SPS Jilid 1 Bab 16

=========================================================
Lanjut pada kegalauan pencarian sebuah pengikat hubungan... Ceileh...
Lumayan 'ngenes sih, tapi bertahanlah sampai akhir cerita yang bagus dari novel ini...
Seperti biasa, seri yang dikerjakan bareng ini, bisa agan sekalian nikmati lebih awal satu hari di Hanami Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 16 - Lucille, Rintik Awal Hujan


Kami menunggu hingga datangnya fajar sebelum menaiki kereta pertama. Meski sudah pagi, tapi langit masih tampak kelam, dan seakan hendak turun hujan.

"Hei, bukankah harusnya kamu pergi ke sekolah?"

Tanya Mafuyu selagi duduk di kursi kereta yang bergoyang.

"Aku bolos. Tidak masalah kalau hanya sehari."

Terlebih, aku sudah banyak bolos pelajaran karena suatu alasan, namun aku tidak menceritakannya.

"Apa kamu tidak mengirim pesan ke ayahmu dulu?"

"Tidak perlu. Lagi pula, Tetsurou tidak akan begitu peduli dengan hilangnya diriku asalkan masih tersedia sarapan di kulkas."

"Tapi ...."

Padahal dirinya sendiri juga dalam pelarian, bisa-bisanya mengkhawatirkan orang lain?

"Kamu yang mengajakku pergi, kenapa malah mencemaskan hal semacam itu?"

"... karena kurasa kemarin hanya sekadar spontanitas, makanya kupikir kalau hari ini kamu akan pulang."

Oh, rupanya ia meragukanku.

"Yang kabur dari rumah itu kamu! Jadi ayahmulah yang mungkin sekarang sedang mencarimu. Lagi pula, kamu sudah beberapa kali melakukannya ...."

Mafuyu lalu menggelengkan kepala.

"Besok akan ada konser. Orang itu mungkin sedang dalam perjalanan ke bandara."

"Yang benar saja? Padahal anak perempuannya sedang kabur dari rumah ...."

"Tapi bagi orang itu ataupun orkestranya, akan jadi masalah besar jika konduktornya tidak ada di tempat. Iya, 'kan?"

Yah, ia ada benarnya, tapi ....

Meski kami tidak akan mudah ditemukan, namun kurasa lebih baik berhati-hati jika sedang melewati pos polisi. Mafuyu adalah orang yang tampak mencolok, jadi ada kemungkinan orang lain bisa langsung mengenalinya.

"Kita mau ke mana?"

"Ke Kantor Pemerintah Kota."

"Kantor Pemerintah Kota?"



Kami turun di stasiun yang berletak di tengah kota, lalu berjalan melalui gerbang utara menuju area perkantoran. Sebagai tanggapan atas saranku yang tanpa pertimbangan serius itu, Mafuyu yang kabur dari rumah ini pun tampak ketakutan.

"Bagaimana kalau mereka tahu kalau aku kabur dari rumah ...."

"Tidak akan ketahuan jika kita bersikap sewajarnya! Bahkan mereka mungkin tidak akan sampai berpikir kalau kita berdua seorang pelarian jika tetap bersikap kalem."

Lagi pula, akan terlihat aneh jika aku membawa ransel dan kotak gitar, makanya aku menyuruh Mafuyu untuk menyembunyikannya di kamar mandi selagi aku masuk ke dalam Kantor Pemerintah Kota.

"Sampah berukuran besar? Ada. Silakan periksa di tabel sini."

Ucap seorang ibu gemuk di meja gerai itu sambil mengarahkan pulpennya ke tabel klasifikasi sampah sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaanku.

"Eng .... Begini .... Saya tidak sengaja membuangnya, jadi kira-kira di mana saya bisa menemukan barang yang tidak sengaja saya buang itu?"

Sang ibu gemuk memiringkan kepalanya sambil memandangku ....

"Maksudnya ..., saya telah salah membuang sebuah barang ...."

"Hah? Jadi kamu mau mencari barang itu? Jelas mustahil!"

Sesaat, di diriku ini timbul sebuah dorongan kuat untuk menampar ibu itu. 

Setelah sedikit berdebat, akhirnya aku mendapat beberapa informasi mengenai Dinas Lingkungan. Ada sebuah fasilitas pengolahan di mana sampah-sampah berukuran besar dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil.

"Biarpun kamu ke sana ..., tetap saja mustahil. Kamu tidak akan bisa menemukannya. Apa kamu tahu betapa banyak sampah yang dikirim ke sana tiap harinya? Kamu yakin sesampainya di sana bisa menemukan barang itu?"

