Oregairu Bab 1 Bagian 2

==========================================================
Penggambaran sosok Yukino Yukinoshita di Bagian ini rasanya dalam banget... Oiya, 'lola' (loading lambat) adalah pelokalan makna dari 'nubouttoshita' (ぬぼうっとした) untuk menggambarkan sosok Hikigaya, yang artinya 'bengong' atau 'tampak linglung'... Untung ketemu istilah yang pas, dan terdengar seperti nama permen... Satu lagi, mungkin belum ada yang tahu apa itu riajuu... Riajuu adalah orang-orang yang diberkahi oleh 'sempurna'nya masa remaja mereka, kehidupan pergaulan riajuu bahkan menjadi tolak ukur anak-anak populer... Singkatnya, mereka kebalikan atau bisa dibiliang musuh sejati para otaku, chuunibyou dan hikikimori...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk

Bagian 2


Gedung sekolah SMA Soubu di Kota Chiba ini mempunyai gaya bangunan yang sedikit berbeda dari lainnya. Bila dilihat dari atas, kurang lebih bentuknya agak mirip dengan huruf kanji 口 (kuchi) yang berarti mulut — berbentuk seperti bujur sangkar — tapi mungkin lebih mirip dengan huruf katakana untuk suku kata ロ (ro) — bujur sangkar dengan beberapa garis yang keluar dari sudut sisinya. Lalu sepasang kaki pada bujur sangkar itu adalah gedung audio visual yang melengkapi pemandangan lansekap sekolah kami. Gedung untuk kelas mengajar menghadap ke jalan raya, sementara paviliunnya menghadap ke arah sebaliknya. Jembatan yang menghubungkan dua bangunan tersebut terletak di lantai dua, yang kesemuanya membentuk pola seperti bujur sangkar.

Gedung sekolah ini mengapit sebuah tempat di keempat sisinya, sebuah halaman terbuka yang diperuntukkan sebagai tanah suci para riajuu. Di tempat itu, mereka — baik anak lelaki maupun perempuan — saling berbaur satu sama lain saat jam istirahat makan siang. Dilanjutkan bermain bulutangkis untuk melancarkan pencernaan. Sepulang sekolah, dengan ditemani remangnya matahari senja, beberapa pasang kekasih saling melontar ucapan gombal sambil memandang bintang-bintang seiring desiran angin laut yang menyelimutinya.

Alamak.

Dari sudut pandang orang luar, mereka sudah terlihat seperti para pemeran drama remaja yang berusaha tampil maksimal lewat perannya. Memikirkannya saja membuatku merinding. Andai aku ikut serta pun, paling-paling aku memilih peran sebuah pohon atau semacamnya.

Bu Hiratsuka menyusuri sepanjangan lantai linoleum itu tanpa berucap sepatah kata pun, langkah kakinya beriring menuju ke paviliun.

Aku punya firasat buruk tentang ini.

Terlebih lagi, tampaknya belum ada kejelasan mengenai seperti apa kegiatan Klub Layanan Sosial.

Yang kutahu, Layanan Sosial bukanlah seperti kegiatan yang biasanya dilakukan sehari-hari; sebaliknya, ini seperti layanan yang disediakan dalam situasi-situasi tertentu. Contohnya, seorang pelayan yang melayani sang majikannya. Dalam kasus ini, layanan bisa berupa ucapan, Selamat datang! yang bisa membuat perasaan sang majikan jadi menggebu-gebu hingga bisa menyerukan, Lets'a party!

Tapi di kenyataannya, hal itu takkan mungkin terjadi. Tunggu. Sebenarnya itu bukan hal mustahil asal ada kesepakatan harga sebelumnya. Tetapi jika segalanya bisa dibeli dengan uang, berarti mimpi dan cita-cita sudah tak berlaku lagi di dunia yang busuk ini. Biar bagaimanapun, yang namanya Layanan bukanlah hal yang baik.

Lalu yang ada sekarang, kami sudah berada di paviliun. Sudah pasti aku bakal disuruh beres-beres di sana, seperti memindahkan piano ke ruang musik, membuang limbah sisa-sisa laboratorium biologi, menyusun koleksi katalog perpustakaan, dan sebagainya. Kalau memang begitu, berarti aku harus sesegera mungkin mengambil langkah antisipasi.

