Oregairu 2 Bab 1 Bagian 2

==========================================================
Lamanya sudah gak update...
Ane kira ini blog bakal sepi banget karena gak ada update... eh ternyata masih ada saja yang mau mengunjungi... Terima kasih ya agan-agan semua...
Mungkin di antara para pembaca bakal ada yang merasa kalau dialog di terjemahan ane terlalu bebas, dan seakan tak mematuhi EYD...
Yah, namanya juga novel remaja, isinya ya percakapan khas remaja... Tapi kalau soal EYD ane selalu terapkan sebisa mungkin kok... Apalagi soal pemakaian kata yang terdaftar di KBBI, wajib banget malah...
Nah, contohnya kata " 'kali "... Kata tersebut bukan berarti sungai atau semacamnya... Itu berasal dari kata "barangkali" yang dipotong dengan apostrof (')... Sama penerapannya dengan kata " 'kan " dari kata  "bukan" dan "akan", maupun " 'gitu " dari kata "begitu"...
Oke, kesampingkan dulu masalah teknis, kita lanjut ke catatan penerjemahan...
光物 (hikarimono) mempunyai beberapa makna yang bisa berarti, "yang berkilauan", bisa juga berarti, "irisan ikan yang mempunyai kulit berwarna perak yang biasa dijadikan lapisan atas dari sushi".
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 2


SMA Soubu di Kota Chiba punya kegiatan yang dinamakan "tur lapangan kerja" yang diadakan untuk anak kelas dua.

Guna dari formulir survei yakni untuk menentukan pekerjaan yang ingin didalami oleh para murid dan pihak sekolah akan mengirim mereka ke tempat kerja yang dipilihnya itu. Hal tersebut merupakan bagian dari program pendidikan gaya baru guna memantapkan keinginan hati setiap murid untuk bekerja dalam perusahaan. Sungguh, itu bukanlah hal besar. Setiap sekolah mungkin punya kegiatan yang seperti ini.

Masalahnya, survei tersebut diadakan tepat setelah UTS. Dengan kata lain, melakukan bermacam pekerjaan aneh ini bisa mengacaukan waktu berhargaku menjelang ujian.

"Kenapa juga saya harus melakukannya di tahun ini ...?" tanyaku sambil menggeliat.

Selagi aku menyortir tumpukan kertas formulir ke dalam kelompok pekerjaan, Bu Hiratsuka duduk di atas meja dengan rokok yang sudah terapit di bibirnya. "Soalnya ini cuma setahun sekali, Hikigaya," jawab beliau. "Kau tak dengar, ya, kalau
tepat setelah libur musim panas ini akan ada penjurusan untuk kelas tiga?"

"Baru dengar, Bu."

"Makanya, kalau ada sesi bimbingan kelas itu didengarkan ...."

"Yah, soalnya saya selalu tak di tempat kalau sedang sesi bimbingan kelas. Karena itu saya tidak tahu."

Sungguh, kenapa itu sampai disebut sesi bimbingan kelas? Itu bukanlah lembaga bimbingan. Aku benci betul itu. Ditambah, aku sudah muak akan sistem yang memberikan tugas pribadi di setiap sesi bimbingan kelas. Kita diberi kesempatan berdiri di depan kelas lalu menyampaikan instruksi, meski aku berharap semua anak berhenti mendiamkanku sewaktu aku yang maju. Jika anak seperti Hayama yang memberi instruksi, semua orang akan tersenyum sambil saksama mendengarkan layaknya sebuah keluarga kecil bahagia, namun ketika aku yang memberi instruksi, tak ada satu pun yang menanggapi. Apa-apaan itu? Bahkan yang mengolok-olokku saja tidak ada karena mereka berpura-pura menjauhkan diri.

"... omong-omong, tur lapangan kerja-nya diadakan setelah UTS dan sebelum libur musim panas. Yah, alasannya supaya kalian bisa menghadapi ujian dengan pikiran jernih. Jika tidak begitu, kalian bisa terus kepikiran nantinya."

Aku ragu kalau itu ada gunanya, meski Bu Hiratsuka sudah memperjelasnya sambil mengembuskan asap berbentuk cincin dari ujung rokoknya.

SMA Soubu di Kota Chiba tempatku bersekolah ini memang didedikasikan untuk mempersiapkan para murid guna melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mayoritas murid sekolah ini memang berharap ingin lanjut ke perguruan tinggi dan banyak dari mereka yang sudah melakukannya. Itulah hal yang sudah tertanam di pikiran mereka seketika masuk ke SMA ini.

