Oregairu Bab 4 Bagian 1

==========================================================
Iya, iya... Memang sudah lama gak update...
Salahkan ane, yang hampir gak ketemu tombol logout...
Tapi seperti janji, seri ini akan ane prioritaskan...
Dan seri yang lain... Yah, kalau ada yang senang baca novel dan mau bantu menerjemahkan... Dengan senang hati ane terima, walau ada tesnya dulu... Sampaikan saja lewat kolom komentar...
Tambahan... Mengenai 'Melakukan sesuatu di akhir festival,' berbeda dengan, 'Melakukan sesuatu saat festival telah berakhir.'... Dalam LN aslinya Hachiman membandingkan antara kalimat 後の祭り, ato no matsuri dengan 祭りの後, matsuri no ato, yang merupakan sebuah ungkapan, yang jika dalam Bahasa Indonesia mirip seperti ungkapan 'nasi sudah menjadi bubur', yang menandakan sesuatu yang sudah terlambat...
Gak rugi, lah... Sudah delay sampai berbulan-bulan... Bab 4 ini memang seru, kok...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 4 - Meski Begitu, Kelas Berjalan Seperti Biasanya

Bagian 1


Bel berakhirnya jam pelajaran keempat pun berbunyi. Mendadak, suasana kelas menjadi lebih santai. Sebagian murid sudah berhamburan keluar membeli jajanan di kantin, sementara, sebagiannya mencari-cari kotak bekal mereka di dalam laci meja. Lalu sisanya, ada yang pergi ke kelas lain. Selama istirahat makan siang, ruang kelas kami memang selalu dipenuhi kehebohan. Dan tak ada tempat yang bisa kutuju jika hujan begini. Biasanya, aku punya tempat bagus untuk menikmati makan siangku, tapi mana aku mau kalau makan sambil basah-basahan.

Karena terpaksa, akhirnya kumakan saja roti yang kubeli dari toko kelontongan ini sendirian. Kalau cuaca sedang hujan begini, biasanya jam istirahat kuisi dengan membaca novel atau manga, tapi ternyata, buku-buku itu tertinggal sewaktu aku membacanya di ruang klub kemarin. Ya sudahlah, nanti saja kuambil kalau sudah cukup istirahatnya.

Aku jadi ingat kalau kalimat, Melakukan sesuatu di akhir festival, berbeda dengan, Melakukan sesuatu saat festival telah berakhir.

Lelucon yang bahkan aku sendiri tak menganggapnya lucu. Yah, memang sebanyak itulah waktu senggang yang kupunya saat istirahat. Walau selalu kepikiran macam-macam, sebenarnya cukup wajar bila aku menghabiskan waktuku ini untuk diriku sendiri, makanya, terkadang aku selalu membuat kesimpulan untuk berbagai hal.

Saat aku sudah di rumah, banyak hal yang bisa kulakukan bila sendirian. Contohnya, aku sering beryanyi keras-keras dengan penuh semangat. Dan ketika adikku datang, biasanya akan kualihkan seperti, Motto! Mott— ... selamat datang. Tentu saja, aku tak pernah bernyanyi di dalam kelas.

Sebenarnya aku pun sering memikirkan banyak hal. Bisa dibilang, para penyendiri itu ahli dalam pemikiran. Seperti yang kita tahu, manusia itu makhluk berakal, dan setiap manusia pasti akan berpikir. Namun di antara mereka, ada para penyendiri yang tak mau membuang waktunya untuk memikirkan manusia lain, sehingga pemikiran yang mereka miliki secara alami menjadi kian mendalam dan lebih ilmiah.

Alhasil, para penyendiri punya pola pikir yang sangat berbeda dibanding manusia lain. Karenanya, di saat tertentu, para penyendiri kerap melontarkan konsep maupun gagasan yang berada di luar nalar manusia biasa.

Sulit untuk menyampaikan banyaknya informasi dengan keterbatasan komunikasi verbal yang dimiliki oleh para penyendiri. Fenomena tersebut mirip dengan sistem operasi sebuah komputer.

Butuh cukup waktu dalam mengunggah sejumlah besar informasi pada server untuk mengirim sebuah surel, hal yang sama juga dialami oleh para penyendiri yang kurang pandai berkomunikasi. Seperti itulah keadaannya. Menurutku, hanya karena lemahnya salah satu penunjang, bukan berarti itu jadi hal buruk. Mengirim surel bukan satu-satunya keutamaan dari sebuah komputer. Padahal masih ada Photoshop dan internet, ya 'kan?

