Oregairu Bab 1 Bagian 5

==========================================================
Penutup dari Bab 1... Di sini dijelaskan, kalau yang membawa klien-klien ke Klub Layanan Sosial nantinya adalah Bu Hiratsuka sendiri... Klien-klien tersebut digambarkan sebagai domba-domba tersesat... Oiya, biasanya di setiap penutup Bab, pasti ada monolog khusus dari Hachiman... Bahkan terkadang, bisa jadi kutipan yang bagus... Dan di Bagian ini, monolognya cukup menusuk...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk

Bagian 5


"Yukinoshita. Ibu masuk, ya."

"Tolong kalau Ibu mau masuk, ketuk du—"

"Iya, iya. Jangan diambil hati, lanjutkan saja. Ibu cuma mampir memeriksa keadaan."

Bu Hiratsuka menyandarkan badannya ke tembok sambil melemparkan senyum pada Yukinoshita. Lalu beliau pun kembali mengarahkan pandangannya pada kami berdua.

"Wah, wah, tampaknya kalian sudah akrab." Bisa-bisanya beliau berkesimpulan begitu? "Hikigaya, tetap semangat, ya. Tetap fokus pada program rehabilitasi sikap menentangmu dan juga penyembuhan mata busuk milikmu itu. Ibu mau balik dulu. Jaga diri kalian saat pulang nanti, ya."

"Eh, eh, tunggu dulu!"

Spontan kugenggam tangan Bu Hiratsuka agar beliau tak pergi. Namun tiba-tiba—

"Aduh! Aduh-duh-duh! Ampun! Ampun, Bu, saya menyerah!"

Tahu-tahu lenganku sudah terkunci. Setelah meronta-ronta dan memohon ampun, beliau akhirnya melepaskanku.

"Oh. Rupanya kau toh, Hikigaya. Jangan tiba-tiba berdiri di belakang Ibu, dong .... Ibu jadi refleks, deh."

"Memang Ibu ini Golgo, apa? Lagi pula, apanya yang refleks? Jangan langsung tiba-tiba begitu, dong!"

"Bukannya kau yang mulai duluan? ... memangnya ada masalah apa?"

"Ya, Ibu itu sumber masalahnya .... Terus, apa maksud Ibu dengan program rehabilitasi? Itu malah terdengar seolah-olah saya ini anak bermasalah, ya 'kan? Sebenarnya ini tempat apa, sih?"

Bu Hiratsuka memegang dagunya sejenak.

"Yukinoshita sudah menjelaskannya padamu, 'kan? Intinya, tujuan utama klub ini adalah membantu mengatasi permasalahan seseorang dengan cara mendorongnya agar berkembang. Anggap saja tempat ini seperti Ruang Jiwa dan Waktu. Atau gampangnya, seperti cerita dalam Shoujo Kakumei Utena itu, lo."

"Ilustrasi yang Ibu berikan malah tambah bikin bingung ..., secara tak langsung malah memberi tahu berapa usia Ibu."

"Kau tadi bilang apa?"

"... eh, bukan apa-apa."

Aku langsung mengecilkan suaraku, mencoba menghindar dari tatapan dingin Bu Hiratsuka. Beliau lalu menghela napasnya sembari mengamatiku.

"Yukinoshita, kelihatannya program rehabilitasimu menemui kesulitan."

"Itu semua karena ia tak sadar kalau pada kenyataannya dirinya sendiri bermasalah." Dengan ketus Yukinoshita menjawab.

Rasanya aku tak sanggup berada di tempat ini lebih lama lagi. Ini terasa seperti ketika orang tuaku menemukan koleksi majalah porno milikku sewaktu aku masih kelas 6 SD, yang membuat mereka menceramahiku habis-habisan kala itu.

Tapi jika kupikir lagi, mungkin ini tak sampai seburuk itu.

"Maaf, ya .... Dari tadi kau dan Bu Hiratsuka membahas tentang program rehabilitasi, lalu pengembangan diri, lalu revolusi, lalu gadis revolusioner, lalu apalah lagi itu namanya, padahal tak sekalipun aku pernah meminta hal tersebut ...."

"Hmm ...." Bu Hiratsuka memiringkan kepalanya karena tak mengerti.

"Kau ini bicara apa?" tegas Yukinoshita. "Jika kau tak bisa berubah, nantinya kau akan kesulitan dalam bergaul."

