Oregairu Bab 3 Bagian 2

==========================================================
ビッチ (bitchi), kata serapan dari Bahasa Inggris yaitu 'bitch'. Tapi untuk kata tersebut, di Jepang konotasinya berbeda dengan arti kata sebenarnya dari Bahasa Inggris (yang berarti semacam pekerja seks komersial), dan lebih condong kepada perempuan yang gampang untuk diajak berhubungan seks dengan lawan jenis. Di sini sengaja memilih istilah 'bispak' (bisa dipakai), karena memang pengertiannya serupa, juga untuk pelokalan istilah... Dan クッキー (kukkii), kata serapan dari Bahasa Inggris 'cookie' (kue kering), dan terdengar seperti 空気 (kuuki) yang berarti udara...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 2


Seperti biasa, Yukinoshita sedang asyik membaca bukunya.

Setelah saling bertukar salam, aku bergerak sedikit menjauh, kutarik sebuah kursi, kemudian duduk. Lalu kuambil sebuah buku dari dalam tasku.

Yang ada sekarang, Klub Layanan Sosial sudah berubah menjadi Klub Membaca Untuk Kawula Muda. Tapi kesampingkan dulu leluconnya... memangnya kegiatan apa yang pernah dilakukan klub ini? Lalu sebenarnya bagaimana kelanjutan dari pertandingan yang harus kami ikuti tempo hari?

Tak disangka, suara ketukan pintu menjawab pertanyaanku. Yukinoshita tertahan sewaktu membalik lembar bukunya, dengan sigap ia menaruh pembatas ke dalamnya.

"Silakan masuk." Jawabnya seraya mengahadap pintu.

"Per-permisi." Suara itu terdengar sedikit gelisah... gugup, mungkin? Pintu hanya bergeser sedikit, lalu seorang perempuan menyelipkan tubuhnya melalui celah kecil itu. Pasti ia tak mau jika sampai ada orang yang melihatnya masuk ke tempat ini.

Rambut coklatnya yang ikal dan sepanjang bahu itu berayun ketika ia berjalan. Tatapannya cemas menjelajahi sekitar ruangan. Lalu ketika pandangannya tertuju padaku, ia terhenyak.

...memangnya aku ini apa? Monster?

"Ko-kok ada Hikki di sini?!"

"...sebenarnya aku bagian dari klub ini."

Atau harusnya aku bilang saja, Kenapa kau memanggilku Hikki? Lalu yang terpenting, perempuan ini siapa?

Jujur, aku sungguh tak tahu, namun dari penampilannya, ia tampak seperti perempuan gaul kebanyakan — perempuan norak yang heboh di masa remajanya. Aku sering melihat perempuan sejenis ini. Rok pendek, tiga kancing blus yang terbuka, rambut yang disemir, dan kilauan kalung dengan liontin hati yang sengaja ia perlihatkan di sekitar dadanya. Penampilan tersebut benar-benar melanggar aturan sekolah.

Aku tak punya urusan dengan perempuan semacam itu. Nyatanya, aku memang tak punya urusan dengan perempuan mana pun.

Meski begitu, sikapnya menunjukkan seolah ia ada di lingkungan yang mengenalku. Aku ragu apakah tak apa jika kubilang, Maaf, kau ini siapa, ya?

Aku juga menyadari kalau pita yang tergantung di dadanya itu ternyata berwarna merah. Di sekolah kami, setiap angkatan dapat dikenali lewat warna pitanya. Pita berwarna merah menandakan kalau ia duduk di kelas 2 sama sepertiku.

...bukan berarti aku menyadari itu karena aku menatap dadanya. Soalnya jalur pandangku saat itu sedang tertuju ke sana... lagi pula, dadanya juga cukup besar, sih...

"Baiklah, untuk sementara duduk saja dulu." Dengan santai kutarik sebuah kursi dan mempersilakannya duduk. Perlakuan sopanku ini bukan bermaksud untuk menutupi rasa bersalah tadi. Wajar jika aku ingin memberi kesan baik padanya lewat sikap tulusku. Aku ini lelaki terhormat. Itu semua sudah tampak dari cara berpakaianku.