Pembahasan ini kini malah berubah menjadi penilaian yang didasarkan hanya pada salah satu faktor saja. Yah, walau aku menggunakan perumpamaan sebuah komputer, tapi aku bukan orang yang ahli dalam hal tersebut.

Biarpun begitu, aku ini ahli dalam memainkan game yang dianggap sulit oleh para anak lelaki di kursi depan kelasku ini. Para anak lelaki yang kumaksud yaitu mereka yang dengan sengaja membawa PSP ke sekolah. Kalau tidak salah, mereka itu Oda dan Tahara.

"Makanya, pakai hammer saja!"

"Enggak, ah, gunlance sudah lebih dari cukup, kok."

Mereka tampak sedang bersenang-senang. Padahal aku juga memainkan game itu, dan kalau boleh jujur, aku juga mau bergabung bareng mereka.

Di masa lalu, para penyendiri adalah orang yang bisa memonopoli manga, anime maupun game untuk diri mereka sendiri. Namun keadaannya sekarang, beberapa media telah berubah menjadi wadah yang mengharuskan para penyendiri untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

Sayangnya, akibat tampangku yang pas-pasan ini, maka ketika kucoba bergabung dengan mereka, aku malah dianggap resek juga culun. Ya sudah, mau bagaimana lagi?

Sewaktu SMP dulu, pernah kulihat ada beberapa orang yang sedang membahas soal anime, jadi kucoba untuk ikut bergabung dalam pembicaraan mereka, namun terlihat jelas kalau mereka langsung bungkam ketika melihatku. Itu hal yang sungguh kejam buatku .... Di saat itulah aku berhenti mencoba bergabung dalam keramaian itu.

Dan aku tak pernah menjadi lelaki yang berusaha ingin membuat orang-orang agar mengikutsertakan diriku, karena itu justru lebih buruk. Sewaktu kami bermain sepak bola ataupun bisbol saat pelajaran Olahraga, dua anak lelaki yang cukup populer akan melakukan suten untuk menentukan siapa yang hendak dipilih. Dan aku selalu kebagian pilihan terakhir. Saat kuingat kembali diriku yang masih berumur sepuluh tahun, saat kukenang betapa gugupnya aku sewaktu mereka mau memilih anggota tim .... Hal itu hampir bisa membuatku menangis, serius.

Aku bukanlah orang yang sering sakit-sakitan, tapi itu sebabnya aku mulai payah dalam hal olahraga. Aku menyukai bisbol, namun aku tak bisa menemukan orang yang mau bermain denganku .... Jadi sewaktu kecil dulu, aku selalu bermain dengan tembok atau berlatih penguasaan lapangan seorang diri. Aku benar-benar telah terbiasa bermain bisbol sendirian; bahkan aku sempat berpura-pura ada para pemain khayalan di lapangan ataupun di area pemukul.

Namun ada pula orang-orang di kelas ini yang pandai dalam komunikasi semacam itu.

Contohnya, orang-orang yang kini sedang berada di deretan kursi belakang kelas.

Ada dua anak dari Klub Sepak Bola, tiga anak dari Klub Basket, dan tiga anak perempuan. Hanya dengan sekali lihat pada suasana hidup di sekitar grup tersebut, cukup untuk memberi tahu kalau posisi mereka berada di puncak pergaulan kelas. (Omong-omong, Yuigahama juga bagian dari grup itu.)

Bahkan di dalam grup tersebut, terdapat dua orang yang bersinar lebih terang dibanding yang lainnya:

Hayato Hayama.

Itulah nama anak yang berada di pusat grup tersebut. Ia adalah pemain andalan dari Klub Sepak Bola, sekaligus kandidat kapten tim selanjutnya pada semester depan. Ia bukanlah seseorang yang betah kulihat berlama-lama.

Dengan kata lain, ia lelaki tampan yang penampilannya dibuat-buat. Mati saja sana!

"Enggak, deh, hari ini aku enggak bisa. Aku ada latihan."

"Masa enggak bisa izin sehari, sih? Hari ini double scoop di Baskin-Robbins sedang diskon, lo~~ aku mau beli yang rasa chocolate-cocoa."

