Oregairu Bab 6 Bagian 6

==========================================================
Dan tokoh tambahan di bagian ini jatuh kepada... Ah, ternyata Zaimokuza... (lesu)
Biar begitu, bagian ini lumayan menyenangkan dan menghibur... Komedinya pas lah...
Kalau belum ada yang tahu Kabuki, bisa lihat tautan wikipedia ini...
Nah, kalau Momotetsu (Momotaro Dentetsu) adalah game yang gaya bermainnya mirip seperti permainan Monopoli... Info lebih lanjut, ada di tautan ini...
Gak terasa sebentar lagi lebaran... Bab ini pun tersisa satu bagian lagi...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 6 - Akan Tetapi, Saika Totsuka Mau Saja Menurut

Bagian 6


Dengan itu, maka diputuskan bahwa sesi latihan neraka kami akan dimulai besok.

Kenapa aku harus sampai ikut latihan segala?

Bukankah Klub Layanan Sosial ini justru hanya menjadi taman perlidungan bagi kaum lemah agar bisa berkumpul dan beristirahat dengan santai? Bukankah artinya klub ini cuma mengumpulkan orang-orang tak berguna dan memberi ruang nyaman untuk ditinggali sementara?

Lalu apa bedanya dengan masa remaja yang kuanggap hina itu?

Bu Hiratsuka mungkin berusaha membuat tempat ini agar menjadi ruang karantina bagi pengidap penyakit seperti kami untuk diasingkan dan dirawat.

Biarpun begitu, andai penyakit kami memang bisa disembuhkan dengan hal yang tak penting macam begini, berarti kami sebenarnya tidak sedang mengidap penyakit.

Contohnya Yukinoshita. Aku tak tahu hal macam apa yang sudah membebani pikirannya, tapi aku yakin hal tersebut takkan hilang hanya karena ia diasingkan ke tempat ini.

Satu-satunya cara agar luka-lukaku bisa terobati di tempat ini sebenarnya adalah jikalau Totsuka itu seorang perempuan. Mungkin akan beda ceritanya jika hal-hal seputar tenis ini bisa menumbuhkan kisah komedi romantis di antara kami.

Sepengetahuanku, Saika Totsuka adalah sosok paling manis di dunia. Sikapnya tulus, dan yang terpenting, ia baik kepadaku. Jika kuhabiskan waktu sambil memupuk benih-benih cinta kami satu sama lain, mungkin aku akan tumbuh dewasa seperti manusia lainnya.

...tapi sayangnya, Totsuka adalah lelaki. Dewa memang bertindak konyol.

Aku jadi agak tertekan karena semua itu, tapi di saat yang sama aku sudah berganti baju ke seragam olahraga dan menuju ke lapangan tenis. Tunggu, aku masih berharap pada peluang tipis kalau dirinya adalah perempuan. Akan kupertaruhkan segala harapan dan impian pada peluang tersebut.

Seragam olahraga sekolah kami berwarna biru muda menyala dan tampak begitu mencolok. Karena warna norak yang hampir meninggalkan kesan itu, semua anak di sekolah jadi membenci seragam tersebut dan tak pernah memakainya kecuali saat pelajaran Olahraga atau saat latihan olahraga.

Jadi saat semua anak sedang memakai seragam biasa mereka, cuma aku satu-satunya yang tampak mencolok seperti orang bodoh dengan seragam olahraga ini.

Karena hal demikian, aku jadi dipandangi oleh seseorang yang menyebalkan.

"Hah hah hah hah Hachiman."

"Jangan bawa-bawa namaku dalam tawamu..."

Di SMA Soubu, hanya Zaimokuza saja yang mungkin bisa tertawa menjijikkan begitu. Ia berdiri, menyilangkan tangannya dan menghalangi jalanku.

"Beruntung sekali aku bertemu denganmu di sini. Aku baru saja ingin menyerahkan karya baruku. Silakan manjakan matamu dan saksikanlah!"

"Ahh, maaf. Aku agak sibuk sekarang."

Aku menyelinap ke samping dan sedikit menghindari tumpukan kertas yang hendak disodorkan padaku. Namun Zaimokuza pelan-pelan mencegatku dengan bahunya.

"...jangan berbohong. Bagaimana mungkin kau sudah punya rencana sendiri?"

"Aku tidak berbohong. Lagi pula, aku tak mau mendengar itu darimu."

