SPS Jilid 1 Bab 20

=========================================================
Bagi sebagian orang, mungkin akhir seperti ini terasa menggantung, tapi sebenarnya ini sudah cukup tepat untuk mengakhiri atau bisa dikatakan menyimpulkan makna dari judul LN ini sendiri...
Terima kasih bagi para pembaca yang sudah setia mengikuti penggarapan terlama yang pernah ane kerjakan ini...
Semoga gak sia-sia kalian menunggu sampai akhirnya jilid ini rampung...
Dan sama seperti postingan akhir bab sebelumnya, kesan-kesan ane dalam pengerjaan LN ini akan ane sampaikan pada postingan kata penutup...
Seperti biasa, seri yang dikerjakan bareng ini, bisa agan sekalian nikmati lebih awal satu hari di Hanami Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 20 - Sonata Piano Perpisahan


Bulan Juni tanpa Mafuyu akan segera berakhir.

Ciri khas dari kelas 1-3 yang kutempati ini adalah begitu cepatnya mereka berganti ketertarikan terhadap sesuatu. Meski begitu, masih ada beberapa anak yang menanyakanku perihal Mafuyu. Khususnya mengenai insiden kami yang kabur bersama dari rumah, yang rupanya telah tersebar ke seluruh sekolah dan membuatku hampir ingin pindah sekolah. Beberapa dari mereka yang tahu soal musik klasik bahkan sampai meminjam CD-CD karya Mafuyu dariku.

Mungkin itu dikarenakan kursi sebelahku yang selalu kosong ini.

Tapi karena kepribadian yang buruk, aku pun tidak begitu bermurah hati pada para pemula tersebut. Karena itulah aku justru meminjamkan karya gubahan Scriabin dan Prokofiev. Meski begitu, teman-teman sekelasku yang meminjamnya masih tampak begitu senang.

"Hebat! Foto sampulnya saja sudah mengesankan!"

Sudah, dengarkan sendiri sana!


"Ternyata ada dua penjaga di rumah Ebisawa-san! Aku saja sampai terkejut."

Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali berlatih di atap ini. Kazugaraka-senpai mengatakan hal barusan dengan ekspresi riang.

"Awalnya kupikir tidak akan ada banyak orang di rumahnya, karena di sana begitu luas, jadi kurasa mudah bagiku untuk menyelinap ke dalam, namun ternyata aku begitu naif. Untunglah saat itu ia pergi untuk memeriksakan diri ke dokter."

Rupanya memang senpai yang diam-diam menyelipkan CD yang berisi peta itu ke tas Mafuyu.

"Kenapa Senpai melakukan itu?"

Saat itu senpai sedang membersihkan setang gitar yang senar-senarnya telah dilepas. Ia lalu memiringkan kepalanya dan berkata,

"Alasannya banyak! Kupikir akan terjadi sesuatu jika aku melakukannya. Yah, walau bisa jadi itu bukan hal baik bagi kamu maupun Mafuyu. Tentu saja tetap ada kemungkinan kalau tidak akan terjadi apa-apa. Meski begitu, tidak perlu sampai mengumpulkan banyak orang untuk memulai revolusi! Sebagai manusia, untuk menuntaskan sesuatu kita harus menanam benih yang mungkin saja tidak akan tumbuh di wilayah liar ini."

Untuk orang sepertiku yang tidak bisa merangkai kata-kata puitis, barusan itu terdengar seperti, Oh, rasanya sesuatu yang menarik akan terjadi, jadi kuputuskan untuk menciptakan sebuah kesempatan agar hal itu terjadi, itu sebabnya aku tidak mau berterima kasih padanya.

Sedangkan Chiaki, setelah mengunci lengan dan memiting leherku, ia lalu menariknya hingga punggungku membengkok ke belakang.

"Aduh, aduh, sakit! Itu semua bukan gerakan judo, 'kan?!"

"Sudah berapa kali aku meneleponmu, tapi satu balasan pun tidak ada!"

"Maaf! Adududuh!" berkali-kali kutepuk lengan Chiaki untuk memohon ampun, namun ia tidak mengendurkan pitingannya.


"Jadi kamu bertemu dengan Ebichiri? Apa kamu bilang kalau kamu anakku?"

