Oregairu Bab 3 Bagian 8

==========================================================
Ane senang banget cerita di Bagian ini... Walau bukan penutup Bab, tapi filosofinya dah berhamburan... Lalu penjelasan untuk acara yang dimaksud Yui yaitu, Ai no Epuron (愛のエプロン), yang di mana saat acara tersebut akan berakhir, sang pembawa acara menutupnya dengan kalimat, "Memasak adalah sebuah bentuk cinta, asal ada cinta, cinta saja tak masalah."... Kemudian untuk nama Narsisgaya yang ditujukan sebagai nama sindiran Hachiman, pada novel aslinya tertulis Narugaya (ナルが谷)... Naru (ナル) di sini adalah sebuah plesetan yang berarti: Bersikap narsis... Kebetulan cocok dengan kata 'gaya'...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 8


"Hikigaya, aku tak yakin dengan yang hendak kaulakukan ini. Apa ada maksud lain dari leluconmu tadi?" Yukinoshita menatapku risih.

"Ada sebuah kutipan yang berbunyi... Asal ada cinta, cinta saja tak masalah!!" Kusunggingkan senyum bangga sambil mengacungkan jempol.

"Acara itu kan jadul banget." Tanggap Yuigahama dengan suara pelan. Yah, itu memang acara yang disiarkan waktu aku SD dulu. Yukinoshita pun sepertinya tak mengerti maksud ucapanku dan memiringkan kepalanya karena kebingungan.

"Ibarat lomba lari halang rintang, fokus kalian hanya tertuju pada melompati rintangannya saja." Tanpa sadar aku tersenyum. Wah, perasaan superior apa ini? Seakan hanya aku saja yang tahu jawaban yang benar. Bikin aku geregetan saja.

"Begini... tujuan utama lari halang rintang bukanlah melompati rintangannya, tapi untuk sampai ke garis finis dengan waktu secepat mungkin. Tak ada aturan yang mengatakan kalau rintangan tersebut wajib dilompati. Da-dan tak per
" Tanpa sengaja bicaraku mulai terbata.

"Cukup, aku sudah paham maksudmu."
 

lu cemas soal menabrak, menggulingkan atau menghancurkan rintangannya. Itulah yang akan kukatakan andai Yukinoshita tak memotong ucapanku.

"Jadi kau mau bilang kalau kami sudah mencampuradukkan maksud dan tujuan kami yang sebenarnya, begitu?"

...aku tak begitu paham yang barusan ia katakan. Namun, aku yakin kalau ia mau mengatakan hal yang sama, karena itu aku mengangguk dan lanjut berbicara.

"Inti sesungguhnya dari hal tersebut yaitu pada seberapa kerasnya usaha kalian saat membuat kue kering. Jika kalian tak mengalami stres saat membuatnya, maka semua itu akan terasa hambar. Bagaimana orang bisa senang kalau rasanya sama saja seperti beli dari toko. Bahkan boleh dibilang, kue kering yang dibuat sendiri itu masih lebih baik walau rasanya kurang enak."

"Kurang enak?" Tanya Yukinoshita sambil menampakkan wajah kebingungan.

"Kalau kalian bisa membuat orang yang menerimanya berpikir. Yah, meski hasilnya kurang bagus tapi ia sudah berusaha semampunya. Maka orang tersebut akan salah sangka dan berpikir dengan wajah penuh harap, Ternyata ia sudah susah payah membuat kue kering ini demi aku..."

"Aku yakin tak sesederhana itu..."

Yuigahama melihatku curiga, seolah menyiratkan, Perjaka ini sebenarnya mau apa, sih?

Apa boleh buat. Mungkin harusnya kutambahkan saja sesuatu yang lebih menarik.

"...ini cerita tentang temannya temanku... ini cerita ketika ia baru memasuki masa SMA. Karena masih di awal semester, maka ketika itu adalah saat diadakannya pemilihan ketua kelas. Seperti yang sudah diduga, semua anak lelaki kala itu sedang di masa-masa gelisahnya, jadi mereka bakal menolak kalau ditunjuk menjadi ketua kelas. Tentu saja, mereka akhirnya memilih seseorang secara acak. Lalu, secara kebetulan temannya temanku itu pun terpilih. Guru lalu menyerahkan wewenang kepada anak tersebut dan memberinya tugas untuk memilih wakil perempuan. Itu merupakan beban berat bagi seorang anak pemalu, penakut dan pendiam seperti dirinya."

"Penjelasanmu terlalu bertele-tele. Cerita pembukamu juga terlalu panjang."

