Oregairu Bab 1 Bagian 1 (Beserta Prolog)

=========================================================
Tiba di terjemahan awal... Di sinilah awal mulanya Hachiman dihadapkan ke kenyataan kalau dia harus masuk ke sebuah klub (semacam takdir mungkin), sebenarnya, Bu Hiratsuka sendiri orang yang baik, dia bermaksud ingin menyelamatkan Hachiman dari sikap penyendirinya (yang mungkin akan berdampak buruk di kehidupannya kelak)...
Oiya, alasan kenapa 奉仕部 (Houshi-bu) ane terjemahkan menjadi Klub Layanan Sosial, akan ane jelaskan di beberapa bagian berikutnya...
Selamat Menikmati..
=========================================================


Prolog


__________________________________________________________
"Menengok Kembali Masa-Masa di SMA"

Karya Hachiman Hikigaya, Kelas 2-F
__________________________________________________________

Masa remaja tak lain hanyalah sebuah kebohongan — sesuatu yang jahat.

Mereka yang terpersona olehnya senantiasa tertipu oleh diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Mereka membenamkan diri mereka ke dalam keramaian, lalu berkubang dalam pengakuan orang lain. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau hal semacamnya, justru dianggap sebagai salah satu penanda dari masa remaja — yang seluruhnya membekas ke dalam lembar kenangan masing-masing dari mereka.

Salah satu dari sekian contoh.

Kegiatan yang terkait dengan masa remaja, sebut saja, tindak kriminal seperti mengutil ataupun kerusuhan yang bersifat massal, hanya akan dicap sebagai kenakalan remaja.

Kegagalan yang mereka alami saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan, "Sekolah tak lebih dari sekadar tempat untuk belajar".

Dengan mengatasnamakan masa remaja, mereka mampu memutarbalikkan segala bentuk norma atau hal yang sudah berlaku di masyarakat. Bagi mereka, berbagai kebohongan, rahasia, kejahatan, bahkan kegagalan sekalipun, mereka anggap sebagai bumbu penyedap dari masa remaja. Segala kecacatan maupun keburukan dari perbuatan tersebut, mereka cap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari setiap kegagalan itu mereka anggap sebagai bagian dari indahnya masa remaja. Dan mereka mencap segala yang bukan hasil dari masa remaja tersebut, tak lain sebagai kegagalan itu sendiri.

Kegagalan yang menjadi penanda dari masa remaja itu, bukankah bisa dianggap pula sebagai esensi masa remaja bagi mereka yang tak bisa berteman? Kesemuanya itu penuh dengan standar ganda.

Oleh karenanya, hal tersebut hanyalah omong kosong. Sebuah kebohongan, dusta, hal yang ditutup-tutupi, serta kecurangan yang pantas untuk dikutuk.

MEREKA sesuatu yang jahat.

Oleh karenanya, tersembunyi keadilan sejati, yang sifatnya paradoks, bagi mereka yang menghindari masa remaja.

Kesimpulan yang bisa kutarik:

RIAJUU, MELEDAK SAJA KAU SANA!

__________________________________________________________


Bab 1 - Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk

Bagian 1


Sambil mengernyitkan alis matanya, Bu Shizuka Hiratsuka selaku guru Bahasa Jepang di kelasku, membacakan dengan nyaring esaiku itu tepat di depanku. Saat mendengarkannya, kusadari bahwa keahlian menulisku masih jauh dari yang diharapkan. Tadinya kupikir, aku bakal terdengar intelek jika merangkai kata-kata berbobot di dalamnya, namun yang ada, itu malah seperti cara murahan yang biasanya dipakai para penulis di awal kariernya.

Jadi ..., itukah yang membuatku dipanggil ke ruang guru? Sepertinya bukan. Aku juga sadar kalau itu adalah esai amatiran.

Selesai membaca, Bu Hiratsuka menempelkan tangan ke dahinya lalu menghela napas panjang.

"Katakan, Hikigaya. Kau ingat tema untuk esai yang Ibu suruh kerjakan ini?"

"... ingat. Temanya Menengok Kembali Masa-Masa di SMA."

"Sudah jelas, 'kan? Lalu kenapa esai ini malah seperti surat ancaman? Memangnya kau ini teroris? Atau cuma orang bodoh, hah?"