Tanya Tetsurou dengan ekspresi tidak senang sewaktu aku sedang menyiapkan makan malam di dapur.

"Orang itu selalu saja mengeluh padaku. Karena ia yang membayar tagihan panggilan luar negerinya, jadi aku sengaja membiarkannya. Hehehe!"

"Kurasa ia mungkin akan menyadarinya kalau saja ada yang menanyakan namaku."

Aku tidak terlalu senang mengatakan ini, tapi hampir semua orang yang berkutat di industri musik tahu nama anak dari Hikawa Tetsurou, jadi mungkin saja Ebichiri juga tahu. Kuputuskan untuk membiarkan yang sudah terjadi, karena akan menjadi masalah jika ia berkata seperti, Dari wajahmu sepertinya aku kenal, tapi berdasarkan ucapan Tetsurou, seharusnya aku ini lebih mirip ibuku, 'kan?

"Tetap saja, ini bukan seperti anakku yang baru dua hari dicari, sudah pulang ke rumah! Harusnya kamu menghilang saja! Walau aku agak kesusahan karena tidak ada yang mengurus rumah, tapi aku bisa melihat wajah bodoh Ebichiri yang hampir menangis itu!"

Jadi nilai keberadaanku disamakan dengan hal bodoh semacam itu? Lain kali aku akan benar-benar berniat untuk kabur dari rumah ....

"Maaf, yang tadi itu bercanda. Aku benar-benar kesusahan kalau Nao tidak di rumah. Bahkan aku tidak berani ke toilet sendirian kalau sudah malam ...."

"Ya, sudah, mengompol saja sana!"

"Oh, iya. Apa selama dua malam itu ada perkembangan antara dirimu dengannya? Aku tidak bertanya soal kalian tidur di mana. Ayo, ceritakan .... Detailnya seperti apa? Aku ini ayahmu, jadi ...."

Kulemparkan kaleng kosong ke arah Tetsurou agar beliau berhenti bicara.


Bulan Juni pun berlalu.

Ruang latihan masih tidak tersentuh karena pemilik gemboknya tidak kembali. Sebenarnya aku bisa saja membobol kuncinya, tapi Kazugaraka-senpai bilang, Itu melanggar peraturan, dan karena aku tidak berhasil membuat Mafuyu menandatangani formulir klubnya, maka kepemilikan ruangan itu belum jatuh ke tanganku. Lagi pula, aku tidak berniat menggunakan ruangan tersebut seorang diri.

Entah kenapa, orang-orang di sekitarku sudah tidak lagi menanyakan hal-hal yang menyangkut Mafuyu maupun keberadaannya. Yang bisa kulakukan hanyalah berlatih setiap hari di atap dalam rangka mengasah teknikku. Bahkan aku sudah mempelajari beberapa lagu baru.

Kabarnya, Mafuyu ternyata mengikuti ayahnya ke Amerika meski itu sudah telat beberapa hari dari rencana mereka. Aku mengetahuinya dari sebuah majalah yang masih belum kuketahui keakuratannya.

Apa akhirnya ia mau menjalani pemeriksaan? Dan apa ia sudah memutuskan untuk menjalani operasi?

Hal itu sudah jelas, mengingat betapa Ebichiri memanjakan putrinya. Orang itu pasti lelah dengan tabiat Mafuyu yang suka melarikan diri, dan bisa jadi mereka akan benar-benar menetap di Amerika.

Mungkin kesempatanku untuk bertemu dengan Mafuyu telah hilang sepenuhnya.

Konser Ebichiri di Chicago disiarkan di Jepang melalui satelit — salah satu komposisi yang dimainkannya adalah <Konserto No. 2> gubahan Rachmaninov. Harapanku sempat terbesit, namun sang pianis yang ada di sana rupanya seseorang yang tidak kukenal. Yah, walau jari-jemarinya sudah pulih, tidak mungkin ia akan tampil di panggung secepat itu.

