saat perayaan penting dan pesta pernikahan... Bentuknya seperti menara dengan cincin gak rata berlapiskan coklat putih atau hitam...

Maharaja di sini merujuk pada maharaja di negeri India yang punya banyak selir...
Selamat menikmati...
=========================================================


Suatu hari nanti, di saat kita telah dewasa ....

Apa yang akan ada di benak kita saat mengingat kembali kenangan di Asrama Sakura?

Akankah kita merenungi hal-hal konyol yang sudah kita lakukan?

Atau lebih pada mengenang hari-hari yang ramai dan menyenangkan yang sudah kita lalui?

Hanya dua kemungkinan itu yang bisa kupikirkan.

Karena setiap hari yang kita habiskan di tempat ini sungguh luar biasa.

__________________________________________________________


Bab 1 - Selamat Datang di Asrama Sakura

Bagian 1


Saat dirinya terbangun, hal yang pertama kali dilihatnya adalah bokong putih yang lebat.

"... Hikari, kamu lagi?"

Setelah dia memanggil namanya, Hikari menjawab dengan suara meongnya.

Tanpa pikir panjang, Sorata Kanda segera mengangkat bokong Hikari yang menempel di wajahnya dan beranjak dari karpet abu-abu tempat dia berbaring. Hikari memasang wajah cemberut saat dia dipaksa minggir, namun Sorata hanya membalasnya dengan menghela napas.

"Tragis banget ...."

Sorata menyipitkan matanya saat melihat pemandangan nan terang yang ada di luar jendela. Langit di bagian timur serasa terbakar, seolah meramalkan akhir dari dunia.

"Bangun-bangun sudah diduduki bokong kucing .... Masa mudaku tragis banget."

Dengan rasa keputusasaan yang menyelubungi dirinya, Sorata menutup wajahnya dengan tangan.

"Yah ..., mungkin lebih tragis lagi kalau menyebut yang tadi sebagai bagian masa muda ...."

Hikari, Si Kucing Putih yang ada di pangkuan Sorata, menguap seolah dia setuju, lalu enam kucing lain yang tinggal di kamar berukuran enam tatami itu memulai paduan suara mengeong, meminta diberi makan.

Kucing berwarna putih, hitam, cokelat, kuning, belang-belang, jenis anggora, dan kucing yang mirip jenis American Shorthair .... Ketujuh-tujuhnya ditelantarkan oleh pemiliknya, yang kemudian dipungut oleh Sorata.

Dia juga memberi mereka nama, yaitu Hikari, Nozomi, Kodama, Tsubasa, Komachi, Aoba, dan Asahi.

Dihadapkan dengan sekumpulan kucing yang mendambakan makanan, Sorata menanggapinya dengan bunyi perutnya sendiri. Pesannya tersirat jelas, Tuanmu juga lapar, tahu.

Hari itu adalah hari terakhir liburan musim semi, 5 April pukul 5 sore ....

Gedung apartemen berlantai dua dengan kayu compang-camping itu merupakan asrama milik SMK yang berafiliasi dengan Institut Seni Suimei.

Mungkin pohon sakura besar yang tumbuh di halamannya menjadi inspirasi nama gedung tersebut, hingga dinamakan Asrama Sakura.

Semua penghuninya saling berbagi ruang dapur, ruang makan, serta kamar mandi.

Butuh waktu sepuluh menit jika berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Bahkan, ke stasiun terdekat pun butuh waktu sepuluh menit.

Dan kamar nomor 101 adalah markas Sorata Kanda, yang baru saja naik ke kelas dua pada musim semi itu.

Sebagai kaligrafi pertamanya dalam tahun ini, Sorata menulis sebuah pesan pada selembar kertas besar yang menempel di dinding 
 [MISI: Keluar dari Asrama Sakura!]

Masalah Sorata saat ini bukanlah mencari pacar, bukan juga untuk menuju Koushien. Tentu saja dia tidak berharap mengikuti kejuaraan sampai ke Stadion Nasional ataupun Soutai. Keinginannya hanyalah pergi dari asrama itu.

Asrama Sakura sedikit berbeda dari asrama biasa.

Itu adalah tempat rehabilitasi bagi murid yang telah diusir dari asrama biasa, bahasa kasarnya, tempat itu adalah sarang bagi murid bermasalah.

Tidak seperti asrama biasa, tidak ada ibu asrama, dan karena tidak ada kantin, para murid harus memasak, mencuci, dan bersih-bersih sendiri. Rasanya sangat menjengkelkan. Pihak sekolah mengatakan bahwa itu semua demi mendorong kemandirian para murid, tapi Sorata merasa kalau itu cuma alasan yang dibuat-buat karena tidak ada yang mau bertugas menjadi pengurus di sana.

Asrama Sakura .... Namanya saja sudah cukup mampu merusak sebuah persahabatan.

Yang lebih menjengkelkan, yaitu setiap sebulan sekali, penghuninya dipaksa membersihkan lingkungan sekolah. Tentu saja mereka harus mengambil sampah dan membuangnya ke luar area sekolah, tapi mengingat mereka harus berjalan mengitari lingkungan sekolah yang membutuhkan waktu hingga setengah jam bagi orang dewasa, rasanya tentu melelahkan. Kaki Sorata selalu pegal keesokan harinya.

Dan di asrama memalukan itu tinggallah empat orang murid, terdiri dari laki-laki maupun perempuan, bersama dengan seorang guru pengawas.

Sorata adalah salah satunya.

Musim panas lalu, dia dipanggil langsung oleh kepala sekolah dan dipaksa membuat pilihan.

"Sorata Kanda, apa kamu mau menyingkirkan kucing itu, atau keluar dari asrama? Pilihan ada di tanganmu."

"Lebih baik saya keluar dari asrama."

Berada dalam usia yang labil, Sorata langsung memberi jawaban sebelum kepala sekolah menyelesaikan pertanyaannya. Dan di hari itu juga, Sorata diusir dari asrama biasa.

Dalam perenungannya, Sorata merasa bahwa dia benar-benar telah salah arah ketika dihadapkan pada pilihan sesulit itu. Di pikirannya terjadi perdebatan, mencari siapa yang patut disalahkan atas hal tersebut. Tentu, nalarnya sendirilah yang salah.

Pada saat itu, yang dia punya hanyalah Hikari, kalau dia menghabiskan waktunya untuk berusaha mencari orang yang mau memelihara kucing itu, maka dia bisa menjauhi segala aktifitas yang ada di asrama. Namun sewaktu Sorata diledek oleh Jin Mitaka, salah satu penghuni asrama yang sudah lama tinggal di Asrama Sakura, Sorata merasa syok, dan tidak kembali selama tiga hari.

Untuk alasan itu, setiap harinya dia berusaha mencari pemilik baru buat kucingnya.

Tapi entah kenapa, bukannya menurun, jumlah kucingnya justru bertambah menjadi tujuh. Dia mungkin melakukan semacam kesalahan di sini ....

Ya .... apa boleh buat, mengingat ke mana pun Sorata pergi, selalu saja ada kucing yang terlantar, yang membuatnya sampai percaya kalau dia sedang dikutuk. Dia pernah mencoba mengabaikannya dan terus berjalan, tapi hanya butuh tiga langkah sampai dia terjatuh sambil mencengkeram dadanya serasa telah melakukan dosa.

Khawatir melihat Sorata begitu tenggelam dalam pikirannya, Hikari yang diikuti Nozomi dan Kodama, datang meringkuk kepadanya.

"Kalian jangan terlalu lengket padaku, aku sedang berusaha mencari orang yang mau memelihara kalian, tahu. Nanti aku bisa menangis jika tiba waktunya harus melepas kalian. Dan aku terlihat payah kalau sedang menangis, kalian pasti tidak ingin melihatnya."

Tidak begitu jelas apakah para kucing itu mengerti atau tidak, namun mereka beralih dan mulai mengusap wajah mereka.

Sambil menghela napas, mata Sorata berpaling pada langit yang merah.

Hari itu adalah hari terakhir liburan musim semi, tapi Sorata sedang kebingungan soal bagaimana mengisi hari itu dengan hal yang bermakna. Diterangi oleh sinar matahari dan senyum kecut di wajahnya, Sorata tiba-tiba mendengar suara rengekan lain dari tempat tidur yang ada di belakangnya.

Dia berhenti menutup wajahnya dan mulai berbalik, dan tiba-tiba dia ingat alasan kenapa bisa sampai tidur di lantai yang keras itu.

Di tempat tidur yang awalnya disediakan untuk Sorata, terlelap seorang gadis cantik dengan posisi seperti bayi yang masih dalam kandungan, mulutnya membentuk lekukan seperti kucing yang sedang menyengir. Boleh dibilang, dia memang ratu para kucing. Jika diperhatikan, sosoknya tampak seperti jenis American Shorthair yang cantik dan sehat. Bokong mulusnya tanpa malu menyembul keluar dari keliman rok mini seragam sekolahnya, dan belahan dadanya dapat terlihat lewat dua kancing blusnya yang terbuka, yang jadi tampak semakin jelas karena apitan kedua tangannya.

Kalau hal itu terjadi setahun yang lalu, Sorata mungkin akan menelan ludahnya karena takjub oleh pemandangan tadi, kemudian kehilangan akal sehat dan mulai menjerit-jerit.

Tapi, karena sudah diasingkan ke Asrama Sakura lebih dari satu setengah tahun lalu, Sorata tidak lagi terkejut oleh hal seperti itu.

"Kak Misaki, ayo bangun."

Dengan menahan rasa gelisahnya, Sorata memanggil nama penghuni lain yang ada di tempat tidurnya, dan membuat Misaki 
Kamiigusa terbangun lalu meregangkan badan layaknya seekor kucing.

Blusnya terangkat, pinggang ramping dan pusarnya pun menjadi kelihatan. Yang anehnya lagi, rambut berantakannya sehabis tidur malah membuatnya jadi lebih menawan. Kalau dia berjalan melewati sepuluh orang di jalanan, pasti mereka bakal mabuk kepayang.

Proporsi tubuhnya pun luar biasa, dengan tinggi badan 156 cm dan berat 46 kg, tiga ukuran tubuhnya adalah 87-56-85, sebagai seorang murid kelas tiga, tubuhnya sudah tumbuh seperti orang dewasa. Dengan pesonanya yang memenuhi kamar, Misaki tersadar dan mengalihkan matanya kepada Sorata.

"~di masa depan nanti, aku ingin menikah!"

"Di dunia ini sudah jelas kalau mengigau hanya terjadi sewaktu tidur saja."

"~kalau begitu aku jadi istrinya, dan Junior jadi suaminya. Ceritanya, kamu baru pulang dari kerja. Mulai!"

"Kenapa mendadak berubah jadi dialog komedi?!"

"~selamat datang, Sayang. Hari ini kamu pulang cepat, ya?"

"Eh, serius mau dilanjutkan?!"

"~mau makan malam dulu? Atau mandi dulu? Atau mau ... ma-wa-shi (cawat sumo)?"

"Memangnya ini arena sumo?!"

"~ta-wa-shi (sikat pembersih)?"

"Sudah, katakan watashi (diriku) saja! Memangnya kamu tega menyuruh suami yang baru pulang kerja untuk membersihkan kamar mandi?! Dasar Monster!"

"~kira-kira, apa kungkang juga bersemangat kalau sedang kawin?"

"Jangan seenaknya mengubah topik!!"

"~reaksimu lamban, sih. Persahabatan kita bisa luntur kalau kamu tidak mau bekerja sama."

Berbicara dengan nada menggoda, Misaki menunjuk Sorata dan mengedipkan mata, seolah-olah dia sedang menasihati anak yang nakal.


Kok bisa ada orang yang sesemangat ini padahal baru saja bangun?

"Ya, sudah .... Selamat pagi. Dan aku sudah membicarakan hal ini berkali-kali, tapi tolong ..., kalau tidur itu di kamar sendiri."

"~yah, sang betina juga tidak akan ikhlas menyerahkan tubuhnya kalau yang jantan malas-malasan.”

"Apa kita masih membahas soal kungkang?!"

"~melihat sang betina yang tidak puas rasanya sedih sekali."

"Sang betina juga hanya berbaring saat sedang kawin, jadi mereka dan aku sama saja."

Sorata akhirnya menyerah, dan mulai mengikuti alur pembicaraan Misaki.

"Baiklah, bisa kita lanjutkan yang kemarin?"

Meski begitu, Misaki malah mengabaikan aliran pembicaraan tadi dan mulai duduk di depan TV, menyalakan video game, lalu mengambil controller. Sistem konsolnya menyala, dan berbunyi seperti sedang membaca piringan game.

Sebelum judul permainan muncul di layar, Sorata merebut konsolnya lalu mematikannya.

"~ahh ..., apa yang kamu lakukan ...."

Misaki menggembungkan pipinya sambil mengeluh, dia ternyata cukup imut kalau sedang marah. Dihadapkan dengan tatapan mata Misaki yang agak mengadah ke atas, Sorata bisa merasakan dirinya mulai tersenyum.

Namun dia tidak boleh terpedaya.

"Terus, bagaimana soal kungkang-nya?!"

"~eh .... Itu membosankan."

"Kamu duluan yang mulai, 'kan?!"

"Biar begitu, ayo main game saja."

"Kata sambung tadi benar-benar tidak sinkron sama kalimatnya! Lagi pula, sejak kemarin lusa kita tidak ada hentinya bermain game, 'kan?! Sudah 36 jam! Mataku rasanya mulai membusuk! Jika aku terkena gelombang elektromagnetik dari layar televisi lagi, kuyakin tubuhku pasti akan hancur jadi pasir atau garam!"

Alasan Sorata tertidur di lantai adalah karena dia kelelahan sampai pingsan.

Tanpa menunggu lama, Misaki langsung menyalakan konsol video game-nya lagi.

"~baiklaaah .... Kalau kamu merasa begitu, bagaimana kalau kulepas bajuku satu per satu setiap kali kamu menang? Itu juga bisa merawat matamu agar kembali sehat! Menenangkan lelah di mata! Hal yang membuat terangsang! Itulah bumbu masa muda! Kamu akan menuju tangga kedewasaan! Terikat oleh rantai hasrat dan nafsu!"

"Daripada melihat Kak Misaki telanjang, rasanya aku lebih terangsang menelanjangi kulit bawang, deh."

"~kamu pasti berpikir, Wah! Kurasa aku melihat cairan putih-putih yang keluar! Atau semacamnya, 'kan? Ya tidak ada salahnya, sih. Tapi bukan hal yang baik kalau masih terangsang dengan sayuran setelah lewat kelas dua SMP. Jangan jadi herbivora! Kamu harus lahap semua yang ada di depanmu! Saat kamu sudah SMA, kamu harus banyak makan daging! Ya, daging! ~baiklah Junior, ikutlah denganku menuju dunia hasrat jasmani kita!"