Bu Hiratsuka lalu menggaruk kepalanya sambil mendesah.

Kini aku jadi berpikir, memakai kata Ibu untuk panggilan Ibu Guru kedengarannya lebih menambah daya tarik seksual ketimbang sekadar Guru Perempuan saja.

Aku menyengir selagi melamunkannya, hingga gulungan kertas menghantam kepalaku.

"Perhatikan kalau Ibu bicara!"

"I-iya."

"Tatapanmu kosong, persis seperti ikan mati."

"Berarti tubuh saya kaya omega-3 dong, Bu? Berarti saya genius banget."

Bu Hiratsuka hanya terbengong mendengarnya.

"Hikigaya, esai murahan apa ini? Beri Ibu penjelasan."

Tatapan tajamnya mengarah padaku, dan pandangan geramnya cukup memberi kesan mematikan. Hanya wanita yang dikutuk oleh kecantikan saja yang mampu menampakkan ekspresi seberbahaya itu, hingga tanpa sadar memaksa dan membuat tertekan siapa saja yang melihatnya. Bisa dibilang, itu benar-benar mengerikan.

"Eng ... bagaimana, ya .... Saya memang sudah merenungi kehidupan SMA saya, 'kan? Memang seperti itulah kehidupan SMA zaman sekarang! Esai yang saya tulis sedikit banyak sudah menyinggung hal tersebut," jawabku sambil terbata-bata. Aku bisa gugup hanya karena bicara dengan orang lain, tapi aku lebih gugup lagi jika lawan bicaraku seorang perempuan yang lebih tua.

"Biasanya, tugas semacam ini butuh perenungan atas pengalaman pribadimu, tapi kenapa justru begini?"

"Kalau begitu, harusnya Bu Hiratsuka menyisipkan maksud Ibu itu di kata pengantar, dong. Jika seperti itu, pasti akan saya kerjakan betul-betul. Berarti ini salah Ibu yang sudah memberi tugas menyesatkan, ya 'kan?"

"Hei, Nak. Jangan berlagak pintar di depan Ibu, ya."

"Nak? ... yah, memang benar, sih, beda umur antara saya dengan Bu Hiratsuka memang jauh, jadi, tak masalah jika Ibu memanggil Nak."

"Wuuuss!*


Yang barusan ternyata sebuah tinju. Tinju yang begitu saja dilesatkan secara tiba-tiba. Lebih penting lagi, sebuah keajaiban, karena tinju itu hanya menyerempet di samping pipiku.

"Berikutnya tak akan meleset." Tatapannya penuh keseriusan.

"Ma-maaf, Bu. Saya kerjakan lagi, deh." Aku harus bijak dalam berkata-kata jika ingin menunjukkan rasa sesalku. Dilihat dari keadaannya, Bu Hiratsuka ternyata orang yang sulit untuk merasa puas. Tampaknya tak ada lagi cara selain berlutut dan membungkuk di hadapannya.

Kucoba untuk menyapu lipatan celanaku, dan selagi merapikannya, kutekuk kaki kananku hingga menempel ke lantai, pergerakan yang mulus dan sempurna.

"Asal kau tahu, ini bukan berarti Ibu marah." ... oh, ternyata begitu jawabnya. Terkadang, orang-orang selalu berkata, Aku enggak marah, kok. Jadi bicara saja. Padahal, mereka tetap saja merasa marah. Tapi tak disangka, beliau memang tak benar-benar marah. Yah, terkecuali waktu kusinggung umurnya tadi.

Diam-diam kuamati reaksi beliau sembari mengangkat lutut kananku dari lantai.

Bu Hiratsuka merogoh kantung bajunya yang tampak menonjol karena payudaranya, lalu mengambil sebungkus Seven Stars dari dalamnya dan mengetuk-ngetuk filter-nya ke atas meja — kelakuan orang-orang yang sudah berumur. Setelah mengambil rokok sebatang, beliau nyalakan pemantik seratus yen lalu membakar rokoknya, kemudian menghisapnya sambil memandangku dengan wajah yang serius.

"Kau masih belum bergabung pada klub mana pun, 'kan?"

"Ya, belum."

"... oh, ya, apa kau punya teman?"

