Oregairu Bab 7 Bagian 1

==========================================================
Untuk beberapa hari kemarin ane jatuh sakit, jadi yang harusnya hari minggu kemarin sudah bisa di-posting, malah molor sampai hari ini... Jadi, ane minta maaf...
Paruh kedua dari Episode 3 pun dimulai, ane cukup senang di bagian ini, karena ada beberapa adegan serta kutipan bagus yang gak ada di anime-nya...
Untuk diketahui, 撃つ dan 鬱 pelafalannya sama-sama 'utsu'... Sama pelafalan tapi beda arti...
Satu lagi, Bab 7 ini belum ane posting di Baka-Tsuki, mungkin gak bakal di-posting di sana, karena sudah ada yang mengambil alih Bab 7 dan Bab 8...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 1


Jadi begitulah, hari-hari pun berlanjut dan kami melaju ke fase dua dari pelatihan tenis ini.

Mungkin kalimat barusan terdengar agak terlalu keren. Sederhananya, kami sudah melalui pelatihan dasar dan akhirnya berlatih dengan raket dan bola.

Meski sewaktu aku berkata kami, yang kumaksud sebenarnya adalah Totsuka seorang. Karena hanya Totsuka-lah satu-satunya anak yang menghabiskan waktunya untuk memukul bola ke tembok di bawah pengawasan Instruktur Yukinoshita.

Yah, bukan berarti kami bisa mengimbangi anggota Klub Tenis, itu sebabnya kami hanya menghabiskan waktu sesuka kami saja.

Yang dilakukan Yukinoshita hanyalah membaca buku di bawah naungan pohon sekitar, namun sesekali ia terlihat sedang mengigatkan Totsuka dan pergi mengamati serta memberi instruksi lebih lanjut.

Awalnya Yuigahama sempat mengikuti latihan bersama Totsuka, namun ia segera bosan dan kini malah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur siang di sebelah Yukinoshita. Yang dilakukannya mengingatkan kita sewaktu membawa anjing ke taman yang kelelahan dan merebahkan dirinya di dekat salah satu kolam penampungan air.

Lalu, Zaimokuza, dengan ciri khasnya, tampak sedang bersungguh-sungguh mengembangkan teknik pukulan ajaib pamungkasnya. Sial, harusnya ia berhenti melempar-lempar kenari. Dan harusnya ia juga berhenti menggali tanah lapangan dengan raketnya.

Pada akhirnya, hanya hal yang tak berguna mengumpulkan begitu banyak orang tak berguna ini ke dalam satu tempat.

Dan kalau aku, tak usah ditanya.

Aku bermalas-malasan di pojok lapangan sambil mengamati kawanan semut. Rasanya begitu menyenangkan.

Benaran, deh. Rasanya sangat-sangat menyenangkan.

Aku tak tahu apa yang dipikirkan makhluk kecil ini sampai segelisah itu ke sana kemari, tapi yang jelas, mereka hanya menjalani hidup mereka dengan penuh kesibukan. Kurasa itulah yang membuat diriku seakan sedang melihat ke bawah dari gedung perkantoran yang menjulang tinggi.

Gambaran kawanan semut yang tergesa-gesa ini serta gambaran karyawan kantoran berjas hitam terus terlintas di pikiranku.

Apa suatu hari nanti aku juga akan menjadi bintik-bintik hitam tadi yang bakal dilihat oleh orang lain dari ketinggian yang sama seperti gedung-gedung tinggi di Tokyo? Sebenarnya pikiran macam apa yang sedang kurenungkan ini?

Bukan berarti aku tak suka menjadi karyawan kantoran. Malahan, sebagian diriku ingin menjadi salah satunya. Profesi tersebut ada di peringkat dua dari daftar cita-citaku, di mana peringkat satunya adalah bapak rumah tangga siaga-sepanjang waktu. Peringkat tiganya adalah mesin pengapian. Gila, memangnya aku ini mau menjadi mobil, apa...?