"Asal Ibu tahu, saya punya penyakit kronis di sekitar selangkangan, lo. Kalau enggak salah namanya ... Her-Her-Herpes, ya? Iya, itu ...."

"Jika yang kaumaksud itu Hernia, tak usah khawatir. Ibu tak melibatkanmu dalam pekerjaan kasar, kok."

Beliau menoleh ke belakang sambil menatapku dengan ekspresi mengejek, layaknya sedang melihat orang bodoh.

Aku paham. Berarti kegiatan yang dimaksud itu semacam penelitian atau pekerjaan administrasi, 'kan? Jika benar, maka kegiatan tersebut justru lebih sulit ketimbang kerja fisik. Siksaan ini ibarat seperti keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya.

"Penyakit ini kadang kambuh ketika saya memasuki ruang kelas, Bu."

"Kau kok sekarang justru terdengar seperti sniper berhidung panjang, ya? Memangnya kau ini anggota Bajak Laut Topi Jerami?"

Oh, ternyata beliau juga senang membaca shounen manga, ya?

Terserahlah. Selama bisa mengerjakannya, akan kukerjakan sendiri. Aku bisa mengubah diriku ini layaknya sebuah mesin. Takkan jadi masalah andai kutiadakan hasrat manusiawiku. Kalau perlu, aku bisa menjadi sebuah sekrup.

"Kita sudah sampai."

Ruangan di mana Bu Hiratsuka menghentikan langkahnya ini, dari luar sudah terlihat tak biasa. Tak ada tulisan apa pun yang tertera pada pelat pintunya. Selagi kutatap pelat tersebut dengan penuh keheranan, tiba-tiba saja Bu Hiratsuka menggeser pintu untuk membukanya. Meja dan bangku tertumpuk rapi di pojok ruangan. Mungkin ini dulunya gudang. Jika dibandingkan dengan ruang kelas lainnya, tak ada yang tampak istimewa dengan isi di dalamnya. Tak lebih, ini hanyalah ruang kelas biasa. Meski begitu, yang sangat jelas berbeda dari segala yang ada di ruangan ini, adalah sosok seorang gadis.

Gadis itu membaca bukunya sembari dibalut sinar senja. Pemandangan itu tampak bagai sebuah ilusi maupun adegan dalam sebuah lukisan. Seolah ia akan tetap duduk di sana sambil membaca, meski dunia ini berakhir.

Saat melihatnya, tubuh maupun jiwaku serasa membeku.

Tak sengaja aku merasa kagum karenanya.


Menyadari ada yang datang, ia pun menyelipkan pembatas buku pada bacaannya lalu menengadahkan kepalanya menghadap kami.

"Bu Hiratsuka. Saya yakin sudah memberitahu Ibu untuk mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk."

Ciri yang dimilikinya begitu menarik. Rambut hitamnya panjang menjuntai. Meski saat di sekolah ia mengenakan seragam perempuan pada umumnya, namun ia seakan berada dalam golongannya sendiri.

"Kau juga tak merespon meski sudah Ibu ketuk."

Tampak ada kesan tak puas saat ia mendengar jawaban Bu Hiratsuka tadi.

"Lalu, siapa anak yang tampak lola yang bersama Ibu itu?"

Tatapan dinginnya tertuju padaku.

Aku tahu perempuan ini.

Yukino Yukinoshita dari Kelas 2-J.

Tentu saja aku hanya tahu nama dan wajahnya. Kami tak pernah terlibat pembicaraan sebelum ini. Sebuah kejadian langka jika aku bisa terlibat pembicaraan dengan orang-orang di sekolah, itu sebabnya, mustahil bila hal tersebut sampai terjadi.

Di SMA Soubu, terpisah dari sembilan kelompok kelas biasa, ada satu kelompok kelas yang ditujukan untuk murid berbakat dengan standar internasional — Kelas J. Standar rata-rata yang dimiliki kelas tersebut bisa sampai dua atau tiga tingkat di atas kelas reguler, dan kelas itu diisi dengan murid-murid yang pernah belajar di luar negeri maupun mereka yang ingin berencana melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

Di antara murid-murid tersebut, ada satu yang begitu menonjol, atau bisa dibilang, tanpa sadar menarik perhatian orang-orang, ialah Yukino Yukinoshita.