Seakan-akan beliau sudah tahu kalau aku memang tak punya teman.

"Se-sepertinya Ibu harus tahu kalau saya menganut azas ketakberpihakan, oleh karenanya, saya tak boleh memiliki hubungan dekat dengan orang lain!"

"Singkatnya, kau tak punya teman, 'kan?"

"Ya-yah, begitu, deh ...."

Mendengar jawabanku, wajah Bu Hiratsuka pun berubah sumringah.

"Jadi memang benar tidak punya, ya? Tepat seperti dugaan Ibu. Hanya dari tatapan kosongmu saja sudah ketahuan, kok!"

Kalau sudah tahu, ya tak usah sampai tanya-tanya seperti tadi, 'kan?

Sambil mengangguk karena sudah mengerti, beliau memandang wajahku dengan ekspresi yang ditahan.

"... lalu, kalau pacar atau semacamnya? Sudah punya, belum?"

Semacamnya? Apa maksudnya itu? Kira-kira apa tanggapan beliau jika kubilang kalau pacarku itu seorang lelaki?

"Sekarang, masih belum."

Karena itu kutegaskan kata sekarang, dengan mempertimbangkan segala harapan yang kelak terjadi di masa mendatang.

"Kasihan, jadi begitu, ya ...."

Sambil menjauhkan pandangannya, mata beliau pun tampak berkaca-kaca. Kuyakin itu hanya karena asap rokok. Sudahlah, hentikan. Berhenti memandangku dengan tatapan sentimentil itu.

Lagi pula, untuk apa beliau mempertanyakan hal barusan? Apa beliau memang seorang guru yang begitu peduli pada muridnya?

Apa beliau ingin menyampaikan padaku jika suatu saat aku bisa menjadi nila setitik, yang bisa merusak susu sebelanga?

Atau mungkin beliau pernah bermasalah sewaktu masih menjadi murid SMA, lalu kembali ke sekolah lamanya ini sebagai seorang guru? Bisa, tidak, kita kembali dulu ke pokok permasalahan?


"Ya sudah, kalau begitu, kerjakan lagi saja esaimu."

"Baik."

Dan memang akan kukerjakan.

Aku paham sekarang. Kali ini tulisanku pasti sesuai dengan yang diharapkan; aku harus menulisnya tanpa menyinggung pihak mana pun. Yang isinya tak beda jauh dengan ocehan yang ada di blog para model vulgar maupun aktris pengisi suara semacamnya, contoh:

Makan malam kali ini apa, ya ...? Ya ampun! Ternyata kari!

Begitulah. Tunggu, lalu untuk apa ada pernyataan, Ya ampun! tadi? Jika hanya untuk menandakan ekspresi terkejut, jelas tak ada gunanya.

Sampai di titik ini, segalanya sudah kuperhitungkan. Namun yang terjadi setelah ini, justru lebih dari yang kubayangkan.

"Biar bagaimanapun, ucapan kasar dan sikapmu barusan sudah menyakiti perasaan Ibu. Apa tak ada yang mengajarimu kalau tak boleh membahas masalah umur di depan wanita? Karena sikapmu tadi, jadi Ibu memaksamu untuk bergabung ke Klub Layanan Sosial. Lagi pula, yang namanya salah juga harus dihukum, 'kan?"

Untuk seseorang yang telah dilukai perasaannya, Bu Hiratsuka tak tampak seperti orang yang berwibawa layaknya seorang guru. Kenyataannya, beliau justru lebih ceria dari biasanya, bahkan cara bicaranya pun dibuat lebih menggoda dan menggairahkan.

Itulah yang kupikirkan sekarang. Kata menggairahkan biasanya membuat kita berpikir ke arah yang tak jauh-jauh dari payudara, 'kan? Kenyataannya, mataku sekarang malah tertuju ke arah blus yang menonjolkan payudara Bu Hiratsuka.

Itu memang hal yang tak bisa dibenarkan .... Meski begitu, bisa-bisanya ada orang yang begitu senangnya saat memberi hukuman?

"Klub Layanan Sosial? ... memangnya Ibu mau suruh apa saya di sana?"

Selidik demi selidik. Yang kutahu, kegiatan itu mungkin saja hal-hal semacam membersihkan selokan, atau yang terburuk, menculik orang. Amit-amit jabang bayi, deh.