Tentu saja aku sadar betul mengenai kekurangan dari menjadi seorang karyawan kantoran. Aku selalu kagum ketika melihat ayahku pulang dari kerja dengan wajah penuh kelelahan. Begitu mengagumkan melihat beliau yang setiap harinya berangkat kerja meski beliau sendiri tak merasa bahagia.

Karena itu tiba-tiba aku memproyeksikan gambaran akan ayahku kepada salah satu dari kawanan semut ini dan mulai menyemangatinya dalam hati.

Berjuanglah, Yah. Jangan menyerah, Yah. Jangan sampai botak, Yah.

Aku memimpikan masa depanku sendiri, kemudian mulai cemas akan masa depan rambutku sendiri.

Mungkin doaku tadi terkabulkan, soalnya semut itu mulai berbalik dan berjalan kembali ke arah lubang sarang tempat tinggalnya. Aku yakin kehangatan keluarga telah menunggu kepulangannya.

Syukurlah.

Dipenuhi oleh perasaan, aku terisak lalu mengusap air mataku.

Di saat bersamaan.

*Wuuusss!*

"Ayaaah~~!!!"

Tanda-tanda kehidupan semut itu pun menghilang seiring bola yang jatuh melesat dari sisi pojok jauh lapangan.

Dengan mata yang dipenuhi kemurkaan, kuarahkan pandanganku ke sumber datangnya bola tadi.

"Hmm... jadi itu menciptakan kepulan debu untuk membingungkan musuh, lalu menggunakan kesempatan tersebut untuk melesatkan bola ke sana... tampaknya pukulan ajaibku ini telah sempurna. Ilusi elemen bumi yang membawa kemakmuran hasil alam, Blasting Sand Rock!"

Zaimokuza, rupanya ini ulahnya... apa yang sudah ia lakukan pada ayahku (versi semut)...? Terserah sajalah. Itu cuma seekor semut. Kutepuk kedua tanganku dan mulai memanjatkan sedikit doa.

Sementara itu, Zaimokuza tampak sedang terkesima dengan keberhasilan penyempurnaan teknik barunya, dan memutar raketnya berkali-kali sebelum menempatkannya di atas bahu sambil berpose. Rasanya seperti ia baru saja mendapat sejumlah EXP.

Terserah sajalah. Aku tak peduli soal Zaimokuza maupun semut itu.

...mungkin sebaiknya kuhabiskan saja waktu ini dengan melihat betapa manisnya tingkah Totsuka.

Sewaktu memikirkannya, kulihat Yuigahama ternyata sudah bangun, dan kini sedang disuruh-suruh oleh Yukinoshita untuk membawa keranjang bola ke sana kemari.

Ia bertugas mengambil bola dari keranjang, melempar bolanya ke sisi Totsuka, lalu Totsuka berusaha semampunya untuk mengembalikan bolanya.

"Yuigahama, tolong arahkan bolanya ke tempat yang lebih sulit lagi, seperti di sana atau di sana. Latihan macam tadi malah tak ada artinya."

Tampak berbeda dengan kalem dan tenangnya Yukinoshita, Totsuka terengah-engah sewaktu mengejar bola ke sisi garis lapangan maupun ke dekat net.

Yukinoshita memang sungguh-sungguh. Dan ia memang sungguh-sungguh gila.

...tidak, ia hanya sungguh-sungguh berusaha melatih Totsuka saja. Dan kuharap ia berhenti memandangiku... rasanya ngeri sekali. Apa ia memang bisa membaca pikiranku...?

Arah bola Yuigahama benar-benar acak (tak bermaksud menyinggung form-nya), dan setiap bola yang dilemparnya benar-benar ke arah yang tak bisa ditebak. Totsuka berlarian ke sana-sini dan berusaha mengembalikan bolanya, namun kira-kira pada bola kedua puluh ia jatuh ke tanah.

"Waduh, Sai, kau baik-baik saja?!"

Yuigahama berhenti melempar bola dan berlari ke arah net. Totsuka mengusap lututnya yang lecet, namun sebuah senyum menghiasi matanya yang berkaca-kaca itu dan berusaha menegaskan kalau ia baik-baik saja. Rekanku ini memang berjiwa kesatria.

