Oregairu Bab 3 Bagian 4

==========================================================
Kembali lagi...Oiya, kalau ada yang tanya Mari itu siapa, ane juga gak bisa jawab, karena di raw-nya (halaman 93 - 94) tertulis 真理 (まり)... Potongan kalimat lengkapnya seperti ini, 由美子(ゆみこ)と真理 (まり)...(Yumiko to Mari...) Dan sampai ane periksa di indeks karakter hingga di Jilid 8, nama Mari tetap gak muncul... Atau mungkin itu teman khayalan kali, ya... *Tehehe... Betewe, di Bagian ini Hachiman mendapat dua jenis 'ucapan terima kasih' yang berbeda...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 4


"Lambat sekali." Ucap Yukinoshita sambil merebut Yasai Seikatsu dari tanganku. Ia lalu menusuk minuman tersebut dengan sedotan dan mulai meminumnya. Hanya tinggal Sportop dan Otoko no Café au Lait saja yang tersisa.

Tampaknya Yuigahama sadar kalau Otoko no Café au Lait ini untuknya.

"...oh, iya." Katanya, sembari mengambil uang senilai Rp. 10.000 dari dalam dompetnya yang mirip kantung koin.

"Ah, enggak usah."

Maksudku, Yukinoshita saja tak mengganti uangku, lagi pula, aku membelinya atas dasar kemauanku sendiri. Walau mungkin cukup wajar jika aku menerima uang dari Yukinoshita, namun untuk Yuigahama, aku tak punya hak untuk menerima uang darinya. Jadi daripada aku mengambil uang Rp. 10.000 yang dipegangnya itu, lebih baik kuserahkan saja Otoko no Café au Lait ini langsung ke tangannya.

"Ta-tapi aku masih belum mengganti uangmu!" Yuigahama bersikeras menyodorkan uangnya padaku. Pasti akan terasa mengganggu bila terus memperdebatkan masalah tersebut, karena itu aku menjauh lalu duduk di dekat Yukinoshita.

Yuigahama tampak sedikit berat hati saat menaruh kembali uangnya.

"...terima kasih." Ucapnya dengan suara pelan, lalu tersenyum senang sambil malu-malu menggenggam Otoko no Café au Lait itu dengan kedua tangannya.

Tentu itu adalah ucapan terima kasih yang paling berkesan yang pernah kuterima sepanjang hidupku. Ucapan itu memang hanya bernilai Rp. 10.000; tapi bisa dibilang kalau ia membayarku lebih dengan senyum di wajahnya tadi.

"Pembicaraan kalian sudah selesai?" Dengan rasa puas, kucoba membuat Yukinoshita untuk ikut memberikan apresiasi yang semestinya kudapatkan.

"Sudah. Berkat tak adanya dirimu, pembicaraan kami bisa berjalan dengan lancar. Jadi, terima kasih."

Dan tentunya itu adalah ucapan terima kasih yang paling tak berkesan yang pernah kuterima sepanjang hidupku.

"...oh, baguslah. Jadi, apa yang mau kalian lakukan sekarang?"

"Kami mau ke ruang PKK. Kau juga harus ikut."

"Ruang PKK?"

Itu adalah ruang siksaan yang mengatasnamakan pelajaran Tata Boga, di mana setiap jam pelajarannya harus membentuk kelompok yang anggotanya dipilih sendiri oleh para murid. Itu memang ruang siksaan. Di tempat itu pun terdapat bermacam pisau juga tempat pembakaran. Ruang yang memang sangat berbahaya dan harusnya tak sembarang orang boleh masuk ke sana.

"Lalu, mau apa kita di sana?"

Selain pelajaran Olahraga dan karyawisata, pelajaran Tata Boga adalah satu dari tiga kegiatan sekolah yang dikenal paling bisa menimbulkan trauma. Tak mungkin ada penyendiri yang benar-benar bisa merasa senang akan tiga hal tersebut. Maksudku, bayangkanlah sekelompok orang-orang yang dengan senangnya mengobrol satu sama lain dan saling mengakrabkan diri di antara sesama mereka... lalu bayangkan keheningan yang mendadak muncul ketika aku mencoba bergabung di kelompok tersebut... ya, rasanya sungguh tak tertahankan.