Tampak dari wajahnya jika pendapat yang ia lontarkan itu seolah menyiratkan hal seperti, Tak ada gunanya berperang, jadi buang semua senjatamu.

"Sudah terlihat kalau sisi kemanusiaanmu itu benar-benar rendah bila dibandingkan orang lain. Apa kau tak pernah terpikir ingin mengubah sisi tersebut?"

"Bukan begitu .... Hanya saja, aku tak mau orang lain terus memaksaku agar berubah, memaksaku supaya sadar akan diriku sendiri. Lagi pula, jika akhirnya aku berubah karena nasihat orang lain, maka aku takkan bisa jadi diriku sendiri, ya 'kan? Dikatakan jika sebuah jati diri—"

"Hal tersebut tak bisa dilihat dari pendapat satu orang saja."

Usahaku agar terlihat hebat dengan mengutip ucapan Descartes, justru langsung disela oleh Yukinoshita .... Padahal aku sedang mengatakan hal yang lumayan keren.

"Yang kaulakukan hanyalah lari dari masalah. Jika kau masih belum berubah, kau takkan bisa maju."

Ucapan Yukinoshita terasa sangat menusuk. Kenapa ia harus selalu bersikap kasar begitu? Memangnya orang tuanya itu kepiting, apa?

"Memangnya kenapa kalau aku lari dari masalah? Kau sendiri dari tadi hanya terus-menerus menyuruhku untuk berubah. Lagi pula, memangnya kau bisa menghadap matahari dan berkata, Hei, Matahari, Kau terlalu lama terbenam di barat dan orang-orang jadi terganggu, jadi mulai sekarang terbenam saja di timur. Begitu?"

"Kau melantur. Tolong jangan menyimpang dari pokok permasalahan. Bukan matahari yang bergerak mengelilingi bumi, melainkan bumi yang bergerak mengelilingi matahari. Kau tak pernah tahu Teori Heliosentris, ya?"

"Itu hanya perumpamaan! Kalau kaubilang aku melantur, berarti ucapanmu selama ini juga melantur, dong. Bila aku akhirnya berubah, berarti sama saja aku lari dari masalah, ya 'kan? Lalu untuk apa kau menyuruhku agar tak lari dari masalah? Kalau memang aku tak berniat mau lari dari masalah, maka aku takkan mengubah diriku yang sekarang. Lagi pula, kenapa kau tak bisa menerima apa adanya diriku ini?"

"Jika seperti itu ..., maka permasalahan ini tak bisa terselesaikan dan tak seorang pun bisa diselamatkan."

Seiring kata-kata yang terlontar dari mulut Yukinoshita, ekspresi wajah yang ia tampakkan sudah seperti orang yang sedang naik pitam. Tak sengaja diriku tersentak. Mungkin saja aku sudah siap meminta maaf dan langsung berkata, Ma-ma-ma-maaf, ya!. Bicara soal itu, yang ia katakan tadi bukanlah hal yang biasa dibicarakan oleh murid-murid SMA. Aku hanya tak mengerti alasan ia berbuat sampai sejauh ini.

"Kalian berdua tenanglah dulu," suara Bu Hiratsuka mulai menenangkan suasana, atau sebaliknya, malah membuat suasana jadi lebih tak mengenakkan. Bahkan beliau sekilas menyengir menampakkan harapan dan kegembiraannya.

"Hal ini mulai semakin menarik. Ibu suka perkembangan yang seperti ini. Terasa JUMP banget, deh. Ya 'kan?"

Entah kenapa hanya Bu Hiratsuka saja yang merasa antusias. Daripada disebut sebagai wanita dewasa, tatapan beliau lebih seperti seorang anak kecil.

"Sejak zaman dahulu kala, ketika dua pihak saling beradu mengatasnamakan keadilan, maka dalam shounen manga mereka akan menyelesaikan permasalahannya itu dengan cara bertanding."

"Tapi kita kan tak sedang di dalam shounen manga ...." Tak ada yang memerhatikanku bicara.

Beliau pun tertawa sembari mengalihkan pandangannya ke arahku dan Yukinoshita, kemudian memberi pengumuman dengan suara keras.

"Baiklah, begini saja. Mulai sekarang, Ibu akan menggiring domba-domba tersesat untuk datang ke klub ini, di mana kesemuanya itu akan berada dalam pengawasan Ibu. Tugas kalian adalah berusaha menolong mereka dengan cara kalian sendiri. Dengan begini, kalian bisa segenap hati membuktikan kebenaran yang kalian yakini itu kepada orang-orang. Jadi, kira-kira siapakah yang bisa menolong mereka?! Gundam Fight. Ready — Go!"