"Tidak apa-apa, teruskan saja."

Akan tetapi, Yukinoshita tampak muram saat mendengarnya.

"Kau... masih masih mau lanjut?"

"Iya... kalian sudah mau repot-repot membantuku, jadi aku akan berusaha lebih keras lagi."

"...baiklah, kalau begitu. Yuigahama, kuserahkan sisanya padamu."

Saat mengatakannya, Yukinoshita berbalik dan dengan cepat menghilang ke arah gedung sekolah. Totsuka memandang kepergiannya dengan raut gelisah.

"Apa aku... sudah mengatakan sesuatu... yang membuatnya marah...?"

"Tidak, kok. Ia memang selalu seperti itu. Asalkan ia tak menyebutmu bodoh atau tak berbakat, berarti suasana hatinya masih sedang bagus."

"Bukannya cuma Hikki saja yang dikata-katai seperti itu?"

Padahal ia sendiri juga sering dikatai-katai begitu... cuma Yuigahama saja yang tidak sadar.

"Apa mungkin ia... sudah lelah menghadapiku...? Aku belum begitu berkembang, dan aku hanya bisa push-up sebanyak lima kali saja..."

Bahu Totuska terturun, dan ia menundukkan pandangannya ke tanah. Hmm... kurasa itu tak begitu berbeda dengan yang biasanya Yukinoshita lakukan...

Meskipun begitu...

"Kurasa bukan itu deh masalahnya. Yukinon enggak bakal menelantarkan orang yang minta bantuan padanya."

Ujar Yuigahama sambil memutar-mutar bola di tangannya.

"Yah, itu benar. Ia bahkan membantu Yuigahama dalam memasak. Jadi setidaknya kau masih punya harapan. Aku ragu Yukinoshita sudah menyerah padamu."

"Apa maksudmu tadi?!"

Yuigahama mengambil bola yang ia mainkan tadi lalu melemparkannya ke kepalaku. Bolanya tepat mengenai sasaran sampai menimbulkan bunyi dug!. Yang benar saja? Kontrol lemparannya tadi benar-benar bagus. Aku takkan terkejut kalau ia bakal masuk dalam daftar uji coba pemain inti.

Kuambil bola yang menggelinding di tanah itu lalu dengan pelan melemparkannya kembali ke arah Yuigahama.

"Ia pasti akan datang. Jadi, mau dilanjutkan?"

"...oke!"

Jawab Totsuka bersemangat, dan ia pun kembali berlatih

Setelahnya, untuk sementara tak terdengar lagi ada keluhan maupun tangis air mata.

Totsuka sedang berusaha semampunya.

"Uh, capek banget~~ Hikki, gantikan aku, dong."

Nyatanya, justru Yuigahama yang mulai mengeluh...

Yah, walau sebenarnya aku tak begitu berbuat banyak.

Satu-satunya pilihan bagiku kini hanyalah kembali mengamati semut-semut.

Namun semut-semut tersebut sudah dibantai Zaimokuza, makanya sekarang aku merasa bosan. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.

"Boleh. Ayo gantian."

"Hore~~ eh, sekadar info, saat bola keenam nanti, rasanya bakal membosankan, lo. Jadi siap-siap saja."

Bola keenam?! Cepat sekali. Seburuk itukah daya tahannya?

Sewaktu aku beranjak mengambil kumpulan bola dari Yuigahama, kulihat senyum yang terpampang di wajahnya tadi berubah menjadi suram dan sedikit samar.

"Wah, lihat! Ada yang main tenis!"

Aku berbalik mengahadap sumber suara riang itu, dan kulihat ada segerombolan anak dengan Hayama dan Miura sebagai pusatnya. Mereka berjalan menuju ke arah kami, dan sewaktu melewati Zaimokuza, mereka tampak menyadari keberadaanku dan Yuigahama.

"Eh... ada Yui..."