Saat pengumuman hasil ujian, nilai tinggi yang ia peroleh secara konsisten, mencantumkan namanya sebagai juara umum di angkatan kelas kami. Seakan belum cukup, penampilan menawan yang ia miliki membuatnya selalu dihujani perhatian sekitarnya. Singkatnya, ialah contoh nyata gadis paling cantik dan sempurna di sekolah ini, dan semua orang pun mengakuinya.

Itu sebabnya ia tak mengenalku, meski aku tak begitu peduli. Namun tetap saja, aku masih merasa sakit hati karena disebut lola. Aku cukup yakin kalau sebutan itu mirip dengan nama merek sebuah permen zaman dulu, yang sekarang sudah jarang kulihat. Walau aku sudah berusaha mengalihkan hal itu, tetap saja tak mengubah fakta kalau perkataannya memang menyakitkan.

"Ini Hikigaya. Ia akan bergabung ke klub ini."

Seolah terpengaruh kata-kata beliau, tanpa sadar aku membungkukkan badan. Kuyakin tanpa sengaja aku memperkenalkan diri.

"Namaku Hachiman Hikigaya dari Kelas 2-F. Eng ..., hei. Apa maksud Ibu dengan bergabung?" Siapa juga yang mau gabung? Lagi pula, sebenarnya klub apa ini?

Seperti tahu apa yang akan kukatakan, Bu Hiratsuka langsung memotong.

"Ini hukuman atas perbuatanmu tadi, jadi kau harus ikut serta dalam kegiatan klub ini. Ibu takkan menanggapi segala bentuk keberatan, bantahan, protes maupun keluhanmu. Gunakan saja waktumu itu untuk menjernihkan pikiran serta merenungi perbuatanmu." Pernyataan tegas yang tak bisa dibantah, tanpa menyisakan ruang untukku memberi alasan. "Lihat saja, dari penampilannya sudah terlihat kalau ia sudah busuk dari dalam. Alhasil, ia selalu berada dalam dunianya sendiri. Kasihan sekali, 'kan?"

Rupanya aku hanya dinilai dari penampilan luarku saja.

Bu Hiratsuka lalu menoleh ke arah Yukinoshita dan berkata. "Ibu pikir, jika berbaur dengan orang lain, mungkin ia bisa sedikit belajar memperbaiki sikapnya. Ibu serahkan ia padamu. Tolong perbaiki sikap menentang dan menjauhi orang lainnya itu."

"Jika demikian, saya rasa bukan masalah kalau Ibu memakai kekerasan untuk mendisiplinkan anak ini."

... perempuan yang mengerikan.

"Jika itu memang harus, dari dulu pasti sudah Ibu lakukan, tapi di zaman sekarang, hal tersebut bakal jadi masalah. Dan juga, kekerasan secara fisik sudah tak lagi diperbolehkan."

... rasanya seolah beliau mau bilang, kalau kekerasan secara mental masih bisa diperbolehkan.

"Dengan segala hormat, saya menolak. Saya merasa ada motif terselubung di balik tatapan matanya yang busuk. Saya merasa sedang dalam bahaya, Bu."

Sambil menatap tajam ke arahku, Ia pun langsung membetulkan kerah bajunya, padahal tak ada yang tampak berantakan pada caranya berbusana. Terlebih, tak ada juga yang mau melihat dadanya yang biasa-biasa saja itu. Sungguh, takkan ada orang yang mau. Andaikata aku tak sengaja melihatnya pun, paling-paling itu cuma dalam hitungan detik.

"Tak usah cemas, Yukinoshita. Mata dan hatinya memang sudah busuk, makanya ia bisa menahan diri dan memperhitungkan untung rugi dari segala tindakan yang ia lakukan. Ia takkan berani melakukan hal-hal yang bisa berurusan dengan aparat berwajib. Bisa dibilang, ia tak lebih dari preman kampung."

"Bagi saya itu sama sekali bukan pujian. Ketimbang memakai istilah untung rugi dan menahan diri, saya lebih memilih jika Ibu memakai istilah punya akal sehat dalam mengambil keputusan."

"Oh ..., preman kampung, toh ...." ucap Yukinoshita.

"Kau malah percaya kata-kata Bu Hiratsuka daripada penjelasanku ...."

