Oregairu Bab 5 Bagian 2

==========================================================
Terlalu banyak hal yang terjadi di RL selama pengerjaan Bagian 2 ini...
Mulai dari kerjaan yang gak habis-habis, kehidupan di masyarakat, sampai kondisi kesehatan yang benar-benar drop...
Jadi tolong maklumi ane, kalau curhat di sini, ya... Hkhkhk...
Kalau belum ada yang tahu siapa itu Kaori... Dia itu perempuan yang pernah ditembak Hachiman sewaktu SMP... Kaori Orimoto sekarang juga lagi jadi bahan perbincangan di forum, loh... Semenjak di Jilid 8, dia jadi tokoh yang punya peran tersendiri sampai di Jilid 9 yang terakhir rilis ini... Mau lebih lengkap infonya, silakan ke forum, atau kalau mau lebih capek, baca lengkap light novelnya di Baka-Tsuki...
Dan seperti yang penah ane bilang, di bab ini mulai bermuculan komedinya...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 2


Keesokan harinya, ketika menuju ke ruang klub, aku terkejut melihat Yukinoshita dan Yuigahama sedang berdiri menghadap ke arah pintu. Aku jadi penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Saat aku mengira-ngira alasannya, ternyata pintu itu sedikit terbuka dan mereka sedang mengintip ke dalam.

"Kalian sedang apa?"

"Hyaaah!"

Terdengarlah jeritan menggemaskan itu, dan di saat bersamaan dua perempuan tersebut melompat kaget.

"Hikigaya... kau membuatku kaget..."

"Akulah yang harusnya kaget..."

Reaksi macam apa itu? Itu mengingatkanku tentang hal yang bakal terjadi kalau aku menjumpai kucing peliharaanku di ruang tamu saat tengah malam.

"Bisakah kau agar tidak tiba-tiba memanggil kami seperti itu?"

Tatapan jengkel Yukinoshita yang ditujukan padaku itu pun kian mengingatkanku akan kucing peliharaanku. Kini aku jadi terpikir, kucing tersebut begitu ramah terhadap semua orang di keluargaku terkecuali aku. Itu juga salah satu hal dari diri Yukinoshita yang mengingatkanku pada hewan tersebut.

"Iya, iya, maaf. Jadi, kalian ini sedang apa?"

Yuigahama sekali lagi menggeser pintu ruangan klub dan diam-diam mengintip ke dalam. Ia orang yang menjawabku ketika kusodorkan pertanyaan tadi.

"Di dalam ada orang yang mencurigakan."

"Yang mencurigakan itu malah kalian berdua."

"Cukup sampai di situ. Bisakah kau berbaik hati masuk ke dalam dan menanyakan siapa dirinya?"

Yukinoshita menyuruhku dengan wajah tersinggung.

Kulakukan saja apa yang sudah diminta, berdiri di depan kedua gadis tersebut dan dengan hati-hati membuka pintu. Aku lalu melangkah masuk.

Yang menanti kami adalah hembusan angin.

Sewaktu aku membuka pintu, semilir angin melewati kami. Itu adalah ciri khas angin dari sekolah yang dibangun di daerah sekitar laut, dan angin tersebut membuat pusaran di sekeliling ruang klub, menghamburkan kertas-kertas.

Pemandangan itu mengingatkanku akan sebuah trik sulap di mana merpati-merpati putih keluar dari topi sang pesulap. Dan di tengah-tengah hal tersebut, berdirilah sosok seseorang.

"Ku ku ku, sungguh tak disangka kita akan bertemu di tempat seperti ini. Telah lama aku menantimu, Hachiman Hikigaya."

"Ka-kau ini bicara apa?!"

Ia sudah menantikan diriku, dan ia masih saja tak menyangkanya...? Maksudnya itu apa, sih? Harusnya yang tak menyangka bakal ada kejadian begini itu aku.

Kupaksa berjalan melewati pusaran kertas-kertas agar bisa melihat jelas siapa lawan bicaraku.

Dan pada akhirnya, sosok tersebut ternyata... oh, tidak, lupakan saja. Aku tak punya urusan dengan Yoshiteru Zaimokuza.