"Ikuti saja Ibu."

Bu Hiratsuka lalu mematikan rokoknya ke asbak dan segera bangkit dari tempat duduknya. Aku masih diam tak bergerak, memikirkan tentang pengajuan yang tanpa penjelasan maupun pengenalan itu, namun rupanya, Bu Hiratsuka sudah ada di depan pintu seraya menoleh ke hadapanku.

"Ayo jalan!"

Disertai alis yang berkerut dan kebingungan di wajahku ini, kuikuti beliau dari belakang. 



Lanjut

30 tanggapan:

wiih ndak nyangka ada yg mo nerjemahiin ni LN mantap,,
8man emang manusia keren,, serem,,
klw di umpamakan tuuh,, nih 8man orang yg tetap membuka mata dan menatap ke dalam kegelapan,, di mana banyak orang mengalihkan pandangan ke cahaya, nii 8man lebih jujur dan beranii ngeliat kegelapan,, tanpa di tutupin,dan menerima walau menyedikan, dr pada ditipu sama cahaya yg di sebut kebaikan :D :D

oh iya makasih daah nerjemahin LN nya gan,, moga tetap lancar sampai jilid 8 :D

Iya gan, Hachiman memang kayak The Dark Knight...
Oke, gan... Terima kasih dukungannya...
Sebelumnya minta maaf duluan, soalnya pace ane menerjemahkan tergolong lambat...
Tapi ane usahakan update satu Bagian persatu minggu (itu sudah paling cepat, soalnya pernah satu bulan cuma satu Bagian...)
Sankyuu...

sip dah...translate trus sampe jilid 8 nya xD

thanks dah mau nerjemahin nih LN

Sama-sama gan...
Terima kasih juga atas dukungannya...

makasih udah di terjemahin.. yg semangat nerjemahinnya ^^

Sama-sama gan...
Terima kasih juga atas dukungannya...

makasih dah nerjemahin LN ini ...^^


ada rencana nerjemahin LN lain gan?

keren...
makasih banyak,
ngebantu banget buat yang pengen ngikutin LN-nya juga
semoga kedepannya proyek ini lancar dan terus lebih baik lagi

sekali lagi makasih banyak :)

Sama-sama gan...
Rencana ada satu lagi yang proyek yang mau ane share... Di proyek itu ane jadi penyuntingnya...
Tinggal menunggu persetujuan dari penerjemahnya...
Kalau dia setuju, langsung posting deh... Semoga saja diterima... (soalnya itu seri yang bagus, dan adaptasi animenya sendiri begitu ditunggu-tunggu... Padahal LN-nya dah tamat...)
Amin...

Sama-sama gan...
Terima kasih atas dukungannya...

terjemahannya enak dibaca bang/mbak sis ^_^b
BTW ini nerjemahin dari JPN->ENG->IND atau JPN->IND ?

Terima kasih gan...
Proses penerjemahannya pakai skrip Bahasa Inggris...
Pemeriksaan terjemahan langsung dari raw-nya (Bahasa Jepang, biar ane lebih yakin)...
Alasan ane memakai skrip Bahasa Inggris, soalnya kemampuan Bahasa Jepang ane masih dalam tahap belajar gan... *Tehehe...

Boleh saya memberi saran?
Menurut saya, gaya bahasanya terlalu santai.
Mungkin akan lebih bagus kalau penggunaan kata 'dong', 'deh' dan 'sih'(penggunaan berbagai macam bahasa gaul) lebih diminimalisir.
Kalau memang dari RAWnya(jpn) bahasanya memang sudah seperti itu(santai), anda bisa hiraukan saran saya.

EYD juga diperhatikan, agar teks menjadi lebih nyaman dibaca.
Gabungan antara EYD dan bahasa gaul juga boleh, dilihat dari situasi adegan saja.

