Bokushinu Jilid 1 Bab 7

=========================================================
Selesai... Bahkan sampai di akhir bab saja masih ada twist-nya...
Oke, walau LN ini sebenarnya masih ada lanjutannya, tapi bagi ane bab ini sudah pas sebagai penutup cerita... Setuju, 'kan...?
Kesan ane selama mengedit bakal ane sampaikan di kata penutup LN ini...
Yang pasti, judul ini seru sekali untuk dibaca...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Sekki & Kyou Translation...
Selamat menikmati...
=========================================================


Bab 7 - Besok, Aku Akan Mati. Akan Kutemui Dirimu


-

Lihat ke atas.

-

"Atas?"

Sambil membawa buku catatan, aku melihat ke arah plafon.

Ah, tampaknya ada sesuatu yang tertulis di sana.


-

Lihat ke kanan.

-

"Kanan ...."

Aku lalu berbalik menghadap pojokan plafon, dan ada pesan di sana.


-

Buka lemari.

-

"Mau apa dia?"

Kejahilan ini persis seperti yang biasanya dia lakukan, dan aku pun hanya bisa tersenyum pahit.

Sekarang tanggal 21 Juli, hari-hari penuh hujan akhirnya berangsur hilang.

Ini hari pertama liburan musim panas, bayangan awan tampak dari atas lantai.

Salah satu keuntungan saat liburan yaitu aku bisa bangun tidur dengan santai, dan seperti biasa, aku dipaksa ikut dalam permainannya. Yah, terserahlah. Karena sedang liburan, jadi aku akan ikut bermain.

"Hmm ..., apa dia bilang? Hartaku? Jika menginginkannya, kamu bisa memilikinya! Segala yang ada di dunia ini ada di tempat itu! Pertama, kamu harus mendatangi adikmu dan dan mengucapkan selamat pagi, ... haaa." 

Gadis itu masih saja sempat merancang permainan konyol ini.

Kuhela napasku sewaktu melihat pesan ala One Piece dalam dialek Hiroshima yang tertempel di lemari itu.

"Oke, baiklah."

Kucabut catatan itu, lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Angin yang masuk ke dalam ruangan berembus di telingaku. Kutengadahkan kepala dan melihat ke luar jendela, memandang cahaya biru yang menenangkan. Kicauan burung pipit di luar jendela terdengar bagai sebuah harmoni yang damai.

"Ini liburan musim panas, ya?"

Sambil memikirkan itu, kuganti bajuku, dan menuju kamar adikku seperti yang diminta Hikari Yumesaki. Aku mengetuk pintu, lalu menyapa,

"Pagi, Yukiko—"

"Aku dapat ilham!"

Apa-apaan itu? Bikin kaget saja!

Jangan tiba-tiba berteriak begitu!

"Ini sebuah pertanda! Pertanda dari surga! Aku tidak bisa menghentikannya! Kakak memang hebat! Ini pasti akan laris di pasaran!"

Adikku — yang duduk menghadap komputer di atas meja — mengetik kibor dengan menggebu-gebu sembari berteriak penuh sukacita.

"Hari ini Kakak bangun lebih cepat, dan kurasa itu sangat aneh, jadi aku mengikutinya dari belakang. Lalu, entah kenapa, dia mulai bertengkar dengan Kazeshiro, kemudian suaranya mendadak feminin. Hubungan antara dua lelaki— waaaaaaaaaaaaaahhhhh! Akhirnya! Kakak memang hebat!"

Ada apa ini? Gadis ini terlalu bersemangat sampai membuatku sedikit takut. Sepertinya dia sudah seperti ini semalaman.

"Yo, Yukiko ..., pagi!"

"Ah, pagi, Kak! Hari ini Yukiko masih bersemangat seperti biasanya! Meski belakangan Yukiko tampak sedikit aneh!" 

Oh, jadi dia menyadarinya juga? Bagus. Dan semoga dia ingat membersihkan liurnya.

"Omong-omong, ada keperluan apa? Hari ini aku sedikit sibuk!"

"Ah, bukan apa-apa. Hanya mau menyapa."

"Padahal jarang sekali kamu menyapa .... Ah."

