Oreshura Jilid 1 Bab 11

=========================================================
Sama seperti terjemahan LN yang pernah ane garap sebelumnya, judul dari novelnya tersemat pada akhir bab yang bisa juga menjadi kesimpulan dari keseluruhan cerita...
Sama juga seperti garapan ane sebelumnya, memang seperti yang kita tahu, LN ini masih ada lanjutannya, tapi tetap aja bagi ane ini sudah pas dijadikan penutup cerita...
Dan kembali sama seperti postingan sebelumnya, kesan ane saat pengerjaan nih LN bakal ane sampaikan di postingan kata penutup...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 11 - Ini Memang Epilog, Tapi Tidak Hentinya Menjadi Sebuah Kekacauan


Sementara itu, di situasi yang lain ....

Keesokan harinya, Masuzu datang ke sekolah seolah tidak terjadi apa-apa.

Sepulang sekolah, Chiwa juga datang ke ruang klub seolah tidak terjadi apa-apa.

Dan seperti yang kami lakukan sebelumnya, Komunitas Gadis Remaja demi Menampilkan Pribadinya pun memulai kembali kegiatan klub.

"Yah, singkatnya, Sakagami-senpai dan aku itu tidak punya kecocokan."

Chiwa mengunyah roti daging cincang sembari meringkas romansanya dengan lelaki .

"Tapi aku tidak akan menyerah! Karena aku ingin jadi populer sampai Ei-kun menangis hingga air matanya memenuhi lautan."

Benar sekali Chiwa. Sampai saat itu tiba, aku pasti akan menangis bahagia.

"Itu baru semangat, kehidupan SMA kita baru saja dimulai, pertempuran kita yang sesungguhnya akan dimulai dari sekarang."

Masuzu, karena kita baru saja memulai kembali kegiatan klub, tolong jangan langsung menaikkan flag lainnya lagi!

Karena itu, meski ujian akhir akan segera tiba, klub Jien-Otsu kami memutuskan untuk mencoba beberapa strategi tempur yang baru.

Gadis yang bisa memasak itu sangat manis, menjadi tema strategi baru kami.

Strategi bertarung ini persis seperti pengertian harfiahnya, namun sayangnya Chiwa tidak bisa memasak.

"Masuzu, apa kamu bisa memasak?"

"Aku? Jelas tidak."

Maksudmu apa? Mata Masuzu mengisyaratkan hal tersebut saat menatap ke arahku.

"Jika tidak bisa memasak, tidak masalah asal kamu berpura-pura bisa memasak."

"... pola seperti ini lagi ...?"

"Semua akan baik-baik saja, yang penting Eita-kun antusias memakan bento buatan kami. Besok, sewaktu istirahat makan siang, makanlah di depan semua orang dalam kelas dan puji masakan kami! Walau kemungkinan itu tidak bisa dimakan ..., kamu hanya perlu bertahan. Ini semua soal daya tahan."

*Plup* Chiwa menepuk dadanya dan berkata,

"Baiklah, Ei-kun! Aku akan berusaha keras supaya makananku tidak akan mengancam nyawa!"

"Kalian bahkan tidak berniat membuatkanku makanan yang enak!"

Ucapku sambil memukul meja.

"Tidak, aku tidak akan mau memakannya! Sebentar lagi ujian akhir, dan aku tidak ingin membuat perutku sakit!"

"Begitu, ah, sayang sekali."

Masuzu lalu memalingkan pandangannya. *Fiuh*~ dia berdesah kemudian melanjutkan,

"Ganti topik lain. Belakangan ini komputerku jadi aneh. Hard disk-nya sering mengeluarkan suara aneh."

"Oh? Berarti kamu harus segera memperbaikinya."

"Bahkan sampai mengeluarkan suara yang benar-benar aneh. Suaranya terdengar seperti, Rahasia buku catatan, rahasianya akan tersebar, tersebar~, tersebar~."

"Ah, itu artinya sudah tidak bisa diperbaiki lagi .... Wah ..., sepertinya aku berubah pikiran. Aku mau memakannya .... Maksudku, aku tidak sabar ingin memakan bento buatan Masuzu-san dan Chihuahua-chaann!"


XXX


Keesokan harinya sewaktu istirahat makan siang ....

Sesungguhnya hal ini akan merampas waktu santaiku bersama Kaoru.

"Baiklah, kalau begitu hari ini aku akan makan di kantin saja."

"Ma-maaf, ya, Kaoru!"

Tolong jangan pergi...

Tolong jangan tinggalkan aku di sini sendiri!

"Jadi, kenapa tidak coba cicipi dulu bento-ku? Silakan, Eita-kun!"

"Aku duluan! Yang seperti ini harusnya hak orang yang memiliki hubungan paling lama, 'kan?"

Aku duduk terhimpit di antara mereka berdua. Mereka terlalu dekat, hingga aku kesulitan menggerakan sumpit.

"Untuk ukuran teman sedari kecil, kamu memang tidak tahu malu ya. Padahal kalau dilihat lagi, bukankah pacar yang seharusnya diberi prioritas tinggi?"