Aku lalu mematikan televisi dan teringat Komposisi Mafuyu yang dimainkannya hari itu. Buku 1 dari <Clavier Bertemperamen Sama>, Prelude dan Fugue dalam C mayor — sebuah kuasa tidak terbayangkan yang bisa membuatku menemukan bas yang telah hilang tanpa jejak itu. Meski begitu, kekuatan musik memang amat besar. Kalau dipikir lagi, yang perlu kulakukan hanyalah memasang cakram perak ini ke dalam pemutar musik lalu memainkannya — dan Mafuyu pun akan muncul di hadapanku.

Musik tidak lain hanyalah kumpulan dari not-not serta aransemennya ataupun penempatannya. Kita sebagai manusia — yang khawatir dengan kesendirian — adalah yang menginterpretasikan hal-hal tersebut dengan bermacam cara.


Mafuyu hanya pernah mengirimkan sebuah surat padaku. Surat itu sampai di hari Minggu selepas siang. Cukup lama aku terdiam dalam ketidakpercayaan saat tersadar kalau nama pengirimnya adalah Ebisawa Mafuyu.

Tidak ada tulisan apa pun dari dalam amplop itu, yang ada hanyalah sebuah kaset pita. Segera kuambil pemutar musik berdebu yang kupunya lalu memutar kasetnya. Terdengar sebuah alunan memilukan dari prelude sonata piano yang dimainkan dalam E? mayor.

<Sonata Piano No. 26 dalam E? Mayor> gubahan Beethoven.

Itu adalah komposisi yang Beethoven tulis untuk sahabatnya yang terpisah karena perang. Terlebih, meski jarang bagi seorang Beethoven untuk menyematkan judul, tapi komposisi tersebut memiliki judul,

<Perpisahan>

Kuserahkan kaset itu pada Tetsurou tanpa berkomentar apa-apa. Setelah mendengarkannya, beliau berkata,

"Bagian kanan dan kirinya direkam secara terpisah, yang kemudian digabungkan. Berarti ..., tangan kanan gadis itu masih belum sembuh, ya?"

"... hmm."

Walau begitu, ini memang komposisi yang dimainkan sendiri oleh Mafuyu — aku bisa tahu hanya dengan mendengarnya saja. Apa mungkin komposisi tersebut direkam menggunakan tape recorder yang sempat kuperbaiki dulu?

Sebuah barang berharga yang diberikan oleh ibunya.

"... tetap saja itu pilihan komposisi yang buruk, 'kan? Ia sedang mengucapkan selamat tinggal padamu! Kasihan .... Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Salahmu sendiri menjadi anakku, yang artinya harus siap menghadapi nasibmu yang tidak akan langgeng dengan perempuan!"

"Berisik! Kembali ke pekerjaanmu sana!"

"Iya, iya ...."

Sambil membawa roti gulung isi di piring, Tetsurou pun kembali ke ruang kerjanya.

Aku tahu kalau yang dikatakan Tetsurou itu bohong, sonata piano itu memang dimaksudkan untuk sebuah perpisahan, namun setelahnya juga terdapat komposisi yang lain.

Sesi kedua berjudul <Ketiadaan>, dan yang ketiga berjudul <Kehadiran Kembali>.


Lalu, sewaktu jam istirahat makan siang di awal Juli, pintu belakang kelas kami mendadak dibuka seseorang.

"Rekan Aihara, buruan, sudah waktunya pergi! Shounen, kamu juga buruan. Ayo bergegas!"

Sebuah seruan dari Kazugaraka-senpai yang ada di belakangku itu membuat fokus seluruh penghuni kelas tertuju padaku. Tangan Chiaki — yang sudah separuh menjulur, hendak merebut bento-ku — terhenti dengan wajah terkejut.

Kutolehkan kepalaku dan menyadari kehadiran senpai yang ... memakai baju bebas di sekolah? Padanan kaos putih bergambar Jim Morrison dengan rok pendek berbahan denim .... Apa yang ada di pikirannya itu?

"Senpai, memangnya kita mau ke mana?"

"Ke bandara. Penerbangan pukul 4.30. Kita akan terlambat kalau tidak pergi sekarang! Ayo buruan!"

"Ke bandara .... Buat apa?"

"Memangnya apa lagi? Masa penahanan rekan kita sudah berakhir. Dan ia akan kembali pulang. Tentu saja, kita perlu menyiapkan operasi penyelamatan sesampainya ia menginjak daratan!"