"Terima kasih, Bu."

Aku segera berlari menuju tempat itu. Beliau mempertanyakan keyakinanku untuk bisa menemukan barang yang kucari sesampainya di sana. Kurasa aku bisa, memangnya kenapa?!



Dinas Lingkungan berlokasi di pinggiran sisi lain kota. Kami pun turun di sebuah stasiun yang tidak pernah kami kunjungi sebelumnya, dan itu menempuh waktu dua puluh menit hingga sampai di tujuan, di mana itu bertempat di sebuah bukit kecil. Ketika kami sampai pada bangunan sederhana di tengah pepohonan, baik aku maupun Mafuyu dan aku langsung terpaku.

Rombongan truk yang membawa banyak sampah melewati kami. Dari pinggiran jalan, kami berdua hanya bisa tertegun menyaksikannya sewaktu nyaris mengenai rombongan truk tersebut.

"Besar sekali ...."

Gumam Mafuyu seakan juga ikut menyuarakan perasaanku.

Sekolah kami bisa dibilang cukup luas, namun tempat ini berada di tingkatan yang berbeda. Lahan yang kami lihat ini berkali-kali lebih luas dibanding sekolah kami, ditambah suasana yang jauh lebih riuh.

Ucapan dari ibu yang di Kantor Pemerintah Kota saat itu terngiang kembali.

Jelas mustahil!

"Baiklah ..., ayo kita periksa."

"Hmm ... mmm."

Saat sampai di gerbang, kami hampir saja dilindas truk yang sedang melintas. Mafuyu terbatuk gara-gara kepulan debu yang diterbangkan oleh truk. Tulisan [Dinas Lingkungan: Fasilitas Peleburan Sampah] terpampang pada gerbangnya.

"Harus ke mana dulu, ya?"

Sewaktu aku memeriksa keadaan sekitar, Mafuyu perlahan menunjuk ke arah kiri. Ada papan penanda bertuliskan [Lobi Registrasi] disertai gambar anak panah yang menunjuk ke sebelah kiri. Jika dilihat dari jarak tertentu, pada arah yang ditunjuk oleh anak panah tersebut, bisa terlihat sebuah bangunan yang mirip dengan SPBU.

Saat kami mendekat, tampak ada sebuah atap besar menaungi bangunan itu. Di bawahnya ada sebuah plat berbahan logam sebesar mobil, dan di sebelahnya terlihat sebuah mesin yang mirip seperti kotak surat. Tulisan [STOP] tercetak putih di atas aspal.

"Ini pasti untuk menimbang bobot truk?" ucap Mafuyu.

Begitu, jadi truk-truk itu harus ditimbang dulu sebelum keluar masuk tempat ini? Berarti seharusnya ada orang yang menempati lobi registrasi itu, 'kan?

"Apa kamu pikir bisa menemukan basmu di tempat penampungan sebesar ini? Bisa jadi itu sudah dilebur, 'kan?"

"Kita tidak akan tahu ... kalau tidak diperiksa sendiri."

Itu terdengar seolah berusaha membesarkan hatiku sendiri.

Seketika kami berjalan menuju tulisan [STOP] sebelum area penimbangan, pintu lobi registrasi mendadak langsung terbuka. Kami terkejut sampai menghentikan langkah kami.

"Tidak, tidak! Tetap tidak boleh! Kalian mau membuah sampah ke sini, 'kan! Tidak boleh!"

Bapak itu bergegas ke arah kami, dan membuat Mafuyu ketakutan hingga bersembunyi di balik punggungku.

"Di sini tidak menerima sampah berukuran kecil .... Eh? Hmm?" si bapak itu langsung mendekatiku, "Itu gitar, 'kan? Kamu juga tidak bisa membuang gitar di sini!"

"Eh? Jadi gitar tidak bisa?"

"Sebenarnya bisa, tapi aku tidak mengizinkannya."

... hah?!

"Gitar adalah jiwa dari seorang pria! Akan menyedihkan jika Raja Blues, B.B. King menelantarkan gitar Lucille khas miliknya. Iya, 'kan? Lebih parah lagi jika Brian May dari Queen menelantarkan Red Special-nya!"

Sebenarnya orang ini bicara apa?

"Tapi Jimi Hendrix pernah beberapa kali membakar gitarnya."