Terserah, deh, aku memang tak punya urusan dengan kebanyakan orang di sekolah ini. Tapi di antara mereka, anak ini adalah orang yang benar-benar tak ada urusannya denganku. Maksudku, lihat saja dirinya. Padahal tak sedang di musim panas, tapi ia malah berkeringat karena memakai mantel dan sarung tangan fingerless-nya.

Meski mengenalnya, aku akan berpura-pura saja kalau tidak tahu.

"Hikigaya, sepertinya anak yang di sana itu mengenalmu..."

Yukinoshita sudah bersembunyi di belakangku, dan bolak-balik memandang curiga pada diriku serta anak yang di sana itu. Zaimokuza meringkuk sesaat di hadapan tatapan menyindir perempuan tersebut, tapi ia segera kembali mengarahkan pandangannya padaku, menyilangkan lengannya dan sekali lagi mulai tertawa dengan suara rendah.

Dengan gerakan yang dilebih-lebihkan, ia mulai mengangkat bahu dan perlahan menggelengkan kepalanya.

"Sungguh kejam... kau sampai bisa melupakan rekan lamamu, Hachiman."

"Barusan ia menyebutmu rekan lama..."

Yuigahama menatapku dingin. Tatapannya seakan ingin berkata, Mati saja kau sana, Sampah!

"Itu sudah jelas, Rekan Lama. Kau masih mengingatnya, bukan? Bagaimana saat kita dengan gagah berani menghadapi masa-masa mengerikan itu bersama..."

"Orang-orang membuat kami berpasangan saat pelajaran Olahraga. Itu saja..."

Aku sudah tak tahan lagi hingga melontarkan bantahan tersebut, yang membuat Zaimokuza sampai menyengir.

"Hem... kejamnya sistem pilah-pilih tak lain hanyalah sebuah neraka. Mereka bilang kita boleh berpasangan dengan siapa pun sesuka kita. Ku ku ku, seolah aku punya hasrat untuk menjalani pertemanan dengan raga fana ini! ...seolah aku pernah berniat mengalami perpisahan yang akan menyakiti raga tersebut! Jika itu adalah cinta, maka aku tak membutuhkannya!"

Ia memandang jauh ke arah luar jendela. Pasti ada semacam bayangan seorang tuan putri yang jelita yang melayang-layang di langit kosong di sana. Atau mungkin saja semua orang sudah terlalu menggemari seri Hokuto no Ken.

Yah, karena sudah sejauh ini, kita mungkin bisa bilang kalau anak ini begitu menggebu-gebu. Kita mungkin bisa bilang kalau ia adalah salah satu dari orang-orang itu.

"Kau mau apa, Zaimokuza?"

"Heng... rupanya kau sudah menyebut nama yang terukir di jiwaku ini. Betul sekali, akulah sang jenderal ahli pedang, Yoshiteru Zaimokuza."

Dengan mencolok ia kibarkan mantelnya, sambil memasang ekspresi heroik di wajah tambunnya sewaktu memandang balik ke arah kami. Tampaknya ia sudah terlalu menghayati peran jendral ahli pedang ciptaannya itu.

Hanya dengan melihatnya sudah membuat sakit kepalaku.

Atau bisa kubilang, hatikulah yang sebenarnya terasa sakit. Yang lebih penting lagi, tatapan yang datangnya dari Yukinoshita dan Yuigahama kepadaku ini justru terasa lebih menyakitkan.

"Hei... sebenarnya yang tadi itu maksudnya apa?"

Terlihat jelas kalau Yuigahama sedang merasa terganggu... atau bisa kubilang merasa jengkel... dan ia mengarahkan pandangannya ke arahku. Benar-benar, deh, maksudnya itu apa, sampai ia memandang ke arahku segala?

"Nama anak ini Yoshiteru Zaimokuza... kami dulu pernah jadi rekan saat pelajaran Olahraga."

Sebenarnya, cuma sampai di situ saja, sih. Hubunganku dengan Zaimokuza tak pernah lebih dari itu... meski, tak sepenuhnya salah jika berkata, kalau kami pernah jadi rekan yang sama-sama tak dibolehkan menjalani hidup damai selama masa-masa mengerikan itu.

Rasanya memang seperti di neraka saat disuruh memilih siapa pasangan kita. Serius.

Zaimokuza juga merasakan perih yang sama dan ia pun mengerti betapa mengerikannya masa-masa itu.