"Te-terima kasih..." Ia tampak kebingungan saat menanggapi tawaranku dan perlahan mulai duduk.

Yukinoshita yang duduk di hadapannya, mulai melakukan pendekatan. "Yui Yuigahama, bukan?"

"Ka-kau mengenalku?"

Si Yui Yuigahama ini langsung merasa senang, seakan-akan ada status tersendiri bagi orang-orang yang dikenali Yukinoshita.

"Kau pasti banyak tahu, ya... jangan-jangan kau tahu nama semua orang di sekolah ini?" Tanyaku.

"Tidak juga. Aku tak tahu kalau kau sekolah di sini."

"Begitu, toh..."

"Jangan berkecil hati; itu salahku. Akulah yang tak menyadari lemahnya hawa keberadaanmu, lagi pula, tak ada niat bagiku untuk berharap agar perhatianku tak tertuju padamu. Itu semua hanya karena lemahnya pikiranku saja."

"Jadi maksud dari kata-kata tadi hanya untuk membesarkan hatiku, begitu? Cara menghibur yang payah. Ujung-ujungnya, kau juga memberi kesimpulan kalau semua itu salahku."

"Aku tak bermaksud menghiburmu. Aku memang sedang menyindirmu." Ucap Yukinoshita sambil berpaling seraya mengibaskan rambutnya ke belakang.

"Kelihatannya... klub ini menyenangkan." Ujar Yuigahama dengan tatapan berbinar yang tertuju ke arah kami berdua.

Perempuan ini... pikirannya pasti hanya dipenuhi padang bunga matahari dan aster saja.

"Komentar barusan sama sekali tak mengenakkan... di sisi lain, kesalahpahamanmu itu benar-benar mengganggu." Tatapan dingin Yukinoshita membuat gugup Yuigahama.

"Oh, bukan, bagaimana bilangnya, ya?" Ia mengibaskan tangannya tanda menyangkal. "Aku hanya berpikir sikap kalian berdua begitu alami! Eng, maksudku, Hikki jadi berbeda sekali dengan yang di kelas. Ternyata ia bisa bicara panjang lebar."

"Jelas aku bisa bicara. Dasar kau ini..." Memangnya aku tampak seperti orang yang punya keterbatasan dalam berkomunikasi, apa?

"Oh, iya benar. Yuigahama juga duduk di kelas F."

"Hah, yang benar?" Tanyaku.

"Jangan-jangan kau memang tak pernah tahu, ya?" Yukinoshita balik bertanya.

Yuigahama tampak terkejut oleh ucapan Yukinoshita.

Sial.

Tak ada yang paham bagaimana sakitnya tak dikenali oleh teman sekelas lebih dari aku. Karenanya, sebelum ia ikut merasakan sakit yang sama, kucoba untuk menutupi salah paham tadi.

"Ten-tentu saja aku tahu."

"...lalu kenapa kau memalingkan mata?" Tanya Yukinoshita.

Yuigahama kemudian menatapku dengan pandangan sinis. "Bukannya karena itu kau jadi enggak punya teman, Hikki? Habisnya, tingkahmu itu aneh dan rasanya menjijikkan."

Kini aku ingat perempuan sinis ini. Tentu saja, para perempuan lain di kelasku juga memandang hina diriku. Pasti ia salah satu dari kelompok yang sering bergerombol di sekitar Klub Sepak Bola.

Apa-apaan itu? Berarti ia salah satu musuhku, dong? Percuma saja tadi aku bersikap baik padanya.

"...dasar bispak." Tanpa sengaja aku mengumpat.

"Apa? Siapa yang kausebut bispak?!" Yuigahama spontan berseru. "Aku ini masih pera— aaahhh! Lupakan!" Wajahnya langsung memerah dan ia bolak-balik mengibaskan tangan, seakan ingin berusaha menarik kembali kata-katanya. Dasar plinplan.


Yukinoshita mulai bicara, seolah ingin meredakan kepanikan Yuigahama. "Itu bukan hal yang memalukan. Di usia kita ini, jika masih pera—"

"A-aaahhh, berhenti! Kau ini bicara apa?! Untuk ukuran anak kelas 2 SMA, itu jelas memalukan! Yukinoshita, di mana sisi kewanitaanmu?!"