Sambil bicara begitu, Misaki membusungkan dadanya. Dadanya pun bergoyang-goyang layaknya puding yang menyembul dari balik baju. Sayangnya, naluri lelaki Sorata memaksa pandangan matanya terpaku pada dada Misaki.

Meski begitu, Sorata terus berusaha melawannya.

"Tahu tidak? Dengan sikap
 yang tidak tahu malu itu, aku jadi tidak yakin lagi kalau Kak Misaki seorang perempuan! Jadi, tolong hentikan! Berhentilah juga bersikap sok imut, bisa-bisa aku mulai meragukan semua perempuan karena dirimu, sungguh!"

"~ah .... Tapi kita sudah berhasil mengatasi perbedaan gender dan menjadi teman dekat! Selamat! Ayo kita rayakan dengan bermain video game sampai pagi!"

"Itu bukan hal yang layak untuk dirayakan! Bagaimana bisa pikiran menyimpangmu itu sampai menyimpulkan demikian?! Benar-benar, deh. Yang namanya alien harusnya balik ke planetnya sendiri!"

Selama liburan musim semi, aku dipaksa bergadang dengan Kak Misaki sampai pagi. Setidaknya aku hanya ingin mengisi hari ini dengan damai dan tenang.

"~apa itu saja yang ingin kamu katakan?!"

"Jika kamu pikir aku sudah selesai bicara, kamu salah besar! Kamu itu selalu dan selalu bertindak egois! Memangnya kita hidup di negara mana?! Negara Seenak Udelmu?!"

"Kalau begitu, kita akhiri saja dengan main game! Kita mulai pertempuran berdarah sampai salah satu dari kita hancur! Atau pertempuran ini tidak akan ada habisnya!"

"Boleh sa
 eh! Sudah kubilang aku tidak mau main!!"

Sorata berharap Misaki melototinya dengan ekspresi marah, tapi Misaki malah mengambil piringan dari konsol video game dan memasukan piringan putih lain ke dalam konsol.

"Huh! Oke, oke! Kalau kamu benar-benar tidak mau main, bantu aku memeriksa contoh hasil karyaku!"

Sorata penasaran dengan yang hendak dilihatnya sewaktu muncul hitungan mundur pada layar televisinya, hal yang biasa terlihat pada film-film zaman dulu.

"Jadi ini hasil karya barumu?"

"~aku baru mengeditnya kemarin lusa, jadi ini masih baru. Silakan dinikmati~"

"Tapi bagian hitung mundur itu masih terasa jadul ...."

Setelah hitungan mundur selesai, anime asli buatan Misaki pun muncul di layar televisi. Tidak ada suara, musik, maupun bunyi efek khusus karena belum ada pengisi suara untuk anime itu. Meski begitu, animasinya sangat halus, gerakannya sangat dinamis, dan itu sudah cukup memberi kejutan. Dia bahkan memadukan karakter 2 dimensi dengan latar 3 dimensi, menyajikan harmoni gambar modern yang sempurna. Karakter dan latarnya juga digambar sangat indah dan cermat. Seiring dengan sketsanya yang memiliki ritme dan komposisi yang unik, dia berani untuk mengerjakan adegan-adegan yang intens. Sulit dipercaya kalau karya tersebut hanya dibuat oleh satu orang saja. Tentu saja itu bukanlah hal yang bisa dibuat seorang pemula, karya itu benar-benar melampaui kualitas animator kelas atas.

SMK yang berafiliasi dengan Institut Seni Suimei (sering disebut Suiko) tidak hanya memiliki Jurusan Umum di mana Sorata ada di dalamnya, tetapi juga ada Jurusan Musik dan Jurusan Seni Rupa yang ditujukan untuk segelintir golongan elit. Golongan elit ini datang dari penjuru negeri. Mereka harus memiliki nilai yang sangat tinggi untuk bisa masuk ke sekolah yang memiliki tingkat penerimaan yang sulit itu.

Dan Misaki salah satu dari mereka, dia murid kelas tiga dari Jurusan Seni Rupa.

Dia satu-satunya murid yang layak menerima beasiswa dalam sepuluh tahun terakhir sejarah sekolah, namun dia juga satu-satunya murid yang haknya dirampas karena keinginannya yang terus-menerus memproduksi anime, dan itu membuatnya cukup dikenal satu sekolah.

"Luar biasa."

Itulah kesan yang mungkin semua orang akan katakan, tapi Misaki tidak menanggapi Sorata. Dia tampak sedang sibuk mengimprovisasi efek suara dan musik dari mulutnya sendiri.

"~duarDuarWushDor dor dor! Takdirmu telah datang! BrakBrakDangDangDang! Kamu terlalu naif, semua yang kamu katakan itu bohong!, A-Apa kamu bilang?!, Lepas celanamu dan coba lain kali, bocah! BruuuuumJreng-jreng!"

Tapi, pertunjukan suara yang diberikan Misaki benar-benar tidak cocok dengan videonya.

Dunia macam apa yang ada di pikirannya?

Misaki berhenti sejenak bersamaan dengan layar yang perlahan menjadi hitam.

Durasi videonya berkisar selama lima menit, mungkin karena begitu mengesankan, rasanya durasi video itu lama sekali.

"Lebih dari yang kukira, ternyata banyak yang harus kukerjakan ulang."

Misaki lalu mengambil piringan dari konsol, rasa heran dan kecewa pun dapat terdengar dari dirinya. Meski sebelumnya dia banyak melontarkan kata-kata aneh, tapi dia benar-benar telah menyelesaikan pekerjaannya, dan itu cukup membuat orang terkejut.

"Aku tidak melihat ada bagian yang perlu diperbaiki."

"~kamu naif, Junior. Pertempuran sesungguhnya baru dimulai jika kamu pikir segalanya sudah sempurna! Dan musuhmu ada di dalam dirimu sendiri!"

"Ah ..., jadi begitu ...."

"~baiklah .... Menurutmu apa aku bisa minta bantuan Nanamin mengisi suara anime ini?"

Nanamin yang dimaksud ialah Nanami Aoyama, salah satu teman sekelas Sorata sejak kelas satu. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang pengisi suara, karenanya saat ini dia mengikuti les pengisi suara. Pada angket survei kariernya sewaktu kelas satu, dengan antusias dia mengisi Jurusan Drama saat kuliah nanti. Dan juga dia sama sekali tidak suka dipanggil Nanamin.

Mungkin karena lingkungan unik yang ada di SMK yang berafiliasi dengan Institut Seni Suimei ini, banyak murid yang sudah menetapkan cita-cita mereka dan berusaha keras untuk mencapainya. Di Asrama Sakura pun ada murid kelas tiga yang bertujuan masuk Jurusan Bahasa karena cita-citanya yang ingin menjadi penulis skenario. Ada juga murid kelas dua yang sudah bekerja sebagai programmer dalam perusahaan game, dan dia juga bertujuan untuk masuk ke Jurusan Multimedia.

Tidak seperti murid lain yang sudah memiliki tujuan masing-masing, Sorata mengumpulkan angket survei kariernya tanpa mengisi apa pun di dalamnya. Sepulang sekolah dia dipanggil ke ruang guru, dan dipaksa mengisinya kembali sebagai PR libur musim semi.

Di sisi lain, Misaki, yang satu tahun lebih tua darinya, mengisinya dengan tulisan, Masa depanku terlalu cerah, aku tidak bisa melihatnya! Yang membuatnya ikut dipanggil ke ruang guru, dan dia diceramahi tiga kali lebih banyak dari Sorata. Tetapi guru yang menceramahi Misaki terkena serangan balik oleh kata-katanya yang aneh, dan guru itu pun terluka sangat dalam olehnya. Saat ini beliau sedang cuti, dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang dekat. Itu kedua kalinya Misaki membuat wali kelasnya trauma, dan Sorata bisa merasakan penderitaan mereka.

"Kalau mau, aku bisa minta tolong padanya."

"~kalau begitu tolong, ya, bantu aku mengedit bagian perekaman juga."

"Sebagai gantinya, traktir aku di kantin sekolah, ya."

"~tidak masalah~"

Bagi Misaki itu bukan hal yang berat, bahkan jika Sorata meminta untuk mentraktirnya makanan selama setahun penuh, mungkin dia tidak akan terganggu sedikit pun. Selama musim panas tahun lalu, Misaki mengunggah anime berdurasi tiga puluh menit buatannya ke berbagai situs video, dan itu sukses besar, dia menerima reaksi positif dari satu juta penonton. Berbagai perusahaan pun segera menghubungi Misaki untuk menawarinya pekerjaan. DVD hasil karyanya mulai dijual Januari ini, dan terjual lebih dari seratus ribu keping, seolah-olah mengejek kondisi ekonomi negera yang sedang buruk-buruknya. Sorata pernah mengintip tabungan rekeningnya, dan jumlahnya sudah cukup bagi Misaki untuk bersenang-senang selama sisa hidupnya.

Skenarionya telah diurus oleh Jin Mitaka, teman masa kecil Misaki yang sekaligus penghuni Asrama Sakura.

Ceritanya bertempat di sebuah pulau buatan yang jauh dari Bumi. Cerita fiksi ilmiah ini dimulai dengan seorang anak lelaki yang lahir, tinggal dan hidup tentram di pulau buatan tersebut, yang kemudian bertemu dengan seorang gadis muda dari luar pulau.

Pada awalnya hubungan mereka berjalan baik, tapi lama kelamaan tidak begitu baik dan malah menjadi membosankan. Anak lelaki itu sangat cuek, jadi gadis itu mengambil inisiatif untuk mengutarakan perasaan padanya sekaligus memberi ciuman pertamanya. Anak lelaki itu sama sekali tidak peduli. Namun ada sesuatu yang misterius di sekitar mereka yang mengubah titik balik pada pertengahan cerita.

Suatu hari anak lelaki itu mengetahui kalau dunia yang dia tempati adalah sebuah kebohongan besar. Dia tidak tinggal di pulau buatan, melainkan sebuah koloni dengan skala besar yang mengapung di luar angkasa. Bumi yang dia pikir sedang dia tempati telah menjadi planet yang tidak dapat dihuni akibat selalu dilanda peperangan mengerikan.

Anak lelaki itu sadar bahwa selama enam belas tahun dia hidup, dia selalu bersikap tak acuh. Dia berpikir kalau selama ini dia hidup di Bumi, namun ternyata semua itu merupakan kebohongan besar. Dan bukan hanya itu saja, bahkan sosok yang dianggapnya sebagai orang tua ternyata bukanlah orang tua kandungnya, teman-teman sekelasnya pun sudah tahu akan hal itu, namun mereka tetap berbohong padanya. Tentu saja, keberadaan gadis itu pun suatu kebohongan yang telah dirancang untuk anak lelaki tersebut. Hidup yang dia jalani selama enam belas tahun itu hanyalah sebuah skenario buatan pemerintah dunia.

Untuk mengakhiri perang yang tak berkesudahan itu, pemerintah dunia membuat sebuah program untuk membentuk ulang kepribadian umat manusia yang dinamakan Bahtera Nuh. Program itu dimaksudkan untuk mengurangi kepekaan terhadap rasa sakit, kesedihan, kebencian, dan kemarahan yang ada pada anak-anak. Atau dengan kata lain, untuk menghilangkan naluri peperangan yang ada pada umat manusia. Di dalam program itu, pulau buatan diibaratkan sebagai bahtera, dan anak lelaki tersebut sebagai kelinci percobaannya.

Rencana mereka bisa dibilang berhasil, anak lelaki itu tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui kebenaran tersebut. Dia menjadi panik dan menggigil ketakutan. Akhirnya dia pun kehilangan akal sehat dan menjadi gila karena pikirannya yang kacau. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menghancurkan segala yang ada di hadapannya. Dia mengambil alih salah satu senjata raksasa berkaki dua yang melambangkan dunia palsu tersebut, dan mengubah pulau buatan manusia itu menjadi lautan api.

Saat pemerintah dunia memutuskan untuk melenyapkan anak lelaki itu, hanya sang gadis yang datang membelanya. Gadis tersebut ingin melindungi sang anak lelaki yang telah dikepung tentara, namun dia tertembak di bagian dada dan meninggal dalam pelukan anak lelaki tersebut.

Setelah gadis itu meninggal, sang anak lelaki sadar bahwa dalam dunia palsu tersebut masih ada sebuah kebenaran. Yaitu perasaan yang dia miliki pada gadis itu, dan sikap lembut sang gadis yang ditujukan padanya.

Kemudian anak lelaki itu pun menangis untuk pertama kali dalam hidupnya. Itu adalah air mata penyesalan, yang secara ajaib membawa para penonton pada adegan kehangatan yang klasik.

Sorata juga meneteskan air mata saat pertama kali menontonnya, dia benar-benar tidak berdaya menghadapi kisah yang dibuat oleh pengerjaan yang luar biasa itu.

Semuanya merupakan hasil karya Misaki sendiri. Setiap tata letak, konsep, sketsa, komposisi, gambar, animasi, pewarnaan, paduan latar belakang, pengambilan gambar, efek khusus, pemotongan adegan, perekaman, penggabungan audio, bahkan pengeditan video yang mestinya dilakukan oleh masing-masing seksi dalam setiap perusahaan, semuanya dilakukan oleh Misaki sendiri.

Dia tidak hanya pandai menggambar animasi dua dimensi, tapi juga tiga dimensi. Perpaduan antara cita rasa dan keahlian yang dimilikinya menciptakan sebuah tontonan yang tak biasa.

Meskipun bagian audionya diserahkan pada temannya dari Jurusan Musik, Misaki tetap harus menyelesaikan berbagai hal lainnya dalam standar yang sangat tinggi.

Anime buatan Misaki membuat lubuk hati Sorata merasa bahwa Tuhan itu tidak adil, Misaki diberkati bakat yang sangat abnormal, sedangkan dia tidak diberkati apa pun.

"~baiklah! Ayo kerjakan ulang sekarang!"

Misaki berdiri dan meregangkan badannya. Dia tiba-tiba tidak tertarik lagi dengan Sorata dan keluar dari kamar. Suara napas yang berat terdengar bersamaan dengan Misaki yang menaiki tangga lalu berjalan di lantai dua, kebetulan kamar Sorata berada tepat di bawah kamar Misaki.

"Aku benar-benar harus segera keluar dari sini sebelum jadi gila ...."

"Maaf mengganggu."

