Oregairu Bab 1 Bagian 4

==========================================================
奉仕部 (Houshi-bu), Houshi di sini artinya memang 'Layanan', tapi layanan yang dimaksud adalah layanan yang biasanya ditujukan untuk publik dan sifatnya cenderung sukarela, karena itu Houshi ane artikan sebagai 'Layanan Sosial', dan penjelasan mengenai artinya akan dipaparkan sendiri oleh Yukino di Bagian ini...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk

Bagian 4


Seakan aku bisa mengira-ngira apa maksudnya. Mestinya ia bisa membuat hal ini jadi lebih mudah, 'kan? Minimal petunjuk semacam, Di atas rumahmu ada banjir air mata, tapi di bawahnya ada panas yang menyala-nyala — Kenapa bisa begitu? Sudah jelas karena rumahmu sedang kebakaran. Tapi kalau yang begini namanya bukan lagi tebak-tebakan; ini malah seperti teka-teki.

"Hikigaya. Kapan terakhir kali kau berbicara dengan perempuan?"

Tiba-tiba saja ia keluar dari topik dan menanyakan hal tersebut untuk mengalihkan perhatian. Sungguh perempuan yang lancang.

Aku cukup yakin dengan kemampuan mengingatku. Bahkan aku bisa mengingat beberapa omongan tak penting yang sering dilupakan orang, jadinya malah banyak perempuan di kelasku yang menganggap aku seperti seorang penguntit.

Berdasarkan daya ingat hipokampus milikku yang di atas rata-rata ini, terakhir kalinya aku berbincang dengan seorang gadis yaitu pada Bulan Juni dua tahun lalu.


Gadis: Tempat ini rasanya panas banget, ya?

Aku: Iya ... seperti dikukus, ya?

Gadis: Hah? ... ah, iya. Sepertinya begitu ....

-Tamat-


Seperti itulah contohnya. Yah, dan sejak saat itu ia cuma mau mengobrol dengan perempuan yang duduk di samping belakangku saja. Manusia memang cenderung lebih mengingat hal-hal yang tak menyenangkan. Sampai sekarang pun, jika teringat kembali kejadian itu, cepat-cepat saja aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut lalu menjerit.

Belum pula selesai ingatan tentang kenangan pahit tersebut, Yukinoshita langsung memberi penjelasan dengan suara lantang,

"Orang yang sering menawarkan bantuan sebagai bentuk amal bagi mereka yang kekurangan. Ialah yang orang-orang sebut sebagai Sukarelawan. Menyediakan bantuan dalam hal pembinaan bagi negara-negara berkembang; menyediakan makanan bagi para tunawisma; membuat para lelaki yang tak populer agar bisa bercengkerama dengan perempuan; tangan yang selalu terulur bagi mereka yang membutuhkan. Seperti itulah kegiatan klub ini."

Tanpa kusadari, Yukinoshita pun telah berdiri dan tentu saja pandangannya tertunduk ke arahku.

"Selamat datang di Klub Layanan Sosial. Dengan senang hati aku menyambutmu."

Tanpa tedeng aling-aling ia berkata demikian di depanku. Perkataannya bahkan sampai membuat mataku berkaca-kaca. Seperti sedang menabur garam pada sebuah luka, yang ia katakan justru membuatku semakin depresi.

"Bu Hiratsuka bilang kalau sudah jadi tugas bagi orang yang diberkati untuk menyelamatkan orang yang tak berdaya. Sebagai bentuk tanggung jawabku, akan kupastikan permintaan beliau ini terpenuhi. 'Kan kuperbaiki masalah yang kaualami. Jadi, bersyukurlah."

Mungkin yang dimaksudkannya itu Noblesse Oblige, yang dalam Bahasa Perancis berarti wewenang yang dimiliki kaum bangsawan sebagai wujud keluhuran serta kedermawanan. Kenyataannya, meski hanya dinilai dari peringkat kelas serta penampilan luarnya saja, namun tidaklah berlebihan jika Yukinoshita dianggap layaknya seorang bangsawan.

"Perempuan ini ...."

Namun sayangnya, sebagai lelaki aku harus membalas perkataannya tadi agar tak menjadi satu-satunya pihak yang dikasihani di sini.