Entah karena dari awal aku sudah memperhitungkan kalau melanjutkan ke perguruan tinggi adalah sebuah penundaan selama empat tahun, makanya hal semacam pandangan terhadap masa depan terasa kabur bagiku. Aku sudah memikirkan dengan matang tentang apa yang akan kulakukan saat dewasa nanti. Yang jelas, aku takkan bekerja.

"Tampaknya kau sedang memikirkan hal-hal yang tak ada manfaatnya ...." Bu Hiratsuka menengadahkan pandangannya. "Lalu, rencananya kau mau masuk jurusan IPA atau jurusan IPS?" tanya beliau.

"Yah, seperti yang Ibu tahu, saya—"

Segera setelah aku membuka mulutku, sebuah suara keras menyelaku. "Ah, di situ rupanya!"

Ia menggelengkan kepalanya dalam keadaan marah, rambutnya yang berwarna terang (yang diikat mirip siomay) terayun ke sana kemari. Seperti biasanya, ia mengenakan rok pendek dan kemeja yang dua atau tiga kancingnya sudah terbuka, yang memperlihatkan dada besarnya. Ialah Yui Yuigahama yang belakangan ini menjadi kenalanku. Kenyataannya, kami hanyalah sepasang kenalan walau saat di dalam kelasku ia sering membicarakan soal kemampuan komunikasiku. Menyebalkan.

"Oh, hei, Yuigahama," sahut Bu Hiratsuka. "Maaf, Ibu pinjam Hikigaya dulu, ya?"

"I-ia juga bukan siapa-siapa saya, kok! Jadi, ya enggak apa-apa!" bantah Yuigahama menggebu sambil mengibaskan tangannya. Suasana yang kutangkap seperti ia ingin berkata, Saya juga enggak butuh dirinya lagi, kok. Ditolak begini rasanya agak begitu menyakitkan ....

"Ada perlu apa?" tanyaku.

Yang menjawab bukanlah Yuigahama, namun gadis yang mendadak muncul dari belakangnya. Rambut hitamnya (yang dikucir dua) bergerak naik turun, selaras dengan pergerakannya yang tiba-tiba. "Kau tak pernah datang ke ruang klub, makanya ia mencarimu. Maksudku, Yuigahama."

"Eng ..., kau tak perlu menekankan bagian terakhirnya. Aku juga sudah paham."

Perempuan berambut hitam yang wajahnya bisa menjadi penebus dosanya ini ialah Yukino Yukinoshita. Layaknya boneka porselen, dirinya begitu mengesankan untuk dipandang, namun sikapnya begitu dingin seakan ia memang sebuah porselen. Orang-orang mungkin bisa menebaknya dari cara ia menghabisiku seketika melihatku. Kami bukanlah sahabat karib.

Untuk saat ini aku dan Yukinoshita berada dalam satu klub — Klub Layanan Sosial. Ia adalah ketuanya. Dan dalam alur kegiatannya, yang kami lakukan adalah saling berdebat hanya untuk sesekali mengakrabkan diri. Intinya, di sini cuma ada perselisihan yang tak berguna dan tak ada habisnya di mana kami saling menaburkan garam pada luka satu sama lain.

Sambil mendengar ucapan Yukinoshita tadi, Yuigahama melipat tangannya sambil merengut. "Aku sampai bertanya pada semua anak di kelas soal keberadaanmu," keluhnya. "Semuanya bilang, Hikigaya? Siapa, ya? Aneeeh banget."

"Tak usah digembar-gemborkan juga, 'kali." Kenapa perempuan ini selalu saja bisa melesatkan peluru yang menyakiti perasaanku? Ia bahkan tak perlu membidik. Memangnya ia penembak jitu, apa?

"Aneeeh banget," ulangnya tak beralasan sambil bermuka masam. Gara-gara dirinya, perihal mengenai tak ada seorang pun yang mengenalku ini membuat perih ulu hatiku untuk yang kedua kalinya.

Yah, tidak buruk-buruk amat, terutama kalau kita memang kenal dengan anak-anak lain di sekolah. Melihat dari tidak adanya yang mengenal diriku selama ini, mungkin secara tak sadar aku akan memilih pekerjaan yang sangat cocok untukku, yakni ninja.

"Eh? Ya sudah, maaf kalau begitu." Maaf karena memang tak ada yang menyadari keberadaanku. Ini pertama kalinya bagiku meminta maaf atas sesuatu yang begitu memilukan.

Andai saja aku tak punya tekad yang kuat, pasti aku sudah menangis.

"Ya-ya, enggak masalah juga, sih, tapi ...." Yuigahama mulai memainkan jari-jarinya di depan dada. "Be-begini, eng ...," katanya malu-malu sambil menggembungkan pipi. "Ba-bagi nomor ponselmu, dong. Ya-yah, soalnya aneh kalau harus mencari dirimu ke sana kemari. Memalukan, tahu .... Apalagi saat ada yang menanyakan soal hubungan kita. Padahal aku cuma — ah, bukan, bukan."