Tepat setelah Misaki pergi, sosok lain muncul di depan pintu. Dandanannya benar-benar terlihat tebal, dan pakaiannya terlihat seperti sudah siap untuk bertarung. Beliau adalah guru Seni Rupa, Sengoku Chihiro. Beliaulah satu-satunya guru yang ditugaskan menjadi pengawas di Asrama Sakura, serta tinggal bersama Sorata dan yang lainnya. Akan tetapi, beliau tidak serius mengemban tugasnya sebagai pengawas ....

"Ih ..., dandanan Ibu ..., seperti kupu-kupu malam saja, tepatnya, lebih mirip ngengat malam, Bu."

"Bocah sepertimu mana mengerti hal dewasa semacam ini."

Yang lebih parah lagi, Chihiro lalu mengedipkan satu matanya, sampai-sampai, bunyi tepukan maskara tebalnya pun terdengar.

Menahan rasa jijiknya, Sorata menyunggingkan senyum kecut.

"Ya ..., pokoknya, jangan bilang kalau saya tidak pernah memperingatkan Ibu."

"Jangan khawatir, hari ini Ibu pasti akan bertemu dengan suami masa depan Ibu, jadi tunggu saja."

"Jadi, cuma itu saja yang mau Ibu sampaikan?"

"Kenapa Ibu repot-repot kemari hanya untuk membahas hal tadi padamu, ya?"

"Yah, kenapa juga saya mau repot-repot mendengarkan Ibu bicara?"

"Kamu tidak perlu selalu membalas ucapan Ibu, 'kan? Kalau begitu ..., nih ...."

Beliau memberi selembar foto kepada Sorata, foto seorang gadis berumur antara lima atau enam tahun.

"Ibu kebanyakan mengigau, ya?"

"Itu sepupu Ibu, mulai hari ini dia akan pindah ke Asrama Sakura."

"Ah ...."

"Namanya Mashiro Shiina, dia akan tiba di stasiun pukul 6 sore. Tolong dijemput, ya?"

"Hah?"

"Ibu bilang, dia akan tiba di stasiun pukul 6 sore, jadi Ibu ingin kamu pergi menjemputnya. Kamu dengar, tidak?"

"Saya sudah dengar, makanya saya bingung!"

"Ayolah, Ibu ada acara minum-minum. Yang diundang itu semuanya dokter, tahu, dokter! Itu jarang sekali. Jadi ayolah, kamu sendiri juga tahu kalau Ibu sudah tidak bisa lagi mengubah jadwalnya. Lagi pula, jika dilihat-lihat, sepertinya kamu juga sedang tidak ada kerjaan, 'kan? Kalau boleh jujur, kamu malah tidak pernah terlihat sibuk."

"Ucapan Ibu tadi terdengar tidak pantas bagi seorang guru .... Suasana hati Ibu sedang bagus, ya? Aku jadi terkejut. Tapi untuk hari ini aku tidak bisa membantu Ibu, karena aku harus mencari tahu apa yang jadi keinginanku untuk masa depan."

"Apa maksudmu?"

"Ibu yang menyuruh saya mengisi ulang angket survei karier, 'kan?!"

"Ah .... Tulis saja pilot atau semacamnya, masalah beres."

"Memangnya saya anak SD?!"

"Kalau begitu tulis saja, Ingin jadi kaya."

"Itu malah lebih buruk!"

"Perhitungan sekali, sih. Kalau kamu bingung tulis saja, Melanjutkan ke sekolah tinggi, para guru pasti akan senang."

"Bisa Ibu minta tolong pada Jin saja? Dia juga sedang tidak ada kerjaan."

"Si tukang minggat itu sedang tidak di sini. Mungkin hari ini dia sedang memanfaatkan wajah tampan kebanggaannya itu untuk menggoda wanita, dan memakai tubuh bagian bawahnya untuk membuat mereka mabuk kepayang."

"Apa Ibu ini benar-benar seorang guru?! Astaga, apa Ibu tidak malu?! Saya bahkan tidak tahu harus bilang apa!!"

"Malu? Maaf, hal seperti itu sudah Ibu tinggalkan di testis ayah Ibu."

"Uwah! Astaga! Pertama kalinya saya dengar seorang wanita bilang testis! Orang yang sudah melewati umur 30 dan berubah jadi Amazoness memang beda. Kekuatan wanita berumur 30 tahun sangat hebat."

Alis Chihiro mengerut.

"Siapa yang kamu sebut 30 tahun?! Umur Ibu masih 29 tahun 15 bulan!"

Dengan sekuat tenaga beliau menghentak lantai hingga terasa berguncang, Sorata sampai mengurungkan niatnya untuk menjawab, Pejuang Amazoness memang hebat.

"Lalu ..., bagaimana dengan Akasaka? Dia pasti ada di sini, 'kan?"

Sorata melihat ke arah dinding kamar. Di kamar nomor 102 tinggal seorang programmer yang seangkatan dengannya,
 Ryuunosuke Akasaka.

"Tidak mungkin pengurung diri itu mau keluar. Pikir-pikir dulu kalau mau bicara. Ah ..., Ibu bisa telat kalau tidak berangkat sekarang. Kuserahkan sepupu Ibu padamu. Pastikan kamu menjemputnya!"

Chihiro membanting pintu dengan keras, membuat engsel pintu sampai longgar sehingga menjadi miring. Para kucing mencoba menenangkan Sorata dengan suara meongnya, seolah ingin berkata kalau memperbaiki pintu itu akan sia-sia saja.

Sorata menatap Chihiro dari belakang, sambil berharap Chihiro akan gagal dalam pencariannya.

Setelah itu dia mengambil ponselnya di lantai dan mengirim pesan pada Ryuunosuke.

Dia menerima balasan yang sangat cepat.

「Saat ini Tuan Ryuunosuke sedang mengembangkan middleware untuk PT. S yang digunakan sebagai kompresor audio. Kedengarannya membosankan, tapi beliau terus melakukannya karena itu sudah jadi tanggung jawabnya. Jadi meskipun Sorata mengirim pesan, aku tidak bisa memberinya pada Tuan Ryuunosuke. Maaf atas gangguan ini, kuharap kamu mengerti.


 Dari Maid-chan yang juga bertanggung jawab sebagai sekretaris~」

Maid-chan adalah AI (kecerdasan buatan) yang dikembangkan oleh Ryuunosuke untuk menjawab pesan secara otomatis. Sorata tidak tahu jelas bagaimana AI itu dibuat, tapi Maid-chan benar-benar emosional, dan sangat cerdas. Dia memiliki cara bicara yang tidak terlalu formal, dan sedikit membuat kesalahan eja di sana-sini. Meski begitu, balasannya sangat akurat dan cocok.

Hal itu sangat menarik, terkadang dalam waktu senggangnya, Sorata sering meminta nasihat soal kehidupan darinya, bahkan dia pernah mencoba menggodanya.

Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain-main dengan penjawab pesan otomatis.

Dia kembali mengirim pesan, dan berharap memperoleh balasan berbeda.

Kali ini dia langsung mendapat balasan dalam sekejap.

「Kalau kamu terus mengganggu, nanti kukirimkan virus kepadamu, lo. (Hihi)


 Dari Maid-chan yang mampu membuat virus~」

"Wah, gawat!"

Takut ada apa-apa, Sorata langsung mengirimkan pesan minta maaf.

Sebelum ini Sorata pernah mendapat sebuah program yang mampu menghancurkan sistem ponselnya, yang mengubah ponsel barunya itu menjadi sebuah rongsokan.

「Baguslah jika kamu sudah mengerti. Ah ..., tapi sayang sekali aku tidak bisa memakai virus ini, padahal aku sudah berjuang keras membuatnya.


 Dari Maid-chan yang berharap menjadi manusia~」

Sorata kembali mengirimkan pesan minta maaf, dia merasa harus lebih berhati-hati kepada AI ini. Kemudian Sorata pun menghela napasnya ....

"Ah ..., semua murid maupun guru di sini benar-benar aneh. Aku benar-benar harus segera keluar dari tempat ini, pikiranku lama-lama bisa jadi gila .... Aku hanya ingin kembali ke kehidupanku yang biasa .... Siapa saja, tolong aku."

Dia lalu melihat foto yang diberikan Chihiro padanya.

Seorang gadis berkulit putih itu mengenakan topi jerami yang besar dengan pakaian yang putih bersih. Ekspresinya pucat, meski dihadapkan pada kamera, dia tidak tersenyum. Dia memiliki ekspresi yang kosong, dan tampaknya dia sedang menatap pada sesuatu yang ada di balik lensa kamera.

Mungkin karena ekspresi kosong yang tampak jelas itu, Sorata bisa merasakan kepedihan yang ada di dirinya.

Gadis itu mengingatkan Sorata pada sesuatu.

Lalu kucing di sebelahnya mengeong.

"... begitu rupanya, dia mengingatkanku pada saat pertama kali aku menemukan kalian."

Sambil melihat kucing yang meringkuk di kakinya, dia membayangkan seorang gadis kecil duduk menatapnya dari dalam kardus. Itu saja sudah cukup membuat diri Sorata diam membatu.



Bagian 2


Rute terpendek dari Asrama Sakura menuju stasiun adalah melalui jalan berbata merah yang terlintang di sepanjang distrik perbelanjaan. Rute tersebut memberi suasana jalan perbelanjaan lawas yang menyenangkan, dan bagi Sorata yang lahir dan dibesarkan di kota ini, rute ini bahkan pernah menjadi tempat bermainnya.

Mungkin itu sebabnya, hanya berjalan melintasinya saja, Sorata disapa oleh satu per satu orang yang dia kenal.

Di depan penjual ikan:

"Hei, kamu Nak Kanda, 'kan?! Ayo sini, coba ikan kembungnya hari ini!"

Dan di depan penjual daging di hadapannya:

"Oh, Sorata, ya ~ Kamu lapar? Ini kuberi beberapa kroket."

Seperti itulah, bahkan tanpa membeli apapun, Sorata mendapat beberapa kroket dari penjaga toko itu.

"Hei Sorata, lama tak jumpa. Sekarang kamu sekolah di Suikou, 'kan?"


Tentu saja, dia bahkan berpapasan dengan teman SMP-nya, yang kebetulan sedang membantu di toko sembako.

Kota ini penuh dengan jalinan persahabatan yang erat dan sulit dijumpai di kota-kota besar.

Sebagian alasannya adalah hal itu tidak akan memberi keuntungan bagi mereka untuk mendesak pembangunan kota di waktu setelat ini, dan sebagiannya lagi adalah semua orang merasa cukup nyaman dengan kondisi distrik perbelanjaan yang sekarang ini.

Sekitar tiga tahun yang lalu, sebuah toko swalayan besar dengan harga-harga murah dan pilihan barang yang bagus dibuka di seberang stasiun, tapi Sorata hanya tetap berbelanja di distrik perbelanjaan ini. Dia hanya merasa jauh lebih nyaman di sini. 

Dan mungkin karena ada orang lain yang berpikir serupa dengannya, distrik perbelanjaan ini tetap seperti ini.

Selagi menjejal mulutnya dengan kroket yang diterimanya tadi, Sorata segera sadar jika sudah berada di depan stasiun.

Meskipun tempat itu disebut-sebut sebagai Stasiun Geidaimae, tidak akan memakan lebih dari lima belas menit bagi orang dewasa untuk berjalan dari sini ke sekolah. Karena itulah, tempat ini cukup terkenal atas kehebatannya menjebak para peserta yang berharap tiba tepat waktu untuk melaksanakan ujian masuk, yang kemudian membuat mereka berlinangan air mata saat sadar bahwa mereka akan telat.

Stasiun itu terasa agak menyusahkan karena hanya menyediakan gerbang satu tiket, sehingga memaksa orang-orang yang tinggal di sisi lain stasiun untuk melalui jembatan penyeberangan rel terlebih dahulu jika ingin menuju ke sana. 

Sorata duduk di pembatas besi tepat di depan gerbang tiket dan menunggu.

Dia mengeluarkan foto yang disimpannya di dalam dompet lalu memeriksanya sekali lagi.

Mashiro Shiina.

Nama yang aneh.

Bu Chihiro bilang kalau ini sepupunya. Tapi usianya tampak berbeda jauh.

Sembari Sorata memikirkan hal-hal tersebut, sebuah kereta yang tiba dari arah pusat kota berhenti.

Biasanya Sorata mengira jika dia akan melihat sejumlah murid SMP yang turun dari kereta itu, tapi karena sekarang liburan musim semi, tidak ada banyak orang di dalamnya. Orang-orang yang turun dari kereta tersebut hanyalah orang-orang yang tidak diketahui dari mana asalnya maupun usianya, yang meninggalkan stasiun untuk alasan yang tidak diketahui pula.

Di antara orang-orang itu, Sorata mengenal sesosok wajah. Orang tersebut kelihatannya juga mengenal Sorata, dan membelalakkan matanya karena terkejut. Dia mempercepat langkahnya hingga sampai di depan Sorata.

"Sedang apa kamu di sini? Menungguku, ya?"

"Sama sekali tidak."

"Ah, kurasa lain begitu."

Jelas sedang memikirkan sesuatu yang lucu, Jin Mitaka tertawa terbahak-bahak.

Dia memiliki rambut coklat muda yang lebat. Badannya cukup tinggi dan juga cukup ramping. Sosoknya cukup memberikan kesan yang kuat jika dilihat dari dekat, tapi entah kenapa, dia lebih dikenal sebagai seorang pria yang lembut.

Kacamata bersiku runcingnya memberi tampang orang intelek, bahkan anak seperti Sorata tidak keberatan untuk menyebut kalau lelaki itu keren.

Karena itu Sorata bisa menerima bahwa lelaki itu cukup populer di kalangan para perempuan. Itu tidak akan membuatnya terkejut meski dia menemukan bekas cupang di leher Jin. Nyatanya, hal itu cukup bisa ditebak.

Lelaki itu tinggal di kamar 103 di Asrama Sakura. Kemampuan istimewanya yakni dapat menebak tiga ukuran tubuh wanita melalui penglihatannya, bahkan ketika mereka sedang mengenakan pakaian.

"Hei, hei, yang kamu bawa itu apa? Baunya enak."

Dia memalingkan tatapannya pada plastik kroket yang dipegang Sorata. Bertolak belakang dengan seseorang yang terlihat begitu dewasa dan kalem, sebuah tampang anak kecil yang penasaran terpancar jelas dari matanya.

"Kroket dari penjual daging. Kudapat sewaktu datang kemari."

"Wah, enaknya. Bagi sedikit, dong. Aku belum ada makan sejak sarapan tadi."

Jin mengambil kroket yang ditawarkan Sorata padanya lalu memakannya dengan semangat.

"Sorata memang hebat."

"Eh?"