Semenjak pertama kali mengikuti pelajaran Olahraga di mana Zaimokuza dan diriku berpasangan dikarenakan hanya kami saja yang tak dipilih, kami selalu bersama-sama. Sejujurnya, aku sangat ingin menjual pengidap chuunibyou tambun ini ke salah satu tim lain, tapi itu tak bisa kulakukan, jadi aku pun menyerah. Aku juga pernah menyatakan diriku ini sebagai agen lepas, namun sayang, jika ada orang yang mau menggunakan jasaku, orang tersebut takkan mampu menyewaku karena mahalnya upahku. Baiklah, kuakui kalau yang tadi itu bohong, alasan sebenarnya hanya karena aku dan Zaimokuza saja yang tak punya teman.

Selagi Yukinoshita memerhatikan penjelasanku, ia memandang bolak-balik ke arahku dan ke arah Zaimokuza. Setelahnya, ia pun terlihat puas seraya mengangguk.

"Orang sejenis pasti saling berkumpul, ya 'kan?"

Tentu saja ia langsung memberi kesimpulan yang sangat kejam.

"Dasar bodoh, jangan hubung-hubungkan aku dengannya. Aku tak sampai setersesat itu. Dan yang pasti, kami ini bukan teman, sialan."

"Hmm... aku pun harus bilang setuju. Betul sekali, aku memang tak punya teman... aku memang sendirian. (hik)"

Zaimokuza berbicara dengan nada tersedu yang dibuat-buat. Eh, tapi, ia sudah kembali lagi ke ekspresinya yang biasa.

"Yah, kurasa itu bukan masalah. Lagi pula, kelihatannya ada sesuatu yang temanmu inginkan darimu."

Mendengar Yukinoshita berkata begitu hampir membuatku terharu. Semenjak SMP, tak pernah aku seterharu ini sewaktu mendengar kata teman...

Tak pernah aku seterharu ini semenjak Kaori mengatakannya sewaktu SMP... Aku memang senang denganmu dan kau juga orang yang baik, tapi kalau diajak pacaran, rasanya agak... kita berteman saja, ya? Aku benar-benar tak butuh teman yang seperti itu...

"Muwahaha, aku jadi benar-benar lupa. Omong-omong, Hachiman. Ini Klub Layanan Sosial, bukan?"

Zaimokuza telah kembali ke karakternya, tertawa aneh sambil menatapku.

Untuk apa sebenarnya ia tertawa tadi? Baru pertama kali kudengar hal yang seperti itu.

"Ya, ini memang Klub Layanan Sosial."

Yukinoshita menjawabnya menggantikanku. Ketika ia melakukannya, pandangan Zaimokuza sesaat tertuju ke arahnya kemudian segera kembali ke arahku. Kenapa ia harus melihat ke arahku segala?

"...be-begitukah? Jika saran dari Bu Hiratsuka ternyata benar, maka kau berkewajiban mengabulkan permintaanku, benar bukan? Jika mengingat kembali ratusan tahun yang kauabdikan sebagai pelayanku... pastinya ini perbuatan Sang Bodhisatwa Agung Hachiman."

"Bukan berarti Klub Layanan Sosial bisa mengabulkan permintaanmu... kami hanya membantumu mewujudkannya."

"...he-hem... kalau begitu, Hachiman, ulurkanlah tanganmu. Fu, fu, fu... kini aku merasa kalau kita setara. Kau merasakannya juga, bukan? Setara sama seperti ketika Kehendak Lampau ingin menaklukan segala yang bernaung di bawah langit!"

"Lalu apa yang terjadi pada malaikat pelayan tadi? Lagi pula, kenapa kau cuma melihat ke arahku?"

"Goram, goram! Hal sepele semacam itu tak begitu punya arti di hadapan kita! Aku akan membuat pengecualian untuk kasus ini."

Zaimokuza berdeham dengan cara yang sangat konyol, mungkin ia berusaha menutupi salah bicaranya. Lalu tentu saja, ia kembali menatap ke arahku.

"Aku minta maaf. Jika dibandingkan masa lalu, tampaknya hati para pria telah dikotori di masa kini. Oh, betapa aku merindukan masa-masa suci sewaktu Era Muromachi... tidakkah kau ikut merasakannya, Hachiman?"

