Oregairu Bab 5 Bagian 4

==========================================================
Masuk ke bagian inti komedinya... Mudahan lucunya dapat... Amin...
Kalau ada yang belum tahu apa itu furigana... Silakan buka tautan ini...
Harusnya sih dari kemarin ini selesai, tapi karena manusia tempatnya lupa... Jadi...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 4


Ketika aku membuka pintu ruang klub, yang menyambutku adalah sebuah pemandangan langka dari Yukinoshita yang menundukkan kepala.

"Kerja bagus semalam."

Aku menegurnya tetapi Yukinoshita dengan nyamannya kembali tertidur, bahkan napasnya pun terdengar lembut. Wajahnya yang tampak hampir tersenyum itu sangat jauh berbeda dengan sikap tegas dan tak ramah yang biasanya ia perlihatkan, dan aku merasa jantungku berdetak lebih cepat saat melihat pemandangan tak biasa itu.

Aku hampir merasa bakal terus berdiam di sini dan selamanya menyaksikan ia tertidur. Melihat rambut hitamnya berayun ke sana kemari dengan lembut, melihat kulit putihnya yang halus dan berseri, melihat mata bulatnya yang berkaca-kaca, melihat bibir berwarna merah mudanya yang elok...

Bibirnya sedikit bergerak.

"...aku terkejut. Begitu melihat wajahmu, rasa kantukku langsung hilang."

Wuah... rasanya aku baru saja tersadar. Hampir saja aku lepas kendali setelah terpedaya penampilan cantiknya tadi. Serius, aku lebih senang kalau disuruh membuat gadis ini agar tertidur selamanya.

Yukinoshita menguap seperti anak kucing, lalu merenggangkan kedua tangannya di atas kepala.

"Kelihatannya tadi malam kau juga sudah berjuang keras, ya?"

"Iya, sudah lama aku tak mengerjakan sesuatu sampai semalam suntuk begini. Lagi pula, aku sama sekali tak pernah membaca yang seperti ini... rasanya aku tak terlalu bisa menangani hal yang semacam ini."

"Betul. Aku juga agak kesulitan."

"Kau sama sekali tak membacanya. Jadi baca dulu sana!"

Menanggapi ucapanku, Yuigahama mengerang marah dan dengan ragu-ragu mengeluarkan manuskrip dari dalam tasnya. Tak satu pun bekas lipatan terlihat pada salinan yang dipegangnya; itu masih dalam kondisi bagus. Yuigahama lalu mulai membalik tiap lembar halaman manuskripnya itu dengan begitu cepat.

Ia tampak jenuh sekali sewaktu membacanya... kupandangi Yuigahama dan mulai berbicara.

"Tak semua light novel sama seperti yang dibuat Zaimokuza itu. Ada lumayan banyak yang bagus untuk dibaca."

Aku mengatakannya dengan penuh kesadaran tanpa maksud menolong Zaimokuza. Yukinoshita memiringkan kepalanya dan bertanya padaku.

"Maksudmu, seperti yang belakangan ini sering kaubaca di ruang klub?"

"Betul, salah satunya itu. Coba saja baca Gaga—"

"Lain kali saja kalau ada waktu."

Aku merasa peraturan orang yang takkan mau membacanya benar-benar berlaku di sini. Di saat yang sama, aku mendengar suara ketukan yang keras pada pintu ruang klub.

"Ini orang yang memohon bantuanmu tempo hari..."

Zaimokuza lagi-lagi berbicara dengan gaya zaman kerajaan, lalu ia pun masuk ke dalam ruangan.

"Baiklah, mari dengarkan seperti apa kesan kalian."

Zaimokuza mendudukkan dirinya ke kursi lalu menyilangkan kedua lengannya dengan angkuh. Tampak di wajahnya semacam rasa superior yang entah dari mana asalnya. Sebuah ekspresi yang dipenuhi rasa percaya diri.