Sekian saran saya, maaf jika sekiranya kurang sopan.
Btw, keep up the good work. :)

Wah, saran seperti ini yang ane tunggu...
Akhirnya...
Oke ane jawab...
Gaya terjemahan ane pada proyek Oregairu ini memang gaya terjemahan informal gan... Jadi memang ane buat semengalir mungkin, mengingat ini LN remaja, jadi bahasa yang ane pakai mengikuti gaya novel remaja di Indonesia... (kecuali untuk yang genre-nya berat semacam Fate series...) Sebenarnya pemakaian kata 'deh', 'dong', 'sih', 'kok' dan 'toh' itu ane kurang setuju kalau disebut bahasa gaul... Soalnya itu dialek, gan...(Dialek = variasi bahasa yg berbeda-beda menurut pemakai (misal bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu)) Dan juga semua kata tersebut terdaftar di KBBI, kok gan...

Jadi kalau dibilang kadang melenceng dari EYD, ane akuin sih... Tapi memang ane khususkan kok penggunaan dialeknya... Biasanya pada monolog Hachiman (karena di raw-nya malah pakai bahasa yang lebih kasar), kalau untuk dialog, selain dari raw, ane juga sesuaikan sama karakternya, contohnya Yukino, sebisa mungkin penggunaan EYD wajib bagi dia, tapi untuk Yui, karena dia memang perempuan 'gaul', jadi seluruh dialognya ane pakaikan dialek, bahkan nanti kalau karakter Tobe sudah muncul, rencana ane mau pakai dialek khas Jakarta (sayang, munculnya masih lama...)... Lagi pula ane tetap pakai pengecualian kok, kalau misalnya ada dialog dengan orang yang statusnya lebih tinggi, misal dengan guru, orang tua/ditetuakan, atau orang asing, EYD selalu ane utamakan...

Jujur sekali lagi ane akui, ane memang kurang cocok kalau memakai gaya terjemahan formal, karena dulu pernah coba pakai gaya itu, tapi malah kesannya kaku banget... Ane gak ahli seperti para editor takarir stasiun TV, atau editor harian nasional... Jadi karena ane pikir ini untuk penggemar, jadi pakai bahasa yang mudah dicerna penggemar saja, gan... Tapi ane yakinkan ke agan, kalau terjemahan ane ini sudah ane usahakan semaksimal mungkin agar sesuai dengan maksud cerita aslinya... Yah, hitung-hitung untuk menghormati pengarang aslinya...

Betewe, terima kasih banyak atas sarannya...
Ane juga minta maaf kalau memang masih ada yang kurang berkenan...

klo bisa nerjemahin JPN->IND ane sebenarnya mau minta bantuan, itupun kalau bersedia

Bantuan apa gan...? Sekiranya kalau boleh tahu...

sama kek kerjaan kamu sekarang, nerjemahin manga/light novel ke Indonesia, cuma sayangnya gak ada englishnya. Makanya klo ada yang bisa bantuin nerjemahinnya, entar ane tinggal bantu proofing dan nyuntingnya.

Ooo... Wah, maaf gan... Kalau memang itu di luar kemampuan ane, ane gak bakal berani ngerjainnya... Soalnya, nanti kalau ane salah-salah, sama saja ane (maaf) 'membodohi' para leecher (eh kalau di scanlation sama fantranslation itu leecher juga, ya...?)... Jadi maaf, kalau ane gak bisa bantu...
Hmm... Ternyata agan penyunting juga ya...
Kenapa agan gak ikut di tim Scanlating yang sudah ada saja...? Siapa tahu di antara mereka ada penerjemah yang bisa menerjemahkan dari raw, jadi agan bisa pakai kemampuan agan di sana...
Atau kalau mau, jadi penyunting Fansub saja gan... Banyak banget, lo, FS Indonesia yang masih butuh penyunting...
Semoga membantu...

NB: memangnya agan mau menerjemahkan manga apa, gan...?

Gpp kok gan. Iya, disebutnya leecher :v
Ane udah ikut scanlating kok, cuma tim english, jadi gak bisa jadi penyunting, sementara ane susah nyari tim scan Indo yang MASIH menggunakan RAW, kebanyakan sudah terpaku sama scan english (klo tau cleaning, dulu ane nge-clean manga dari RAWnya, sementara sekarang banyakan udah ogah clean dari RAW)
Ane sendiri juga udah ikutan FS, cuma gara-gara semua file buat FS ane ada di netbuk yang lagi rusak, ane jadi berhenti fansubing dulu.