"Hanya berjalan melewati distrik perbelanjaan saja, kamu bisa dapat kroket lezat ini. Aku benar-benar terkesan."

"Aku lebih terkesan dengan Kak Jin, karena wanita bisa saja hamil setiap kali kamu berpapasan dengan mereka."

"Hei, hei, aku pakai kontrasepsi."

"Terserahlah. Omong-omong, anime buatan Kak Misaki ... jadi terkenal, ya?"

Jin-lah orang yang menulis skenario untuk anime itu. 

"Itu semua karena Misaki. Dari dulu dia memang sudah tidak normal. Wah, kroket ini benar-benar enak .... Aku suka banget."

Jin tampak ingin mengubah topik pembicaraan, karena itu Sorata berhenti membicarakannya.

"Aku tidak boleh lupa untuk berterima kasih pada penjual daging itu saat berjumpa lagi dengannya. Akan kuberi tahu kalau Kak Jin memuji kroketnya."

"Ah, sekarang setelah kuingat lagi, kamu itu penduduk sini, kan?"

"Iya." 

"Terus kenapa tinggal di asrama?"

"Baru sekarang kamu menanyakannya? Yah, tidak masalah, sih, tapi itu benar-benar bukan cerita yang menarik."

Kejadiannya sekitar setahun lalu, di hari ketika pengumuman hasil ujian seleksi masuk SMA.


*********

Kaget karena bisa lulus ujian masuk, Sorata pergi dan merayakan dengan teman-temannya ke tempat karaoke.

Pulang ke rumah persis lewat tengah malam, Sorata mendapati sosok garang ayahnya sedang berdiri menunggunya di ruang tamu.

"Kamu sekarang murid SMA. Jadi kamu punya hak untuk memilih."

"Apa?"

"Pilih apa kamu ingin pergi bersama keluargamu ke Fukuoka, atau tetap tinggal di sini dan hidup sendiri."

Selagi dia melihat ayahnya berdiri di sana sambil melipat tangan, Sorata benar-benar tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi.

Mencari bantuan, dia diam-diam melirik pada ibunya yang sedang mencuci piring sambil bersenandung.

"Ini agak mendadak, tapi ayahmu dimutasi ke tempat lain."


"Oh, begitu. Lalu?"

"Jadi sebaiknya kamu memilih apa ingin pergi bersama kami atau tinggal di sini."

"Tunggu dulu. Bukankah yang akan pergi itu Ayah sendiri?"

"Kamu ini bicara apa? Kalau Ayah saja yang pergi, nanti Ayah kesepian."

"Yang namanya seorang ayah itu tidak sepatutnya mengeluh tentang hal-hal seperti kesepian!"

"Itu sebabnya Ayah mengajak ibumu dan Yuuko untuk ikut."

"Terus kenapa aku disendirikan?"

"Ada atau tidak adanya dirimu, tidak berpengaruh pada kesepian Ayah."

"Oh, begitu. Lalu bagaimana dengan sekolah Yuuko?"

"Kami sudah memindahkannya ke sekolah baru."

"Buset, cepat amat!"

Soalnya, bagi Sorata, ini bukanlah hal buruk. Dia akhirnya telah mendapatkan keinginannya untuk hidup sendiri.

"Omong-omong, Ayah barusan pergi ke agen properti. Rumah ini sudah kami jual."

"Loh! Kok semuanya buru-buru begitu?!"

"Ayah sudah menerawang ke masa depan, kelak Ayah akan dikubur di Provinsi Mentaiko."

"Ayah ini gila, ya? Oi, sadar! Pakai menyebut Provinsi Mentaiko segala .... Ayah sebaiknya meminta maaf pada Fukuoka sekarang! Kuyakin mereka punya hal-hal menarik lainnya di sana!"

"Jangan khawatir. Ayah juga seorang fans Hawks."

"Siapa yang peduli?!"

"Sayang, aku menyerah. Aku tidak mampu lagi berbicara pada anakku yang sudah dewasa ini. Inilah alasan kenapa pubertas itu begitu menjengkelkan."

"Hei, hei, tunggu sebentar! Jangan buat seakan ini jadi salahku!"

Dengan ekspresi syok, ayah Sorata beranjak pergi menuju kamar mandi. Seperti yang bisa ditebak, Sorata tidak ada niat untuk mengejarnya. Siapa juga yang ingin melihat ayah mereka bertelanjang bulat?

Menggantikan tempat ayahnya, ibu Sorata datang dan duduk di depannya.

"Jadi, apa yang akan Ibu lakukan? Ini sebuah keputusan besar, Bu."

"Kamu masih menyimpan brosur sekolahnya, kan? Berapa biaya untuk tinggal di asrama?"

"Termasuk dua kali makan sehari, lima puluh ribu yen."

Ibu Sorata terlihat gembira.

"... Yah, paling buruk pun, kurasa aku bisa mencari kerja paruh waktu atau semacamnya."

"Eh, tunggu, kenapa, kenapa? Apa Kakak tidak pergi bersama kita?!"

Yang tiba-tiba menyela ialah adik kecil Sorata, Yuuko, yang mengenakan sepasang piyama merah muda yang imut.

Dia mendekat pada Sorata dan menggaet lengannya, menggoyang-goyangnya naik turun sambil memohon-mohon padanya.

"Aku tidak mau jauh-jauh dari Kakak ~! Lagian, bisa-bisanya Kakak tidak masalah kalau jauh dariku? Tidak bisa kupercaya!"

Dia sudah menginjak tahun kedua SMP-nya April lalu, tapi tindakannya yang kekanak-kanakan itu begitu meresahkan. Saat dia masih kecil, kesehatannya tidak begitu bagus, dan dia selalu bersembunyi di balik punggung Sorata. Jadi tidak mengejutkan kalau dirinyalah yang paling banyak menentang soal pindah rumah ini.

"Yah, aku tidak mau penerimaan masuk SMA-ku ini jadi sia-sia."

"Bohong! Kakak bilang kalau alasan mendaftar ke SMA itu hanya karena itulah yang paling dekat dengan rumah kita! Kakak pindah saja ke sekolah terdekat dari rumah kita di Fukuoka!"

Untuk beberapa saat setelahnya, Yuuko sama sekali tidak kehabisan semangat, dan mencoba dengan segenap kemampuannya untuk membuat Sorata ikut dengan mereka.

Melihat Sorata yang tidak bisa dibujuk, dia hampir menangis, dan Sorata tidak tahu bagaimana menangani situasi ini. Tapi akhirnya, sepatah kata dari sang ibu membuat Yuuko terdiam.

"Sudah, jangan egois. Nanti kakakmu bisa tidak menyukaimu lagi."

Seperti yang bisa ditebak dari seorang ibu yang sudah tiga belas tahun berpengalaman menghadapi Yuuko, dia tahu persis bagaimana menangani anak perempuannya.

"Ya sudah ..., aku  menyerah ...."

Sambil memberi Sorata tampang mirip seekor kuda poni yang baru saja dijual, Yuuko pergi kembali ke kamarnya.

Esoknya, Sorata menyelesaikan berkas-berkas yang diperlukan untuk masuk ke Suikou dan pindah ke asrama, dan keluarganya mulai sibuk bersiap-siap untuk pindah.


*********

Kejadian setahun yang lalu itu kini terlihat sangat jauh bagi Sorata.

Untuk beberapa saat selagi Sorata menceritakan kisahnya, Jin terkikik.

"Aku jadi agak iri dengan keluargamu."

"Semua ini salah ayahku yang bodoh."

"Yah, biar begitu, aku lega itu bukan sesuatu yang serius. Aku tidak siap jika kamu menceritakanku sesuatu yang mengerikan."

"Maksudmu seperti ... keluarga kami terpecah-belah, begitu? Atau ayahku menghilang, begitu?"

"Ya, sesuatu semacam itu."

Kak Jin mengembangkan senyumnya padaku. Itu senyum yang dia gunakan untuk menaklukkan begitu banyak wanita, 'kan?


"Jadi? Apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini?"

"Oh. Nih."

Biar kutunjukkan pada Kak Jin foto yang diberikan Bu Chihiro padaku.

"Anak yang manis."

"Iya."

"Sepertinya umurnya sekitar lima tahunan."

"Ya, kurasa begitu."

"Adik perempuanmu?"

"Bukan."

"Oh, begitu. Aku paham."

"Apa maksudmu dengan, Aku paham?"

"Sorata, Kamu akan pergi ke kantor polisi. Dan kamu akan menyerahkan diri karena kamu seorang lolicon. Lalu kamu akan mengaku sebagai pelaku di balik semua pelecehan dalam kereta yang belakangan ini terjadi di sekitar sini. Aku akan menemanimu."

"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua tanpa ekspresi sedikitpun?! Kamu salah besar! Bu Chihiro yang memintaku melakukan ini! Beliau menyuruhku ke stasiun untuk menemui anak di foto ini."

"Eh? Cuma itu? Membosankan sekali ~."

"Jadi menurutmu akan lebih menarik kalau aku jadi orang cabul?"

"Yah, itu pasti akan sedikit lebih menarik."

Dari ekspresi Jin, Sorata benar-benar tidak bisa tahu sedang seserius apa dirinya.

Selagi omong kosong yang bodoh itu sedikit mereda, Sorata melihat sebuah taksi hitam memasuki stasiun. Taksi itu berhenti di zona parkir taksi, sekitar sepuluh meter jauhnya dari Sorata.

Sambil dengan santainya melihat mobil tersebut, Sorata melihat seorang perempuan yang tidak pernah dilihatnya keluar dari kursi belakang dengan mengenakan seragam Suikou yang sudah tidak asing baginya.

Seragam itu terlihat baru dibeli dan jelas sekali belum pernah dipakai sebelumnya. Dia memegang koper coklat muda di depannya dengan kedua tangan, dan tampak bosan sewaktu melihat taksi yang ditumpanginya (dengan plat nopol Narita) meninggalkan stasiun.

Mungkin karena bola matanya yang tampak sedikit ke atas, dia menjadi terlihat agak dewasa, tapi karena seragam yang dikenakannya, Sorata menarik kesimpulan bahwa dia pasti seumuran dengannya.

Kulitnya yang hampir transparan begitu putih sampai-sampai warnanya terlihat hampir merembes ke sekitarnya.

Sorata hanya bisa terpukau akan kecantikannya. Pikirannya jadi hampa, dan hanya sebuah tempat putih terbentang tanpa ujung yang tertinggal di dalam hatinya. Begitu gembiranya dia sampai tidak sadar dengan sekelilingnya, napasnya memberat, dan dia bahkan lupa di mana dia berada saat itu.

Perempuan itu berdiri sendirian di tengah padang salju yang putih. Sorata terpikat oleh pemandangan itu.

"Kesan yang ditampilkannya benar-benar cukup menarik. Bukan begitu, Sorata?"

"..."

"Sorata?"

Sorata merasa bahwa Jin sedang berusaha mengatakan sesuatu padanya, tapi ucapannya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan saja.

Perempuan itu mulai berjalan pelan. Jika diibaratkan seekor kucing, dia akan menjadi seekor kucing gunung Iriomote. Keberadaan dirinya memberi kesan yang kuat, tapi di saat yang sama memberi kesan bahaya di sekelilingnya, hampir seperti seekor spesies yang terancam punah. Sorata terkesan dengan ketidaknyamanan tersebut, seakan perempuan itu akan menghilang jika dia melepas tatapannya darinya. 

Perempuan itu dengan hening berjalan ke sebuah bangku di sisi stasiun, lalu duduk seperti orang yang hampir hilang kesadaran.

Jarak perempuan itu sekitar enam meter dari  Sorata.

Sorata tidak tahu kenapa dia merasa begitu gugup. Menyerah pada kegugupannya, dia menelan ludahnya dengan kentara.



"Kamu tahu, tidak peduli semanis apa dirinya, tetap tidak sopan jika menatap seperti itu. Walau kuakui bahwa aku tidak menyalahkanmu sampai bisa jadi seperti ini ...."

"..."

"Bukankah dia membuatmu ingin ke sana dan melindunginya, duduk menemaninya?"

"..."

"Baiklah. Mari kutunjukkan kehebatanku. Biar kulihat .... Tingginya 162 cm, beratnya sekitar 45 kg, dan tiga ukuran tubuhnya dari atas ke bawah pasti 79 - 55 - 78. Berdada rata, ya? Jangan pesimis dulu. Karena pinggangnya begitu ramping, dia bisa memperlihatkan dada yang besar kalau dia menanggalkan bajunya. Percayalah padaku."

Sorata mendengar suara Jin datang dari sedikit di depannya.

"... kamu ini bicara apa, Kak Jin?"

"Aku sedang memberi tahu betapa mudahnya membaca isi hatimu."

Bahkan setelah kembali dari alam mimpi, Sorata tidak melepas tatapannya dari perempuan itu. Sambil melihat wajahnya, Sorata merasa harus mengingat sesuatu, dan dia mencoba untuk memikirkan apa itu.


Lalu, secara tiba-tiba dan tak disangka dia menyadarinya.

"Ah, iya."

"Jangan cemas, Kawan. Tidak usah malu."

"Bukan, bukan. Ini soal perempuan itu.”

Di saat Sorata menyuarakan pemikirannya, segalanya terasa jadi lebih mudah.

"Eh? Sekarang ini kamu lagi membicarakan apa?"

"Tadinya kupikir dia akan kemari naik kereta ...."

"Tunggu dulu, otakmu masih berfungsi, 'kan?"

"Bukan, bukan, bukan, bukan. Foto ini!"

Sorata menyodorkan foto yang diberikan oleh Chihiro ke wajah Jin. 

"Aku tidak mengerti yang kamu bicarakan."

"Yah, terserahlah."

Sorata pergi melintasi pembatas besi, dan berjalan ke arah perempuan yang duduk di bangku tersebut.

"Hei, kamu ingin menjadi warna apa?"

Itu memakan waktu sejenak sebelum Sorata menyadari bahwa pertanyaan itu datang dari sang perempuan.

Andai dia tidak memusatkan perhatiannya pada perempuan itu, Sorata yakin bahwa dia tidak akan mendengarnya.

Gadis itu menengadah ke arah Sorata, dan mata mereka saling bertemu. Itu sudah cukup untuk menggetarkan Sorata sampai ke sumsumnya.

"Maksudmu, aku?"

Perempuan itu sedikit mengangguk.

"Aku sama sekali belum pernah memikirkannya."

"Oh, kalau begitu pikirkan."

"Aku tidak yakin untuk ke depannya, tapi untuk sekarang, kurasa aku ingin menjadi warna-warni."

"Itu sebuah warna?"