"Asal kau tahu, ya .... Mungkin kelihatannya saja begini, tapi sebenarnya aku lumayan berbakat! Aku mendapat peringkat ketiga dalam ujian Bahasa Jepang untuk jurusan IPS tahun ini! Cukup hebat untuk orang dengan tampang sepertiku, 'kan? Jika kau mengenyampingkan fakta tentang diriku yang tak punya teman maupun pacar, standar diriku ini lumayan tinggi, tahu!"

"Aku yakin barusan kau membeberkan cela yang ada pada dirimu sendiri .... Meski begitu, hal yang luar biasa bila kau sampai bisa sepercaya diri itu. Kau ini memang aneh. Sampai-sampai membuatku jijik."

"Berisik. Aku tak minta pendapat dari perempuan aneh sepertimu."

Memang dasar perempuan aneh ..., atau apalah sebutan yang digosipkan ke dirinya. Dari yang orang bilang, Yukino Yukinoshita memang sangat bertolak belakang dengan yang ia tampakkan di luar. Orang-orang pasti mengira ia hanya seorang gadis jelita yang bersahaja. Padahal kini ia sedang menyunggingkan senyum dingin. Atau jika ada kata yang lebih tepat mendekripsikannya, mungkin sebuah senyum kejam.

"Hmm ..., sejauh yang kuamati, terlihat kalau kesendirianmu itu akibat dari pikiran busuk serta sikap menentangmu sendiri." Simpul Yukinoshita dengan begitu cepat. "Pertama-tama, akan kucarikan tempat bagimu dalam pergaulan. Aku tak bisa meninggalkanmu sendiri dengan ketakberdayaan dirimu itu. Kau tahu? Tempat yang tepat akan menyelamatkanmu dari takdir menyedihkan seperti membakar diri agar berpijar seperti bintang."

"Bintang Yotaka, maksudmu, 'kan? Jadul banget."

Kalau saja aku ini bukan orang genius yang peduli budaya dan mendapat peringkat ketiga dalam ujian Bahasa Jepang, mungkin aku tak tahu cerita apa yang ia singgung. Terlebih, cerita itu memang cerita favoritku, makanya aku bisa ingat. Cerita yang sangat tragis hingga sempat membuatku menangis. Jenis cerita yang mungkin saja bisa dinikmati semua orang.

Mata Yukinoshita terbelalak kaget setelah mendengar jawabku.

"Sungguh tak disangka .... Tak pernah kubayangkan jika rata-rata pelajar SMA seperti kau juga membaca karya Kenji Miyazawa."

"Jadi kau menyepelekanku, begitu?"

"Maaf, kalau aku berlebihan. Mungkin lebih tepat jika kubilang di bawah rata-rata?"

"Masa bodoh dengan anggapanmu! Bukannya tadi kubilang kalau aku mendapat peringkat ketiga di tahun ini?"

"Menyedihkan sekali kalau kau bisa merasa sepuas itu hanya karena pernah mendapat peringkat ketiga. Terlebih lagi, menggunakan nilai ujian sebagai satu-satunya acuan justru membuatmu terdengar tak intelek."

Merendahkan orang lain juga ada batasnya, tahu. Memperlakukan orang yang baru dikenal seperti memperlakukan ras rendahan. Memangnya aku harus punya pengetahuan setingkat Pangeran Bangsa Saiya baru mau ia akui, begitu?

"Tahu, tidak? Cerita Bintang Yotaka memang mirip dengan dirimu. Ambil contoh, rupa si Yotaka itu."

"Jadi maksudmu wajahku ini cacat ...?"

"Aku tak berkata begitu. Aku hanya bilang, kenyataan kadang memang kejam ...."

"Itu sama saja!"

Di titik ini, Yukinoshita memasang wajah serius sembari menaruh tangannya di bahuku.

"Jangan lari dari kenyataan. Kalau kau mau lihat yang sebenarnya, bercermin sana."

"Tunggu, tunggu. Bukan bermaksud pamer, tapi bisa dibilang kalau wajahku ini memang lumayan tampan. Adikku juga pernah berkata begitu, meski dengan embel-embel, Itu kalau Kakak sedang diam, sih ..., tapi itu tandanya, ia mau bilang jika hal menarik di diriku ini, ya tampangku."

Adikku memang hebat. Matanya memang jeli ..., tak seperti kebanyakan perempuan di sekolah ini.

Yukinoshita menempelkan tangan di pelipis wajahnya, layaknya orang yang sedang sakit kepala.