Ucap perempuan di sebelah Miura dengan suara pelan.

Miura sesaat memandang ke arahku dan Yuigahama sebelum mengabaikan kami lalu beralih pada Totsuka. (Tampaknya ia benar-benar tak menyadari keberadaan Zaimokuza.)

"Hei, Totsuka. Kami boleh ikutan main, enggak?"

"Miura, aku... tidak sedang bermain... aku sedang latihan..."

"Hah? Apa? Aku enggak dengar."

Ucapan Totsuka begitu pelan dan tampaknya Miura tak mendengarnya. Totsuka terdiam mendengar balasan Miura. Bagaimana tidak, jika seseorang bertanya padaku dengan cara seperti itu, aku pun pasti akan ikut terdiam. Perempuan itu benar-benar mengerikan.

Totsuka mengumpulkan sedikit keberanian yang masih dipunyainya dan mencoba menjawab kembali.

"A-aku sedang latihan..."

Tapi sang tuan putri tak tampak puas.

"Hmm... tapi kok, ada orang selain anggota Klub Tenis di sini? Jadi artinya, lapangan ini enggak disediakan khusus buat anak-anak Klub Tenis saja, 'kan?"

"Me-memang benar, sih... tapi..."

"Kalau begitu enggak masalah kalau kita ikut main di sini. Iya, 'kan?

"...tapi..."

Setelah mengatakannya, Totsuka tampak panik dan melihat ke arahku. Eh, aku?

Yah, kurasa memang tak ada lagi orang yang bisa ia andalkan. Yukinoshita sedang pergi entah ke mana, Yuigahama memalingkan pandangannya dengan wajah gelisah, dan tak ada yang memedulikan keberadaan Zaimokuza... jadi kurasa memang cuma aku.

"Oh, maaf, tapi Totsuka sudah meminta izin guru untuk memakai lapangan ini. Jadi orang lain tak boleh menggunakannya."

"Hah? Makanya tadi aku tanya, padahal kau bukan anggota Klub Tenis tapi kok boleh menggunakannya?"

"Ah, eng... soalnya kami di sini membantu Totsuka latihan. Yah, semacam tenaga kerja lepas begitu."

"Eh? Kau ini mengoceh apa? Menjijikkan, tahu."

Wuah, perempuan ini memang sama sekali tak punya niat mendengarkanku. Makanya aku benci perempuan bispak macam begini. Primata macam apa yang tak mengerti ucapan manusia? Anjing saja bisa mengerti. Ya, Tuhan.

"Sudah, sudah, jangan bertengkar."

Sela Hayama ingin menengahi.

"Bakal lebih seru kalau semuanya bisa ikut main. Begitu saja enggak apa-apa, 'kan?"

Kata-kata Hayama langsung mengusik pikiranku. Miura sudah mengokang senapannya dan Hayama yang menarik pelatuknya.

Yah, aku hanya perlu balas menembak saja.

"Semuanya... apa-apaan itu? Itu sama saja seperti saat kau merengek meminta sesuatu pada orang tuamu dan memakai alasan, Semuanya sudah punya, kok! Jadi siapa yang kaumaksud semuanya itu...? Aku jarang berteman, jadi aku tak terbiasa dengan kalimat itu..."

Itu adalah makna ganda antara kata tembak (撃つ) dan murung (鬱)! Sebuah kombinasi yang mengagumkan!

Bahkan Hayama sekalipun harus mengalah karenanya.

"Ah, eng... bukan begitu maksudku. Eng... maaf, deh. Kalau memang ada yang mau kaukatakan, bilang saja padaku."

Ucapnya ingin menenangkanku dengan begitu sigap.

Hayama memang orang yang baik. Aku hampir terharu dan hendak berterima kasih padanya.

Tapi...

Jika aku bisa tertolong karena simpati murahan macam itu, maka dari awal aku tak perlu ditolong. Jika permasalahanku bisa teratasi karena kata-kata barusan, berarti sebenarnya aku tak punya masalah.