"Tapi itu tidak dianggap membuang, 'kan? Ia membakarnya sebagai persembahan untuk Dewa Rock! Jadi aku bisa memakluminya. Eh? Kamu masih semuda ini sudah tahu tentang Jimi Hendrix?"

"Yah ..., saya lumayan suka."

Kedua mata bapak itu langsung berbinar. Sepertinya beliau penggemar berat musik rock lawas.

"Oh, begitu! Aku paling suka saat ia bermain di Jimi Hendrix Experience, walau setelah Festival Musik Woodstock ia ...."

Bapak itu mendadak bicara dengan menggebu-gebu .... Sudahlah, kembali bekerja, sana! Aku sedikit menoleh dan tersadar kalau Mafuyu sudah kabur ke gedung lain. Pengkhianat! Dan aku terpaksa mendengarkan si bapak bercerita tentang Festival Musik Woodstock sampai dua puluh menitan, seorang diri.

"... jadi pikirkan baik-baik soal keputusanmu membuang gitar itu. Kamu harus mengejar mimpimu selagi masih muda!"

Akhirnya aku punya kesempatan untuk menyela dan melambaikan tangan tanda mengelak.

"Bapak sudah salah paham. Saya kemari bukan untuk membuang barang, tapi untuk mengambil kembali."

"Eh?" Aku lalu menjelaskan tentang diriku yang tidak sengaja membuang basku kepada bapak ini. Sambil berlinangan air mata, bapak tersebut berkata,

"Jadi ..., jadi begitu .... Dan itu adalah alat musik yang pertama kali kamu beli sendiri .... Kenangan masa muda itu memang tidak akan begitu saja bisa dilupakan ...."

Eng, aku tidak pernah berkata kalau itu alat musik yang pertama kali kubeli. Yah, walau beliau sebenarnya juga tidak salah ....

"Kamu bisa membelinya setelah menyisihkan uang tahun barumu. Meski belum begitu lancar memainkan bas, kamu sudah memikirkan nama band masa depanmu, sekaligus tajuk album pertamamu. Akan tetapi, ibumu benci dengan musik rock, dan membuang basmu tanpa seizinmu .... Sampai kapan pun, rocker akan selalu mengalami penindasan ...," berhentilah mengarang cerita sendiri! "Jadi kamu kemari setelah diarahkan oleh Kantor Pemerintah Kota? Aku sungguh tersentuh. Ingatlah untuk memberi nama seorang wanita pada basmu jika sudah berhasil mendapatkannya kembali!"

"Eh? Apa saya bisa menemukannya? Soalnya bas itu dibuang kemari."

"Tidak. Berton-ton sampah dikirim kemari setiap harinya, jadi itu mustahil."

Jangan tiba-tiba bersikap dingin begitu!

"Aku tidak yakin kamu bisa mendapatkannya lagi. Biar kutekankan, aku tidak bisa mengizinkanmu mencarinya di fasilitas peleburan, dan jangan pernah berpikir kamu bisa mencarinya di dalam lubang, tempat di mana semuanya telah dilebur. Aku mungkin bisa memperbolehkanmu mencarinya di gundukan sebelum kami lebur, tapi itu bisa memperlambat pekerjaan kami."

"Begitu ...."

Rasanya peluang jadi kian menipis. Mungkinkah aku sudah terlalu naif?

"Omong-omong, kapan basmu diambil pengangkut sampah? Apa hari ini? Jangan bilang kalau itu minggu kemarin!"

"Eng .... Hmm ..., kemarin lusa."

Bapak itu tiba-tiba membelalakkan matanya, "Kemarin lusa?!"

Aku hampir mengira jika beliau hendak berubah wujud. Saking terkejutnya, aku termundur satu langkah.

"Jadi kalau kemarin lusa ..., tandanya sudah terlambat, ya?"

"Apa itu memang kemarin lusa? Mustahil."

"... eh?"

"Kami memungut sampah hanya pada hari Rabu. Apa kamu sendiri yang membuangnya kemari?"

Kugelengkan kepala karena kebingungan.

Aku yakin sudah membuangnya di pusat daur ulang pada Senin malam, dan itu sudah tidak ada saat hari Rabu.

"Apa mungkin ada yang mengambilnya?"

"Eh ...?"

Kalau memang begitu, berarti sudah tidak ada harapan. Jelas aku tidak akan bisa menemukannya.

"Televisi dan barang-barang lainnya juga sudah tidak ada, jadi mungkin—"

"Eh? Pasti itu dari operator lain!"