"Kau ini bodoh, ya? Yang namanya ketampanan itu tak dinilai hanya dari pendapat pribadi. Intinya, karena cuma ada kita berdua saja di ruangan ini, maka pendapatku yang lebih objektif inilah yang paling benar."

"Mes-meski agak membingungkan, entah kenapa pendapatmu tadi terasa ada benarnya ...."

"Sekarang kita bahas mulai dari kedua matamu, soalnya, masalahmu ini bersumber dari mata yang persis ikan mati itu. Dari situ saja sudah bisa memberi berbagai kesan negatif. Yang kumaksud ini bukanlah ciri wajahmu, melainkan ekspresi wajahmu yang memang sama sekali tak menarik. Itu adalah tanda dari pembawaanmu yang sudah menyimpang."

Yukinoshita memasang wajah manis saat ia berbicara, padahal di dalamnya sendiri begitu bertolak belakang. Ekspresi yang ia tampakkan justru lebih seperti seorang penjahat. Nah, siapa yang lebih mirip orang baik-baik sekarang?

... lagi pula, memangnya mataku ini benar-benar mirip ikan, begitu? Andai aku seorang perempuan, mungkin aku akan berpikir positif dengan bilang, Masa, sih? Kalau begitu aku mirip putri duyung, dong.

Dengan diriku yang masih merenungi hal barusan, Yukinoshita mengibaskan rambutnya ke belakang dan berkata seolah-olah ia telah menang,

"Pada intinya, merasa percaya diri hanya karena hal-hal sepele semacam peringkat kelas ataupun penampilan fisik, sungguh tidaklah keren. Dan dari yang kusebut tadi masih belum termasuk mata busukmu itu."

"Sudah, jangan terus-menerus membahas mataku!"

"Kau benar. Meski aku terus-menerus membahasnya, matamu juga tetap takkan berubah."

"Minta maaf dulu sama orang tuaku sana."

Kuakui wajahku menyengir saat mendengar jawabnya. Yukinoshita pun langsung berlagak murung seolah-olah merenungi perkataannya tadi.

"Benar juga, perkataanku tadi sudah kelewatan. Ini pasti hal berat bagi orang tuamu."

"Sudah-sudah, hentikan!" Aku memohon, dengan mata yang hampir menangis. "Ini memang salahku! Bukan, ini salah wajahku! Puas?"

Yukinoshita langsung menghentikan kata-kata pedasnya. Aku pun segera sadar bahwa sia-sia jika berusaha membalas perkataannya. Sejenak, aku terhanyut dalam imajinasi diriku yang bersemedi di bawah pohon Buddha guna mendapat pencerahan. Dan Yukinoshita kembali melanjutkan pembicaraannya.

"Baiklah, simulasi perbincangan ini telah selesai. Jika kau mampu mengobrol sampai sebanyak ini denganku, maka kau pun mampu berbuat hal yang sama dengan orang lain." Sembari merapikan rambut dengan tangan kanannya, ekspresi wajah Yukinoshita tampak dipenuhi rasa puas. Ia pun tersenyum senang setelahnya. "Mulai sekarang kau bisa menjalani hidup yang lebih baik dengan berbekal kenangan berharga ini, meski itu tanpa bantuan dari siapa-siapa."

"Kau ini sedang berkhayal, ya?"

"Yah, kalau begitu, berarti permintaan Bu Hiratsuka belum terpenuhi .... Mau tak mau, memang harus memakai pendekatan yang lebih mendasar, seperti ... membuatmu berhenti datang ke sekolah."

"Itu namanya bukan solusi, tapi sama saja menutup-nutupi hal busuk."

"Wah, jadi kau sudah sadar kalau kau itu busuk?"

"Begitu, ya? Pantas saja selama ini aku dipandang sebelah mata dan dijauhi orang-orang." Tak masalah, sih, lebih baik kuladeni saja perkataannya.

"... dasar payah."

Setelah kutertawa kecil karena komentarku yang menyindir tadi, Yukinoshita menatapku seakan hendak berkata, Kenapa juga orang seperti ini masih hidup? Dan seperti yang pernah kubilang, tatapannya memang membunuh.

Lalu keheningan pun mulai menghinggapi ruangan, cukup hening untuk membuat telingaku sakit, mungkin sakit ini karena aku selalu saja membiarkan Yukinoshita berkata seenaknya.

Akan tetapi, keheningan ini mendadak pecah karena suara menggema dari gebrakan pintu yang ditarik paksa oleh seseorang.



1 tanggapan:

Posting Komentar