"Bukannya dua-duanya itu cokelat? [Hehe]"

"Eh? Ya jelas beda, lah! Lagi pula, sekarang aku benar-benar lapar, nih."

Dan anak yang meninggikan suaranya tadi adalah rekan Hayama, Yumiko Miura.

Rambut pirangnya ditata ikal melingkar, dan bila dilihat dari caranya berseragam yang tak beraturan hingga ke pundaknya itu, kita pasti berpikir kalau ia bangga akan hal tersebut. Haruskah ia berdandan seperti PSK begitu? Roknya sendiri pun begitu pendek sampai-sampai sulit menebak maksud dari caranya berbusana.

Ia punya tubuh yang bagus juga wajah yang cantik, tapi kelakuan konyol dan penampilan hebohnya kian menegaskan ketidaksukaanku padanya. Atau bisa saja, aku cuma takut pada dirinya. Kita tak pernah bisa tahu apa yang bakal ia katakan pada kita.

Namun (setidaknya dari yang kuamati) Hayama tak merasa takut terhadap Miura, malah ia seperti seseorang yang senang diajaknya bicara. Itu sebabnya aku tak paham akan jalan pikiran para raja dan ratu dari lapisan pergaulan ini. Tak peduli bagaimana kita melihatnya, perempuan itu jelas menjadi orang menyenangkan hanya sewaktu berbicara dengan Hayama saja. Andai aku yang bicara dengannya, bisa-bisa aku dibunuhnya dengan sekali tatap.

Yah, konon, kita tak perlu punya alasan untuk berbicara dengan orang lain, jadi itu bukanlah masalah.

Sementara itu, Hayama dan Miura masih saja saling bersenda gurau.

"Maaf, tapi untuk hari ini aku enggak ikut dulu."

Ujar Hayama; ia tampak kembali berkumpul dengan teman-temannya. Miura menatapnya dengan pandangan kosong. Lalu Hayama pun melantangkan sebuah pengumuman dengan senyum yang begitu mengembang di wajahnya.

"Soalnya, target kami tahun ini adalah Kokuritsu!"

Eh? Kokuritsu ..., bukannya Kunitachi? Jadi ia tak sedang membahas Kunitachi, bagian dari Tokyo yang bisa ditempuh lewat Jalur Chuuou, tapi malah Kokuritsu? Jadi maksudnya turnamen nasional?

Buwaha ....

Di dalam hati aku tertawa. Melihat ia bersikap sebangga itu, berpura-pura seolah mengatakan hal keren, itu benar-benar ..., benar-benar .... Aku tak sanggup menahannya lagi. Itu buruk sekali.

"Tapi tetap saja, Yumiko. Kalau terlalu banyak makan nanti kau bakal menyesal, lo."

"Asal tahu saja, sebanyak apa pun aku makan, aku enggak akan jadi gemuk. Ahh, kurasa aku harus ke sana, terus makan yang banyak. Ya 'kan, Yui?"

"Ahh, iya, Yumiko memang punya penampilan menarik ..., tapi sekarang aku sedang ada janji, jadi aku harus—"

"Dengar sendiri, 'kan? Hari ini aku mau makan yang banyaaak sekali!"

Saat Miura mengatakannya, tawa pun meledak di sekelilingnya. Tawa itu terdengar kosong, seperti tawa yang biasanya ditambahkan pada acara komedi. Hanya sekadar tawa yang keras, tak lebih; aku pun hampir bisa melihat caption bar yang terpampang hingga ke bawah layar.

Bukannya aku mau mendengarkan pembicaraan mereka atau semacam itu, tapi suara mereka terlalu nyaring sampai dengan mudah bisa kudengar. Kini aku jadi ingat, baik otaku maupun riajuu, bila bergerombol, mereka selalu bicara dengan suara keras. Aku masih mendiami kursiku yang terletak di tengah ruangan tanpa ada seorang pun di sekelilingku, biarpun begitu, suara dari semua penghuni kelas ini begitu ramai ..., seolah-olah aku sedang berada di pusat badai.

Hayama lalu mengembangkan senyum yang menandakan kalau ialah pusat perhatian, yang juga disukai semua orang.

"Pokoknya sudah kuperingatkan, ya. Jangan terlalu banyak makan sampai perutmu meledak."