Adikku tampaknya mengingat sesuatu hingga dia menghentikan kegiatannya, lalu mengambil sebuah surat dari bukunya dan memberikannya padaku.

"Hmm? Apa ini?"

"Kamu bicara apa? Bukankah kamu sendiri yang menyiapkannya? Kamu yang memintaku untuk menyerahkannya kembali padamu setelah bangun tidur. Apa kamu lupa?"

Oh, begitu. Jadi itu maksudnya.

"Terima kasih"

Setelah berterima kasih padanya, aku pun pergi dari kamar adikku lalu membuka amplopnya.

Ada sebuah pesan di dalamnya.


-

Ada kencan di pusat permainan selepas pukul dua siang!

-


XXX



Setelah menyantap sarapan singkat demi mengisi perut, aku langsung menuju  pusat permainan terdekat, tepatnya, di tempat parkir.

Yang menungguku di sana adalah orang-orang ini.

"Terima kasih banyak! Kami tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, Sakamoto!"

"Terima kasih" "Terima kasih" "Terima kasih"

Geng berandalan — pimpinan si rambut mohawk — berteriak dengan keras.

Aku sudah menyuruh mereka untuk menarik perhatian media selama kejadian kemarin, dan sebagai imbalan, aku menjanjikan mereka bisa berfoto bareng gadis. Entah dari mana Hikari Yumesaki mengetahui informasi ini, yang pasti dirinyalah yang menjadwalkan sesi pemotretan pada hari ini.

Selain itu, sepertinya si rambut mohawk berhasil kabur dari kejaran media. Koran lokal sampai menerbitkan berita dengan tajuk menarik, [SEORANG LELAKI MISTERIUS BERAMBUT MOHAWK GAGAL BUNUH DIRI?] dan karenanya, si rambut mohawk pun menjadi penjahat yang tidak dikenal. Berkat ini, rencana bunuh diri Kazeshiro telah dianggap sebagai aksi dari si rambut mohawk, dan itu mencegah terjadinya persoalan yang lebih besar. Yah, dengan gaya rambut yang menarik perhatian, mungkin bukan hal yang mengherankan kalau suatu hari nanti dia akan diamankan polisi untuk dimintai keterangan ....

"Baiklah, akan kita lakukan sesuai urutan, jadi berbarislah ..., oke?"

"Ba-baik, terserah kamu saja ...."

Dan di sana sudah ada sesosok gadis yang mengejutkanku.

Seorang gadis manis dengan rambut jingga yang memesona disertai jepit rambutnya — kedua kepangannya berayun lembut terbuai angin.

"Oke, katakan, cheese."

"Waaaaahhh! A-akhirnya aku bisa berfoto bareng gadis!"

"Selamat. Ma-maaf karena kalian harus berfoto dengan gadis sepertiku ...."

Kasumi — yang berdiri di sebelah si rambut mohawk — tampak tersenyum malu.

Sebuah surat yang ditinggallkan Hikari Yumesaki pada adikku berisi pesan,

-

Aku sedang mendiskusikan soal sesi pemotretan dengan si rambut mohawk, dan masih belum tahu di mana aku bisa mendapatkan gadis yang mau ikut di sesi ini. Entah kenapa, Kasumi bilang kalau dia ingin ikut! Ada apa ini? Aku tidak begitu yakin, tapi ini kesempatan yang sangat bagus!

-

Apa dia ingin menebus kesalahan? Kurasa memang seperti itu .... 

"Terima kasih banyak, Tuan putri Kasumi! Hamba akan selamanya setia mengikuti Anda!"

"... baik .... Mohon bantuannya setiap saat ..., setiap saat ..., setiap saat."

"Siap!"

Kukira itu hanya khayalanku saja, tapi di mataku, senyuman Kasumi tadi tampak sedikit kelam. Si rambut mohawk itu mungkin telah menempuh jalan yang berbahaya. 

"E-eng ..., Sakamoto....?

"Hmm, i-iya?"

"Ya-yah ...,  sebagai imbalan, apa kamu mau ... pergi kencan denganku?"

"Hmm, ya, tentu saja."

"Ah, ehehe .... Berhasil ...."

Sudah kuduga akan seperti ini.

Ini mungkin sebuah syarat yang pernah Kasumi bicarakan sebelumnya.

