Oregairu Bab 8 Bagian 1

==========================================================
Pertama, ane memakai pengganti diri "saya" dalam tulisan esai, karena sudah sewajarnya dalam sebuah esai yang konteksnya sebuah tugas dan resmi, sebisa mungkin harus formal...
Kedua, Shouten adalah acara kontes komedi di mana para pesertanya berlomba memelesetkan sebuah kata...
Ketiga, mungkin akhir pekan ini bagian selanjutnya bisa diselesaikan dan di-posting...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 1


Masa remaja.

Itu hanya sebuah frasa sederhana, meski begitu, frasa tersebut begitu gigih menggerakkan hati manusia. Memberi rasa nostalgia pada kaum dewasa yang mapan, memberi rasa rindu tanpa akhir pada para dara muda, dan memberi rasa iri dan benci yang mendalam pada orang seperti saya.

Kehidupan SMA saya tidaklah bagai Taman Firdaus seperti hal yang saya jelaskan di atas. Melainkan dunia monokrom yang kelabu nan suram. Pada hari pertama saya di SMA, saat saya mengalami kecelakaan itu, kehidupan SMA saya menjadi benar-benar suram. Setelah kejadian itu, kehidupan SMA saya hanya diisi dengan pulang pergi antara rumah dan sekolah saja. Bahkan saat liburan pun saya hanya pergi ke perpustakaan. Yang saya jalani tersebut jauh dari anggapan sebuah kehidupan SMA yang diidamkan orang-orang. Dalam dunia saya, kisah komedi romantis itu sama sekali tidak ada.

Biarpun begitu, tak sedikit pun saya merasa menyesal. Nyatanya, bisa dikatakan kalau saya bangga akan diri sendiri.

Pergi ke perpustakaan dan membaca habis berbagai novel fantasi yang amat panjang... menyalakan radio di malam hari dan terkesima dengan cara bercerita sang penyiar radio... menemukan bagian yang menghangatkan hati di luasnya lautan elektronik yang didominasi oleh tulisan... semua ini bisa benar-benar terjadi karena saya menjalani hidup semacam itu.

Saya bersyukur, pula saya tergerak, akan setiap pengungkapan dan perjumpaan tak terduga itu. Air mata itu tetap ada, namun itu bukanlah air mata duka.

Takkan pernah saya sangkal satu tahun waktu SMA yang sudah saya jalani itu. Sebaliknya, akan saya terima itu dengan segenap hati. Dan keyakinan itu takkan berubah, baik kini ataupun nanti.

Tapi saya ingin meluruskan hal ini. Meskipun seperti itu, saya takkan menyangkal cara hidup yang dijalani oleh orang-orang lainnya. Saya takkan menyangkal cara hidup orang-orang yang mengagungkan masa remaja mereka.

Bagi mereka yang berada di puncak masa remajanya, kegagalan pun bisa diubah menjadi kenangan menakjubkan. Bahkan perselisihan, pertengkaran dan permasalahan bisa menjadi momen lain dari masa remaja mereka.

Dunia jadi berubah ketika dipandang melalui kacamata orang-orang di masa remajanya.

Kalau begitu, mungkin saja masa remaja saya bisa dihiasi oleh warna komedi romantis. Mungkin itu tak sepenuhnya salah.

Dan mungkin saja suatu hari nanti, saya pun akan melihat cahaya terang dari tempat saya kini berada, meski cahaya tersebut saya lihat melalui mata sayu yang persis ikan mati ini. Saya bisa merasakannya, sesuatu yang berkembang dalam diri saya, sesuatu yang setidaknya bisa membuat saya berharap bahwa hal itu kelak 'kan terjadi.

Tentu saja ada satu hal yang telah saya pelajari selama hari-hari saya bersama Klub Layanan Sosial.

Jadi inilah kesimpulan yang saya dapatkan.




Sampai di kalimat tersebut, kuhentikan laju pena pada tanganku.

Aku lalu melakukan perenggangan tubuh. Sepulang sekolah, hanya akulah satu-satunya yang tersisa di ruang kelas ini.

Bukan berarti aku sedang ditindas atau semacamnya... aku hanya sedang menulis ulang esai yang ditugaskan Bu Hiratsuka tempo hari. Aku mencoba bersikap apa adanya. Bukan karena aku sedang ditindas.

Penulisan ulang esaiku berjalan begitu lancar, namun aku terhenti pada bagian kesimpulan. Itu sebabnya sampai memakan waktu sesore ini.

Mungkin sebaiknya kulanjutkan saja di ruang klub...

Sewaktu memikirkannya, segera saja kumasukkan buku tulis bergaris serta alat tulisku ke dalam tas, lalu kutinggalkan ruang kelas yang kosong itu.

Tak seorang pun tampak pada lorong yang mengarah ke paviliun, meski masih bisa kudengar seruan semangat dari klub olahraga yang berlatih di luar.

Mungkin Yukinoshita sedang asyik membaca bukunya di ruang klub... jika begitu, aku bisa lanjut menulis di sana tanpa ada yang mengganggu.

Lagi pula, kami sama sekali tak melakukan kegiatan apa-apa di klub itu.

Benar-benar jarang. Memang ada beberapa orang aneh yang datang pada kami, tapi itu juga jarang. Kebanyakan orang cenderung mendatangi orang yang mereka anggap dekat, orang yang mereka percayai, atau menyimpan masalah mereka dan menghadapinya sendiri.

Mungkin itulah jawaban yang tepat. Sesuatu yang umumnya orang-orang harus tuju. Meski begitu, terkadang ada orang yang tak bisa melakukannya. Contohnya orang sepertiku, atau Yukinoshita, atau Yuigahama, ataupun Zaimokuza.

Bagi sebagian besar orang, hal semacam persahabatan, cinta maupun impian adalah sesuatu yang menakjubkan. Bahkan momen-momen ketika sedang dirundung masalah atau saat tak tahu harus berbuat apa, bisa benar-benar berubah dan dianggap sebagai hal positif.

Sudah tentu itu sesuatu yang kita sebut dengan masa remaja.

Akan tetapi, ada juga orang-orang sinis yang memandang golongan tersebut lalu menyimpulkan bahwa mereka sudah teracuni oleh konsep masa remaja dan berbuat semau mereka. Seperti yang dibilang adikku, Masa remaja? Apa itu? Program pemerintah, ya? Jelas bukan, karena yang dimaksud  adikku itu masa belajar. Sepertinya ia sudah terlalu sering menonton Shouten.




2 tanggapan:

Nice (y) Kabarnya nggak akan dilanjut volme 2 ya? yah sayang banget :(

Iya gan... Satu Jilid ini aja makan waktu satu tahunan... Berharap saja ada penerjemah lain yang mau melanjutkan...

Posting Komentar