"Jelas tidak. Sudahlah, mati saja sana."

"Ku, ku, ku... seolah kematian bisa membuatku takut. Itu hanya memberikanku sebuah dunia baru untuk kutaklukan!"

Zaimokuza mengangkat tangannya ke atas, mantelnya berkibar dihembus angin.

Ia benar-benar menanggapi orang yang menyuruhnya mati...

Aku pun begitu... menurutku ketika kita sudah terbiasa dihina maupun dilecehkan, kita bakal punya sanggahan bagus untuk membalas hal tersebut. Keahlian yang rasanya begitu memilukan... sampai-sampai bisa membuatku menangis.

"Uwaaah..."

Yuigahama tampak benar-benar syok. Bahkan wajahnya agak terlihat pucat saat melihatku.

"Hikigaya, bisa aku bicara denganmu sebentar...?"

Setelah berkata begitu, Yukinoshita lalu menarik lenganku dan berbisik di telingaku.

"Ada apa sebenarnya ini? Ada apa dengan si jenderal ahli pedang atau apalah namanya itu?"

Wajah manis Yukinoshita begitu dekat dengan wajahku dan turut menyibakkan aroma yang mengenakkan, namun suara yang dibisikkannya tak sedikit pun mengandung rayuan.

Menghadapi itu, aku merasa jika satu kalimat saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Itu chuunibyou. Cuma chuunibyou."

"Chuu-ni-byou?"

Yukinoshita memandangku sambil memiringkan kepalanya. Aku jadi memerhatikannya, tapi ketika para perempuan melafalkan kata chuu, bibir mereka terlihat begitu menggemaskan. Hal yang begitu langka dijumpai.

Yuigahama juga ikut mendengarkan perbincangan kami, dan ia pun bergabung di dalamnya.

"Itu semacam penyakit, ya?"

"Sebenarnya itu bukan penyakit sungguhan. Yah, itu semacam pelesetan saja."

Intinya, chuunibyou mengacu pada rangkaian perilaku memalukan yang cenderung terlihat di kalangan anak SMP.

Bahkan di antara kalangan tersebut, Zaimokuza menjadi salah satu kasus chuunibyou yang terparah, hingga ia pantas menyandang gelar Sang Mata Iblis.

Orang-orang semacam ini berpikir bahwa mereka punya kemampuan maupun kekuatan aneh yang sama yang biasanya ada di berbagai manga, anime dan game. Mereka pun bertingkah seakan mereka memang memiliki kemampuan tersebut. Dan pastinya, karena hal yang demikian itu, mereka jadi mengarang bermacam cerita supaya kemampuan tersebut bisa diterima nalar. Itu sebabnya mereka sering berpura-pura menjadi reinkarnasi salah seorang kesatria legendaris, atau manusia pilihan dewa, ataupun agen rahasia. Dan mereka pun bertindak sesuai dengan latar belakang cerita yang diceritakannya tadi.

Kenapa mereka sampai berbuat seperti itu?

Karena hal tersebut tampak keren.

Terserah, deh, kurasa setiap orang yang pernah melalui masa SMP, setidaknya pernah sekali berpikir begitu di dalam hidupnya. Kurasa di satu titik, setiap orang pernah berdiri di hadapan cermin dan mengatakan hal semacam, Selamat malam para pemirsa setia countdown TV. Eng... kali ini kami punya lagu baru yang bercerita tentang cinta, dan saya sendiri yang menulis liriknya...

Dengan kata lain, chuunibyou adalah contoh ekstrim dari hal tersebut.

Lewat ucapanku tadi, aku telah menjelaskan secara singkat apa itu chuunibyou, dan Yukinoshita kelihatan puas atas jawabanku. Sering sekali aku memikirkan hal ini, tapi aku selalu kagum akan betapa cepatnya perempuan ini berubah pikiran. Baru sebentar saja aku menjelaskan sebuah hal dan ia sudah sepuluh langkah di depanku, biarpun begitu, ia tak pernah membutuhkan penjelasan panjang kalau ia belum mengerti betul situasinya.

"Aku enggak mengerti maksudnya..."

Berbeda sekali dengan Yukinoshita, Yuigahama tampak tak begitu senang dan bergumam tak jelas. Kalau boleh jujur, aku juga bakal tak mengerti andai disuruh mendengarkan penjelasanku sendiri. Sebenarnya, Yukinoshita-lah yang aneh karena bisa mengerti hal semacam tadi.