Dia kepalkan tangannya di depan dada sebagai tanda kemenangan.

"Kurasa aku memang tidak boleh menyerah. Aku akan terus berusaha keras hingga kamu akhirnya tunduk padaku ...."

"Haha ...."

Kasumi menegaskan kalimat tersebut padaku. Meski begitu, senyuman misteriusnya itu penuh dengan pencapaian. Tampaknya dia akan kesusahan menanganinya.

"Sakamoto ...."

"Hmm?"

Sambil merangkul tubuh mungilnya sewaktu melihat ke arahku, dia mengatakan,

"Eng ..., pikirkanlah baik-baik. Setelah kencan ini ..., nomor yang mana akan kamu pilih?"

"Eh?!"

Aku tidak kuasa untuk berseru penuh kaget, dan Kasumi hanya tersenyum kecil.

Senyum malu-malunya itu membuat wajahku tersipu, tapi kurasa aku terlalu terbawa suasana.

Aku bertanya-tanya soal ini selagi memandang para lelaki yang sudah berlinangan air mata di sebelahku.

"Eng ..., coba lihat pesan yang dikirim Kazeshiro ...."

Sesi pemotretan pun selesai tanpa hambatan, dan sebelum kami berpisah, Kasumi menunjukkan catatan yang berbunyi,

-

Kirim pesan ke Kazeshiro!

-

Apa sebenarnya yang gadis ini mau?

Kukirimkan sebuah pesan biasa untuk Kazeshiro, lalu berjalan di atas aspal yang menyengat di bawah teriknya matahari sembari menunggu balasannya.

Ada sebuah persimpangan jalan di depanku.

Langit tampak lebih luas dari sebelumnya, mungkin karena posisiku kini lebih tinggi.

Tampaknya cucuran darah yang tidak mau berhenti waktu itu telah tersapu bersih oleh hujan.

"... hmm?"

Kurasakan sebuah getaran dari ponsel-ku, lalu menghentikan langkah dan menggeledah kantungku. 

Sebuah balasan yang cukup cepat.

[Lupakan soal yang kukatakan di pemakaman saat itu! Kamu sendiri juga ikut mengatakan hal yang memalukan!]

"Haha."

Maaf, Kazeshiro. Salahmu sendiri mengatakan, Perasaanku padanya tidak akan kalah dari siapa pun, itu sejarah kelammu, dan akan kuingat selamanya. Mulai dari sekarang, aku akan mempergunakannya baik-baik.

"Eh? Masih ada lagi."

Masih ada beberapa kalimat lagi di bawahnya, karena itu aku lanjut membaca.

[Omong-omong, Sakamoto. Sekarang sedang libur musim panas, bagaimana kalau kita pergi berlibur bareng? Kita bertiga, termasuk Hikari.]

"Berlibur, ya?"

Setelah berpikir dua kali, kukirimkan jawaban persetujuanku.

[Baiklah.]

Tanpa sadar aku pun tersenyum dan memejamkan mata.

Aku tidak tahu apa yang dia dan Kazeshiro lakukan saat itu, di hari yang penuh hujan itu.

Ketika terbangun, aku sudah berada di kasurku.

Sebuah buku catatan lusuh tampak berada di atas meja.

Dan pada halaman terakhir, hanya tertulis,


-

Terima kasih.

-

Aku tidak tahu bagaimana detailnya, tapi dilihat dari cara Kazeshiro mengirimiku pesan, yah, kurasa masalahnya sudah selesai.

Kini tugas terakhir sudah beres, dan ketika hendak meletakkan buku catatan pudar itu ke dalam laci meja seperti baru saja selesai liburan, tiba-tiba, aku tidak bisa menahan diri untuk mengucapkan, Kerja bagus. Entah kenapa aku jadi merasa begitu nyaman, dan kurasa aku mungkin tidak akan melupakan hal semacam itu yang sepadan dengan kebahagiaan ini.

"Wah, sudah dibalas."

Getaran dari ponsel-ku mengusik renunganku.

Jawaban Kazeshiro sangat sederhana,

[Akan kuhubungi nanti.]

Apa seperti ini para lelaki saling bertukar pesan? 

Dan sewaktu hendak mempertanyakannya, kusadari kalau masih ada satu kalimat di akhir pesan.