"Ku-bi-lang. Tak jadi masalah, walau sebanyak apa pun makanku! Aku enggak akan jadi gemuk. Ya 'kan, Yui?"

"Ahh, penampilan Yumiko memang mengagumkan. Kakinya pun sungguh indah. Tapi, aku harus ...."

"Ehh, masa, sih? Tapi bukankah anak yang bernama Yukinoshita itu juga punya kaki yang memesona?"

"Ah, benar juga. Yukinon juga punya kaki yang cukup memesona ...."

"..."

"... ah, eh, maksudku, jelas Yumiko yang lebih keren!"

Yuigahama segera berusaha menyelamatkan dirinya sewaktu Miura mengerutkan alis matanya. Apa-apaan itu?! Rasanya seperti melihat seorang ratu yang ditemani dayangnya. Namun sepertinya, persetujuan Yuigahama tadi tak terlihat cukup untuk menenangkan suasana hati sang ratu. Miura memicingkan matanya, dan ia terlihat tak senang.

"Yah, lagi pula, menurutku itu enggak akan jadi masalah. Kalau mau menunggu hingga usai latihan, kita bisa pergi bareng."

Mungkin Hayama sempat merasakan suasana tegang tadi, tapi dengan mudahnya ia memotong pembicaraan itu dengan kalimat barusan. Sang ratu lalu sumringah sambil tersenyum.

"Oke, SMS aku kalau sudah selesai, ya!"

Yuigahama diam-diam mengelus dadanya karena lega.

Huh, itu terlihat begitu menyakitkan. Apa kita sedang kembali ke abad pertengahan atau semacamnya? Jika kita memang harus berusaha sekeras itu agar punya kehidupan pergaulan yang baik, maka aku lebih memilih hidup menyendiri, jadi terima kasih.

Kemudian, Yuigahama dan aku saling bertatap mata. Saat ia melihatku, Yuigahama tampak seolah sudah membulatkan tekad, ia pun lalu menarik napas dalam-dalam.

"Eng ..., aku .... Aku harus pergi makan siang, jadi ...."

"Oh, ya? Kalau begitu sekalian titip belikan aku teh lemon saat kau kembali nanti, ya. Aku benar-benar lupa bawa minum hari ini. Kau tahu sendiri, 'kan? Bekal yang kubawa itu roti, jadi sulit kalau enggak dibarengi sama minum teh."

"A-ah, ta-tapi aku mungkin enggak bisa kembali sampai jam kelima, jadi bisa-bisa jam makan siangnya sudah selesai, dan juga, eng ..., kau tahu, lah ...."

Saat Yuigahama mengatakannya, wajah Miura pun langsung menegang.

Miura tampak seperti habis digigit oleh salah satu peliharaannya sendiri. Mungkin selama ini Yuigahama tak pernah sekalipun membantah ucapan Miura, namun baru hari ini ia tak memerhatikan apa yang Miura ucapkan.

"Eh? Tunggu, tunggu, ada apa ini? Kau sadar, enggak, Yui? Belakangan ini kau sering sekali telat pulang. Entah hanya perasaanku atau kau sepertinya enggak mau lagi kumpul-kumpul bareng kita?"

"Ah, yah, soalnya, eng ..., aku masih ada urusan dan yah, urusan pribadi juga, sih, jadinya, aku benar-benar minta maaf, tapi, eng ...."

Yuigahama jadi benar-benar kebingungan saat berusaha menanggapinya. Ya ampun, memangnya ia karyawan yang habis dicecar pertanyaan oleh bosnya, apa?

Meski begitu, tanggapan Yuigahama tadi sepertinya punya efek yang sebaliknya. Dan Miura pun mengetuk-ngetuk kukunya ke meja dengan gaya yang menjengkelkan.

Dalam emosi tiba-tiba sang ratu, seisi kelas langsung jatuh dalam keheningan. Bahkan Oda dan Tahara (atau siapalah namanya) mengecilkan suara PSP-nya hingga di volume terendah. Hayama beserta komplotan lainnya dengan canggung menundukkan pandangan matanya ke lantai.

Yang terdengar hanyalah suara menggema dari kuku-kuku Miura yang mengetuk-ngetuk di atas mejanya.