"Hmm... jadi itu seperti menggunakan latar belakang cerita rekaan kemudian bertingkah sesuai dengan hal tersebut, begitu?"

"Yah, semacam itulah. Dalam kasus anak ini, ia menggunakan sosok Yoshiteru Ashikaga, shogun ketiga belas dari ke-shogun-an Muromachi sebagai jati dirinya. Mungkin itu lebih mudah karena mereka punya nama yang sama."

"Lalu kenapa ia menganggapmu sebagai rekannya?"

"Nama Hachiman itu mungkin diambil dari Bodhisatwa Agung Hachiman, di mana Seiwa Genji begitu taat memuja dirinya sebagai dewa perang. Kalian pasti pernah mendengar Kuil Tsurugaoka Hachiman, bukan?"

Setelah aku menanggapinya, Yukinoshita langsung diam membisu. Apa ada yang salah? Aku memasang wajah bertanya-tanya di hadapannya, dan kulihat ia sudah menatap ke arahku dengan mata terbelalak.

"Aku terkejut. Rupanya kau tahu banyak."

"...yah, begitulah."

Kenangan tak menyenangkan mulai mencuat di pikiranku, jadi kupalingkan saja kepala ini. Lalu kuambil kesempatan tersebut untuk mengganti topik pembicaraan.

"Memang menjengkelkan mendengar Zaimokuza mengoceh macam-macam soal sejarah, tapi setidaknya, ia menggunakan karakter yang ada di sejarah kehidupan nyata sebagai jati dirinya."

Mendengar itu, Yukinoshita sekilas menatap Zaimokuza lalu bertanya padaku dengan wajah yang tak mengenakkan.

"...jadi maksudmu, masih ada lagi yang lebih parah dari itu?"

"Benar."

"Hanya ingin tahu saja, contohnya seperti apa?"

"Pada mulanya, di dunia ini berdiamlah tujuh dewa. Di antaranya tiga dewa penciptaan: Garin Sang Kaisar Bijak, Mythica Sang Dewi Pejuang, dan Heartia Sang Pelindung Para Jiwa. Lalu tiga dewa kehancuran: Ortho Sang Raja Para Orang Bodoh, Rogue Sang Kuil Yang Hilang, dan Lailai Sang Dewa Prasangka Palsu. Serta Dewa Ketiadaan Abadi yang tak bernama. Di awal zaman, ketujuh dewa tersebut berulang kali membawa kemakmuran juga kehancuran bagi dunia. Kini dunia telah melalui pengulangan untuk keenam kalinya, dan kali ini pemerintah Jepang berusaha mencegah kehancuran dunia dengan cara menemukan wujud reinkarnasi dari dewa-dewa tersebut. Di antara ketujuh dewa itu, yang paling diistimewakan ialah Dewa Ketiadaan Abadi yang tak bernama, di mana kekuatan dewa tersebut masih belum sepenuhnya dipahami, dan aku, Hiki— wuaaah... kau pandai sekali membuat pertanyaan menjebak! Hahaha, aku benar-benar syok. Kau hampir membuatku membeberkan segalanya tadi!"

"Tapi aku sama sekali tak berniat menjebakmu..."

"Menjijikkan..."

"Yuigahama, hati-hati dengan ucapanmu. Tak menutup kemungkinan suatu hari nanti kau tanpa sengaja membunuh dirimu sendiri."

Yukinoshita berdesah kesal, kemudian kembali bolak-balik menatap ke arahku dan ke arah Zaimokuza sebelum lanjut berbicara.

"Dengan kata lain, Hikigaya ternyata ada di golongan yang sama dengan anak yang di sana itu. Makanya ia tahu banyak ketika menyinggung soal jenderal ahli pedang atau apalah sebutannya tadi."

"Bukan, bukan, bukan, kau ini bicara apa, Yukinoshita? Jelas-jelas itu keliru. Jelas ada alasan tersendiri kenapa aku sampai tahu banyak... itu karena aku mengikuti pelajaran Sejarah Jepang. Itu karena aku memainkan game Nobunaga no Yabou. Begitu."

"E-eh..."