Kenapa semua orang berkata begitu padaku? Apa aku terlihat seperti orang yang hanya sedikit memanfaatkan waktu dalam hidupnya? ...yah, walau itu memang benar...

"Hemh, aku paham, Hachiman. Kau hanya ingin tampil sedikit keren saja, makanya kau sampai berbohong. Lalu demi mencegah agar kebohongan tadi terungkap, kau pun berbohong lagi. Tapi itu akan menjadi siklus yang tak ada habisnya, siklus kebohongan tanpa henti yang tragis. Tapi lihatlah, Hachiman, spiral ini tak mengarah ke mana pun. Dan umumnya, hubungan antarmanusia itu memang tak mengarah ke mana-mana. Tapi masih ada waktu bagimu untuk menarik diri! ...kau sudah pernah menolongku, jadi sekarang giliranku untuk menolongmu!"

Zaimokuza baru saja mengucapkan kalimat yang menduduki peringkat dua dari daftar Kalimat yang Ingin Diucapkan para lelaki. Menjengkelkan sekali melihat dirinya mengacungkan jempol sambil memasang wajah penuh percaya diri begitu.

"Serius, aku memang sudah punya rencana sebelumnya..."

Aku merasa urat kepalaku benar-benar keluar karena marah, dan aku sudah mempersiapkan kata-kata untuk menundukkan Zaimokuza. Tapi rupanya...

"Hikigaya!"

Kudengar sebuah suara sopran yang bersemangat, dan bisa kurasakan Totsuka sudah menggapai lenganku.

"Pas sekali. Pergi bareng, yuk?"

"A-ayo..."

Totsuka menenteng tas raketnya di bahu kiri, dan entah kenapa ia merangkulkan tangan kanannya di lengan kiriku. Waduh...

"Ha-Hachiman... si-siapa itu...?"

Zaimokuza bolak-balik melihat ke arahku dan Totsuka dengan pandangan terkejut. Lalu ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang rasanya tak begitu asing... ah, aku tahu, itu Kabuki, 'kan? Hampir bisa kudengar efek suara Kabuki, Iyooo~~~ pon pon pon seiring Zaimokuza membelalakkan matanya sambil berpose aneh.

"Ke-keparat! Kau sudah berkhianat!"

"Apa maksudmu sudah berkhianat..."

"Diam! Dasar playboy jadi-jadian! Kau contoh gagal dari lelaki keren! Selama ini aku mengasihanimu karena kau penyendiri, tapi rupanya itu yang membuatmu jadi congkak!"

"Jadi-jadian? Contoh gagal? Itu sudah kelewatan..."

Aku memang penyendiri, makanya pada bagian terakhir tadi aku tak bisa mengelak.

Zaimokuza memberi tatapan kejam ke arahku selagi ia menyeringai.

"Sungguh, aku takkan memaafkanmu..."

"Tenang dulu, Zaimokuza. Totsuka itu bukan perempuan. Ia lelaki... kurasa."

"Ja-ja... ja-jangan main-main! Anak semanis ini tak mungkin seorang lelaki!"

Ucapanku tak terdengar meyakinkan, dan Zaimokuza menanggapinya dengan berteriak padaku.

"Begitulah, Totsuka itu lelaki yang manis."

"Sampai... dibilang manis... rasanya agak..."

Totsuka tersipu dan memalingkan wajahnya ke arah sebelahku.

"Eng... ini temannya Hikigaya, ya?"

"Pertanyaan bagus..."

"Hemh. Mana mungkin aku akan menganggap orang macam kau ini sebagai teman."

Zaimokuza benar-benar merajuk. Wah, anak ini memang menjengkelkan...

Tapi bukan berarti aku tak tahu dari mana kemarahannya itu berasal. Sudah sewajarnya kita merasakan warna kesedihan dan pengkhianatan jika tahu bahwa orang yang kita anggap layak diberi simpati berubah menjadi seseorang dengan tolak ukur yang benar-benar berbeda.

Di situasi macam begini, aku harus menanggapi seperti apa agar hubungan kami bisa kembali seperti sedia kala? Sayangnya, karena rendahnya pengalamanku terhadap area ini, makanya aku benar-benar tak tahu.

Aku jadi sedikit murung karena keadaan ini. Suatu hari nanti, kurasa Zaimokuza dan aku bisa berada di titik di mana kami bisa saling mengerti dan tertawa bersama.