Meski duduk berseberangan dengan Zaimokuza, Yukinoshita justru menampakkan ekspresi menyesal yang tak biasanya ia perlihatkan.

"Maaf. Aku tak begitu paham mengenai hal semacam ini, tapi..."

Yukinoshita memulai pembicaraan dengan kalimat itu, namun Zaimokuza menanggapinya dengan kalem.

"Tak masalah. Bahkan orang sepertiku ini terkadang ingin mendengarkan pendapat rakyat jelata. Ungkapkan saja."

"Begitu." Tanggap Yukinoshita singkat. Ia lalu menarik napas dalam-dalam dan bersiap untuk menjelaskan.

"Terasa membosankan. Jujur, membacanya hampir membuatku tersiksa. Ini lebih membosankan dari yang kubayangkan."

"Oofgh!"

Zaimokuza tumbang dalam sekali serang...

Kursinya berderak sewaktu dirinya rebah ke belakang, tapi Zaimokuza berhasil menjaga keseimbangannya dan kembali duduk dengan tegak.

"H-hmm... baiklah, untuk referensiku, bisa kau beri tahu bagian mana yang membosankan?"

"Pertama, tata bahasanya kacau. Kenapa kau sering sekali membolak-balik urutan kalimatnya? Apa kau tak tahu cara menggunakan partikel? Apa gurumu tak mengajari hal tersebut saat kau SD?"

"Heng... kupikir gaya tersebut akan lebih bisa membawa para pembaca masuk ke dalam cerita..."

"Bukankah kau seharusnya memikirkan hal itu setelah mampu menulis dengan standar tata bahasa Jepang yang benar? Lagi pula, kau sering sekali keliru menggunakan furigana. Di sini kau menulis kanji nouryoku (kemampuan) tapi furigana-nya tertulis chikara (kekuatan)... tak seorang pun mengeja seperti itu. Dan juga, di sini kau menulis Genkou Hasen yang harfiahnya berarti Tebasan Hantu Merah Darah, tapi kau justru menulis furigana Penebas Mimpi Buruk Berdarah di atasnya. Dari mana asalnya kata Mimpi Buruk tadi?"

"Ufgh! O-ooo... kau salah paham! Belakangan ini, semua novel aksi supernatural memang sering menggunakan banyak furigana..."

"Kau melakukan ini sesuai dengan seleramu saja. Hal seperti ini takkan mampu membuat siapa pun mengerti. Apa kau benar-benar ingin agar orang lain membaca karyamu ini? Jujur, kalau kau ingin agar orang lain membacanya, kau harus membuat cerita ini supaya sedikit sulit ditebak. Aku bisa memprediksi yang akan terjadi pada cerita khayalan macam ini dan tak ada tanda-tanda ceritanya akan jadi lebih menarik. Dan juga, kenapa tokoh utama perempuannya sampai melepas pakaian di sini? Sama sekali tak ada gunanya."

"Heng...! Ta-tapi novel yang tak memasukkan unsur semacam itu, tak bakal laku... jadi mau tak mau harus... begitu..."

"Ditambah, narasinya juga terlalu panjang, begitu banyak kanji yang berbelit, sehingga sulit sekali untuk dibaca. Dan juga, jangan membuat orang lain membaca cerita yang belum selesai. Sebelum lebih jauh membahas soal gaya penulisan, mungkin kau harus memakai akal sehat terlebih dahulu."

"Pnnghyahhh!!"

Tungkai Zaimokuza pun menegang dan ia sampai membuat suara pekikan. Bahunya mengejang dan matanya kosong menatap ke langit-langit. Reaksi berlebihannya tadi sudah cukup mengganggu, ia harus segera menghentikan tindakannya itu...

"Kita hentikan saja dulu. Bisa gawat kalau kau melakukan semua itu dalam sekali duduk."

"Padahal masih banyak yang ingin kukatakan... tapi, ya sudahlah. Kurasa berikutnya giliran Yuigahama."