"Kurasa maksudnya seperti warna pelangi, tapi dengan nuansa warna yang sedikit tidak jelas."

"Menarik."

"Kamu sendiri?"

"Eh?"

"Kamu ingin menjadi warna apa?"

"Aku belum memikirkannya."

"Apa-apaan?"

"Hari ini, mungkin aku mau menjadi warna putih.”

"Hmm, persis seperti namamu."

"..."

Dia melihat ke arah Sorata dengan tatapan yang sedikit terkejut.

"Maaf. Mungkin aku sekarang tampak agak mencurigakan. Aku Sorata Kanda. Bu Chihiro memintaku untuk menjemputmu .... Beliau sudah mengabarimu, 'kan?"

"Bu Chihiro yang menyuruhmu?"

"Huh, beliau benar-benar membuat orang bingung, ya?"

Sorata membandingkan perempuan di depannya itu dengan anak yang di dalam foto. Tidak mudah untuk mengetahuinya dengan sekali lihat. Tapi untuk beberapa alasan, Sorata tahu. Karena kesan yang dia dapatkan dari kedua perempuan itu sama. 

Karena itu, perempuan ini pastilah Mashiro Shiina.

"Foto zaman kapan yang beliau beri ini? Umurmu pasti tiga kalinya ini ...."


Bagian 3


Apa tidak masalah begitu saja membawa anak ini ke Asrama Sakura?

Selagi Sorata berjalan dengan langkah yang kadang tersendat sambil memikirkan hal tersebut, dia masih hanya bisa terpesona dengan sosok Mashiro Shiina yang berjalan di sampingnya.

Tubuhnya ramping. Suaranya lembut. Pergerakannya kalem. Dia sama sekali tidak menunjukkan banyak ekspresi, dan wajahnya hampir tak berekspresi.

Bahkan sekarang, berjalan di sampingnya seperti ini membuat Sorata merasa seakan sedang berdiri di lapisan es yang tipis.

Dia terlihat seperti sebuah hiasan kaca yang rapuh yang bisa pecah meski hanya disentuh.

Itulah kesan yang didapat Sorata dari Mashiro.

Ditambah lagi ....

"Sorata nama yang bagus."

"Eh?"

"Namamu terdengar bagus. Aku suka itu."

Dia tiba-tiba mengatakan itu dan membuat Sorata cukup senang. Dia tipikal perempuan yang agak kurang berhati-hati.

Sorata tidak merasa kalau perempuan itu bakal betah di Asrama Sakura.

Asrama Sakura adalah tempat berkumpulnya orang-orang tidak wajar. Itu adalah sarang orang-orang abnormal.

Si makhluk asing, Misaki Kamiigusa. Si pengurung diri, Ryuunosuke Akasaka. Sang kaisar malam, Jin Mitaka. Dan yang terakhir tapi tidak kalah abnormalnya, penjelmaan dari apatisme itu sendiri, si guru pemalas, Chihiro Sengoku.

Sekarang setelah dia memikirkan itu, entah kapan Jin sudah menghilang.

Karenanya, Sorata ditinggal sendiri bersama perempuan yang baru saja dijumpainya ini.

Dan semakin keras dia coba memikirkan topik pembicaraan yang masuk akal, semakin sedikit yang terpikirkan olehnya.

Lalu, ada hal yang disampaikan Mashiro kepadanya tadi.

Sorata dapat merasakan seusatu yang membara di dadanya.

Tapi ketimbang mematahkan semangatnya, kesusahan Sorata hanya membuat dirinya merasa lebih tidak sabar.

"Hei."

"Hmm?"

"Jadi, tahun ini Shiina mulai bersekolah di Suikou, ya?"

Mashiro menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Pindahan."

"Oh, begitu ..., jadi kamu murid kelas dua?"

Kali ini dia mengangguk pelan.

"Rupanya kita satu angkatan ...."

Mata beningnya berputar ke atas dan melihat ke arah Sorata. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan perubahan.

Terlihat mulai malu-malu, dia mengalihkan tatapan matanya.

Mereka terus berjalan menuju Asrama Sakura tanpa berbicara.

Kalau seperti ini, maka aku hanya perlu melindunginya dari yang lain. Musuh kami akan beringas, tapi aku harus melakukan segala yang kubisa.

Atap Asrama Sakura sudah bisa terlihat.


*********

Sesampainya Sorata dan Mashiro di Asrama Sakura, mobil jasa pindah rumah baru saja pergi. Mesinnya menderu dengan bising selagi mobilnya menghilang ke arah stasiun kereta api.

Sorata meletakkan koper yang diambilnya dari Mashiro ke salah satu sisi pintu masuk.

"Ayo masuk, masuk."

Sorata mengantar Mashiro masuk ke dalam rumah.

Lalu, seperti seekor cheetah yang telah menarget mangsanya, Misaki datang berlari ... atau malah, melompat ... turun dari lantai dua. Dia mendarat di lantai sambil berjongkok untuk meredam daya kejut kakinya. Terlihat persis seperti seekor hewan liar.

"Selamat datang di Asrama Sakura!"

Dia tidak menunggu lama dan lansung menembakkan petasan pesta yang dipegangnya. Dengan cara yang mengesankan, kertas confetti menyembur tepat pada wajah Sorata.

Karenanya, Sorata membalas dengan melepaskan pukulan keras tepat ke ubun-ubun kepala Misaki.

"Aduh! Teganya kamu melakukan itu pada perempuan!"

"Kalau ingin disebut perempuan, setidaknya berhenti tidur di kamarku, sialan!"

"Jangan khawatir! Aku bahkan belum pernah dicium siapapun, jadi aku ini masih suci, dari ujung kepala sampai ujung kaki."

Tidak mengetahui apa yang terjadi, Mashiro menatap kosong dari belakang Sorata.

"Ah, bukan seperti itu .... Senior ..., dia cuma seniorku, jadi ini bukan seperti ada hubungan yang tidak pantas begitu! Jangan salah sangka, mengerti?"

"Eh ~, ada apa ini? Junior sudah cemas soal yang Mashiron pikirkan?"

"Bukan! Dan juga, memanggilnya Mashiron .... Bagaimana Kak Misaki bisa tahu namanya?"

"Hei hei, jangan cuma berdiri di pintu masuk begini. Ayo kita keliling rumah!"

"Kamu sendiri yang bikin berhenti!"

"Jadi artinya, akhirnya sekarang aku punya tetangga sebelah kamar! Aku penasaran apa kita bisa saling bergantian tidur bareng di kamar masing-masing? Mungkin kita akan saling bercerita soal lelaki maupun asmara! Wah, aku jadi sangat bersemangat sekarang ~!"

Sambil mendorong Misaki yang sedang terpana ke samping, Sorata membawa Mashiro ke lantai dua yang terlarang bagi lelaki.

Sebuah papan nama bertuliskan Kamar Mashiro tergantung di pintu kamar 202. Disertai gambar seorang karakter anime yang tidak dikenal.

"Semalam aku bekerja sampai larut dan membuat itu."

Entah kapan, Misaki menyusul Sorata dan menyela.

"Padahal semalam kamu bermain game sampai pagi ...."

Sedikitpun tidak merasa gusar atas komentar Sorata, Misaki membuka pintu kamar itu bahkan tanpa meminta izin penghuninya.

"Jreng, jreng ~!"

Meski awalnya Sorata menduga kalau kamar ini kosong, dia sekarang melihat sebuah tempat tidur, sebuah meja rias, sebuah meja tulis, dan sebuah komputer dengan monitor besar, bersama setumpuk barang yang berisi segala jenis pakaian. Semuanya sangat rapi dan apik.

"Bagaimana menurutmu? Mengesankan, bukan? Sewaktu Junior keluar, mereka menyusun tempat ini dengan menakjubkan. Mereka hebat, bukan?! Perusahaan pindah rumah dengan logo badak itu! Mereka memang profesional! Benar-benar profesional!"

Dengan sikap menggebu-gebu tanpa arti itu, Misaki membusungkan dadanya dan merasa bangga, seakan itu hasil kerjanya sendiri.

"Tapi bukan berarti Kak Misaki yang mengerjakan semuanya."

"Aku sungguh-sungguh mengawasi mereka sampai selesai."

Sementara itu, sang penghuni ruangan sendiri masih berdiri di sana tanpa bersuara dan tampak tidak terkesan, terus menyaksikan percakapan antara Misaki dan Sorata.

"Shiina ..., kamu yakin ingin tinggal di sini?"

"Ya."

Suaranya selembut angin semilir. Dia tidak berbicara dengan nyaring, namun nadanya tegas, dan terasa aneh karena dia terdengar begitu sungguh-sungguh. Tapi, seperti yang diduga, tidak peduli sudah berapa kali Sorata mendengarnya berbicara, ekspresinya tetap tidak berubah.

Hanya melihatnya saja membuat detak jantung Sorata berdebar.

Dari mana tepatnya asal perasaan ini ...?

"Ah, tapi aku benar-benar senang soal ini ~. Menyenangkan ada seseorang lagi dari jurusan seni di sini ~."

Terlihat agak terpesona, Misaki coba mendekati Mashiro, tapi Sorata mendorong mundur wajahnya dan menghentikannya.

"Ah, Shiina, jadi kamu juga masuk ke jurusan seni?"

Hal yang agak mustahil untuk dapat masuk ke jurusan itu bahkan dengan jalur normal. Cukup hebat bisa masuk ke jurusan itu sebagai murid pindahan kelas dua.

"Ya, benar."

Mashiro tetap kalem dan tenang.

"Oh, telat banget, telat banget! Kamu tiiiiiiidak tahu apa yang sedang terjadi! Perang modern itu pertempuran informasi, kamu tahu?! Kamu akan kalah seratus kali dalam seratus pertempuran seperti ini! Sedih, oh, sedih, rasa ingin kutindih!"

Sambil menghentikan dirinya agar tak menyahut, Aku benar-benar tidak peduli dengan yang kamu katakan, Sorata mati-matian mencoba untuk membuat orang bernama Misaki ini kembali ke topik pembicaraan.

"Jadi, apa yang Kak Misaki tahu soal semua ini?"

"Mashiron benar-benar terkenal dalam dunia seni desain! Dia tinggal di Inggris sejak masih kecil, mendapatkan pendidikan khusus bagi anak yang berbakat dalam seni!"

Dengan kata lain, dia kembali ke Jepang dari luar negeri. Jadi tingkahnya yang aneh, bicaranya yang pelan, suasana aneh yang biasa menyelimutinya .... Itu semua mungkin karena dia begitu lama tinggal di luar negeri.

"Banyak karyanya telah dipajang di museum seni luar negeri! Dan dia juga memenangkan berbagai penghargaan! Orang-orang juga bilang bahwa beberapa lukisannya itu sangat, sangat bernilai."

Ketika Sorata melihat bahwa Mashiro tidak menyangkal itu semua, dia sadar bahwa itu semua mungkin benar.

Tapi Sorata sama sekali tidak tahu semengesankan apa hal itu di dunia seni.

"Kalau diibaratkan dengan Shinkansen, Shinkansen macam apa dirinya?"

"Tentu saja, Nozomi!"

"Wah, hebat banget."

Sambil memberi tampang angkuh, Misaki menepuk dadanya sendiri dengan kedua tangan.

"Hmm ..., kurasa Kak Misaki masih menjadi murid seni rupa, meskipun sejak itu kelakuanmu memburuk."

"Kok bilang begitu?"

"Yah, itu sebabnya kamu tahu tentang Shiina, ya 'kan?”

"Ah, bukan. Mbak Chihiro yang beri tahu aku semalam."

"Terus kenapa malah kamu yang berlagak sombong begitu?!"

"Soalnya, walau cuma beda sedetik, orang yang mendapat informasi duluan itu pemenangnya! Wuahahahahaahaha!"

Melihat tawa anehnya yang keras itu, Sorata sekali lagi mencoba untuk memukul kepalanya. Tapi Misaki menangkap tangannya di udara.

"Jangan pikir itu berhasil untuk kedua kalinya padaku!"

Baik, kalau begitu ....

Sorata segera menepuk dahinya yang dilindungi dengan punggung tangan.

"Ah! Aduh! Memangnya kamu ini apa, Junior, anak TK yang suka mengganggu perempuan yang dia sukai?!"

"Ketika membicarakan Kak Misaki, tidak ada lagi yang kuingat selain merasa jengkel!"

"Aku bisa paham kalau kamu sedang dalam usia di mana kamu cenderung mengelabui diri. Aku paham kalau kamu sedang dalam usia di mana kamu suka membual! Tapi berbohong itu tidak baik, Junior! Jangan lupa waktu kamu coba menyerangku ketika aku sedang telanjang di bak mandi dan karena itu kamu mimisan hebat! Jangan lupa bagaimana kamu benar-benar terangsang oleh tubuh telanjangku yang basah saat itu! Junior begitu menggemaskan sewaktu terangsang begitu!”

"Ah! I-itu ... kamu yang mengabaikan aturan pemakaian kamar mandi, dan itu salahmu hingga aku melihatmu dalam keadaan begitu! Korbannya itu aku! Kembalikan sel-sel darah putih dan merahku!"

"Tubuhku tampak mengagumkan saat telanjang bulat, kamu tahu?!"

"Menurutku kamu sudah mengagumkan tanpa harus telanjang!"

Kemudian dia mendadak sadar sedang di mana mereka saat ini .... Dan Sorata dengan malu-malu berpaling ke arah Mashiro. Sorata tidak bisa melihat sedikit pun ekspresi pada raut wajah Mashiro. Yang dilakukannya hanya menatap ke arah mereka dengan sedikit heran.

"Eng ..., apa kami menakutimu?"

"Kenapa?"

"Yah, hanya saja semua percakapan antara aku dan Kak Misaki ini ...."

Mashiro memiringkan kepalanya ke samping, tampak lebih kebingungan dari sebelumnya.

Menggemaskannya tindakannya itu sudah cukup untuk membuat Sorata tersedak sebelum dia bisa kembali berbicara.

"Ya, Tuhan, manisnya .... pasti itu yang sedang kamu pikirkan, Junior."

"Walau itu benar, kenapa kamu harus blakblakan soal itu?!"

Sorata mengapit kepala Misaki dan mulai memutar tinjunya di kedua sisi kepala perempuan itu.

"Aiyayayayayaya!"

"Kalian berdua akrab sekali."

Berpaling ke belakang, Sorata melihat sosok Chihiro, dengan langkah terseok seperti seorang zombie. Mungkin kutukan Sorata sudah menunjukkan tanda-tandanya, namun acara kongko-kongko itu tampak tidak berhasil untuknya.