Namun tampaknya hal semacam itu takkan mungkin terjadi.

Bertanya tentang keadaan seseorang, berusaha membuat orang agar merasa baikan, memastikan kalau kita takkan pernah kehilangan komunikasi, lalu dengan hal-hal tersebut akhirnya kita bisa kian dekat dengan seseorang... hal-hal berbau persahabatan seperti tadi bukanlah persahabatan yang sebenarnya. Jika hal menyusahkan macam itu disebut sebagai masa remaja oleh orang-orang, maka aku takkan mempermasalahkannya.

Berkumpul bersama kelompok stagnan ini dan bertingkah seolah sedang bersenang-senang tak lebih buruk dari sekadar pemuasan diri. Dan itu tak lebih buruk dari membohongi diri sendiri. Sifat yang sungguh buruk.

...soalnya, lihat saja; berurusan dengan Zaimokuza yang sedang cemburu ini benar-benar menyebalkan.

Setelah memastikan sendiri kalau akal sehatku masih berfungsi, kuabdikan diriku ini pada jalan kesendirian.

"Ayo, Totsuka."

Kutarik Totsuka dengan tanganku. "Ah, iya..." tanggapnya, tapi ia tetap tak beranjak.

"Zaimokuza... 'kan?"

Zaimokuza tampak sedikit kebingungan, namun akhirnya ia mengangguk.

"Kalau kau temannya Hikigaya, mungkin kita juga bisa... berteman? Rasanya... pasti menyenangkan. Soalnya aku jarang punya teman lelaki..."

Ucap Totsuka sambil tersenyum malu.

"Fu... ku, ku ku ku ku. Sudah pasti Hachiman dan aku adalah teman dekat. Tepatnya, rekan seperjuangan. Tidak, tidak, yang benar, aku majikan dan ia pelayannya... yah, karena kau yang meminta, aku jadi tak punya pilihan. Aku akan... eng... menghadiahimu dengan ikatan pertemanan. Bahkan kita pun bisa menjadi sepasang kekasih."

"Eng... rasanya itu... bukan ide bagus. Kita berteman saja, ya?"

"Hm, begitu... hei, Hachiman. Apa menurutmu anak yang di sana itu menyukaiku? Apa itu artinya kini aku jadi populer? Iya, 'kan? Begitu, 'kan?"

Zaimokuza segera mendekat padaku dan berbisik di telingaku.

...sudah kuduga, anak seperti Zaimokuza tak pantas kujadikan teman.

Orang-orang yang bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena ingin mendekati perempuan cantik tak pantas kujadikan teman.

"...Totsuka, ayo pergi. Kalau kita telat, Yukinoshita bisa murka."

"Hm, bisa gawat nanti. Kita harus cepat-cepat. Soalnya, perempuan itu... sungguh menakutkan."

Zaimokuza mulai mengikuti diriku dan Totsuka. Tampaknya ia ingin bergabung dalam kelompok kami. Lagi pula, ketika kami jalan berbaris dan menuruni tangga seperti ini, setiap orang yang melihat dari samping akan berpikir kalau kami grup dalam game Dragon Quest. Atau mungkin... bukan Dragon Quest, tapi sesuatu seperti King Bomby dari seri game Momotetsu...



10 tanggapan:

Pertamax... (sekali-sekali)

Tiga "Kalimat yang Ingin Diucapkan" oleh para anak lelaki...:

1) Serahkan padaku... kau duluan saja.
2) Kau sudah pernah menolongku, jadi sekarang giliranku untuk menolongmu!
3) Aku akan melindungimu.

cih ane keduluan -_- " ..
tetap semangat !! lanjutkan gan...

wkwkw Sumpah Comedy-nya bener-bener Kece
Di lanjut terus ya Gan...!

lebih cepat lebih bagus,lanjut broo

Oke, semangat gan...
Sudah lanjut...

Oke, ini sudah upadate kok gan...
Masih lanjut juga komedinya... Hkhkhkhk...

Sudah lanjut kok gan...
Selamat menikmati...

Mungkin ane udah gila kali ya,kok rasanya komedi romantisnya dapetx d totsuka ya?takdir emang selalu kejam buat si hachiman.Penggambaran totsuka di LN serasa berkali lipat manisx dari anime...

Posting Komentar