"Yah, mana mungkin aku tahu soal urusanmu itu, ya 'kan? Kalau ada yang ingin kausampaikan, katakan saja. Kita ini teman, 'kan? Kau juga tahu sendiri, menyembunyikan sesuatu dari teman itu enggak baik. Aku benar, 'kan?"

Yuigahama segera menundukkan kepalanya.

Kata-kata Miura terlontar begitu saja dan apa adanya. Pada kenyataannya, ucapannya tadi tampak hanya ingin mempertegas arti persahabatan di antara dirinya dan Yuigahama. Mereka memang berteman, mereka memang bersahabat, jadi mereka boleh saling berbagi apa pun sesuka mereka. Tepatnya, itulah yang Miura maksudkan. Namun di balik kata-katanya barusan juga tersirat makna, Jika kau enggak mau berbagi denganku, berarti kita bukan teman. Melainkan, musuh. Ini merupakan Inkuisisi Spanyol yang terulang kembali.

"Maaf ...."

Yuigahama masih menundukkan kepalanya sambil takut-takut memohon maaf.

"Bukan, bukan, bukan itu yang mau kudengar. Ada sesuatu yang tadi mau kausampaikan padaku, 'kan?"

Tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa berkata apa-apa saat dihadapkan pada pernyataan tersebut. Miura tak punya niat untuk mengobrol, bahkan ia tak mengajukan satu pun pertanyaan. Ia hanya ingin Yuigahama meminta maaf kemudian menyerang perempuan itu.

Tindakan yang sangat konyol. Jika ia mau saling bunuh seperti itu, setidaknya lakukan sewaktu tak ada orang.

Aku kembali menghadap ke depan, dan mulai memakan rotiku sembari mengutak-utik ponsel-ku. Kukunyah sedikit rotiku, kemudian kuteguk minumanku. Tapi entah kenapa ..., serasa ada yang mengganjal di kerongkonganku, dan itu bukanlah roti.

... memangnya ada apa, sih?

Jam makan siang harusnya jadi waktu yang menyenangkan. Memikirkannya malah seperti tokoh yang ada di manga Kodoku no Gourmet.

Jangan salah sangka. Tak sedikit pun aku berniat menolong perempuan itu. Tapi ketika perempuan yang kita kenal hampir mau menangis di hadapan kita, itu bisa membuat perut teraduk-aduk dan selera makan langsung hilang. Aku hanya ingin menikmati makan siangku ....

Dan juga, diserang seperti itu adalah hakku. Aku tak bisa begitu saja menyerahkan hakku pada orang lain.

Ah, dan satu hal lagi.

... aku benar-benar tak suka perempuan bispak itu.

Kursiku berderak, lalu dengan gagahnya aku bangkit dari kursiku.

"Hei, kau—"

"Berisik!"

—hentikan. Itulah yang mau kuucapkan. Tapi sebelum aku sempat mengatakannya, Miura sudah memancarkan tatapan iblis ke arahku.

"... tahu, tidak, kapan hujannya berhenti? Ka-kalau saja tadi aku bawa payung, ya, hahaha."

Ya Tuhan! Memangnya ia ular anaconda, apa?! Aku terpaksa menoleh ke belakang hanya untuk meminta maaf saja!

Aku pun kembali duduk karena depresi. Miura tampak sudah melupakan keberadaanku dan berlanjut memandang rendah kepada sosok Yuigahama yang telah berkecil hati.

"Asal kautahu, aku berkata begini itu demi kau, Yui. Tapi sikap plin-planmu itu benar-benar membuatku kesal."

Ia bilang itu semua demi Yuigahama, tapi ujung-ujungnya itu justru soal perasaan Miura semata. Kalimat yang diucapkannya tadi malah bertentangan dengan dirinya sendiri. Tapi Miura tak merasa kalau ini adalah hal yang bertentangan. Karena ia adalah ratu dari grup tersebut. Dan di dalam sistem feodal seperti tadi, sang penguasa punya kekuasaan mutlak.

"... maaf."

"Begitu lagi?"

Dalam emosi yang bercampur antara marah dan pasrah, Miura menghela panjang napasnya. Hal yang begitu saja sudah cukup untuk membuat Yuigahama semakin berkecil hati.

Duh, sudahlah, hentikan saja. Apa ia tak begitu peduli dengan orang-orang yang menonton kejadian ini? Aku tak tahan lagi dengan suasana penindasan ini. Bisakah ia berhenti membuat orang-orang terpaksa menonton drama remaja yang dimainkannya ini?