Yukinoshita menatapku penuh keraguan. Tepatnya, aku seperti tetap dijadikan tersangka sampai ada bukti kalau aku tak bersalah.

Yang jelas aku tak berusaha mengelak. Karena aku tak sama dengan Zaimokuza. Kutatap balik Yukinoshita dengan penuh percaya diri. Karena yang dikatakannya itu tidaklah benar.

Sudah pasti aku tak sama dengan Zaimokuza... lagi.

Nama Hachiman memang langka. Karenanya, ada saat di mana sewaktu masa kecilku aku sempat bertanya-tanya, apakah aku ini sebuah keberadaan yang istimewa. Dan sebagai bocah yang juga menggemari anime dan manga, maka wajar kalau aku pernah terjebak dalam khayalan semacam itu.

Sambil berbaring di atas futon, aku bisa membayangkan ada sebuah kekuatan hebat yang bersemayam di dalam diriku, dan suatu hari nanti, kekuatan tersebut tiba-tiba akan bangkit dan aku pun terlibat dalam pertempuran yang mempertaruhkan nasib dunia. Demi mempersiapkan datangnya hari itu, aku bahkan menyimpan sebuah buku harian dunia roh dan tiap tiga bulannya, akan kutulis laporan yang ditujukan untuk pemerintah. Semua orang pernah melakukan itu, 'kan? ...mereka pasti pernah, 'kan...?

"...yah, bagaimana menjelaskannya, ya...? Mungkin di masa lalu kami ini sama, tapi untuk sekarang kami berbeda."

"Hm... begitu, ya..."

Yukinoshita tersenyum mengejek ke arahku kemudian berjalan mendekati Zaimokuza.

Sewaktu kupandangi punggungnya yang kian menjauh itu, sebuah pikiran mendadak terlitas di benakku.

Apa aku yang sekarang sudah benar-benar berbeda dibanding Zaimokuza?

Jawabannya jelas, Iya.

Aku tak lagi mengkhayalkan hal-hal konyol, dan tak lagi menulis buku harian dunia roh maupun laporan pemerintah. Satu-satunya yang belakangan ini masih kutulis dalam ingatanku yakni Daftar Orang-Orang Yang Takkan Kumaafkan. Tentu saja, orang pertama dalam daftar itu ialah Yukinoshita.

Aku tak lagi memainkan model plastik Gundam sambil membuat efek suara dengan mulutku sendiri, dan aku tak lagi bermain-main dengan jepitan baju untuk menciptakan sosok robot terkuat. Aku pun sudah tak lagi menggunakan karet gelang serta kertas alumunium sebagai senjata pertahanan diri. Aku juga sudah berhenti mencoba ber-cosplay dengan mantel ayahku serta syal berbulu milik ibuku.

Aku jelas berbeda dibanding Zaimokuza.

Seiring waktu, akhirnya aku berhasil mengatasi kebimbanganku dan mencapai kesimpulan tersebut, Yukinoshita sendiri telah berdiri tepat di depan Zaimokuza. Yuigahama lalu berbisik dengan keras, "Yukinon, cepat menjauh!" Oh, lelaki yang malang...

"Kurasa aku mengerti. Kau kemari agar kami bisa membantumu menyembuhkan penyakit ini, benar begitu?"

"...Hachiman. Aku bergabung denganmu di tempat ini agar bisa mengetahui apa kau akan patuh pada perjanjian dan tetap mengabulkan keinginan kita. Itu tak lain hanyalah hasrat angkuh semata."

Zaimokuza mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita dan menatap ke arahku. Ia benar-benar mengganti kata ganti orang pertama dengan kata kita pada kalimat barusan... memangnya selinglung apa, sih, anak ini?

Kemudian aku pun menyadari sesuatu. Anak ini... setiap kali ia bicara menghadap Yukinoshita, ia pasti segera berbalik menghadap ke arahku.

Yah, bukan berarti kalau aku tak punya simpati. Sebelum aku tahu seperti apa sosok asli Yukinoshita, aku pun sering merasa gugup dan tak bisa menatap langsung wajahnya setiap kali ia bicara padaku.

Namun Yukinoshita tak memiliki kepekaan yang pada umumnya orang awam miliki, dan bukan tipe yang bakal memikirkan tipe orang panik seperti ini.