Wajahnya lalu memerah, seakan ingatan soal dirinya yang mencariku terasa amat memalukan. Ia memalingkan pandangannya dariku, melipat erat tangannya di depan dada dan menolehkan kepalanya ke arah lain. Kemudian ia melirik ke arahku lewat sudut matanya.

"Yah, memang bukan masalah juga sih ...," ucapku sambil mengeluarkan ponsel-ku. Segera setelahnya, Yuigahama langsung mengeluarkan poselnya yang besar dan bekerlap-kerlip. "Itu ponsel kenapa mirip batu bata?"

Yuigahama tersentak. "Eh? Imut, 'kan?" tegasnya sambil memperlihatkan gantungan ponsel-nya yang tampak murahan itu padaku. Mainan empuk mirip sebuah jamur bergelantungan di ujung talinya dan bergemerincing saat ia menggoyangkannya. Membuatku merasa begitu tertekan.

"Entahlah. Aku tak paham soal estetika di kalangan bispak. Hmm .... Jadi kau suka yang berkilauan begitu, ya? Kayak kaca atau isinya sushi begitu, ya?"

"Hah? Sushi? Oh, dan jangan panggil aku bispak!" Yuigahama menatapku layaknya monster pemangsa manusia.

"Hikigaya. Kalau kau mempersoalkan tentang yang berkilauan, berarti kau memang tak tahu rasanya menjadi anak SMA. Tak ada orang yang menaruh kaca dalam sushi mereka," sela Bu Hiratsuka sambil berbinar-binar. "Yah, itu memang hanya sushi, sih."

Wajah beliau yang seolah berkata, Kata-kataku tadi keren! membuatku jadi jengkel sendiri ....

"Kalau kau enggak bisa melihat keimutannya, jangan-jangan itu karena matamu yang mirip ikan mati, ya?"

Reputasiku yang muncul karena pengaruh mataku yang mirip ikan mati ini malah semakin menguat. Terserahlah, aku sudah capek.

"Ya, sudahlah," ujar Yuigahama. "Kau bisa mengoneksikan ponsel-mu dengan ponsel-ku, 'kan?"

"Tidak bisa. Punyaku itu ponsel cerdas, makanya tidak bisa."

"Hah? Jadi aku harus ketik sendiri, nih?" erangnya. "Merepotkan."

"Aku tidak butuh fungsi macam itu. Lagi pula, aku lumayan benci dengan yang namanya ponsel. Nih." Kuserahkan ponsel-ku pada Yuigahama. Dengan gugup ia mengambilnya dari tanganku.

"Ma-mau enggak mau harus diketik juga, ya .... Enggak apa-apa, deh. Eh, santai sekali kau memberikan ponsel-mu pada orang lain."

"Ah, tidak apa-apa juga kalau kau mau melihat isi ponsel-ku. Yang ada di kotak masukku paling-paling cuma pesan dari adikku dan Amazon saja."

"Wah! Serius?! Eh, Amazon?!"

Ampun, deh.

Yuigahama mulai mengetik dengan sangat cepat di ponsel yang kuserahkan padanya tadi. Di hadapan reaksiku yang lamban, ia benar-benar kebalikan dari diriku — cepat dan tepat. Aku pun sampai menjuluki dirinya Ayrton Senna dalam dunia per-ponsel-an. "Cepat sekali kau mengetiknya ...."

"Eh? Biasa saja, kok. Mungkin jari-jarimu tak terbiasa karena tak punya teman SMS-an. Iya, 'kan?"

"Tidak sopan," kataku. "Sewaktu SMP dulu aku sering SMS-an dengan beberapa perempuan."

*Duk* Yuigahama menjatuhkan ponsel-ku. (Oi, hati-hati sama barangku! pikirku.)

"Enggak mungkin ...."

12 tanggapan:

Huwah, akhirnya kembali di pos lanjutannya makin penasaran. ganba yah gan buat trans nya. Saya suka translate ente enak dibacanya. Sukses terus

Oke, terima kasih dukungannya gan...
Betewe, dah ganti template nih...
Mudahan lebih nyaman bacanya...
Amin...

Thanks gan, di lanjut lagi ya :D

btw template yang baru ini, keren gan.

Di tunggu lanjutannya gan

Ditunggu update'an nya gan.. thanks.

dok iyeu naon c aing teu ngarti..hehehehe mni lier maca na

TT_TT lanjut gaaaann~ pleaseee

iya gan lanjut doong

Posting Komentar