Oregairu Bab 2 Bagian 3

===========================================================================================
Kadang ane sendiri pun bingung, di mana letak perbedaan antara teman dengan kenalan... Lalu, untuk 'Mido faado reshi sorao', itu merupakan salah satu penggalan lirik dari lagu tema acara anak-anak, ‘Do-Re-Mi-Fa-Donuts’. Hachiman bermaksud menekankan fakta bahwa dalam solmisasi (do-re-mi-fa-sol-la-si) seharusnya tak diakhiri dengan bunyi 'o', melainkan bunyi 'si'.
Selamat Menikmati...
===========================================================================================


Bab 2 - Sampai Kapan pun, Yukino Yukinoshita Tetap Keras Kepala

Bagian 3


"Bagaimana bisa kau berpikiran senaif itu? Memangnya ulang tahunmu itu dirayakan tiap hari? Atau kau mau bilang, kalau kau disayang Sinterklas, begitu?" Jika bukan, berarti ia sedang terjebak dalam halusinasi kehidupan bahagianya sendiri.

Bila dirinya masih terus-terusan bersikap begini, maka keadaan yang sekarang sudah pasti tak jauh beda seperti sedang mengalami hal menyakitkan. Sebaiknya ia mengganti sikapnya itu sebelum datang kata terlambat.

Dari benakku yang terdalam, aku jadi sedikit merasa kasihan padanya. Sebaiknya aku berhati-hati dalam memilih kata-kata dan langsung menyampaikan intinya saja.

"Yukinoshita. Kau memang tidak normal. Kau benar-benar suka berhalusinasi. Bedah dulu otakmu sana."

"Jadi kau bicara blakblakan begitu demi kebaikanku, ya?" Yukinoshita tertawa kecil sembari menatap ke arahku, padahal ia tak tampak seperti sedang terhibur – menakutkan.

Yah, yang penting aku tak mengatainya dengan kata-kata sampah atau umpatan semacamnya. Setidaknya, tadi ia sempat berkata baik padaku. Jujur, andaikata ia tak punya wajah yang manis, mungkin dari dulu perempuan ini sudah kuhajar.

"Jika dilihat dari rendahnya sisi pergaulanmu, kau boleh saja menganggapku layaknya orang aneh. Meski begitu, sudah sewajarnya kalau aku sampai berpikir seperti tadi. Itu sesuatu yang kudapatkan dari pengalaman." Yukinoshita tertawa sambil mengangkat bahunya dengan bangga. Fakta bahwa Yukinoshita tetap terlihat menarik meski dengan sikap yang seperti itu masih menjadi misteri.

"Dari pengalaman, kaubilang..."

Ia pasti mau menyinggung soal pengalaman asmara. Hal yang sudah tampak jelas jika melihat dari penampilan luarnya.

"Jadi kau mau bilang kalau kehidupan sekolahmu itu lebih menyenangkan..." Gerutuku.

"Ya, begitulah. Kau memang benar. Tak salah jika kubilang kalau kehidupan sekolahku masih lebih baik." Jawab Yukinoshita.

Mengenyampingkan hal tersebut, entah kenapa seperti ada perasaan terasing yang tampak di mata Yukinoshita saat ia menatap ke arahku. Karenanya aku sempat berpikir bila lekukan halus yang tergurat dari dagu hingga ke lehernya itu terlihat begitu indah. Aku malah memikirkan hal yang tidak-tidak, mati aku.

Pada saat memandangnya, aku jadi tersadar sesuatu. Yah, jika tetap bersikap seperti biasa, aku pasti akan langsung memerhatikan hal tadi, namun sifat angkuh dari lahir yang selalu jadi pembawaan Yukinoshita itu tak mungkin bisa membuat orang betah berhubungan dengan dirinya. Oleh karenanya, tidaklah mungkin juga ia punya kehidupan sekolah semenyenangkan itu.

Mungkin hal ini harus kutanyakan sendiri...

"Hei, memangnya kau punya banyak teman?"

Yukinoshita langsung menoleh.