"Perhatikan aku bicara. Setidaknya, saat ada yang bicara denganmu, kau pun harus memandang langsung lawan bicaramu."

Sambil mengatakannya dengan dingin, Yukinoshita mencengkeram kerah baju Zaimokuza dan memaksa anak itu menghadap ke arahnya.

Tentu saja, meski Yukinoshita sendiri tak bersikap sopan, ia menjadi begitu menjengkelkan jika menyangkut sopan santun orang lain. Bahkan hal tersebut sampai pada tahap di mana aku memberi salam setiap kali bertemu dengannya di ruang klub.

Ketika Yukinoshita melepaskan cengkeramannya, Zaimokuza pun mulai terbatuk-batuk. Bisa ditebak, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk tetap menjadi karakter itu.

"...mu-muwahahaha... demi Tuhan..."

"Dan berhentilah bicara seperti itu lagi."

"..."

Sewaktu Zaimokuza dijatuhkan dengan cepatnya oleh Yukinoshita, ia langsung terdiam dan tertunduk.

"Kenapa kau memakai mantel di musim seperti ini?"

"...he-hem... jubah ini melindungiku dari bermacam energi iblis yang ada di dunia ini, dan ini adalah satu dari kedua belas alat surgawi milikku. Namun ketika aku bereinkarnasi ke dunia ini, jubah tersebut memberiku kemampuan untuk mengubah tubuhku ke dalam wujud yang paling cocok. Fuwahahaha!"

"Berhenti bicara seperti itu."

"Ba-baik..."

"Lalu kenapa kau mengenakan sarung tangan fingerless? Apa itu ada kegunaannya? Kau tak bisa melindungi jari-jarimu kalau seperti itu."

"...ah, iya. Eng... ini adalah sesuatu yang kuwarisi dari kehidupanku yang sebelumnya, satu dari kedua belas alat surgawi milikku, zirah istimewa yang bisa menembakkan berlian, jadi agar lebih mudah digunakan saat bertarung, kubiarkan saja jari-jariku tak terlindungi... pastinya begitu! Fuwahahaha!"

"Lagi-lagi berbicara seperti itu."

"Hahaha! Hahaha... hah..."

Mulanya Zaimokuza tertawa kencang, namun lambat laun berubah menjadi desahan menyedihkan. Lalu, ia pun kembali terdiam.

Mungkin saja di titik itu ia merasa tak tega pada Zaimokuza, soalnya Yukinoshita mendadak berubah dan memperlihatkan ekspresi bersahabat.

"Jadi, apa itu bisa kami anggap sebagai pernyataanmu yang menginginkan penyakit ini agar disembuhkan?"

"...ah, itu sesungguhnya bukan benar-benar penyakit..."

Zaimokuza masih tak berani menatap langsung wajah Yukinoshita dan berbicara dengan suara rendah. Hanya sesekali ia melirik ke arahku sambil memperlihatkan ekspresi kesulitan.

Ia benar-benar kembali ke jati dirinya yang asli.

Tampaknya Zaimokuza tak punya lagi daya untuk bertahan lebih lama dalam karakternya sewaktu diserang langsung oleh tatapan berbinar Yukinoshita.

Uh! Aku sungguh tak sanggup lagi menyaksikan hal ini! Zaimokuza sudah begitu menyedihkan. Entah kenapa aku jadi ingin melemparkan rakit penyelamat ke arahnya.

Kuputuskan bahwa yang terbaik saat ini adalah memisahkan Zaimokuza dari Yukinoshita terlebih dahulu, lalu dengan niat tersebut, segera kulangkahkan kakiku. Tapi aku merasa seperti menginjak sesuatu.

Rupanya aku menginjak salah satu kertas yang sempat dihempaskan badai di sekeliling ruangan ini sebelumnya.

Saat kuambil kertas tersebut, kulihat kumpulan aksara sulit kanji yang saling berjejer, dan perhatianku benar-benar tercuri oleh lembaran kertas ini.

"Lo, ini..."

Kutengadahkan pandanganku dari lembaran tersebut dan beralih ke sisi tengah ruangan. Rupanya lembaran kertas ini mempunyai format empat puluh dua huruf per baris serta mencakup tiga puluh empat baris di tiap kolomnya. Kupunguti lembaran yang berserakan itu satu demi satu dan mulai menyusunnya sesuai urutan.

