SPS Jilid 1 Penutup

==========================================================
Sekapur Sirih dari Penyunting

Kecenderungan ane dalam genre musik mungkin saja berpengaruh sekali terhadap keputusan ane dalam mengambil LN ini sebagai proyek terjemahan... Membaca judulnya saja sudah terlintas dalam benak, jika musik akan mendominasi isi dari cerita... Terlebih jika melihat siapa nama pengarangnya, yang terkenal lewat seri Kamisama no Memochou... Sisi yang paling menarik dalam LN ini sebenarnya bukanlah dari alur ceritanya semata, melainkan dari tata bahasa sang pengarang dalam menggambarkan suasana, kejadian termasuk sensasi yang dirasakan sang protagonis lewat kata-kata puitis dalam bentuk metafora dan analogi... Khususnya ketika bagaimana Nao mendeskripsikan alunan permainan musik Mafuyu melalui kalimat-kalimat ungkapannya... Semuanya terasa begitu indah meski dalam bahasa yang rumit, yang entah kenapa ane masih bisa saja memahaminya... Peran dari tokoh-tokoh lainnya pun ikut membangun cerita meski tanpa menghadirkan konflik yang berlarut... Dan Jika ditanya siapa tokoh favorit, jelas itu Kazurgaka-senpai...


Terima kasih pada semua pihak yang punya andil dalam pengerjaan terjemahan LN ini, dan dengan berakhirnya jilid ini, maka proyek kerja sama Seh-Terra dengan Hanami dinyatakan selesai...

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, ane ucapkan...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Sepatah Kata dari Pengarang


Di dunia ini terdapat dua jenis novel.

Meski ini mungkin akan terdengar seperti teori ergonomis sebuah karya seni, dua jenis novel yang dimaksud di atas adalah novel yang judulnya telah ditentukan sebelum ditulis dan novel yang baru memiliki judul setelah selesai ditulis. Penggolongan tersebut jelas tidak punya pengaruh apa pun terhadap sang penulis.

Dulu, saya merasa takjub pada novel yang judulnya telah lebih dahulu ditetapkan. Karena bagi saya, sekeras apa pun berusaha, saya tidak akan bisa menentukan judulnya jika masih belum merampungkan seluruh naskahnya. Sebenarnya, ini hanyalah masalah keyakinan. Ketika diri kita berpikir tidak bisa melakukannya, maka hal tersebut akan sungguh tidak bisa kita lakukan.

Bicara soal itu, novel ini ditulis setelah menetapkan judul. Butuh waktu sekitar dua minggu untuk menulis halaman pertama setelah judulnya ditentukan.

"Bagaimana kalau judulnya disesuaikan dengan nama tokoh utama wanitanya seperti, Mafuyu Sonata (Sonata Pertengahan Musim Dingin), apakah akan laris di pasaran? Tentu saja itu diambil dari kata musim dingin."

"Tolong seriuslah."

... sambungan telepon yang hangat dari sang editor sebagaimana di atas menjadi sebuah kenangan manis tersendiri.

Ludwig van Beethoven, seorang musisi yang pertama kali menggunakan kekuatan musiknya seorang diri untuk berjuang agar musiknya itu dapat diterima sebagai sebuah karya sesungguhnya yang nyaris tanpa perlu dibayangi sebuah judul. Beberapa komposisi terkenal seperti <Takdir> ataupun <Sinar Rembulan> adalah karya gubahannya yang memiliki judul hasil sematan dari orang lain.

Di sisi lain, ada pula beberapa komposisi istimewa yang Beethoven beri judul sendiri, di mana komposisi tersebut dibagi menjadi beberapa sesi yang di dalamnya pun terkandung kenangan-kenangan yang istimewa. Contohnya pada komposisi yang sempat ia dedikasikan kepada Napoleon, yang kemudian ia batalkan karena kemurkaannya akibat penobatan Napoleon menjadi kaisar, hingga Beethoven pun merobek sampul yang menyertakan judul kompsisi tersebut dan membuangnya ke lantai. Cerita itu sudah cukup umum bagi banyak orang (walau tampaknya agak cenderung didramatisasi).