"...Hayama, aku hargai kebaikanmu. Aku tahu betul kalau kepribadianmu memang bagus. Ditambah, kau pemain andalan Klub Sepakbola. Wajahmu pun cukup tampan, ya 'kan? Aku yakin kau cukup populer di kalangan anak perempuan!"

"Ke-kenapa kau berkata begitu...?"

Hayama jelas terguncang oleh sanjungan dadakanku. Bagus, bagus, biar ia puaskan dirinya sendiri.

Aku yakin Hayama tak tahu soal ini.

Apa alasan seseorang sampai bisa memuji orang lain? Itu karena semakin orang itu merasa tinggi, maka semakin keras jatuhnya.

Itulah yang disebut mati karena pujian.

"Kau begitu diberkati dan sangat bersinar, tapi kenapa masih saja mau merebut lapangan tenis ini dari kami yang tak punya apa-apa ini? Apa kau tak malu berbuat seperti itu?"

"Tepat sekali! Tuan Hayama! Yang kaulakukan itu benar-benar hina! Ini penjajahan! Tunggu pembalasanku!"

Tanpa diduga, Zaimokuza datang dan mulai melontarkan kata-kata heboh.

"Kalau mereka bersama, situasinya malah jadi dua kali lebih suram dan menyedihkan..."

Yuigahama lalu tertegun berdiri di sebelah kami. Dan Hayama menggaruk kepalanya sambil menghela napas.

"Hmm... yah, eng..."

Tanpa kusadari, seringai jahat terpampang di wajahku. Tepat sekali... Hayama bukanlah orang yang suka membuat gara-gara di sembarang tempat. Dan saat ini, di sembarang tempat itu ada dirinya, Zaimokuza, dan diriku. Disudutkan oleh suara mayoritas, Hayama tak punya pilihan selain merelakan tempat ini.

"Ayo, dong, Hayato~~"

Suara memelas terdengar dari sebelah kami.

"Sedang apa sih di sana? Aku mau main tenis, nih."

Dan anak bodoh berambut ikal itu pun datang. Apa ada yang salah dengan sel otaknya? Sial, harusnya ia menghargai orang bicara... jelas ia tipe orang yang sulit membedakan antara pedal gas dengan rem, ya' kan?

Tentu saja, Miura sudah menginjak pedal gas ketimbang rem.

Karena komentarnya tadi, Hayama jadi punya sedikit waktu untuk berpikir. Sedikit jeda barusan sudah cukup untuk menghidupkan mesin di otaknya.

"Hmm... baiklah, begini saja. Semua yang bukan anggota Klub Tenis akan bertanding. Dan yang menang, mulai dari sekarang boleh memakai lapangan ini selama istirahat makan siang. Tentu saja, yang menang akan membantu Totsuka berlatih. Pasti lebih bagus kalau ia berlatih dengan pemain yang lebih baik, ya 'kan? Jadi semua bisa sama-sama senang."

...ada apa dengan logika sempurna barusan? Apa ia seorang genius?

"Bertanding? ...wah, kedengarannya seru."

Miura tersenyum kejam layaknya Sang Ratu Api.

Dan semua pengikut mereka tampak begitu bersemangat oleh saran Hayama tadi.

Lalu, tersapu oleh panasnya pertarungan yang akan terjadi, di bawah hiruk-pikuk dan kekisruhan, kami pun melaju ke fase tiga dari pelatihan tenis ini.

Mungkin kalimat barusan terdengar agak terlalu keren. Intinya, kami mempertaruhkan lapangan tenis lewat sebuah pertandingan.

Kenapa malah jadi begini...?




6 tanggapan:

akhirnye updete jga arigatou dan gws gan ...

Akhirnya...!
Thankz gan....!
Di tunggu kelanjutannya...!!

yeee update #abisanepaksapenulisnya

Terima kasih kembali gan...
Sudah agak baikan juga nih...

Sama-sama gan...
Sudah ane lanjut tuh...

Oke...
Habis ini kita lanjut proyek galau...
Hkhkhkhk...

Posting Komentar