Bapak itu lalu melipat tangannya sambil menganggukkan kepala seakan telah memahami sesuatu. Operator?

"Kadang kamu pernah melihat sebuah truk kecil berkeliling kota sambil menyiarkan, Kami memungut sampah berukuran besar tanpa dibayar! iya, 'kan? Itulah mereka. Kami biasa menyebutnya hama. Seperti yang kamu lihat, Kantor Pemerintah Kota akan melabeli sampah-sampahnya dengan stiker sebelum dibuang kemari. Jadi sebuah tindak kriminal jika mengambilnya tanpa izin!"

"Lalu ..., apa Bapak tahu di mana mereka?"

"Hmm ...?"

Bapak itu menundukkan kepalanya dan sesaat merenung. Kurasa beliau tidak tahu.

Kami sudah jauh-jauh kemari, dan masih tidak mendapatkan apa-apa. Apa peluang untuk mendapatkan kembali basku itu benar-benar nihil?

Dengan perasaan kecewa aku membungkukkan badan pada bapak itu sambil berkata, "Maaf sudah mengganggu pekerjaan Bapak," kemudian mulai beranjak ke tempat Mafuyu berada. Tepat di saat itu, sebuah suara terdengar dari belakangku.

"Oi! Tunggu dulu, Rocker. Di mana rumahmu?"

Eh?

"Kalau masih berkisar di ranah operator yang kukenal, aku bisa memberitahumu!"

Seketika aku menoleh ke belakang, bapak tersebut terlihat seperti pria berotot layaknya Freddie Mercury. Beliau mengacungkan jempolnya dan berkata,

"Kamu ingin agar alat musik kesayanganmu kembali, 'kan? Sudah jelas aku tidak akan membiarkanmu sendiri!"



Sewaktu Mafuyu memandang langit dari balik jendela kereta, ia bergumam, "Sepertinya akan turun hujan."

Aku mengangguk. Aku duduk bersebelahan dengan Mafuyu, dengan gitar yang terapit di antara kedua kakiku. Kuambil daftar informasi — yang dibuat bapak itu — tentang para operator dan memeriksanya dengan saksama. Walau beliau sudah memberikan detail dari keenam operator tersebut, tapi tidak satu pun yang memuat alamat. Kurasa itu wajar bagi seseorang dari fasilitas pengolahan sampah. Beberapa nama dari operator yang terdaftar ini tampak seperti nama sebuah agensi pengiriman atau semacamnya. Yang lebih mencurigakan lagi adalah yang menggunakan nama pribadi dengan disertai nomor ponsel-nya. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang melakukan kegiatan ilegal, 'kan?

"Mereka mungkin bukan orang baik-baik, jadi berhati-hatilah."

Bapak itu juga sempat mengatakan hal sama. Mengambil sampah berukuran besar tanpa izin memang bukan tindak kriminal yang serius, tapi tetap saja masih ada pekerjaan yang lebih halal dari itu.

"Apa kamu serius masih mau mencarinya?"

"Hmm. Kalau begitu, setelah makan siang nanti akan kita datangi lagi Kantor Pemerintah Kota untuk mencari alamat para operator ini melalui nomor ponsel atau informasi registrasi mereka." 

"Kita pasti tidak bisa menemukannya ...."

"Kalau kamu lelah, lebih baik tidak usah ikut. Apa kamu mau istirahat dulu biar nanti aku jemput kalau sudah selesai?"

"Aku tidak mengikutimu!" Mafuyu mendadak marah, "Kamu sendiri yang bilang mau ikut sambil membantuku membawa ransel. Kamu lupa, hah?!"

"Hmm, benar juga, lalu ...?"

"Lalu, aku ikut."

Kalau begitu jangan mengeluh!

Aku pun memandang dari balik jendela. Pemandangan yang sama dari jalan raya itu melintas di kedua mata kami, namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda dari yang kami lihat kemarin. Apa mungkin itu karena saat ini adalah waktunya makan siang? Apa Chiaki akan kelaparan tanpa bento yang biasanya kubawa? Gambaran tentang sekolah ini sejenak muncul dalam pikiranku, namun entah kenapa, itu tampak seakan telah lama berlalu.

Andai aku kembali ke keseharianku yang biasanya, aku pun akan mengajak Mafuyu untuk ikut di dalamnya. Karena itu, sebelumnya aku harus menemukan basku, dan mendapatkan kembali semua yang telah kutinggalkan — aku harus menemukan suara yang telah mengikat kami itu.


0 tanggapan:

Posting Komentar