"Huh. Kalian baru beberapa minggu yang lalu berpacaran. Apa kamu pikir bisa menang melawan kebersamaan kami selama sembilan tahun?"

Ya ampun, dilihat dari mana pun, hal ini tampak seperti sebuah bab di mana Kidou Eita meraih popularitasnya.

Faktanya, sejak beberapa saat tadi, ekspresi semua teman sekelasku — terutama para murid lelaki — dipenuhi kecemburuan yang tidak terbendung. Lagi pula, untuk apa Yamamoto-kun sampai memegang boneka jerami segala? Mungkin ini maksud dari, Berikan sehelai rambutmu, yang pernah dikatakannya dulu?

Salah ....

Ini jelas-jelas salaaah!

"Kalau begitu, kenapa tidak minta Eita-kun memilihnya sendiri?"

"Semuanya tergantung padaku?"

Keduanya membuka tutup bento mereka secara bersamaan.

Seketika, aroma mengerikan menyebar ke sekelilingku.

Itu jelas bukan warna dari sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam mulut.

Benda itu terlihat seperti sesuatu yang ada pada video sadis dan cukup untuk memicu kerusakan mental. Pemikiran semacam itu membuat nafsu makanku menghilang!

Ya, mereka benar-benar melampaui perkiraanku.

"Hmm, Chiwa ...."

"Ada apa, Ei-kun?"

"Benda apa yang seperti arang itu? Apa itu batu bara?"

Aku ini bukan kereta api!

"Ini adalah bakso daging ala Chiwa-chan! Makanan ini dibuat dari adonan daging babi goreng yang dilumatkan! Terlihat lezat, 'kan?"

Yah, kemungkinan begitu kalau tidak segosong ini!

"Hmm, Masuzu...."

"Ada apa, Eita-kun?"

"Ini .... Gumpalan lendir cokelat macam apa yang ada di dalam bento ini? Apa ini bisa dimakan?"

"Mungkin?"

Masuzu dengan anggun memiringkan kepalanya.

"Jujur, aku tidak ingat apa yang terjadi sewaktu membuatnya ...."

"Jadi kamu lupa ingatan saat memasaknya?!"

Lagi pula, tega sekali dia memaksaku untuk memakan benda seperti itu?

"Tapi semuanya akan baik-baik saja, aku yakin rasanya pasti enak."

"Ucapanmu barusan tidak ada dasarnya! Kalau begitu, coba kamu makan dulu!"

Kemudian, tanpa mengucap sepatah kata pun, Masuzu langsung memalingkan muka.

... da-dasar ....

"Ya sudah, cepat makan .... Aku ingin mendengar pendapatmu, tahu?"

Mata Chiwa mulai berbinar penuh antusiasme.

"Ini adalah makanan yang kumasak dengan sepenuh hati. Jadi tolong dicicipi!"

Masuzu tersenyum cerah.

Aku mulai menyesali kata-kata yang kuucapkan pada Masuzu tempo hari.

Sebenarnya maksudku saat itu adalah aku akan membantunya menghentikan Chiwa agar tidak pergi.

Sampai berapa lama semua ini akan berlanjut?

Kapan mereka akan berhenti?

Aku mulai mendengar para anak lelaki di kelas menggerutu penuh kebencian, "Berengsek ...," "Mati saja kamu sana!" "Kenapa dia bisa sampai populer?" *jleb* *jleb* *jleb* terdengar pula suara boneka jerami yang sedang ditusuk-tusuki paku oleh Yamamoto-kun. "Tidak mungkin mereka berdua takluk dengan orang macam dia," "Paling tidak, sisakan Chihuahua-chan!" "Kalau perlu, gantian denganku!"

... boleh, silakan saja.

Itu pun kalau di antara mereka ada yang bisa memasakkan Chiwa setiap malamnya.

Dan itu pun kalau ada yang bisa tahan dengan lidah tajam Masuzu maupun percakapan ala Jojo-nya.

Kapan pun mereka mau, silakan saja.

"... hei, Chiwa."

Aku memandang ke kejauhan.

"Yang kamu anggap popularitas itu ..., bisa jadi tidak sehebat yang kamu pikirkan, 'kan ...?"

"Ei-kun tiba-tiba berlagak keren."

"Begitulah, karena dia pacarku, tentu saja dia sangat keren."

*Jyut* Masuzu merangkul lengan kiriku.

"Jangan harap! Di-dia i-itu te-temanku sedari kecil!"

Chiwa tidak mau mengalah dan ikut menarik lengan kananku.


"Kenapa kamu tidak menyerah saja?"

"Kenapa kamu tidak menyerah saja?!"

*Gogogogogogo*

Dengan efek suara khas Jojojojo tersebut, mereka berdua saling menatap tajam.

Para murid lelaki di kelas ini pun dipenuhi aura kebencian yang luar biasa, menatap tajam ke arahku.

Tidak mau ....

Aku tidak mau kehidupan SMA yang seperti ini!

Dan aku terjebak di antara pacar dan teman sedari kecilku yang terlalu sering membuat kekacauan!



Mundur
Lanjut

0 tanggapan:

Posting Komentar