"Kue kering... aku mau membuat kue kering."

"Hah? Kue kering?" Aku tak mengerti yang ia ucapkan, makanya aku hanya bisa menjawab seperti tadi.

"Rupanya Yuigahama ingin membuat kue kering buatannya sendiri untuk diberikan pada seseorang. Namun, karena tak percaya diri dengan kemampuannya, makanya ia meminta bantuan kita. Begitulah permintaannya." Jelas Yukinoshita, yang langsung menyingkirkan keraguanku.

"Kenapa kita juga harus ikut-ikutan bantu? ...minta saja bantuan sama teman-temanmu sana."

"Eng... ya-yah, soalnya... aku enggak mau jika mereka sampai tahu, bisa-bisa aku jadi bahan ejekan bila mereka tahu tentang hal ini... mana bisa mereka memaklumi hal yang serius begini..." Tatapan tajam Yuigahama terarah kepadaku saat ia menjawabnya.

Kuhela napas barang sebentar.

Jujur, yang namanya masalah asmara itu tak mudah untuk diatasi. Tak sekadar masalah siapa suka sama siapa, bagiku menghafal sebuah kosakata justru lebih bermanfaat. Semestinya, hal semacam membantu mengatasi masalah asmara seorang gadis bukanlah sesuatu yang wajar. Dan, yah, aku pun tak begitu tertarik dengan kisah asmara, apalagi memikirkannya.

Tapi kupikir-pikir lagi... tentang pembicaraan serius yang mereka perbincangkan sebelumnya... sudah pasti itu tentang masalah tadi...

Astaga.

Sejujurnya, bila ada orang yang sedang punya sesuatu mengenai masalah asmara, yang bisa kita lakukan hanyalah berkata, Jangan menyerah! Semua pasti akan berjalan lancar, kok! Dan jika akhirnya tak berjalan lancar, maka kita hanya tinggal berkata, Ternyata orang itu memang berengsek!

"Huh." Desahku saat menatap mata Yuigahama.

"Ah..." Yuigahama tertunduk, kehilangan kata-kata. Ia lalu menggenggam lipatan di pinggir roknya, bahunya sedikit gemetar.

"Ah... ahaha. Pa-pasti tampak aneh, ya? Orang sepertiku sampai mau coba membuat kue kering buatan sendiri... rasanya seperti ingin berusaha melakukan hal yang biasanya perempuan lakukan... maaf, ya, Yukinoshita. Enggak apa-apa, kok. Aku enggak memaksa."

"Yah, jika kau memang mau, aku tak keberatan... oh, aku tahu. Jika kau mencemaskan anak itu, maka tak perlu kaupikirkan. Ia sama sekali tak punya standar moral, karena itu akan kupaksa ia ikut serta."

Entah bagaimana, rasanya undang-undang negara ini tak berlaku untukku. Maksudku, kerja paksa macam apa ini?

"Bukan begitu, sungguh enggak apa-apa, kok! Maksudku, membuat kue kering memang enggak cocok buatku dan pasti terasa aneh... aku sudah pernah bertanya pada Yumiko dan Mari, tapi mereka bilang kalau itu sudah ketinggalan zaman." Sesekali Yuigahama melirik ke arahku.

"...ya. Aku juga tak akan menyangka jika perempuan yang penampilannya heboh sepertimu, sampai mau membuat kue kering." Ujar Yukinoshita, seakan ingin membuat terpuruk Yuigahama yang sebelumnya memang sudah terpuruk.

"Be-benar! Rasanya aneh, 'kan?!" Yuigahama tertawa gelisah seolah menunggu reaksi dari kami. Ia langsung menundukkan pandangannya ketika melihatku, seolah hendak menantangku. Rasanya ia seperti ingin memintaku supaya memberi tanggapan.