[Karena aku tidak akan mengaku kalah.]

"... haha."

Kutatap langit, dan angin berembus kencang dari gedung-gedung tinggi, menggoyahkan tubuhku.

Kututupi diriku dari menyilaukannya sinar mentari yang bersemangat itu dengan kedua tanganku ini, lalu kembali menatap langit. Langit biru yang menjulang tersebut tampak seperti hendak menghisapku.

Awan-awan putih yang memesona, berkibar di udara dan berderu.

Sebuah suara yang menandakan tibanya musim panas.

"Musim panas, ya?"

Benar, aku sudah membulatkan tekad.

Selama musim panas, aku akan bertemu dengan Nyonya Hinako.

Aku tidak peduli apa alasannya. Aku ingin agar dia mengungkapkan kata-katanya sendiri. Konsekuensi ke depannya akan semakin membahayakan jika dia terus membiarkan kesalahpahaman ini. Baiklah. Akan kupikirkan cara memperbaiki hubungan yang rusak ini.

"Jangan hanya melarikan diri."

Bahkan jika kamu sudah mati, kalian berdua tetap seorang ibu dan anak—

"Kalau begitu, kurasa semua akan baik-baik saja."

"Eh—"

Sebuah suara tiba-tiba melintas di benakku, dan seketika itu pula kesadaranku kembali.

Kupulihkan pandanganku.

Di hadapanku kini terbentang jalan raya yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit, dengan ramainya lalu lalang, membuat segalanya samar.

Di antara kerumunan yang padat itu, samar-samar bisa kulihat sebuah sosok misterius. Sosok itu — yang begitu kontras dengan cahaya matahari — mengejutkanku. 

Orang itu—

"Yo, apa kabar?"

"Ka-kamu yang waktu itu ...!"

Pria berjubah hitam di hari itu tampak berdiri beberapa meter dariku.

Dia menghadapku, terlihat seperti akan meleleh karena cahaya matahari.

"Tampaknya kamu sudah melakukannya dengan baik. Syukurlah. Dah."

"Tunggu!"

Pria berjubah hitam itu membungkuk sopan kepadaku, kemudian berbalik pergi, tapi aku segera menghentikannya.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi. Aku masih punya banyak pertanyaan. Siapa dia? Bagaimana bisa dia memasukkan jiwa Hikari Yumesaki ke tubuhku? Apa ada cara yang lebih baik daripada mengurangi separuh hidupku? Tapi hal terpenting yang ingin aku sampaikan adalah .... 

"Terima Kasih!"

"...!"

Aku berteriak pada sosok fana yang seolah meleleh di tengah teriknya matahari dan kerumunan massa itu.

Sudah sewajarnya begini, 'kan? Aku memang kehilangan separuh hidupku, namun bisa kukatakan kalau aku mendapat sebuah kepercayaan diri. Mulai hari ini, hidupku akan menjadi luar biasa, dan tidak akan tergantikan selama aku bersama Hikari Yumesaki—

"... tidak pernah kusangka kamu akan berterima kasih padaku. Apa mungkin kamu sudah dewasa?"

"Berkat dirimu."

"Tapi kamu mengatakannya hanya karena saat ini saja. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang."

"... akan kunantikan."

"Ucapan bijak. Kamu memang pilihan tepat."

Tidak bisa kulihat ekspresinya dari balik penutup kepala itu, tapi bisa kudengar jelas kikihan yang terdengar beda dari pembawaan suramnya. Omong-omong, apa seperti itu pemilihan watakmu? Seingatku kamu jauh lebih kelam dibanding tadi, 'kan? Yah, meski aku tidak punya hak untuk mengatakannya.

"Kalau begitu, selamat tinggal, Sakamoto. Semoga kita bisa berjumpa lagi."

"Tunggu. Kita akhirnya bisa bertemu, aku butuh jawaban."

Kucoba menghentikan sosok berjubah hitam yang hendak pergi itu.

Ini adalah sesuatu yang harus kuketahui jawabannya.

"Kenapa kamu memilihku?"

"...."

Kutanyakan hal tersebut selagi menatap punggungnya.

Setelah hening sesaat, dia perlahan berbicara,

"Kamu ingin tahu?"