"Eh? A-aku?!"

Yuigahama tampak terkejut, dan Zaimokuza menatapnya dengan tampang memelas. Mata anak itu sudah berkaca-kaca. Mungkin Yuigahama sadar dan merasa kasihan dengan lelaki malang ini, jadi ia kelihatan berusaha memikirkan semacam pujian untuk menghiburnya. Ia termenung selagi memandang ke atas lalu memberanikan diri mengucapkan beberapa kata.

"E-eng... ba-banyak juga kata-kata sulitnya, ya..."

"Uwaaagghhhh!!"



"Kau benar-benar menghabisinya..."

Bagi seorang novelis ambisius, komentar tersebut sama saja seperti penolakan. Lagi pula, jika dipikir baik-baik... cuma itu saja satu-satunya hal bagus yang ada di novel Zaimokuza. Itu kalimat yang wajar diucapkan oleh orang-orang yang tak begitu mengenal light novel saat mereka dimintai pendapat oleh sang penulis. Dan itu benar-benar tak ada bedanya dengan berkata bahwa karya tersebut sama sekali tak menarik.

"Ba-baiklah... Hikki, silakan."

Yuigahama terlihat seolah ingin melarikan diri sewaktu ia berdiri dan menawariku untuk duduk di kursinya. Aku pun duduk menghadap Zaimokuza lalu Yuigahama mengambil kursi lain dan duduk di samping belakangku.

Tampaknya ia tak mampu lebih lama lagi menghadapi langsung Zaimokuza yang sudah pucat tak berdaya itu.

"G-gnnghh.. Ha-Hachiman. Kau mengerti diriku, 'kan? Dunia yang kuciptakan, pemandangan amat luas dari keagungan light novel ini... kau mengerti itu, 'kan? Kau mengerti cerita mendalam yang kuputarbalikkan ini agar mereka yang bodoh tak bakal berusaha menghargainya... 'kan?"

Ya... aku mengerti betul dirinya.

Dengan meyakinkan kuanggukkan kepala ini. Zaimokuza lalu menatapku dengan tatapan penuh percaya.

Kurasa sebagai lelaki aku harus menjawabnya dengan jujur. Kutarik napas dalam-dalam dan berkata dengan ramah.

"Jadi... ini kaujiplak dari mana?"

"Hnghh?! B-bngghh... *glup, glup*"

Zaimokuza menggeliat ke sana kemari di lantai, lalu berhenti setelah menabrak tembok. Kemudian ia terbaring di sana, tanpa bergerak sedikit pun. Tatapan kosongnya tertuju ke langit-langit, dan linangan air mata mulai mengalir turun ke pipinya. Itu adalah pemandangan dari seorang pria yang sudah siap untuk mati.

"...kau memang tak kenal ampun. Itu jelas lebih kejam dari pendapatku tadi."

Yukinoshita tampak benar-benar terkejut.

"...hei..."

Yuigahama menyenggolkan sikutnya padaku. Terlihat kalau ia ingin agar aku lanjut berbicara. Tapi apa yang harus kukatakan...? Sewaktu berusaha memikirkannya, kusadari kalau aku telah lupa menyebutkan salah satu dasar terpenting yang berhubungan dengan light novel.

"Yah, yang penting itu ilustrasinya. Tak usah terlalu cemas soal penulisannya."



4 tanggapan:

Jikakakakakak
walau udah nonton animenya tapi tetep seru buat dibaca XD

makasih gan, lanjut terus

Makasih gan, akhir-akhir ini postingnya agak cepat yah? Hahaha tetap konsisten yah... :D

Sama-sama gan... Syukur deh komedinya dapat...
Lanjutannya sudah ane posting, gan...

Sama-sama gan...
Yah, mumpung lagi gak begitu sibuk dengan kehidupan nyata, gan...
Doakan aja semoga lancar... Hkhkhk...

Posting Komentar