"...hal yang tak penting."

Buset. Entah bagaimana, tapi Yukinoshita baru saja meningkatkan tingkat kesinisannya beratus kali lipat.

"Biar kau bilang begitu, kata kewanitaan justru semakin terdengar bispak bagiku." Tambahku.

"Kau berkata begitu lagi! Mengatai orang lain bispak itu enggak sopan, tahu! Hikki, kau menjijikkan!" Yuigahama lalu menampakkan wajah geram mengejek dan melihatku dengan mata berkaca-kaca.

"Mengataimu bispak tak ada hubungannya dengan menjijikkannya diriku. Dan jangan memanggilku Hikki."

Soalnya panggilan itu terdengar seperti hikikomori, 'kan? ...oh, pasti ia juga bermaksud menyindirku. Itu pasti semacam nama ejekan buatku yang beredar di kelas.

Kejam sekali, 'kan? Sampai-sampai aku ingin menangis mendengarnya.

Bergosip di belakang orang itu enggak baik.

Itu sebabnya aku langsung berkata blakblakan dengan suara lantang. Jika suaraku tak terdengar, maka perkataanku ini tak ada efeknya!

"Dasar bispak."

"Ka-kau! Menjengkelkan! Benar-benar menjijikkan! Kenapa enggak mati saja sana?!"

Padahal sudah bersikap sopan, yang ada, aku malah jadi bersikap keras begini, bahkan aku terpaksa bungkam setelah mendengar ucapannya.

Di dunia ini ada banyak kata yang harusnya tak boleh diucapkan begitu saja, terutama yang menyangkut nyawa manusia. Jika belum siap memikul tanggung jawab atas nyawa, maka seseorang tak ada hak untuk berkata demikian.

Sejenak keheningan berlalu, dengan maksud menegurnya, kulontarkan tanggapan serius dengan nada menggebu-gebu.

"Sekali lagi kaubilang mati saja atau kubunuh kau seenak udelmu, 'kan kucincang kau."

"Ah... ma-maaf, bukan maksud... eh, apa?! Kau barusan bilang begitu! Kau barusan sungguh-sungguh berkata ingin membunuhku!"

Yuigahama mungkin terlambat sadar, ternyata ia memang orang yang plinplan. Meski begitu, aku sempat terkejut. Ia terlihat seperti perempuan yang bisa meminta maaf dengan sopan.

Ia tampak berbeda dari penampilan yang dikesankannya. Aku sempat yakin kalau ia sama saja dengan para gadis di kelompoknya, para lelaki di Klub Sepak Bola dan semua orang di sekitarnya. Awalnya kupikir, di kepalanya itu hanya berisi hal-hal seperti yang ada di dalam novel karya Ryuu Murakami, yang selalu dipenuhi seks, narkoba dan hal bejat lainnya.

Yuigahama lalu menghela napas. Bersikap terlalu aktif pasti membuatnya capek.

"Eng, begini. tadi aku sempat mendengarnya dari Bu Hiratsuka, tapi... katanya klub ini bisa mengabulkan keinginan para murid, ya?" Yuigahama memecah keheningan sesaat.

"Masa, sih?" Aku malah yakin kalau ini hanya klub membaca yang tak ada habisnya.

Yukinoshita benar-benar mengabaikan pertanyaanku dan justru menjawab pertanyaan Yuigahama.

"Tidak juga. Hakikatnya, tujuan klub ini terletak pada cara memberi pertolongan bagi orang lain. Terkabul atau tidaknya keinginanmu tergantung dari dirimu sendiri." Tanggapan Yukinoshita tampak dingin dan penuh penyangkalan.

"Bedanya di mana?" Tanya Yuigahama dengan wajah penuh ragu. Sebenarnya itulah yang ingin kutanyakan tadi.

"Apakah kau akan memberi ikan pada orang kelaparan atau mengajarinya cara menangkap ikan? Di situlah letak perbedaannya. Intinya, seorang sukarelawan tak memberi hasil melainkan menyediakan cara. Kurasa, mendorong seseorang untuk mandiri adalah jawaban yang paling tepat."