"...kalau begitu, pertama-tama, tolong jelaskan seperti apa posisi seseorang yang bisa disebut sebagai teman?"

"Ah, sudah-sudah, tak usah dibahas. Itu kalimat yang harusnya diucapkan oleh seseorang yang tak punya teman saja."

Contohnya aku.

Jika dipikir baik-baik, aku sungguh tak tahu seperti apa batasan seorang teman itu. Kuharap ada yang mau menjelaskan padaku di mana letak perbedaan antara yang namanya teman dengan kenalan. Apakah orang yang cuma sesekali kita temui bisa kita sebut sebagai teman dan yang setiap hari kita temui bisa kita sebut sebagai saudara? Mido faado reshi sorao? Kenapa cuma bunyi o saja yang tak ada dalam solmisasi di lagu itu? Hal yang demikian sudah terlalu mengusik pikiranku.

Dan yang paling penting, ada sedikit perbedaan mendasar antara istilah teman dengan kenalan. Hal yang sudah jelas kelihatan, terutama bagi kalangan perempuan.

Bahkan untuk mereka yang masih satu kelas, rupanya ada jenjang tersendiri yang menggolongkan antara teman sekelas, teman main dan sahabat karib. Jika demikian, berarti ini hanya masalah soal dari mana perbedaan itu berasal. Tapi aku cuma asal bicara saja, sih.

"Yah, karena kurasa kau tak punya teman, maka tak jadi masalah."

"Aku tak pernah bilang begitu. Lagi pula, sekalipun aku tak punya teman, itu juga takkan membuatku rugi."

"Iya, iya. Kau benar." Cepat-cepat saja kusanggah agar terhindar dari kata-katanya yang hampir keluar seiring dengan tatapan sinis yang ia tujukan padaku. "Yang kumaksud, kenapa kau yang begitu disukai banyak orang ini, justru tak punya teman?" Tanyaku.

Yukinoshita tampak sedikit kesal. Setelahnya, ia memalingkan pandangannya karena tak senang dan mulai bicara.

"...kau takkan pernah mengerti." Yukinoshita sedikit menggembungkan pipinya lalu berpaling.

Itu karena aku dan Yukinoshita adalah pribadi yang benar-benar berbeda dan aku tak pernah tahu sedikit pun apa yang ada di pikirannya. Sulit untuk mencerna maksud perkataan yang ia tujukan padaku. Tak peduli sekeras apa aku berusaha, pada akhirnya kami takkan pernah saling mengerti.

Meskipun ada satu hal dari Yukinoshita yang mungkin bisa kupahami, yaitu kesendiriannya.

"Bukannya aku berlagak sok mengerti. Menjadi penyendiri berarti kau punya banyak waktu berharga untuk dirimu sendiri. Kau bisa meyakinkan dirimu kalau menjadi penyendiri tidaklah menjijikkan."

"..."

Hanya dalam hitungan detik Yukinoshita melihat ke arahku, sebelum ia kembali mengarahkan wajahnya ke depan dan memejamkan mata. Dilihat dari sikapnya, aku merasa kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

"Meski kau suka menyendiri, namun bila tahu-tahu ada yang sok perhatian padamu pasti kau akan merasa terganggu. Aku paham kok perasaanmu itu." Kataku.

"Aku heran kenapa kau bertingkah seolah kita ini sejajar. Justru itulah yang membuatku terganggu." Yukinoshita mengibaskan rambutnya ke belakang, mengisyaratkan bahwa ia memang sedang terganggu. "Meski kau dan aku ada di standar yang berbeda, kurasa sedikit banyak kita punya perasaan yang sama dalam menyikapi kesendirian. Walau itu terasa sedikit menjengkelkan." Saat memberitahukan kejengkelannya itu, Yukinoshita tampak seolah menyunggingkan sebuah senyum getir. Bisa dibilang, ia lebih terlihat muram ketimbang terlihat tenang.