"Diam dan dengarkan saja dulu. Pada saat itu, dipilihlah salah seorang anak perempuan. Perempuan itu punya wajah yang manis. Dan dengan demikian, maka pasangan ketua kelas yang baru pun diresmikan. Sang wakil perempuan kemudian tersenyum senang sambil berkata, Mohon kerja samanya untuk satu tahun ke depan. Setelah itu, ia mulai membicarakan berbagai hal dengan temannya temanku ini. Jadi, si temannya temanku ini mulai berpikir, Wah, apa ia suka padaku, ya? Mungkin ia sengaja agar terpilih karena aku juga ikut terpilih. Ia begitu akrab saat bicara denganku, maka sudah jelas kalau ia memang suka padaku! Dan tak makan waktu lama baginya untuk meyakinkan hal tersebut. Yah, kira-kira satu minggu."

"Wah! Cepat banget." Yuigahama menaikkan volume suaranya sembari menganggukkan kepala.

"Ya iya, lah. Kau tak boleh berlama-lama jika menyangkut soal asmara. Jadi, seusai jam pelajaran, saat mereka sedang mengambil fotokopi materi yang diminta guru, temannya temanku ini mencoba mengutarakan perasaannya:

He-hei, apa sudah ada anak yang kautaksir?

Ha-hah? Tak ada, kok!

Jawabanmu tadi malah menunjukkan kalau itu memang ada! Jadi siapa?

...menurutmu siapa?

Mana aku tahu. Kasih petunjuk, dong! Petunjuk!

Ah, tak mau, ah...

Kalau begitu kasih inisial namanya saja. Inisial nama atau marga juga tak apa-apa, kok. Ayolah!

Eng... kurasa itu tak jadi masalah.

Serius?! Sip! Jadi, apa inisialnya?

...H.

Eh... jangan-jangan itu... aku, ya?

Hah? Kau ini bicara apa? Jelas tak mungkin! Menjijikkan banget. Sudah, tak usah dibahas lagi.

Ah... haha... iya, iya. Aku cuma bercanda.

Eng... soalnya tadi kau tampak serius, sih... baiklah, karena sudah selesai, aku pulang dulu.

O-oke.


Lalu setelahnya, hanya tinggal diriku saja yang ada di dalam kelas, kutatap matahari yang terbenam sambil berlinangan air mata. Tapi yang lebih mengejutkan, keesokan harinya saat di sekolah, semua teman-teman sekelasku sudah tahu akan hal tersebut."

"Oh, ternyata itu cerita tentang dirimu..." Gumam Yuigahama, sambil bersikap canggung saat mengalihkan tatapannya.

"Eh, apa? Ya bukan, lah. Aku tak cerita tentang diriku, kok. Kalau yang barusan itu, yah, cuma berandai-andai kalau misal itu aku."

Tanpa memerhatikan penjelasanku, Yukinoshita pun berdesah karena merasa jengkel. "Dari awal ketika kaubilang kalau itu cerita temannya temanku, aku sudah bisa menebaknya. Karena setahuku, kau itu tak punya teman."

"Apa kaubilang?!"

"Terlepas dari pengalaman traumatismu, sebenarnya apa tujuanmu menceritakan hal barusan?"

Sudah pasti ini ujung-ujungnya bakal buruk. Soalnya, kejadian itu adalah penyebab para anak perempuan mulai semakin membenciku. Para anak lelaki bahkan memberi julukan Narsisgaya padaku dan... yah, aku rasa itu bukan masalah besar. Kucoba untuk bersikap tegar dan lanjut berbicara.

"Yang ingin kusampaikan adalah, anak lelaki itu makhluk yang sederhana. Mereka bakal salah paham hanya karena kalian bicara dengan mereka, dan mereka akan kegirangan hanya karena diberi kue kering. Jadi..." Aku berhenti sementara untuk melihat Yuigahama. "...kue kering ini bukanlah sesuatu yang istimewa... meski di beberapa bagian agak keras saat dikunyah, tapi sejujurnya tak masalah asal itu tak menjijikkan."

"Be-berisik!" Wajah Yuigahama memerah karena marah. Beberapa kantong plastik dan kertas kedap minyak dilemparkannya ke arahku. Meski itu mengenaiku, nyatanya ia memilih melempar benda yang takkan menyakitiku, itu tandanya kalau ia memang orang yang baik. Eh... apa mungkin ia menyukaiku, ya? Atau itu hanya sekadar main-main? Yah, jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi, deh.