Sekali lagi kuhimpun sedikit keberanian yang kupunya. Maksudku, bukan berarti mereka bakal semakin membenciku. Aku bisa menghadapi pertarungan ini tanpa risiko apa pun, jadi ini bukanlah situasi yang buruk bagiku.

Sewaktu aku berdiri dan menghadap ke belakang kelas, Yuigahama melihatku dengan mata berkaca-kaca. Dan seolah menunggu waktu yang tepat, Miura lalu bicara dengan dinginnya.

"Hei, Yui, kau sedang lihat ke mana? Kau tahu, dari tadi yang kaulakukan itu cuma meminta maaf saja."



"Ia bukan orang yang pantas kaumintakan maaf, Yuigahama."



Suara yang menggema di seisi ruangan itu bahkan lebih dingin dan kejam dibanding suara Miura sebelumnya. Semua yang mendengarnya pun gemetar ketakutan. Suara itu bagai badai yang berhembus dari Kutub Utara, sekaligus begitu indah layaknya aurora.

Perempuan itu berdiri di sudut kelas, di depan pintu masuk, meski begitu, tatapan semua orang langsung tetuju ke dirinya seakan ia adalah pusat dari seluruh dunia.

Tak ada seorang pun di planet ini yang mampu bersuara seperti itu selain Yukino Yukinoshita.

Mendadak jadi lumpuh, kusadari diriku sudah dalam posisi setengah berdiri. Dibandingkan dengan hal tadi, upaya intimidasi Miura sebelumnya tampak seperti permainan anak kecil saja. Lagi pula, kalau Yukinoshita yang jadi lawannya, kesempatan untuk merasa takut saja kita takkan punya. Itu sudah di luar dari rasa takut, pada intinya, yang tertinggal hanyalah perasaan kalau kita baru saja melihat sesuatu yang begitu indah.

Kemudian, semua anak di kelas pun langsung terkesima pada perempuan itu. Di satu sisi, suara ketukan kuku Miura pada meja bahkan menghilang, dan ruang kelas pun jadi sunyi senyap. Tapi sesegeranya, suara Yukinoshita mulai memecah keheningan yang ada.

"Yuigahama. Kau sungguh terlalu, menyuruhku untuk menunggumu di suatu tempat dan hingga sekarang belum kunjung datang di waktu yang dijanjikan. Bukankah kau setidaknya mengirim pesan padaku terlebih dahulu bahwa kau akan telat?"

Mendegar itu, Yuigahama jadi tampak lega dan tersenyum. Ia mulai menuju ke arah Yukinoshita.

"... ma-maaf. Tapi, eng, sebenarnya aku enggak punya nomor ponsel-mu ...."

"... begitukah? Kurasa kau benar. Baiklah, aku tak sepenuhnya menyalahkanmu di sini. Kali ini kumaklumi saja."

Yukinoshita sepertinya tak peduli dengan yang sedang terjadi di sini, dan terus saja berbicara sesuka hatinya. Rasanya sedikit melegakan melihat ia dengan santainya beranjak pergi.

"Tung-tunggu dulu! Kami ini sedang bicara!"

Miura tampak telah lepas dari kelumpuhannya, dan mengarahkan kegeramannya pada Yukinoshita dan Yuigahama.

Sang Ratu Api naik pitam, dan kobaran apinya semakin memanas.

"Ada apa? Aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu. Aku masih belum menikmati makan siangku."

"Ha-hah? Kau sendiri yang tiba-tiba muncul, tapi malah enggak sadar dengan ucapanmu? Aku ini sedang bicara dengan Yui!"

"Bicara? Bukankah yang kaulakukan tadi hanya membentak? Itukah yang kaumaksud dengan bicara? Yang tampak bagiku, kau hanyalah berusaha membuat dirinya ketakutan dan memaksakan pendapatmu secara sepihak padanya."

"Ap—?!"

"Maaf, aku tak menyadari sebelumnya. Kuakui kalau aku tak begitu paham mengenai cara hidupmu, jadi jangan salahkan aku jika yang kaulakukan tadi kuanggap sama seperti primata yang berusaha mengintimidasi sesamanya."

Bahkan Sang Ratu Api pun membeku di hadapan Sang Ratu Es.

"Ooo ...."