Judul komposisi Beethoven yang menjadi inspirasi dari judul novel ini pun mengandung sebuah kenangan yang sangat istimewa, karena komposisi tersebut digubah untuk seorang sahabat. Dan beberapa penerbit sempat mengubah judulnya ke dalam bahasa Perancis yang semula berbahasa Jerman tanpa seizin Beethoven. Sempat beredar kabar bahwa Beethoven pernah melayangkan protes terhadap hal itu.

Kemudian setelah lebih 200 tahun wafatnya Beethoven, judul itu pun dilencengkan menjadi sebuah judul novel yang diterbitkan di sebuah negara kepulauan yang berada di ujung timur, yang bercerita tentang kehidupan SMA dengan sebuah band berisi tiga orang gadis dan disertai romansa di dalamnya. Andai Beethoven masih hidup dan tahu soal ini, ia pasti akan marah besar. Saya harap ini bisa dimaafkan dengan tawa kalian.

Omong-omong, bas yang digunakan oleh tokoh utama pada novel ini sesungguhnya sama dengan yang saya punya, yaitu Aria Pro II. Saya membelinya enam tahun yang lalu karena mengikuti hasrat untuk membentuk sebuah band yang akhirnya pun harus bubar. Saat saya memeriksanya lagi, bas tersebut sudah dipenuhi debu di pojokan lorong, dan hingga kini saya sendiri masih sulit untuk memainkannya.

Jujur, saya akan kesulitan jika ditanya apa alasan saya membeli alat musik yang saya pun tidak lihai memainkannya. Meski begitu, itu tidak ada hubungannya dengan bubarnya band saya.

Ada tidaknya saya sebagai pemain bas, tidak akan berpengaruh apa-apa. Lalu, apa sebenarnya peran saya dalam band? Saya di sana menggunakan kibor, dan semua rangkaian lagunya dimainkan secara otomatis. Begitu pula dengan suara drumnya, tinggal pencet tuts dan cukup didengarkan lewat headphone. Namun karena bermacam suara dari alat musik harus dimainkan bersama, saya sungguh kesulitan ketika harus tampil dalam konser.

Kini saya jadi berpikir, apa mungkin saya bisa memainkan bas hanya dengan tangan kiri ketika memencet tuts untuk suara alat musik lain? Andai saya memang seorang pemain bas sejati, bukankah itu terdengar kurang pantas?

Itu mungkin menjadi hal yang sangat disesalkan, dan Aria Pro II mungkin tidak akan ada lagi di toko alat musik mana pun karena telah dihentikan produksinya.

Meski begitu, bubarnya band tersebut bukan dikarenakan ketidakmampuan saya dalam mengimbangi permainan personel lain, namun lebih karena ketidakmampuan saya dalam mengimbangi formasi dengan acuan satu lelaki dan tiga perempuan. Meski itu hanya persoalan formasi band semata, tapi acuan emas itu berdampak sangat besar terhadap kelanggengan masing-masing personelnya.

Tentu saja, saya menulis novel yang tokoh utamanya seorang pemain bas dengan tiga orang personel perempuan itu bukan sebagai upaya menebus hasrat yang berujung kegagalan pada masa muda saya tadi. Saya berani bersumpah. Jika memang begitu, berarti sama saja saya tidak menerima kenyataan dan melampiaskannya ke dalam dunia 2D, benar, bukan?

Karena ini akan semakin mengungkap hal-hal yang memalukan di masa lalu, sebaiknya segera saya akhiri saja kata-kata penutup ini. Lagi pula, ruang untuk menulisnya sudah tidak cukup.

Editor untuk novel ini, Yuasa-sama, telah bekerja amat keras dalam penyusunan naskahnya, membuat segala di dalamnya menjadi sempurna. Saya rasa apa pun proyek yang melibatkan Anda pasti akan berjalan lancar. Selaku ilustrator, Ueda Ryou-sama, ilustrasi yang Anda berikan pada novel ini sungguh menakjubkan. Omong-omong, saya sendiri sempat kesulitan saat menentukan gaya rambut masing-masing tokoh. Lalu untuk para penghuni di sekitar apartemen saya, mohon maaf untuk kesekiankalinya atas kegaduhan yang saya perbuat dengan memutar CD begitu nyaring sewaktu menulis novel ini (saat tengah malam). Maka dari itu, atas kesempatan yang telah diberikan ini, saya ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya bagi kalian semua.

27 September 2007, Hikaru Sugii



0 tanggapan:

Posting Komentar