"Kurang ajar kau, Hikki! Kau membuatku jengkel. Aku pergi saja!" Yuigahama menatap tajam ke arahku, sambil menenteng tasnya, ia lalu berdiri. Ia menuju ke pintu sambil berucap, Huh! Sembari berjalan keluar. Kedua bahunya tampak gemetaran.

Cih. Mungkin bicaraku sudah kelewatan... kini aku malah jadi kepikiran karena sudah berbicara seenaknya. Karena itu kucoba lanjut bicara dengan bahasa yang lebih baik.

"Yah, asal kautahu saja... jika kau memberi kesan kalau kau sudah berusaha keras saat membuat kue kering ini, bukankah itu bisa membuat hati anak lelaki tersentuh?"

Yuigahama yang sudah berada di depan pintu langsung menoleh ke belakang. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena silau oleh sinar matahari senja.

"...Hikki, memangnya kue kering itu membuatmu tersentuh?"

"Hah? Tentu saja aku sangat tersentuh! Maksudku, hanya dengan kau bersikap baik padaku saja, aku sudah ada di situasi di mana aku bakal jatuh cinta padamu. Dan berhentilah memanggilku Hikki." Tanggapku langsung ke intinya.

"Oh... baiklah." Jawab Yuigahama dengan santai sebelum ia langsung memalingkan kembali wajahnya ke arah pintu. Lalu sewaktu tangannya sudah di gagang pintu, Yukinoshita memanggilnya.

"Yuigahama, bagaimana dengan permintaanmu?"

"Oh, enggak usah cemas, sudah bukan masalah lagi, kok. Lain kali, akan kucoba dengan caraku sendiri. Terima kasih, ya, Yukinoshita." Yuigahama lalu berbalik menghadap Yukinoshita sambil tersenyum. "Sampai ketemu besok." Ia pun beranjak sambil melambaikan tangan, kemudian berlalu pergi dengan celemek yang masih terpasang di seragamnya.

"...apa kira-kira yang tadi itu sudah cukup untuknya?" Bisik Yukinoshita, sambil menatap ke arah pintu. "Menurutku, agar bisa berkembang, orang-orang harus berusaha keras hingga mencapai batas kemampuan mereka. Karena pada akhirnya semua itu juga akan bermanfaat bagi mereka."

"Yah, itu memang benar. Usaha keras takkan pernah mengkhianatimu. Walau itu mungkin akan mengkhianati mimpi-mimpimu."

"Apa bedanya?" Angin lalu membelai wajah Yukinoshita sewaktu ia menoleh ke arahku. Rambutnya pun berayun lembut mengikuti hembusan angin.

"Meski kau sudah berusaha keras, tak berarti mimpi-mimpimu akan jadi kenyataan. Faktanya, masih ada banyak kejadian yang berujung ke arah itu. Namun setidaknya, kau bisa mendapat kepuasan atas usaha kerasmu tadi."

"Itu hanya sekadar pemuasan diri."

"Yah, paling tidak itu tak mengkhianati dirimu sendiri."

"Menghibur diri sendiri, rupanya... membuatku jijik saja."

"Orang-orang, termasuk kau di dalamnya, sudah bersikap terlalu kejam padaku. Harusnya kau bisa sedikit membiarkanku untuk menghibur diriku sendiri. Dan kurasa orang-orang mestinya juga harus bersikap lebih lembut pada diri mereka sendiri. Jika semua orang nantinya jadi putus asa, maka dunia ini sudah takkan lagi punya harapan."

"Ini pertama kalinya aku bertemu seorang idealis yang punya pandangan sepesimis itu... jika pemikiranmu tadi diterapkan oleh orang-orang, maka dunia bisa jatuh dalam kehancuran." Tandas Yukinoshita dengan ekspresi terkejut, tapi aku justru senang dengan pemikiranku ini.

Pada akhirnya, para pengangguran ingin mendirikan sebuah negara yang dibangun khusus untuk golongan mereka sendiri. Yang diberi nama: Penganggurantopia... dan mungkin akan runtuh hanya dalam kurun waktu tiga hari.




Mundur
Lanjut

5 tanggapan:

Oke gan...
Karena Bagian penutup Bab 3 gak begitu banyak (tapi tetap manis), jadi mungkin besok pagi akan ane update...

Ditunggu kelanjutannya ya, gan.

Oke gan... Besok pagi, kalau sempat...

Terimakasih, walaupun ga buka ni blog lama,,,

Ku tunggu Rilisan selanjutnya :)

Posting Komentar