Miura menatap ke arah Yukinoshita, kemarahannya sudah tampak jelas terlihat. Yukinoshita sendiri justru mengalihkan pandangannya seolah tak peduli.

"Kau boleh mengeluh sesukamu dan bertingkah layaknya sang penguasa istana, tapi tolong lakukan itu di ranah pribadimu sendiri. Karena jika tidak, maka drama murahanmu itu akan hancur seiring memudarnya riasan di wajahmu."

"... eh, kau ini bicara apa? Aku sama sekali enggak paham."


Berbicara layaknya orang yang tak mau dianggap kalah, akhirnya Miura pun kembali rebah ke kursinya. Rambut ikal melingkarnya berayun-ayun sewaktu ia mulai menggebu-gebu mengetik di ponsel-nya.

Tak seorang pun mencoba bicara pada gadis itu dalam suasana seperti ini. Bahkan Hayama sekalipun yang biasanya pandai dalam menjaga suasana, hanya bisa menguap seolah berusaha membuyarkan kecanggungan yang ada.

Dan setelah kejadian itu berakhir, Yuigahama masih berdiri terpaku. Ia cengkeram erat keliman roknya dan tampak seakan ingin mengucapkan sesuatu. Yukinoshita mungkin sudah mengira maksud dari Yuigahama itu, karenanya, ia pun mulai beranjak pergi dari ruang kelas.

"Aku pergi dulu."

"Nan-nanti aku menyusul ...."

"... lakukan yang mau kaulakukan."

"Baik."

Mendengarnya, Yuigahama lalu tersenyum. Namun cuma ia seorang saja yang tersenyum.

Hei, hei. Suasana macam apa ini .... Situasi begini benar-benar terasa tak nyaman, dan rasanya sesak kalau berlama-lama di sini. Dan tanpa kusadari, lebih dari separuh teman sekelasku sudah mulai pergi dari ruangan ini dengan alasan kalau mereka haus atau sedang ingin ke kamar kecil. Yang masih tersisa hanyalah Hayama, Miura dan grupnya, serta beberapa anak yang masih diliputi rasa penasaran.

Kurasa aku harus mengambil kesempatan ini untuk mengikuti arus besar yang menuju pintu keluar! Serius, andai suasana di sini menjadi tambah kelam, bisa-bisa aku bakal kehabisan napas kemudian mati.

Setenang mungkin aku mulai berjalan ke arah pintu dan berpapasan dengan Yuigahama. Dan di saat itu juga kudengar sebuah bisikan kecil.

"Terima kasih, sudah berdiri demi aku."



12 tanggapan:

Wah... keren. Ditunggu lanjutannya. Terima kasih.

Keren, 'kan...?
Tunggu aja dalam waktu dekat... Lagi semangat juga nih...

arigatou gan ..
ditunggu kelanjutannya klo bsa secepatnya #tehee

ah... akhirnya setelah sekian lama menanti ^^
akhirnya update jg, makasih mimin :)

Sama-sama gan...
Kalau sempat, mungkin minggu ini...

Sama-sama gan...
Ane usahakan proyek di seri ini bakal selancar mungkin...

haha ngakak dah Hachiman, gak ada nyalinya. Ditunggu lanjutannya...
duh Yukinoshita keren abiss '3'9 top deh.

Iya gan, mulai ini dan selanjutnya, komedinya bakal mulai bermunculan...
Tehehe... Yukinon memang sadis ya...

hmmm... gue baca 1 bab ini -/+ selama 20 menit dan trnyata cuma 8 menit doank di anime wkwk... pantes novelnya cepat kehabisan materi buat S2 :v terkesan dirush ya (?) atau emang
omong" skrng LN Oregairu udh jilid berapa ya

btw ditunggu lanjutannya >,<)p !!

Di anime skip-nya memang banyak banget gan...
Terutama di Jilid 5...
Yang diadaptasi di jilid itu cuma 1/6-nya saja...
Sisanya dijadikan materi khusus buat VN-nya...

Sampai tanggal 18 April besok... Resminya sudah sampai Jilid 9...

Betewe, Bab 4 Bagian 2 sudah di-update...
Selamat menikmati...

Sambil menunggu season 2 nya update tiap minggu, baca LN nya biar lebih jelas alur cerita nya..

Semua yang terjadi pd hachiman terjadi pdku.....-_-

Posting Komentar