"Hmm... sudah kuduga, tak perlu aku memberitahumu agar kau menyadarinya. Aku yakin, ini bukti bahwa sewaktu kita menghadapi masa-masa mengerikan bersama dulu bukanlah sebuah kesia-siaan."

Zaimokuza berbicara dengan suara yang cukup menggebu-gebu, namun aku tak memedulikannya. Yuigahama lalu memerhatikan kumpulan kertas yang sedang kupegang.

"Itu apa?"

Kusodorkan bundelan kertas itu kepadanya, dan ia pun mulai membalik-balik halamannya, memeriksa apa isinya. Aku hampir melihat gambaran tanda tanya melayang di atas kepalanya sewaktu ia mencoba membaca tiap lembarnya, namun akhirnya ia menghela napas panjang dan menyodorkan kembali kumpulan kertas itu kepadaku.

"Ini apa?"

"Kurasa... rancangan konsep sebuah novel."

Terpancing oleh kata-kataku, Zaimokuza berdeham seolah berusaha mengulang pembicaraan.

"Aku merasa sangat tersanjung oleh wawasan luasmu. Betul, itu adalah manuskrip dari sebuah light novel. Aku berencana ikut serta dalam sebuah kompetisi novel untuk para penulis baru. Karena aku tak punya teman, jadi aku tak punya pendapat lain di luar pendapatku sendiri. Karena itu, mohon dibaca."

"Entah kenapa, aku merasa bahwa di tengah ucapannya tadi, ia sempat berkata hal yang memilukan..."

Bisa dibilang, keinginan untuk menjadi penulis light novel adalah sebuah konsekuensi wajar bagi mereka yang mengidap chuunibyou. Hal tersebut cukup bisa dimengerti bagi mereka yang ingin mewujudkan beberapa khayalannya. Ditambah, bukan hal aneh bagi para pengidap chuunibyou jika mereka berpikir bisa menjadi novelis hebat dikarenakan khayalan berlebihan mereka. Dan tentu saja, sebuah hal menyenangkan bisa memperoleh penghasilan dari sesuatu yang kita sukai.

Jadi, sama sekali bukan hal aneh bagiku jika Zaimokuza berkeinginan menjadi seorang penulis light novel.

Yang lebih aneh adalah ia repot-repot kemari demi memperlihatkan hasil karyanya itu kepada kami.

"Di internet, ada situs tempat kau bisa memajang karyamu sekaligus meminta tanggapan dari para pembaca, jadi kenapa kau tak mencobanya saja dulu?"

"Percuma. Orang-orang di sana tak punya belas kasihan. Terlalu banyak kritikan, bisa-bisa aku bakal mati."

...dasar lemah.

Tapi memang, orang-orang di internet takkan menunjukkan rasa sungkan dan akan berkata semau mereka saja. Sedangkan bagi teman, mereka akan lebih memikirkan perasaan dan berusaha mengatakan hal-hal yang bisa membuat kita lebih baik.

Pada umumnya, mengingat seperti apa hubungan di antara kami dan Zaimokuza, pasti akan sulit bagi kami untuk bersikap tegas padanya. Pasti sulit melontarkan kritikan-kritikan kalau berhadapan langsung dengan orangnya. Mungkin kami harus melakukannya daripada tak berbuat apa-apa. Namun itu hanyalah sesuatu yang umumnya bakal terjadi...

"Biar begitu..."

Sekilas aku memandang ke samping dan sedikit menghela napas. Yukinoshita menatapku dan kubalas menatapnya dengan ekspresi datar.

"Yukinoshita mungkin lebih kejam daripada orang-orang di internet."



6 tanggapan:

Thank's sudah update :D

Ah, akhirnya... thanks ya.

Sama-sama gan...
Betewe, Bagian 3 sudah ane update...

Terima kasih kembali sudah setia menunggu update-an blog ane ini...

thanks banget gan akhirnya update jga ..

Kira2 hampir 30 menit ane membaca nya bab 5 bagian 2 ini cukup panjang..
Walaupun begitu ane tetep antusias membaca..
Thanks buat yg punya blog ini.. ane gak tau yg punya blog ini masih mengecek blog nya atau tidak...

Posting Komentar