Balasan NB: Jinrui wa Suitai Shimashita (Mankind has Fallen)

Wah, berarti agan staff inter, ya...
Seperti yang agan bilang, kondisi scanlation di Indonesia memang sudah kayak begitu... Hampir gak jauh beda sama dunia FS Indonesia saat ini... Gak begitu banyak yang mengedepankan kualitas... Makanya 'orang-orang yang tahu' cenderung lebih memilih baca scanlation inter...
Manga 'Jinrui wa Suitai Shimasita' yang mana gan...? Yang 'Yosei, Shimasu ka?' , ya...?
Hmm... Jinrui wa Suitai Shimasita - Yosei, Shimasu ka? (Populasi Manusia Telah Menurun - Peri, Apa Ini Ulahmu?)

ane gara-gara baca scanlation inter malah gak bisa berbahasa Indonesia dengan baik (di real-life lebih sering pake bahasa daerah)

Iya, yang 'Yousei, Shimasu ka?' baru ada 2 chapter yang englishnya, sementara translator english yang ane kenal gak mau nerjemahin klo gak pake Furigana

Wah, lumayan ribet juga, ya...
Oke deh, semoga agan suskes selalu bersama timnya...

Oh, i see, fine then. :)

Hmm, entah kenapa, saya merasa kalau gaya bicara Hachiman lebih cocok kalau 'sedikit' formal namun kasar, tidak begitu kaku sih, tapi gimana yah...
Oh iya, apa anda nonton Anime Oregairu rilisan Jal-Aia? Kira-kira gaya bicara Hachiman yang seperti itulah yang pas(menurut saya).

But, well...
Mungkin saya belum berhak untuk memberi saran karena, yaaa, saya baru membaca halaman ini saja dan belum sempat untuk membaca rilisan anda yang lain karena sibuk.
Jadi...mungkin lain kali saya akan memberi saran lagi kalau saya sudah membaca rilisan anda yang lain.

Oh, last question, kenapa anda tidak mendistribusikan hasil translation anda menjadi pdf?
1 PDF untuk 1 Jilid mungkin?

Memang untuk Bab 1 Bagian 1 ini situasinya Hachiman memang berkata dengan gaya bicara yang sok dekat... Kesan yang ingin Hachiman sampaikan pada gurunya adalah, seakan ingin mengambil hati sang guru agar tak dihukum berat... Sesuai dengn penjelasan pada monolog di Bagian ini, kalau dia sudah memperhitungkannya...
Memang khusus untuk Bab 1 Bagian 1 ini saja kok gan...
Dialog antara Hachiman dan Bu Hiratsuka selanjutnya, memang sesuai dengan bayangan yang agan sebut di atas... Contoh: Bab 2 Bagian 1, Bab 3 Bagian 1...
Lagi pula, merujuk pada alasan yang ane sebut tadi, rasanya akan kaku banget (aneh malah) kalau dialog Hachiman yang di Bab 1 Bagian 1 ini, tak ada penggunaan 'deh', 'kok', 'sih', dan semacamnya...

Untuk PDF itu pasti akan ane buatkan jika 1 Jilid ini sudah rampung... Nanti ane bakal minta tolong sama teman-teman di Baka-Tsuki untuk dibuatkan format PDF-nya...
Tapi masalahnya, 1 Jilid ini ada 8 Bab, dan sampai hari ini ane pun masih belum menyelesaikan Bab 3... Ditambah, kecepatan ane dalam menerjemahkan, sungguh 'begitu lambat'... Ane gak tahu akan makan waktu berapa lama biar bisa rampung... Hkhkhk...
Semoga semuanya lancar... Amin...

Betewe, terima kasih kembali atas tanggapannya...

baru baca bagian satu, ketinggalan banget ya, tapi emang bagus nih LN, di tunggu project yang lain sementara saya marathon dulu sampe bab 3

Silakan dinikmati juga proyek lainnya gan...
Dijamin gak kalah seru...

Gila, makasih sudah mau repot-repot terjemahin. Hachiman LN beda sama Anime, 'ya?

Yah, namanya juga hobi, gan... Hkhkhk...
Kalau karakter di LN sama di anime sih sama...
Kronologis ceritanya saja yang beda...

Punya yg raw nya ? Bagi dong, pengen baca yg raw nih..

Posting Komentar