"Saya menolak." jawab Yukinoshita dengan nada ketus.

Tampak di matanya sebuah tatapan dingin yang sempat ia tujukan padaku barusan. Yah, aku pun setuju dengannya, makanya aku menganggukkan kepala. Lagi pula, serial G Gundam juga bukan dari generasi kami.

Bu Hiratsuka melihat keengganan kami dan menggigit kukunya karena frustasi.

"Cih. Mungkin bisa lebih gampang dipahami jika ini Robattle ...."

"Bukan itu masalahnya ...."

Hal seperti Medabots itu sudah terlalu mainstream ....

"Maaf, Bu. Tolong jangan bertingkah terlalu kekanak-kanakan. Hal itu tak pantas untuk orang seumuran Ibu dan itu juga sangat memalukan."

Kata-kata menusuk yang terlontar dari mulut Yukinoshita bagaikan paku-paku es yang tajam. Tak begitu jelas apakah Bu Hiratsuka mulai berangsur tenang, yang pasti wajah beliau langsung memerah karena malu. Beliau lalu berdeham untuk menutupi rasa malunya.

"Po-pokoknya, cara untuk membuktikan kebenaran yang kalian yakini yaitu dengan tindakan kalian sendiri! Jika Ibu suruh kalian bertanding, maka harus kalian turuti. Kalian tak punya hak untuk menolak."

"Itu terlalu otoriter ...."

Beliau memang seperti anak kecil! Bagian yang tampak dewasa di dirinya hanya payudaranya saja. Yah, jika itu adalah hal konyol seperti bertanding, maka dengan senang hati aku akan mengalah. Lagi pula, hanya mendapat bintang jasa untuk kerja kerasku bukanlah hal yang buruk .... Cukup naif dan berlebihan jika beranggapan bahwa ada maksud tersendiri mengenai keikutsertaan dalam pertandingan ini.

Meski begitu, komentar konyol bertemakan shounen manga masih saja dimuntahkan oleh wanita kekanak-kanakan ini.

"Agar pertandingan kalian tak terasa sia-sia, akan Ibu beri sesuatu yang bisa menambah motivasi kalian. Bagaimana kalau begini? Pihak yang menang boleh menyuruh pihak yang kalah untuk melakukan apa saja keinginannya."

"Apa saja, ya!?"

Apa saja itu, maksudnya apa saja boleh, 'kan? Jangan-jangan yang begituan juga boleh, ya? Glek.

Mendadak kudengar suara kursi yang terdorong ke belakang. Yukinoshita sudah mundur dua meter, menutupi tubuhnya dengan kedua tangan dalam posisi melindungi diri.

"Saya menolak. Saya merasa jika bertanding dengan anak ini bisa membahayakan kesucian saya."

"Itu cuma prasangkamu! Tak semua anak kelas dua SMA khususnya laki-laki selalu berpikir ke arah sana!"

Masih banyak hal lain, contohnya .... Oh, iya! Perdamaian dunia, mungkin? Atau hal-hal semacamnya, begitu? Yah, setidaknya itulah yang kupikirkan.

"Wah, wah. Bahkan seorang Yukino Yukinoshita pun bisa merasa takut .... Apa kau tak yakin bisa menang?" ujar Bu Hiratsuka dengan tampang mengejek. Yukinoshita terlihat sedikit tersinggung.

"... baiklah. Meski provokasi murahan itu terasa mengganggu, tapi akan saya terima. Kalau ada apa-apa, saya juga bisa menyerahkan segala urusan anak ini kepada Ibu."

Wuaah .... bicara soal pecundang yang tersakiti, rupanya Yukinoshita orang yang benci terhadap kekalahan, seolah ia berkata, Aku tahu apa niatmu sesungguhnya, namun ia masih saja mau mengikutinya. Lalu, apa maksudnya ia berkata Menyerahkan segala urusan? Sudahlah, tak usah selalu bersikap sekejam itu.

"Kalau begitu, sudah diputuskan." Bu Hiratsuka menyengir tanpa menghiraukan tatapan Yukinoshita.

"Tunggu, saya kan belum bilang setuju ...," selaku.

"Tak ada gunanya meminta pendapatmu, dan tak ada yang minta kau menyengir," balas Yukinoshita.

Ya sudah ....