Apa mungkin kata-kata Bu Hiratsuka berhasil membujuknya ataukah memang ia percaya kalau aku ini seorang preman kampung? Apa pun itu, sosokku di pikiran Yukinoshita sudah jauh dari yang aku harapkan.

"Jika itu memang permintaan Ibu, saya tak bisa menolaknya .... Baiklah, saya terima." Tanggapnya dengan penuh rasa penolakan.

Meski begitu, Bu Hiratsuka tampak tersenyum puas.

"Bagus. Kalau begitu, Ibu serahkan sisanya padamu."

Beliau pun pergi setelahnya. Meninggalkanku yang masih berdiri termenung.


11 tanggapan:

thanks you so munch.. atas translasinya, pasti susah nerjemahin novel ya.. but translate ente amat clean dan udah seperti pro!! ente bakat jadi translator sepertinya ^_^ .. keep up the goodwork pal..

Sama-sama gan...
Kata-kata di Oregairu memang sulit diterjemahinnya, cara bikin adegan beserta dialognya mengalir itu justru lebih sulit lagi... Jujur, Bab 1 sendiri sudah berapa kali ane sunting... Sampai sekarang pun ane masih ada keraguan sama terjemahan ane sendiri...
Menerjemahkan, memeriksa terjemahan, sekaligus menyunting memang pekerjaan berat...
Makanya ane minta maaf duluan sebelumnya kalau pace ane menerjemahkan bisa dibilang 'begitu lambat'...
Betewe, terima kasih lagi atas dukungannya...

I SUPPORT YOU 100% ..
situ jadi translator profesional aja!! gabung ke elex media/gramedia/m&c ..
inssyallah ane beli buku hasil translasi ente ^_^

Wahhh... Ane hargai banget apresiasi agan... Benar gak nyangka ane dapat pujian seperti itu...
Kebetulan ane mengerjakan terjemahan ini karena hobi, dan karena ada waktu senggang... Lagi pula ane memang ingin niat berbagi ke sesama pecinta animanga gan...
Terima kasih sekali lagi, gan...

santai aja mong..
ngerjain project nya bawa enjoy dan hepi...
kalo lagi ngak mood ya stall aja..
FYI ane ini anti sekali yang namanya novel, baca di bakatsuki LN english melelahkan (entah kenapa seperti kerja double gitu).. trus ane baca yang ada indo., but translate nya kurang greget.. cuma LN oregairu ente ini yang ane betah bacanya sampe tuntas!! serius!!

Terima kasih banyak gan...
Oiya, ane sudah update seri LN baru lagi...
Temanya anak sekolahan juga, tapi dengan 'bumbu-bumbu' kehidupan bermusik...
Recomended dari ane, deh...

oh yang sayonara sonata itu ya,, makin sibuk nih but semangat ya ^^
btw pernah kepingin bikin LN kagak.. ane bisa bikin illustrasi buat LN agan
ane ini artist lho,,
ngak percaya ? he he he :3
silahkan liat artwork ane di link ini
(P:S anyway jangan di share ya.. ini rahasia lho cukup agan aja yg tau ^^ ) :http://www.mediafire.com/download/9swgequd3es9dq3/My%20Art%20.rar

Wah, agan orang-orang deviantart, ya...?
Bagus... Ane suka konsep indonesia alternate setting-nya...
Kalau untuk bikin LN, sepertinya ane belum ada bayangan mau ke sana gan... Masih mau jadi penikmat saja dulu... Hkhkhk... Lagi pula ane masih kurang hebat kalau bikin ide cerita gan...
Oiya, secara gak sadar agan sudah memublikasikannya sendiri di kolom komentar agan, loh...

no no no bro.. ane kagak punya akun deviant art masbro.. deviant art cuma tempat ane cari refrensi materi buat gambar
ini mah cuma hobi terselubung ane.. well hanya segilintir orang yang tau .. bisa di itung jari malah

perihal link nya .. emang siapa juga mau baca kolom komentar kita ini, so ane post aja "secret link" nya, awk wk wk

ehem.. btw kalo butuh artwork or anything berhubungan dengan ilustrasi situ bisa minta tolong ke ane.. jangan sungkan-sungkan ya ^^

Oke gan... Mungkin kalau ane sudah dapat ide untuk ilustrasi blog ini, ane bakal hubungi agan...
Thanks anyway...

Posting Komentar