Di belakangnya berdiri Jin, yang berpisah dari Sorata dan Mashiro di stasiun. Entah kenapa, Jin kelihatannya dalam suasana hati yang buruk ketika dia melihat ke arah Sorata dan Misaki, sambil memegangi kantong plastik belanjanya di kedua tangan. Kantong itu penuh dengan bahan-bahan untuk satu porsi nabe komplit beserta manisan dan jus.

Matanya bertemu dengan tatapan Sorata.

"Kita perlu ini untuk pesta penyambutannya, 'kan?"

Satu sudut bibir Jin melekuk naik, dan dia menunjukkan senyum yang sudah dilatihnya.

"Bu Chihiro juga pulang agak awal. Rupanya Ibu tidak berhasil mendapat calon suami, ya?"

"Yah, aku juga tertipu. Tidak ada satu pun dokter di sana! Itu semua bohong! Mereka berani sekali mengarang semua itu!"

"Yah, Bu Chihiro juga berbohong soal usia, jadi Ibu juga tidak bisa mengelak."

Chihiro tadi memberitahu Sorata. Di pesta itu, dia akan selamanya berusia 27 tahun.

"Uh, sial. Kuharap semua orang bahagia di dunia ini jatuh saja ke jurang."

"Mbak Chihiro, jangan menyerah. Kalau Mbak tidak bisa menemukan suami, Junior bilang kalau dia akan mempersunting Mbak sebagai istrinya."

"Aku tidak pernah mengatakan itu!"

"Hmm ..., tunggu lima tahun lagi dan itu bukan ide buruk."

"Itu ide yang mengerikan!"

"Tapi omong-omong, akhirnya kamu berhasil kemari."

Pandangan Chihiro berpaling tegas ke arah Mashiro. Itu mungkin bukan khayalan Sorata bahwa ada maksud di balik tatapan itu.

"Iya."

Mashiro menyahut dengan lembut.

"Eng ..., Bu Chihiro. Boleh tanya sesuatu?"

"Aku benar-benar ingin meninju seseorang saat ini, jadi tanya dengan singkat."

"Kalau begitu satu pertanyaan saja."

Sejujurnya Sorata ingin menanyakan banyak hal.

Misal, Kenapa seseorang yang punya pendidikan bagus di luar negeri sengaja pulang kembali untuk tinggal di sini?

Atau, Di mana orang tuanya?

Tapi dari semua pertanyaan yang ingin ditanya Sorata, dia akhirnya menanyakan hal di pikirannya yang paling ingin dia ketahui.

"Dari semua asrama yang ada, kenapa Shiina pindah ke Asrama Sakura? Sebenarnya masih ada tempat kosong di asrama biasa, 'kan?"

"Yah, itu sudah jelas, 'kan?"

"Tidak, aku benar-benar tidak paham."

"Karena Mashiro cocok di sini."

"... ah."

"Seiring waktu, semuanya akan jelas. Terutama bagimu."

Mata Chihiro berbinar dengan mencurigakan, namun seperti yang diduga, Sorata masih tidak paham apa maksudnya.


Bagian 4


"'Ngantuuuk. Aku bisa benar-benar tertidur saat ini juga."

Selagi dia memikirkan hal tak berarti tentang betapa jengkelnya karena libur musim semi telah usai, Sorata berusaha mengangkat badannya yang berat pergi dari ranjang.

Kurang tidurnya itu gara-gara Misaki. Malah, semuanya itu memang gara-gara Misaki. Pemanasan global, krisis pasar modal secara global, peningkatan nilai kurs yen, penghentian semua penggunaan jet Concorde dan Blue Train .... Sorata percaya bahwa Misaki adalah dalang di balik semua itu. Pasti gara-gara dia.

Sorata tidak tidur sampai larut karena pesta penyambutan Mashiro. Chihiro masih memulihkan diri dari syok acara kongko-kongko dan mengunci diri dalam kamarnya, dan Ryuunosuke Akasaka juga masih mendekam di dalam kamarnya, jadi Sorata dan Misaki, bersama dengan Jin, hanya mereka yang menemani Mashiro.

Sambil mengelilingi nabe yang sudah dipersiapkan Jin, mereka mendengarkan selagi Misaki terus berbicara sendiri tanpa henti, sementara itu, Sorata mencoba bertindak sebagai perisai Mashiro untuk melindunginya dari bahaya. Mashiro tidak terlihat keberatan dengan kelakar Misaki, tapi dia juga sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun pada usaha humoris Jin untuk membuat lelucon, jadi Sorata sebenarnya tidak tahu apa yang benar-benar sedang dipikirkan gadis itu.

Tentu ada sesuatu yang aneh mengenai dirinya, tapi pada dasarnya dia adalah orang yang polos dan kalem. Dia akan menghilang dalam sekejap ketika Sorata melepaskan pandangan darinya .... Kesan miliknya itu diperkuat ke pikiran Sorata melalui interaksi-interaksi ini. Jika dia tidak melindunginya, maka gadis itu tidak akan mampu bertahan hidup di Asrama Sakura ini. Jadi Sorata bersumpah pada dirinya bahwa dia akan melindunginya.

Menyantap habis hidangan periuk nabe dengan sedikit zosui, Sorata kemudian melihat Misaki sedang menghibur Mashiro dengan sebuah flipbook buatannya yang memperlihatkan seorang pesenam berayun pada sebuah mistar tinggi dan turun dengan lompatan salto terbalik, semuanya digambar pada buku teks bahasa Inggris kelas tiganya yang sama sekali tidak dipakai. Kualitas gambarnya amat tinggi, sampai-sampai gambar tersebut bisa disalahkirakan dengan karya asli sebuah produksi anime.

Sebagai balasannya, Mashiro mengeluarkan sebuah buku sketsa dari bagasinya, dan menggambar tujuh kucing yang sedang menyantap sisa makanan.

Sewaktu melihat hasil akhirnya, Sorata merasa bulu kuduk kulitnya merinding, dan tidak mampu berkata-kata. Kucing-kucing yang digambar di buku sketsa itu terlihat seakan bisa melompat keluar dari dalam kertas; kucing-kucing tersebut terlihat lebih asli dari yang aslinya.

Sorata akhirnya menempelkan sketsa tersebut pada dinding kamarnya.

Pesta itu pun usai sekitar jam sebelas, tapi setelahnya, Sorata diseret Misaki untuk bermain game dan bergadang sampai larut malam.

Dia tidak ingat kapan persisnya dia terlelap. Justru sebuah keajaiban dia bisa terbangun saat itu. Misaki tidak tampak di mana pun. Sorata teringat samar-samar bahwa Jin memaksa Misaki untuk tidur di kamarnya sendiri dan membawa gadis itu bersamanya, tapi dia tidak tahu apa itu benar terjadi atau itu hanya mimpi.

Ketika meninggalkan kamarnya, dia mendengar suara dari pintu masuk.

Sorata mencoba mengintip.

Mungkin dia hanya terlalu senang karena semester baru sudah dimulai, tapi Misaki sedang berteriak keras selagi melesat keluar dari pintu. Kenapa dia bisa segembira itu? Selagi merajuk tentang ketidakadilan di semua hal, Sorata teringat bagaimana Misaki membuatnya begitu lelah semalam, dan sebagai balasannya dia mengintip dengan cermat celana dalam biru muda belang yang terlihat dari bawah rok Misaki. Tapi kemudian, Jin muncul dari belakang dan menyodok kepala Sorata dengan kuat.

Selagi Sorata menahan rasa sakitnya, sosok Misaki pun menghilang.

"Pagi-pagi begini jangan berpikiran mesum."

Jin kemudian langsung beranjak ke ruang makan, tanpa memberi Sorata waktu untuk mengeluh atas perlakuan yang diterimanya tadi.

Menggantikan Jin, Chihiro muncul.

"Bu Chihiro, hari ini Ibu bangunnya cepat."

Baru jam setengah delapan. Masih hampir sejam sebelum sekolah dimulai.

"Kanda, manusia hanya bisa berkembang lewat pengalaman. Sebaiknya kamu ingat itu."

Sorata tidak tahu dari mana komentar itu berasal, tapi dia merasa Chihiro masih berbicara soal acara kongko-kongko semalam, jadi dia memutuskan untuk tidak menyinggung topik tersebut.

"Jadi, aku boleh menyerahkan Mashiro padamu, 'kan? Nanti bawa saja dia ke ruang guru."

"Boleh, toh, ini hari pertamanya. Setidaknya aku bisa menunjukkan jalan menuju sekolah.”

Kemudian, Chihiro mendadak condong ke depan, dan menekannya jarinya pada dada Sorata.

"A-apa?"

"Kamu pasti akan membawanya ke sana, 'kan? Kamu pasti akan bertanggung jawab terhadapnya, 'kan?"

"I-iya, sudah kubilang aku akan melakukannya."

"Bagus. Kamu tahu? Aku mengandalkanmu. Aku benar-benar mengandalkanmu."

"Eh .... Sikap Ibu tadi agak menjijikan ...."

Sorata mengira kalau Chihiro akan menyerang balik, Namun Chihiro hanya mendengus dan beranjak pergi.


********

Melihat Chihiro pergi dan melirik ke jam dinding di ruang masuk, Sorata melihat kalau kini baru sekitar jam tujuh lewat empat puluh menit.

Mashiro tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun dari lantai dua. Sorata merasa mungkin ada baiknya naik ke atas dan membangunkannya.

"Kalau tidak salah ingat, anak lelaki tidak boleh naik ke lantai dua ...."

Selagi dia menaiki tangga yang berderak itu, Sorata merasa sedikit gugup. Bagaimana penampilan Mashiro saat memakai piama maupun gaya tidurnya, ya? ... Sorata tidak dapat menghentikan imajinasi liar dalam pikirannya dan itu membuatnya antusias.

Bukan berarti Sorata tidak tahu bagaimana menghadapi seorang gadis. Justru berkat Misaki, dia sudah lumayan kebal. Yah, memang, dia tidak tahu apa cukup layak jika menganggap Misaki itu seorang gadis .... Kalau harus menyebutkan seperti apa dirinya, Sorata mungkin harus menjawab bahwa kalau gadis itu seorang alien.

Rasa gugup Sorata memuncak ketika dia sampai di depan kamar Mashiro. Perutnya pun mulai bergejolak.

"Aku ini ... benar-benar ketakutan, tahu?"

Sorata mengucapkannya keras-keras untuk menenangkan diri, yang ada justru suaranya jadi melengking saking gugupnya.

"He-Hei, Shiina! Kalau tidak bangun sekarang, kamu bisa telat, lo ...."

Sorata semakin lama semakin merasa suram, mendengar betapa canggungnya dia mengucapkan itu.

Mungkin dia tidak mendengarnya, tapi Sorata tidak mendengar balasan apa pun dari dalam kamar.

Kali ini, dia coba mengetuk pintunya.

"Shiina? Sudah pagi! Argh, dia sama sekali tidak menyahut. Ini bisa jadi masalah ...."

Sekarang dia mengetuk dengan lebih keras lagi. Tok, tok, tok.

Yang menyahutnya hanyalah sebuah keheningan yang kejam.

Dia lalu meraih gagang pintu, tapi kemudian sadar dengan yang sedang dilakukannya.

"Tidak, tidak, tidak, tidak, tunggu, tunggu, tunggu, tunggu. Ini bukan kamar Kak Misaki, jadi tidak mungkin kamarnya tidak terkunci ...."

Untuk menguji hipotesisnya itu, Sorata memutar gagang pintunya dengan pelan. Dia tidak merasakan halangan yang diharapkannya jika pintu itu terkunci.

Pintunya sudah pasti tidak terkunci.

"Biarpun begitu, ini bukan kamar Kak Misaki, jadi tidak sopan kalau aku asal masuk saja ...."

Tapi di saat yang sama, di titik ini, Sorata merasa bahwa dia tidak akan menuntaskan apa pun jika hanya berdiri di luar dan memanggil gadis itu saja.

"Aku tidak punya pilihan lain. Aku melakukan ini hanya karena tidak ada pilihan lagi."

Selagi Sorata menggumamkan alasan-alasan yang tidak berarti pada dirinya sendiri, dia memegang erat gagang pintunya.

Dia memutarnya dengan perlahan, dan membuka pintunya dengan suara *krek* kecil.

"Eh?"

Dia terpana dengan apa yang dilihatnya, dan tanpa sadar membuka pintu lebar-lebar.

"Apa-apaan ini?"

Sorata hampir berpikir kalau dirinya salah masuk kamar. Kalang kabut, dia melihat kembali nomor kamar untuk memastikannya. Ini kamar 202. Kamar Mashiro. Cocok. Benar. Tepat. Bingo.

Tapi pemandangan yang muncul di depannya tidak menunjukkan sedikit pun kemiripan dengan kamar yang diingatnya semalam.

Baju dan celana dalam, buku dan manga semuanya tersebar di sana-sini sepanjang lantai. Sorata bahkan tidak dapat melihat karpetnya. Kamarnya tampak seperti baru diterjang tornado yang melintasi kamar itu.

Bel alarm di dalam kepala Sorata berbunyi selagi dia berusaha memahami keadaan.

Hanya ada satu kata yang terlintas dalam pikirannya. Perampokkan.

Sorata merasakan panik membumbung dari dalam dirinya, dan keringat dingin mulai bercucuran melewati alisnya.

"Oi, Shiina!"

Dengan riuh dia melesat ke dalam kamar tersebut.

Mashiro tidak ada di tempat tidurnya. Dia juga tidak ada di lantai. Dia tidak terlihat di mana pun.

Setiap kali dia memalingkan pandangannya ke tempat lain, dia merasakan hawa yang semakin lama semakin dingin menjalari sumsumnya.

Kamar itu porak poranda, dan Mashiro tidak bisa ditemukan.

Situasi tersebut membuatnya putus asa.

Kakinya gemetaran, Sorata meletakkan sebelah tangannya ke meja. Ketika melakukan itu, dia pasti telah menyentuh mouse-nya, karena monitor yang dalam keadaan nonaktif itu tiba-tiba menyala. Kamarnya mendadak diterangi, Sorata sedikit menjerit.

Merasa frustasi, Sorata melihat ke arah monitor komputer tersebut.

Pada layar tersebut terlihat seperti sebuah deretan panel komik, dimana seorang lelaki ganteng sedang mengucapkan kata-kata cinta. Dia meletakkan tangannya pada pipi seorang gadis malu-malu yang menundukkan kepalanya ke bawah, dan dia condong ke depan untuk menciumnya. Gambarnya luar biasa.Komiknya digambar dengan sangat baik.Tapi walaupun proporsi tubuhnya dibuat dengan sangat baik, gambar tersebut tidak membawa kesan realistis yang besar.Gambarnya terlihat seperti ada banyak garis yang dilukiskan, sampai gambarnya terlihat terlukis berlebihan.