"Apa maksudmu kalau kita ada di standar yang berbeda... aku sendiri punya pandangan pribadi mengenai makna kesendirian. Bahkan kau bisa menjulukiku sang raja penyendiri. Lagi pula, hal konyol jika kausebut dirimu itu penyendiri."

"Hah... kau bisa setegar itu menerima keadaanmu meski sadar jika itu sia-sia..." Yukinoshita terkejut dan melihatku dengan penuh keheranan.

"Lalu kau sendiri, padahal disukai banyak orang, tapi malah menyebut dirimu sebagai penyendiri. Kau itu aib bagi seluruh penyendiri di dunia ini, tahu." Jawabku dengan penuh rasa kemenangan dan puas saat melihat ekspresinya.

Akan tetapi Yukinoshita segera tertawa sambil memasang wajah menghina.

"Sebenarnya itu perkara biasa. Kalau kulihat lagi, ternyata tubuhmu hanya bisa merespon refleks tubuh tanpa memakai akal pikiran. Maksudku, memangnya kau mengerti rasanya disukai oleh banyak orang? Astaga aku lupa, kau tak pernah mengalami hal tersebut, ya? Maaf, aku kurang menjaga perasaan."

"Kalau dari awal kau memang berniat mau menjaga perasaanku, mestinya tak mungkin kau sampai bersikap begitu..."

Memangnya sikap seperti itu masih bisa dianggap sopan? Perempuan ini memang kurang ajar.

"Terus, seperti apa rasanya jadi pujaan banyak orang?" Tanyaku. Yukinoshita lalu memejamkan matanya seakan sedang memikirkan jawaban atas hal tersebut.

Setelah sedikit berdeham, ia kemudian mulai bicara. "Bagi orang yang tak populer seperti dirimu, ini mungkin hal yang kurang enak untuk didengar."

"Tenang saja, aku sudah kenyang kalau soal yang begitu." Jawabku.


Yukinoshita pun langsung menarik napas dalam-dalam.

Tak mungkin aku bisa lebih kenyang lagi. Pikiranku sudah penuh dengan perdebatan kecil tadi. Ini rasanya seperti aku bisa memakan mi ramen sebanyak apa pun itu.

"Karena dari dulu aku punya paras yang manis, para lelaki cenderung mendekatiku, karena mereka semua memendam rasa kepadaku."

Aku menyerah, deh. Rasanya seperti ia menambah dua kali lipat sayuran dan vetsin ke dalam mi ramenku. Walau sudah berusaha tegar dan berlagak kuat, aku tak boleh menyerah begitu saja. Aku harus menahan diri dan bersabar mendengarkannya bicara.

"Aku yakin kalau hal itu bermula saat tahun terakhirku di SD dulu. Ya, memang semenjak itu..." Ekspresi Yukinoshita tampak berbeda dari sebelumnya. Kini ia jadi terlihat sedikit murung.

Kalau dihitung, itu sudah sekitar lima tahun yang lalu. Bisa-bisanya ia bercerita seakan dirinyalah yang dilimpahi kasih sayang oleh lawan jenis?

Jujur, tak pernah sekalipun kupahami alasan kenapa aku dicap jijik oleh lawan jenis selama lebih enam belas tahun hidupku ini. Begitu pula alasan kenapa tak ada cokelat yang kudapatkan saat Hari Valentine bahkan dari ibuku sendiri, yang membuatku semakin tak memahami dunia ini. Perkataannya tadi tampak seolah menunjukkan bahwa ia merupakan satu dari sekian banyak orang yang bersorak atas gemilangnya hidup mereka. Apa ia sengaja ingin pamer di depanku?

Namun cuma itu saja, 'kan?

Meskipun ini hanya masalah perbedaan yang digambarkan layaknya vektor positif yang terarah dari vektor negatif pada skala ukur, tetap saja akan kurang manusiawi jika aku menanggapinya dengan terus terang. Itu sama saja seperti berdiri telanjang di tengah hujan badai. Akan terasa kurang manusiawi sama halnya seperti melecehkan dirinya ketika di tengah diskusi kelas.


1 tanggapan:

Posting Komentar