"...yah, aku tak bisa bilang kalau... yang mau kaulakukan itu aneh, tak cocok buatmu, atau itu bukan bagian dari dirimu. Sebenarnya, aku hanya tak bisa untuk pura-pura tak peduli. Itu saja."

"Yang kaukatakan itu malah lebih buruk!" Bentak Yuigahama. "Hikki, kau sudah keterlaluan! Kau benar-benar membuatku jengkel. Asal kau tahu, sebenarnya aku bisa kalau aku serius!"

"Malah kata-kata barusan itu tak layak untuk kaupakai. Kata-kata itu lebih pantas diucapkan oleh ibumu sambil berlinangan air mata. Ibu selalu mengira kalau kau pasti bisa asal mau serius... tapi nyatanya, kau memang tak bisa. Begitu, deh."

"Alah, paling-paling ibumu sendiri sudah angkat tangan!"

"Kesimpulan yang masuk akal." Yukinoshita segera mengangguk. Sementara, air mata Yuigahama sudah mulai berlinang.

Ah, biarkan saja. Meski bersikap pasrah rasanya juga menyakitkan...

Aku jadi merasa tak enak karena sudah merusak suasana hati Yuigahama, padahal ia sudah berterus terang menjelaskan keinginannya itu. Terlebih lagi, pertandingan antara diriku dengan Yukinoshita ini masih berlangsung.

"Yah, aku memang hanya bisa memasak kari, tapi aku tetap akan membantumu." Dengan setengah hati kutawarkan bantuanku.

"...te-terima kasih." Yuigahama lalu menghela napas lega.

"Kami memang tak berharap apa pun dari kemampuan memasakmu. Kami hanya ingin agar kau mencicipi kue keringnya dan memberi pendapat."

Jika Yukinoshita yang bilang begitu dan sudut pandang anak lelaki memang dibutuhkan, berarti sudah jelas kalau hal yang baru disinggung tadi bakal jadi tugasku. Ada banyak sekali anak lelaki yang tak suka memakan kue, jadi tugasku di sini adalah mencocokkan rasa kue tersebut dengan selera anak lelaki. Terlebih, kupikir sebagian besar makanan akan terasa nikmat andai saja aku bukan orang yang pemilih.

...kira-kira itu bakal membantu, enggak, ya?


12 tanggapan:

Hkhkhk... Mumpung libur gan...

wait libur?!... jangan-janga ente masih sma??
trus ini translate langsung dari bahasa nihon ya? ngak via english translate dulu nih ?!

Gak, gan... Ane dah lulus, dah kerja malah... Untungnya tempat kerja ane, sabtu ini libur (kadang)... Padahal jam kerja ane gak tentu, pernah sebulanan gak ada libur (meski ada tanggal merahnya)...
Ane terjemahkannya dari skrip Bahasa Inggris...
Untuk raw-nya ane gunakan pada proses pemeriksaan terjemahan... Biar lebih yakin sama hasil terjemahannya...
Kemampuan Bahasa Jepang ane masih dalam tahap belajar gan... (otodidak)

dapuk!! jadi lebih tua dari ane nih -__- .. emang kerjaannya apaan sih?.. trus umur masbro brapa?? salut ane, masbero pake raw jepun buat ngecek,, kalo ane mah kalo udah siap langsung post,, awk wk wk

Jangan bilang tua ah, nanti jadinya tua benaran... Lulus juga baru... Yah, untuk masalah RL kayaknya jangan dipublikasikan, deh, ya... Hkhkhk...

sukses ya baik kerja maupun hobinya ^^

Di tunggu kelanjutannya, yoroshiku ne!^^
tiap hari apa rilisnya min?

Wah itu yang sulit ditebak, gan...
Ane ngerjainnya, kalau pas ada waktu saja...
Kalau mau dapat kabar update, Ikuti saja fanpage-nya gan... (pojok kanan atas halaman)
Terima kasih dukungannya...

Posting Komentar