"Ibulah yang menentukan siapa yang berhak menang. Keputusan yang Ibu ambil tentunya didasari penilaian Ibu sendiri, tapi kalian jangan cemas ..., lakukan saja cara kalian itu dengan patut dan wajar, lalu berikanlah yang terbaik."

Setelah berkata demikian beliau pun lalu pergi, meninggalkan kesan tak menyenangkan pada diriku serta Yukinoshita.

Tentunya, setelah itu ruangan menjadi sepi dan tak ada perbincangan lagi di antara kami. Suasana hening ini lalu sirna oleh suara dari siaran radio sekolah. Bunyi bel tiruan mulai bergema. Seiring dengan melodi yang berangsur tersamar, Yukinoshita langsung menutup buku bacaannya. Bunyi bel barusan pasti pertanda berakhirnya kegiatan sekolah.

Bersamaan dengan bunyi itu, Yukinoshita segera bersiap untuk pergi. Dengan hati-hati ia memasukkan buku bacaannya ke dalam tas. Ia sekilas memandang ke arahku. Tanpa mengucapkan Sampai jumpa atau Sampai ketemu lagi, ia pergi begitu saja. Aku pun tak punya kesempatan untuk membalas sikap dinginnya.

Dan sekarang, tinggal diriku sendiri yang ada di ruangan ini. Apa hari ini memang hari sialku, ya? Dipanggil ke ruang guru, dipaksa bergabung ke klub misterius, dikata-katai oleh gadis yang hanya cantik di luarnya saja .... Yang tertinggal di sini hanyalah diriku yang terluka parah secara mental.

Bukankah hati kita akan berdegup kencang bila sedang bicara dengan seorang gadis? Tapi yang terjadi, ia justru membuat hatiku tenggelam dalam keputusasaan.

Jika terus begini, lebih baik aku bicara dengan hewan peliharaan saja. Hewan peliharaan takkan pernah membantah dan selalu tersenyum pada majikannya. Kenapa aku tak terlahir menjadi seorang masokhis saja, ya?

Dan di atas semua itu, kenapa aku dipaksa ikut dalam pertandingan yang tak ada gunanya ini? Jika Yukinoshita yang jadi lawanku, kurasa aku juga takkan bisa menang. Jangan-jangan pertandingan tadi itu salah satu kegiatan klub. Saat berpikir tentang kegiatan klub, yang kubayangkan justru sekumpulan gadis-gadis yang membentuk sebuah grup band, seperti cerita dalam DVD yang pernah kutonton. Kalau kegiatan yang seperti itu, sih, menurutku masih masuk akal.

Tapi jika ceritanya berlanjut seperti ini, bagaimana kami bisa akur? Boro-boro, deh. Mungkin bisa saja ia dengan santai menyuruhku sambil berkata, Napasmu bau, jadi bisa tidak, jangan bernapas dulu sampai tiga jam ke depan?

Sudah kuduga, masa remaja tak lain hanyalah sebuah kebohongan.

Setelah kalah dalam turnamen bisbol di tahun ketiga, mereka menitikkan air matanya supaya bisa terlihat keren. Setelah gagal di ujian masuk perguruan tinggi, mereka bersikukuh menganggap bahwa kegagalan hanyalah bagian dari pengalaman hidup. Setelah ditolak saat menyatakan cinta pada orang yang disukai, mereka menipu diri sendiri dan berpura-pura lugu dengan berkata kalau mereka rela asal itu demi kebahagiaan orang tersebut.

Lalu ada juga yang begini: sesuatu yang ditunggu-tunggu seperti kisah komedi romantis dengan gadis tsundere yang tak ramah dan menjengkelkan, ternyata takkan pernah terjadi. Aku pun tak yakin jika esaiku ini perlu diperbaiki.

Sudah kuduga, masa remaja hanyalah omong kosong, penipuan, dan penuh kecurangan.

— II —


Mundur
Lanjut

4 tanggapan:

Haha, Yukinoshita tipe cewek yg jarang di dunia nyata atau bahkan mungkin gak ada
Sikap dingin, sindirannya halus tapi pedas, berteori cerdas...kesukaan gw bnget :3

Bahkan ahli filosofi Hachiman sampe frustasi dibuatnya xD

Iya gan... Jarang banget emang...
Seperti yang dijelaskan di akhir Bab 2 (Bagian 4), Yukino itu satu-satunya orang yang ia anggap layak untuk dijadikan teman baginya...

Makasih minnn,akhirx bisa nemu translatenya.....

Posting Komentar