Sejenak aku dan Chiaki saling bertukar pandang, lalu, secara bersamaan, kami sadar dengan maksud dari ucapan senpai.

"Mafuyu .... Ia kembali pulang?"

"Ya. Tapi karena ia bersama ayahnya, kemungkinan setelah mendarat mereka akan mengunjungi para sesepuh yang punya koneksi dengan Sekolah Musik. Bandara adalah satu-satunya kesempatan kita untuk menyerang!" 

"Hah? Tunggu, sekarang masih tersisa dua jam pelajaran lagi ...."

"Sudah tidak ada waktu untuk rutinitas macam itu!"

"Kenapa harus terburu-buru?"

"Shounen, terkadang kamu membuatku kaget. Jadi kamu tidak tahu alasannya? Minggu depan, OSIS akan mulai mengalokasikan anggarannya pada berbagai klub untuk kegiatan semester depan. Kita tidak akan punya dana sepeser pun jika tidak mengajukan permohonan pendirian klub dengan empat anggota!

"Eh ...?"

Empat anggota?

"Karena ada seseorang yang tidak berhasil menuntaskan misinya sebelum Mafuyu ke Amerika, maka inilah kesempatan terakhir kita."

"Ja-jadi kita akan membuatnya mengisi formulir saat ini juga?"

Sebelum sempat menyelesaikan pertanyaanku, aku dan Chiaki sudah didorong oleh tangan-tangan dari beberapa orang.

"Ayo cepat!"

"Paling-paling goinkyou akan bercerita masa lalu lagi. Kalian tidak akan ketinggalan pelajaran meski membolos!"

"Kamu tidak boleh menghabiskan makanan yang dibelikannya untuk kami!"

Ternyata teman-teman sekelas kami yang melakukannya. Tolonglah, jangan hanya saat seperti ini saja baru mereka bisa kompak!

"Kami akan menutupi absensi kalian!"

Di SMA ini mereka akan ketahuan jika berbuat begitu. Tepat di saat aku ingin membantahnya, pintu depan kelas kami dibuka dengan keras. Dasar ....

"Kalian berdua belum mengganti baju? Ya ampun, bagaimana ini? Ya, sudah, mumpung seragam musim panas sekolah ini tidak seperti seragam kebanyakan, mungkin tidak akan ketahuan jika kalian melepas dasinya."

"Senpai, tolong jangan asal memutuskan!"

Sesaat aku ingin melanjutkan protes, Chiaki sudah melepaskan dasi kupu-kupunya dari leher.

"Ya, sudah, kamu di sini saja. Ada banyak hal yang mau kutanyakan pada Ebisawa-san, makanya aku ikut."

"Rencanaku dalam operasi ini hanya bisa membawa tiga orang saja. Shounen, kamu diperlukan untuk menjadi umpan buat penjaga sekolah."

"Mana mungkin aku mau!"

"Bercanda. Ayo pergi!"

Dengan paksaan, senpai menggaet lenganku dan berlari keluar kelas.

Yah, aku pasrah saja. Bolos homeroom sepertinya tidak masalah, 'kan? Paling-paling aku ditampar lagi oleh Maki-sensei ....

Selagi berlari menuju gerbang luar, kicauan burung tiba-tiba terdengar dari atasku. kutengadahkan kepala untuk melihat langit yang membentang luas di hadapanku ini. Begitu terangnya sinar mentari di musim panas membuat burung yang berkicau tadi tampak berwarna gelap dari sudut penglihatanku.

Tentu saja, spesies burung itu tidak ada di Jepang.

... atau bisa saja memang ada. Burung itu masih berkicau, dengan sayap-sayap yang patah, ingin dibentangkannya agar bisa terbang ke angkasa.

Karena itu—

"Nao, buruan! Nanti bisa ketinggalan senpai!"

Chiaki sudah berdiri di dekat gerbang sambil melambaikan tangannya padaku.

Aku lalu bergegas dengan kecepatan penuh. Dan sekali lagi, kicauan burung dari atasku tersebut membuatku terngiang, alunan yang kembali terdengar, dan setelahnya melayang jauh ke ujung langit.


Lanjut

0 tanggapan:

Posting Komentar