Pidatonya barusan persis seperti yang termuat pada buku nilai moral, sebuah prinsip tanpa arti yang sering digaungkan di berbagai sekolah — Kegiatan klub akan memberi kesempatan pada para murid untuk mempertunjukkan kemampuannya dalam hal kemandirian sebagaimana murid lainnya. Begitulah pemahaman baruku mengenai sebuah kegiatan klub. Dan, yah, Bu Hiratsuka juga sempat bicara mengenai pekerjaan, itu artinya, klub pun ikut berjuang demi kepentingan murid.

"Wah, hebat banget!" Seru Yuigahama dengan tatapan yang seakan berkata, Kau sudah membuka mataku, aku jadi mengerti sekarang! Aku sedikit cemas kalau di masa depan nanti otaknya mungkin bakal dicuci oleh sekte pemuja setan.

Penjelasan Yukinoshita tadi tak punya dasar ilmiah, apalagi untuk perempuan berdada besar seperti Yuigahama ini, pastinya sulit untuk paham... setidaknya itu anggapan yang berkembang di masyarakat, namun jika ditanya, dengan yakin akan kujawab kalau perempuan ini adalah salah satu buktinya.

Di sisi lain... Yukinoshita punya kecerdasan mumpuni, akal sehat yang tak tertandingi, juga dada yang rata seperti tembok.

"Aku tak bisa menjanjikan kalau keinginanmu dapat terkabul, tapi sebisa mungkin aku akan membantumu."

Yuigahama lalu mulai bicara seakan baru teringat tujuannya datang ke tempat ini.

"Eng, begini! Aku mau coba membuat kue kering..." Ujar Yuigahama sembari menatapku.

Aku ini bukan kue kering, tahu. Sebenarnya aku tahu kalau anak-anak di kelas memperlakukanku layaknya angin lalu, meski terdengar sama, namun artinya berbeda.

"Hikigaya." Yukinoshita lalu mengarahkan wajahnya ke lorong sambil menggerakkan mulutnya tanpa bersuara. Pergi sana. Padahal ia bisa saja berkata baik-baik. Seperti, Kau mengganggu pemandangan, jadi bisa tidak, kau pergi dari sini? Aku akan menghargainya andai kau tak pernah kembali lagi kemari.

Jika ia sedang ingin berbicang mengenai masalah perempuan, maka apa boleh buat. Memang ada hal tertentu di dunia ini yang hanya bisa diperbincangkan antar sesama perempuan saja. Ambil contoh saat mata pelajaran Penjaskes, yang di dalamnya ada hal-hal seperti, Lelaki dilarang masuk, Ruang kelas sedang digunakan untuk mata pelajaran khusus perempuan. Jumlah contohnya pun cukup banyak.

Kira-kira itu mata pelajaran yang seperti apa, sih? Hal-hal yang begitu itu masih mengusik pikiranku sampai sekarang.

"...aku mau beli Sportop dulu."

Aku harus menunjukkan kalau aku orang yang sangat pengertian, bisa membaca situasi dan bertindak tanpa perlu pamer. Andai aku seorang perempuan, pasti aku sudah jatuh cinta dengan diriku sendiri.

Seraya tanganku menempel ke pintu untuk pergi keluar, Yukinoshita memanggilku. Mungkinkah ia punya perasaan yang ingin disampaikannya padaku?

"Aku titip Yasai Seikatsu 100 Strawberry Mix, ya."

Ternyata ia sudah terbiasa menyuruh orang seenak dengkulnya... dasar Yukinoshita. Perempuan ini memang sulit ditebak.


Lanjut

6 tanggapan:

Sama-sama gan...
Oiya, atas usul teman-teman, ane sudah buat fanspage-nya di FB, biar bisa ketahuan update-nya...

https://www.facebook.com/pages/Seh-Terra-Fantranslations/1404281689816142

Oke gan...
Terima kasih juga atas dukungannya...

Ditunggu kelanjutannya, gan.

Oke, gan... Kalau sempat, nanti malam ane update, deh...

Posting Komentar