Dilihat dari mana pun, gambar tersebut terlihat seperti naskah untuk manga cewek.

"Kenapa Shiina punya ...?"

Untuk sejumlah alasan, Sorata sepenuhnya teralihkan oleh monitor komputer tersebut. Namun ketika dia mendengar sesuatu bergerak di kakinya ....

Sorata sedikit melompat karena kaget, kemudian dengan enggan melirik ke bawah meja.

Selimut dan baju dijejalkan ke dalam ruang yang sempit itu, dan di sana Mashiro Shiina terlihat sedang tertidur dengan bahagia. Tempat itu hampir menyerupai sarang hamster.

Sorata menghela napas lega. Syukurlah. Ya ..., syukurlah. Tidak, yang benar saja ..., syukurlah.

Di saat itu juga, Sorata melihat sekilas ke seluruh pojok kamar.

Jangan bilang, ini .... Pandangan Sorata meredup. Kalau ini bukan ulah seorang pencuri, maka hanya ada satu kemungkinan yang tersisa.

"Sebentar .... Beri aku waktu ...." Sambil menggumamkannya sendiri, Sorata memejamkan matanya. Dia berpikir keras mencari penjelasan yang cukup terlihat masuk akal untuk menjelaskan situasi ini.

Dia pasti belum terbiasa hidup di Jepang.

Tapi negara mana yang punya kebiasaan menjalani hidup seakan ada tornado yang melintasi kamarmu ...?

Mungkin dia berguling sedikit sering saat tidur lalu berakhir di sana?

Sedikit? Tapi dia ada di bawah meja.

Kalau begitu, dia pasti hanya sedang bersembunyi dari invasi alien.

Yah, pemikiran-pemikiran ini sudah tidak masuk akal lagi.

Jadi ..., yang tertinggal hanyalah penjelasan kalau ini sebuah mimpi, Sorata. Kamu pasti masih sedang bermimpi.

Ah, ya, pasti begitu. Itu adalah penjelasan yang paling masuk akal.

Merasa teryakinkan, Sorata keluar dari kamar Mashiro.

Sambil menutup pintu di belakangnya, dia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

Mungkin sudah waktunya dia harus bangun dari mimpi ini.

Sambil menguatkan dirinya, Sorata membuka pintu.

Persis setelahnya, Sorata menatap ke atas. Cukup jelas, keadaan kamar itu masih belum berubah.

Tidak disangka kalau seseorang bisa hidup tenang ketika kamarnya dalam keadaan seperti ini.

Mashiro itu aneh dalam beberapa hal, tapi Sorata berpikir bahwa setidaknya dia mirip dengan gadis itu. Dia berharap bahwa dirinya bisa menjadi seseorang yang dapat memahaminya di tengah semua kegilaan ini ....

"... Tuhan, kenapa engkau menelantarkanku?"

Selagi Sorata merasa telah hilang harapan, tidak seperti sesaat yang lalu, Sorata mencari celah-celah di antara lantai yang dipenuhi pakaian tersebut dan bergerak ke depan meja. Bagi anak SMA yang sehat di seluruh penjuru dunia ini, melihat pakaian seorang gadis berserakan seperti ini merupakan godaan yang cukup jahat. Terutama celana dalam yang berwarna terang, sangat berbahaya.

Bahkan selagi Sorata berusaha semampunya untuk berpura-pura tidak melihat , matanya tanpa sadar melirik ke sana-sini.

Sambil berjongkok di depan meja, Sorata memanggil dengan hati-hati.

"Eng ..., Shiina? Sebaiknya kamu bangun."

Tidak ada balasan.

"Halooooo?"

"...."

Hanya suara napasnya yang teratur itu saja yang bergema di kamar itu.

"Aku sungguh berterima kasih kalau kamu bangun~."

"...."

Kehabisan pilihan, Sorata meraih ujung selimutnya dan menariknya. Mungkin karena Mashiro juga mengenggam selimutnya dengan cukup erat, Sorata merasakan cukup perlwananan. Karena menyerah, Sorata mulai mengoyang bahu Mashiro.

"Haloooo, sudah paaaaaaaaaaagi~. Paaaaaaaaagi~."

"... pagi tidak akan datang."

"Tidak, tidak, tidak, pagi sudah datang! Jangan berkata hal yang mengerikan begitu!"

Mashiro mendongakkan wajahnya dari gundukkan pakaian dan celana dalam yang menutupinya. Mata setengah terlelapnya melihat hampa untuk sejenak, dan hampir semenit berlalu sebelum dia akhirnya kembali sadar dan menerima tatapan Sorata.

"Selamat pagi."

"...."

Mashiro memendam wajah mengantuknya kembali ke dalam sarangnya.

"Kamu bisa mati kalau tidur lagi~! Ini hari pertamamu, jadi bahaya kalau kamu telat~!"

"... aku mengerti. Aku akan bangun."

"Ohhh, rupanya kamu lebih pengertian dari yang kukira."

Dengan ekspresi hampa, Mashiro keluar dari bawah meja lalu berdiri.

Selimut dan pakaian yang menyelimutinya jatuh ke lantai dengan lembut.

Bahunya utuh tersingkap. Lengannya yang ramping, dadanya yang berukuran sedang, lingkar pinggang dan panggulnya semua terlihat jelas dalam pandangan Sorata.

Pada saat itu juga, darah muncrat dari hidung Sorata.

"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh!"

Jeritan pembunuhan keji itu bergema di seluruh kamar, hingga yang melihatnya mungkin berpikir bahwa seseorang bisa menemukan ada darah dalam urinnya. Sorata-lah yang berteriak barusan.

"Kamu ribut sekali."

Terlihat jengkel, Mashiro menggosok matanya.

"Ap-?! Ka-kamu, a-apa?! Gyaaaaaaaah!"

"Apa?"

"Pakai bajumu! Kenapa kamu telanjang begitu?! Kamu ini kaum nudis atau apa?!”

Syok berat, Sorata mengumpulkan akal sehat yang masih dimilikinya dan berpaling dari Mashiro.

"Aku heran ...."

"Itu sudah jelas, coba saja kamu pikir!"

"... aku mau mandi."

"Lalu?"

"Aku akan keluarkan beberapa pakaian ...."

"Bagus, berarti tinggal dipakai saja."

"Akan kukeluarkan semua pakaian yang kupunya."

"Tunggu! Hentikan! Jangan keluarkan semuanya!"

"Lalu, kupikir aku tinggal berhenti saja jika sudah selesai ...."

"Pemikiran macam apa itu?! Jangan bertingkah seakan ini masalah orang lain! Lagi pula, yang benar saja, pakai bajumu! Sesuatu! Apa saja! Cepat pakai!"

Ketika Sorata memikirkan tentang fakta bahwa seorang Mashiro yang telanjang berada di belakangnya, dia kehilangan seluruh sikap kalemnya.

"Ya sudah, pakai saja seragammu!"

Sorata mengeluarkan seragam Suikou dari gundukan besar pakaian yang berantakan itu di kakinya lalu melemparkan seragam tersebut pada Mashiro.

Sorata mendengar suara gemerisik pakaian dari belakangnya.

Dia sungguh merasa seolah jantungnya hampir meledak.

"Sudah siap?"

Setelah menunggu cukup lama, Sorata memanggil Mashiro.

"Siap."

"Astaga, kamu, kamu itu harus ...."

Sorata mulai berbicara lalu berbalik, di saat dia tiba-tiba terpaku, mulutnya masih mengangga.

Mashiro hanya mengenakan blusnya, dan semua kancing belum dipasangkannya. Banyak bagian yang masih terlihat.

"Apa yang kamu maksud dengan siap tadi?!"

Sorata memalingkan wajahnya dan berbalik sekali lagi. Dia meringkuk ke lantai dan melipat tangannya.

"Ada apa?"

"Kamu sudah tahu jawabannya!"

"Kamu baik-baik saja?"

"Kamu sendiri, apa kamu baik-baik saja?!"

"Iya."

"Tidak, bukan iya .... Cepat selesaikan pakai bajumu!”

Sekali lagi, Sorata mendengar suara gemerisik pakaian.

Belajar dari kesalahan sebelumnya, dia memutuskan untuk memberinya banyak waktu kali ini.

"Ka-kamu sudah selesai memakai baju?"

"Kalau celana dalam?"

"Ya, pakai!"

"Pakai yang mana?"

"Jangan suruh aku pilih!"

"Kalau begitu, aku sudah siap."

"Tidak kamu belum siap! Apa yang akan kamu lakukan jika ada angin berhembus?! Itu akan jadi sebuah bencana! Pakai! Pakai sekarang juga! Kumohon pakai!"

Sambil meneriakkannya dengan histeris, Sorata memungut sebuah celana dalam hijau muda dari lantai dan melemparkannya ke Mashiro.

"Aku tidak suka celana dalam ini."

"Memangnya hari ini kamu mau memamerkan itu ke seseorang, apa?!"

"Tidak juga."

"Kalau begitu, pakai yang itu saja!"

Setelah nyaris berteriak tanpa henti sejak pagi, Sorata merasa mulai agak pusing.

Ketika melirik ke arah jam di ponsel-nya, dia melihat waktu sudah menunjukkan sekitar jam delapan lebih lima belas.

"Sial! Hei, Shiina, cepat sedikit!"

"Aku sudah selesai."

Saat berbalik, Sorata melihat Mashiro tampak cukup bangga dengan dirinya yang bisa memakai celana dalam sendiri ..., berbarengan dengan rambut sehabis tidurnya yang berantakan. Rambutnya terlihat begitu acak-acakan sampai-sampai burung pum mungkin bisa bersarang di sana, dan perbedaan mencolok antara rambut tersebut dengan tampang cantiknya itu membuat pemandangan ini terasa menyakitkan untuk dilihat.

"Kepalamu! Maksudku, rambutmu! Rapikan dulu kamar mandi lalu kembali ke sini! Sekalian cuci mukamu!"

"Di mana?"

"Kemarin aku sudah memberi tahu tempatnya, 'kan?! Sini, kubawa kamu ke sana!"

Sorata dengan buru-buru bergerak keluar dari kamar dan menuju ke lantai satu. Namun Mashiro tidak mengikutinya. Malah, dia berjalan pelan dari kamarnya, dengan langkah santai.

"Tunggu, tunggu. Kalau kamu mau mencuci muka, lepas dulu jasmu!"

Sambil melepaskan pakaian luar gadis tersebut, Sorata lalu mendorongnya ke dalam kamar mandi. Sorata menggunakan waktu tersebut untuk kembali ke kamarnya, untuk mengganti bajunya dengan seragam sekolah.

Itu memakan waktu kurang dari satu menit baginya untuk berganti baju. Dia juga menggantung tas kosongnya pada bahunya.

Dia bergegas kembali ke kamar mandi, dan tiba persis ketika Mashiro keluar.

Sorata pun akhirnya kembali berteriak.

Ketika kamu mencuci mukamu, kamu memakai air, 'kan? Kemeja yang dikenakan gadis itu basah hingga ke area dadanya, dan membuatnya menempel pada kulit.

Terlebih, mungkin karena dia tidak mengenakan beha, bisa dilihat tonjolan payudaranya, putingnya .... Intinya, semuanya itu bisa terlihat.

"Oi! Kamu ..., kamu! Pakai sesuatu! Sesuatu di balik bajumu!"

"Sorata tidak memberikannya padaku."

"Jadi itu salahku? Kamu bercanda?"

Mashiro menatap kosong pada Sorata lalu memiringkan kepalanya ke samping.

Semua akal sehat Sorata yang semakin dewasa itu kelihatannya tidak berlaku pada gadis tersebut.

Namun, demi kesehatan jiwanya, Sorata pergi mengambil handuk dari kamar mandi. Tapi kamar mandi itu juga sudah menjadi zona bencana. Air mengucur dari keran seperti geiser, dan banjir melanda seluruh area mandi.

"Kamu sedang mencoba mandi di sini atau apa?!"

"Aku tidak sedang mandi."

"Itu pertanyaan retorika!"

"Sorata menganggu."

"Aku? Jadi aku yang bertingkah aneh?"

Sorata memutar keran dan menghentikan airnya. Dia keluarkan semua kain lap yang dapat ditemukannya di sana lalu menutupi lantai kamar mandi dengan kain lap tersebut.

Tepat di saat itu, apa yang Chihiro katakan padanya semalam terlintas dalam benaknya.

Karena Mashiro cocok di sini.

Semua jadi masuk akal sekarang.

Seiring waktu, semuanya akan jelas. Terutama bagimu.

"Sial! Guru malas itu! Jadi beliau membebankan semua masalahnya padaku?!"

Sorata tahu kalau dia sedikit terlambat menyadarinya, meski begitu, dia merasa harus mengucapkan hal itu dengan nyaring.

"Kita bisa telat ke sekolah."

"Aku tidak mau mendengar itu darimu, Shiina!"

Jiwa Sorata berteriak, dan teriakan itu bergema ke langit musim semi.


Bagian 5


Malam itu, untuk menangani masalah besar yang bernama Mashiro Shiina, Sorata memanggil para penghuni Asrama Sakura untuk mengadakan rapat.

Singkatnya, ini adalah tempat di mana para penghuni menyusun beberapa aturan dasar mengenai tata cara mereka hidup bersama.

Sampai hari ini, banyak peraturan Sakurasou ditentukan dalam rapat ini, mulai dari tugas biasa seperti menentukan siapa yang menyiapkan makanan, siapa yang pergi berbelanja, siapa yang membersihkan kamar mandi, sampai tugas yang lebih aneh seperti menentukan siapa yang akan memperbaiki atap yang bocor dan siapa yang akan menangani sarang lebah.

Tujuan diadakannya rapat hari ini adalah menyusun tugas baru untuk mengurusi Mashiro, dan untuk memutuskan siapa yang akan bertanggung jawab untuk Tugas Mashiro ini.

Untuk pertama kalinya dalam satu bulan ini, seluruh penghuni Sakurasou berkumpul di sekeliling meja bundar ruang tamu. Dengan urutan searah jarum jam, Chihiro, Misaki, Jin, Sorata, dan Mashiro duduk mengelilingi meja itu.

Ryuunosuke Akasaka, yang menolak untuk keluar dari kamarnya, ikut berpartisipasi dalam rapat lewat obrolan internet. Misaki mengobrol dengannya, mengetik keyboard laptopnya sambil mengunyah sepotong udang goreng.

"Anu, begini, kita semua tahu kenapa kita berkumpul hari ini. Aku ingin semua orang di Asrama Sakura berpartisipasi agar kita dapat mengatasi masalah yang sangat menyulitkan ini."

