Oregairu Bab 5 Bagian 5

==========================================================
Ini bukan bagian penutup loh... Walau rasanya pas dijadikan penutup, tapi masih ada satu bagian lagi...
Kalau gak ada halangan, besok siang penutupnya sudah di-posting...
Betewe, karena akun FB ane dinonaktifkan, jadi fanpage blog ini pun ikut nonaktif...
Nanti sehabis Episode 2, eh bagian penutup bab ini di-posting, ane buatkan yang baru deh...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 5


Hampir seolah sedang mengikuti kelas persalinan, Zaimokuza berlatih pernapasan untuk menenangkan dirinya. Ia lalu bangkit dengan tungkai yang gemetar layaknya anak rusa yang baru lahir.

Setelah itu, Zaimokuza membersihkan debu yang ada tubuhnya dengan kedua tangan sambil melihat ke arahku.

"...apa kalian masih mau... membaca karyaku lagi?"

Aku tak percaya dengan yang kudengar. Aku terdiam, tanpa mampu memahami yang ia ucapkan. Ia mengulanginya kembali, tapi kali ini lebih jelas dan lebih keras terdengar.

"Maukah kalian membaca karyaku lagi?"

Ia memandang ke arahku dan ke arah Yukinoshita dengan penuh semangat.

"Kau ini..."

"Kau benar-benar masokhis, ya?"

Yuigahama sudah bersembunyi dalam bayanganku sambil menatap Zaimokuza dengan jijik. Tatapannya seolah berkata, Mati saja kau, maniak! Padahal Yuigahama sudah salah paham mengenai maksudnya.

"Setelah semua yang kaualami hari ini, kau masih mau melakukannya lagi?"

"Tentu saja. Kritikan-kritikan tadi memang cukup kejam. Mereka memang mau membuatku merasa ingin mati, merasa tak populer dan tak punya teman. Atau lebih tepatnya, mereka mau membuatku merasa ingin agar semua orang mati."

"Ya, aku mengerti maksudmu. Aku pun bakal merasa ingin mati kalau ada yang bicara sekejam itu padaku."

Namun Zaimokuza tak terlalu menanggapinya, dan masih berbicara dengan kami di sini.

"Biar begitu. Biarpun begitu, komentar-komentar tadi membuatku senang. Mengetahui bahwa karya yang kutulis karena hobi ini sampai dibaca dan dikritik oleh orang lain... jelas bukanlah sesuatu yang buruk. Sulit bagiku untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini... tapi mengetahui bahwa karyaku ini sampai dibaca oleh orang lain, itu jelas membuatku senang."

Sambil mengatakannya, Zaimokuza pun tersenyum.

Itu bukanlah senyum milik sang jenderal ahli pedang, melainkan sebuah senyum milik Yoshiteru Zaimokuza sendiri.

Ah... begitu rupanya.

Anak ini tak hanya mengidap chuunibyou. Ia juga mengidap sakkabyou (sindrom penulis) yang parah.

Ia ingin menulis karena ada yang ingin ia ceritakan. Lalu jika ia mampu menggerakkan hati seseorang lewat tulisannya itu, ia akan merasa senang. Karena itu ia akan terus menulis dan menulis kembali. Meski tak ada yang mengakui karyanya, ia akan terus menulis. Itulah yang kumaksud dengan sakkabyou.

Oleh karena itu, cuma ada satu cara untuk menanggapinya.

"Baiklah, akan kubaca nanti."

Tak mungkin aku bisa menolaknya. Lagi pula, ini merupakan fase terakhir dari keadaan mental Zaimokuza setelah ia bergumul dengan chuunibyou yang diidapnya selama ini. Meski orang-orang menganggapnya sakit, meski orang-orang memandang sinis dirinya, meski orang-orang mengabaikan ataupun mengejeknya, ia takkan pernah meyurutkan tekadnya, ia takkan pernah menyerah, dan ia akan terus berusaha membuat khayalannya itu agar menjadi kenyataan.

"Kalau novel baruku sudah selesai, akan kubawa kemari."

Setelah berkata demikian, Zaimokuza pun berbalik membelakangi kami, lalu melangkah keluar ruangan dengan anggunnya.

Pemandangan pintu yang tertutup di belakangnya itu sungguh tak enak dilihat.

Meskipun ia salah jalan atau menjadi pribadi yang kacau dan kekanak-kanakan, jika ia mampu mengekspresikan idenya, maka hal tersebut haruslah ia lakukan. Jika ia merasa ingin berubah hanya karena seseorang telah menolak idenya, berarti impiannya itu memang tak berharga, dan ia menolak menjadi dirinya sendiri. Karenanya, Zaimokuza tak perlu mengubah dirinya yang sekarang.

Yah, kecuali bagian menjijikkan dari kepribadiannya itu.



0 tanggapan:

Posting Komentar