Tidak seperti Sorata yang bersungguh-sungguh, para penghuni lain justru sibuk dengan makanan mereka dan tidak begitu mendengarkan.

Mencoba untuk menghidupkan suasana pada para peserta rapat yang tampak tidak tertarik itu, Sorata menghantamkan kedua tangannya ke atas meja.


********

Pada akhirnya, dia telat datang ke sekolah pagi ini.

Setelah membantu mencuci muka Mashiro, dia membantunya mengenakan beha yang warnanya sama dengan celana dalamnya, membantunya mengganti blusnya yang basah, memaksanya memakai kaos kaki, dan merapikan rambut sehabis tidurnya yang berantakan ..., dan saat semuanya sudah beres, mereka rupanya sudah cukup telat.

Kalau mereka toh akan telat juga, Sorata berpikir lebih baik jika menyantap sarapan sewajarnya, setelahnya mereka pun berjalan dengan santai ke sekolah.

Mereka tidak sempat mengikuti upacara pembukaan yang membosankan, tapi Sorata muncul sewaktu homeroom.

Ketika Sorata membawa Mashiro ke ruang guru, dia terkejut Chihiro tidak mengomelinya, namun tampaknya Chihiro sudah menduga kalau mereka akan datang lebih telat lagi.

Yah, kalau begitu, harusnya beliau memeringatkanku dulu.

Lelah karena insiden pagi ini, Sorata tidak mampu fokus dalam pelajaran kelas duanya kini.

Dan selepas sekolah, Chihiro memaksanya untuk menemani Mashiro mengelilingi sekolah seorang diri.

Tidak peduli ke mana pun Sorata membawanya, Mashiro bereaksi dengan cara yang ambigu hingga membuatnya sulit untuk menilai apa dia tertarik atau tidak, dan seluruh situasi ini membuat Sorata merasa cukup tidak berdaya.

Sorata juga yang membawa Mashiro pulang. Itu karena Mashiro bahkan tidak bisa ingat caranya pulang, meski jaraknya hanya sepuluh menit berjalan kaki.

Setelah Sorata pulang dari sekolah, dia menunggu sejam ..., kemudian dua jam ..., tapi tidak peduli selama apa pun dia menunggu, Mashiro tidak pulang.

Karena khawatir, Sorata kembali ke sekolah untuk mencarinya, dan menyadari bahwa dia bahkan tidak berada di jalan pulang, tapi malah berkeliaran di sekitar sekolah seperti seekor anak anjing yang tersesat.

Terlebih lagi, Mashiro sendiri kelihatannya tidak sadar dengan keadaannya, dan menyatakan bahwa dia belum berencana untuk pulang dulu.

Dan bukan cuma itu saja.

Karena bertanggung jawab membeli sembako minggu itu, Sorata singgah di minimarket untuk membeli susu pesanan Misaki.

Mashiro juga mengikutinya ke sana.

Dan tanpa membayar, Mashiro mulai menyantap makanan yang terpajang. Seakan itu semua yang dilakukannya itu lumrah, dia mengambil sepotong baumkuchen dari rak, membukanya tanpa sungkan, lalu mulai melahapnya dengan penuh selera. Dia melakukan itu semua tanpa merasa bersalah sampai Sorata perlu waktu sejenak sebelum dia menyadari apa yang sedang dilakukan gadis itu.

"Anu, Shiina? Tolong jelaskan, sebenarnya kamu ini sedang apa?"

"Memakan baumkuchen."

"Kenapa?"

"Aku suka."

"Kalau semua orang boleh melakukan apa saja karena mereka suka, maka tidak perlu lagi ada polisi!"

"Tapi masih ada banyak."

"Itu semua untuk dijual! Kalau mau, harus bayar!"

Mashiro memiringkan kepalanya ke samping dan terlihat bingung.

"Shiina .... Kehidupan macam apa yang sudah kamu jalani sampai sekarang?"

"Aku menggambar."

"Lalu apa lagi?"

"Aku menggambar."

"...."

"Aku menggambar."

"Aku sudah dengar! Aku sedang menunggumu mengatakan yang lain!"

Pada saat itu, manajer toko tersebut mendengar keributannya lalu datang memeriksa, hingga membuat Sorata merasa amat malu selagi dia membungkukkan badan berkali-kali untuk meminta maaf. Selagi semua itu terjadi, Mashiro sudah selesai melahap baumkuchen-nya, lalu mencoba mengambil yang kedua.

"Shiina! Apa niatmu yang sebenarnya padaku?! Kamu punya dendam atau apa?!"

"Kamu mau?"

Dengan ekspresi menggemaskan, dia membagi sepotong dan memberikannya pada Sorata.

"Buka mulutnya, aaaaaahhhhhh~."

"Aku tidak mau!"

"Tapi ini enak."

Pada akhirnya, Sorata diizinkan untuk membawa kemasan baumkuchen kosong beserta yang separuh kosong tersebut ke kasir. Setidaknya Sorata merasa lega karena mengenal manajer toko itu sebelumnya, dan manajer itu tertawa melihat betapa anehnya Mashiro.


********

"Dan itu semua adalah hal-hal mengerikan yang sudah kulalui hari ini."

"Yah, mau bagaimana lagi?"

Yang mengatakannya tadi adalah Chihiro, satu-satunya orang yang menenggak bir dengan riang di meja tersebut.

"Semua yang pernah dilakukannya hanyalah mempelajari seni rupa, jadi dia tidaklah begitu normal."

"Tidak tidak tidak, rasanya frasa tidaklah begitu tadi belum cukup untuk menjelaskannya!"

Terlihat jelas tidak memedulikan hal-hal buruk yang terus diucapkan Sorata, orang yang sedang dibahas tersebut sendiri dengan terampil menggunakan sumpitnya untuk melepaskan cangkang dari udang goreng. Kemudian, tanpa merasa risau, dia meletakkan cangkang tersebut ke atas piring Sorata.

"Kamu ini sedang apa?"

"Melepas kulitnya."

"Apa ini waktunya melucu?!"

"Aku tidak sedang melucu."

"Itu sebuah pertanyaan retorika!"

Mashiro memiringkan kepalanya dengan pelan ke samping, lalu memalingkan perhatiannya kembali pada pembedahannya, mengubah udang goreng keduanya menjadi seekor udang biasa. Sekali lagi dia meletakkan bagian gorengan yang sudah dilepaskannya ke atas piring Sorata. Dan kemudian, dia memakan udang yang sekarang telanjang itu dalam sekali gigitan.

"Oh, dia juga pilih-pilih soal makanan."

"Bu, kenapa Ibu tidak memberitahu saya soal ini sebelumnya?!"

Kaget dengan persoalan baru ini dan kini tidak lagi memperhatikan piringnya, Sorata tidak sempat bereaksi untuk menghentikan Misaki mengambil dua potong udang goreng dari piringnya. Dia bahkan tidak punya kesempatan mengeluh sebelum gadis itu melahap kedua udang tersebut ke dalam mulutnya.

"Kak Misaki, apa-apaan ini?!"

"Rasanya tidak adil kalau hanya Junior saja yang diajak berbagi oleh Mashiron!"

"Kalau begitu, ambil saja cangkang kosong ini!"

"Tapi aku dalam masa pertumbuhan, tahu?!"

Misaki membusungkan dadanya.

"Aku juga!"

"Hmm, tahu tidak? Walau ini pemikiranku saja, tapi bukankah notepad dan no pants terdengar agak mirip?"

"Sebenarnya kita ini sedang membahas apa?!"

"Sudah, sudah, jangan marah, Kanda~. Bawakan lebih banyak bir lagi."

Dalam keadaan benar-benar mabuk, Chihiro menggelindingkan kaleng birnya yang kosong ke arah Sorata.

"Ambil saja sendiri!"

"Tapi kamu yang lebih dekat."

Jin, yang terus terdiam sampai sekarang, memasang senyuman getir kemudian berdiri, mengambil sekaleng bir dari kulkas dan menyodorkannya pada Chihiro.

"Ahh, Mitaka memang anak yang baik~. Beda sekali dengan Kanda~."

"Ibu akan berkata begitu pada siapa saja yang memberikan bir, 'kan?! Dan jangan lupa juga bahwa kita ini sedang membicarakan soal Shiina sekarang!"

"Yah, orang tuanya memberitahuku bahwa dia akan butuh seorang pengurus. Jadi itu sebabnya dia ada di Asrama Sakura ini."

Pengurus? Yang membuat itu jadi menakutkan adalah mungkin saja hal tersebut benar.

"Kalau begitu, Ibu yang harus bertanggung jawab dan mengurusnya!"

"Hei, jangan gila, Sorata."

Yang menyela adalah Jin, yang selesai makan terlebih dulu dan sekarang sedang mengirimkan surel satu per satu dengan ponsel-nya.

"Rapat ini tidak ada gunanya."

"Jangan bilang begitu!"

"Kamu tidak memikirkannya, 'kan? Aku jarang berada di sini, dan lucu sekali meminta Misaki mengurus orang lain. Aku temannya sedari kecil, makanya aku tahu. Dan Mbak Chihiro juga sedang sibuk mencari suami, jadi memasangkannya dengan seorang anak itu agak kejam baginya."

Jin melewati satu nama, tapi itu cukup jelas bahwa menyerahkan Mashiro pada orang-orang tadi merupakan ide yang buruk.

"Kalau begitu tolonglah, Kak Jin, kamu harapan terakhirku!"

"Tidak tidak, sudah kubilang kalau itu tidak mungkin. Senin aku harus berjumpa dengan Misami, murid jurusan drama semester delapan, lalu Selasa perawat yang bernama Noriko, Rabu si pemilik toko bunga, Kana, dan Kamis si pengantin baru, Meiko, kurasa? Dan kemudian Jumat si model iklan, Suzune, dan Sabtu aku ragu kalau Rumi, yang merupakan karyawan kantoran akan mengizinkanku pulang. Aku sama sekali tidak punya waktu luang."

“Dasar hidung belang borjuis! Kamu sudah berganti kelas menjadi maharaja, hah?! Memangnya kamu mau pindah ke India atau apa, berengsek?!"

"Tidak usah naik darah. Bukan berarti aku melakukan hal yang salah."

"Sadarlah! Setidaknya itu tindakan tidak bermoral dengan melakukannya pada seorang wanita yang telah menikah!"

"Ah, benar juga. Baru-baru ini kami hampir saja ketahuan oleh suaminya .... Benar-benar gawat."

Mungkin karena sudah selesai mengirim semua surel-nya, Jin akhirnya meletakkan ponsel-nya.

Di saat yang sama, Chihiro sedang berusaha menghabiskan bir keenamnya untuk hari ini.

"Menurutku, aku tidak akan bisa membiarkan sepupu kecilku yang menggemaskan itu terlibat dalam lingkaran setan Mitaka, jadi bagaimanapun juga, opsi itu sudah pasti ditolak. Karena itu Kanda boleh saja merengek sesukanya, tapi itu tetap tidak ada gunanya."

Jin sedikit tertawa di atas derita Sorata. Tidak, dia jelas sekali merasa senang atas hal ini.

"Hmm, kalau begitu saya mau tanya, bagi Ibu, persisnya ada opsi apa saja selain saya?”

"Aku menyiapkan empat opsi, dan kesemuanya berujung pada dirimu."

Sorata bahkan tidak tersentak mendengar jawaban jujur yang tidak disangka ini. Jika mundur sekarang, dia tidak akan pernah menang.

"Aku juga berencana segera meninggalkan Asrama Sakura, jadi tidak mungkin memilihku. Ayolah, ini memang mustahil."

"Kamu sudah temukan orang yang mau memelihara kucingmu?

Jin tersenyum selagi melihat ke arah Sorata.

Ia menyodorkan pertanyaan tersebut seolah menandakan bahwa dirinya sudah tahu jawabannya.

"Hmm, hei~"

Bibirnya berkilau karena rembesan minyak yang berasal dari udang goreng, Misaki melihat ke arah monitor laptopnya.

"Ada apa?"

"Ryuunosuke bilang, Aku tidak mau buang-buang waktu dalam rapat tidak berguna macam ini. Aku keluar dulu, hmm ..., ah, dia keluar dari percakapan. Tidak, kembalilah! Yah, bukan berarti dirinya akan kembali, sih .... Baiklah kalau begitu, terima kasih atas makanannya. Aku sudah kenyang.”

"Baik. Jadi telah diputuskan bahwa orang yang diberi mandat untuk Tugas Mashiro adalah Sorata! Rapat selesai!”

Sambil memegan ponsel, Jin beranjak dari tempat duduknya. Bukannya kembali ke kamarnya, dia justru menuju ke arah pintu depan. Ini hari Selasa, jadi kali ini giliran Noriko, si perawat.

Misaki memandang punggung Jin dengan tatapan lelah sampai lelaki itu menghilang dari pandangannya, lalu berkata,

"Yak, kerja bagus, semuanya. Hmm, yaaaahhh, mungkin sebaiknya aku lanjut merekam ulang 'anime'-ku. Sudah, ya !Aku pergi dulu! Dadah!"

Misaki menutup laptopnya, lalu melompati anak tangga menuju lantai atas.

Selanjutnya, Chihiro pergi mengambil bir berikutnya dari kulkas.

Hanya Mashiro dan Sorata yang tersisa di meja bundar tersebut.

Suasana yang berat menyelimuti udara.

Ini adalah pertama kalinya mereka berdua terlibat dalam hubungan semacam ini. Baik si pengurus maupun yang diurus.

Angin topan dari rasa bingung berputar di dalam pikiran Sorata.

"Sorata."

"A-apa?"

"Mohon bantuannya."

Mashiro sedikit membungkuk.

"A-ah. Iya, mohon bantuannya ju— tunggu dulu, ini tidak benar! Kenapa kamu dengan gampangnya menerima fakta bahwa kamu perlu diurus?!"

"Terkadang, Sorata sulit dimengerti."

"Kalau aku yang salah di sini, biarlah dunia terbakar ...."

"Itu bisa meresahkan."

"Argh, sial, aku tidak mau ini! Aku bisa gila! Aku pasti akan keluar dari sini. Aku pasti akan keluar dari Asrama Sakura!"


********

Asrama Sakura, 6 April


Berikut adalah kesepakatan yang tertuang dalam notulen rapat Asrama Sakura:

Kanda Sorata terpilih sebagai orang yang diberi mandat untuk Tugas Mashiro! Lakukan yang terbaik, Junior! Aku akan menyemangatimu!



— Sekretaris Misaki Kamiigusa

1 tanggapan:

Mantap (y)

Ku Pantau Terus :)
Terimakasih, Semangat terus buat ngerjainya ^_^

Posting Komentar