"Ya."

"Bukankah kamu selalu bilang kalau ingin mati?"

Ah, mungkin aku memang sering mengatakannya. Kurasa itu pun sudah menjadi kalimat khasku.

"Tapi walau setelah mengucapkannya sampai 10.000 kali, kamu masih belum mati juga."

"Jawab yang benar!"

"Hahaha!"

Tawanya bergema hingga ke angkasa.

Dengan awan putih sebagai latar belakang, si jubah hitam itu membuat sebuah pemandangan mencolok, membuatku teringat saat-saat itu.

"Inilah yang diinginkan gadis itu. Ya, hanya itu."

"Eh?"

"Bukankah kamu telah berjanji sebelumnya? Kamu harus melindunginya."

"...."

Ini—

"Itu saja. Dan kali ini aku sungguh-sungguh mengucapkan selamat tinggal."

Seketika berakhirnya kata-kata tersebut, si jubah hitam pun berbalik dan menghilang.

Aku merasa seperti pernah bertemu dengan dia sebelumnya, seseorang dengan mafela yang dipakai tidak pada waktunya saat di pinggir ....

"... eh ...?"

Kutundukkan pandangan dan menggaruk-garuk kepalaku — berusaha mencari jawaban. Lalu sewaktu aku mengerutkan dahi.

Sebuah suara yang jelas melintas, dan memasuki pikiranku selagi berbaur bersama angin penghujung musim semi.

Rambutmu panjang sekali, ya?

"Hah—"

Tanpa sadar kutengadahkan kepalaku, dan di hadapanku tampak sebuah pusaran keramaian yang berputar dengan cepatnya.

Gedung-gedung memantulkan cahaya matahari musim panas, mengganggu penglihatanku.

"... eh?"

Dengan tampang getir, kuucapkan selamat tinggal pada sosok hitam yang sudah menghilang itu.

Entah kenapa hawa di sini terasa panas, mungkin saja ini ulah seseorang.


XXX



"... apa aku baru saja pulang?"

Aku berdiri di depan rumahku dengan bahu yang terturun.

Kazeshiro kembali mengirimiku pesan.

[Omong-omong, Hikari menyuruhku untuk mengirimkan pesan ini padamu. Ini isi pesannya.]

Dan yang tertulis di bawah kalimat tersebut adalah, 

[Hal yang bagus jika kamu bisa membuka laci meja nomor dua!]

Kenapa dia sampai melakukan hal yang merepotkan ini?

Dengan perasaan acak ini, aku pun kembali ke kamar lalu duduk. Aku teringat akan laci meja nomor dua itu.

Merasa jika ini hanya sebuah keisengan bodoh lagi, kubuka laci tersebut tanpa pikir panjang—

"—ah."

Aku tersentak.

Dan menatap tajam.

Ada surat di dalamnya.

Berbungkuskan amplop sederhana yang sama persis dengan amplop yang pernah menjadi kenangan masa kecilku.

"Jangan bilang—"

Kubuka amplop itu dengan tangan gemetar, lalu melihat isi yang tertulis pada suratnya.

-

Apa kamu baik-baik saja?

Aku tiba-tiba teringat masa lalu, karena itu aku mencoba menulis surat.

Aku akan senang jika kamu mau membalas surat ini.

Aku masih mengingat janji itu.

Dari Harumi Miyamoto.

-

.......

....

Dan di balik surat tersebut terdapat sebuah catatan dari Hikari Yumesaki yang ditujukannya untukku

-

Itu adalah surat dari sahabat penamu, dan aku sudah membukanya tanpa izin.

Maaf~

Jangan lupa membalas suratnya!

-

"Entah kenapa, kesanku pada Miyamoto tiba-tiba berubah."

Sudah beberapa tahun berlalu, dan lewat kalimat barusan, rasanya dia sangat berbeda dari gambaran yang kupunya saat aku tenggelam dulu.

Miyamoto adalah gadis berambut pendek dengan bando putihnya yang menyelamatkanku sewaktu aku tenggelam di perkemahan dulu. Kesan pertamaku padanya yaitu dia adalah gadis yang penuh dengan semangat. Yah, walau bisa saja gambaran itu berubah setelah dia masuk SMA. Lagi pula, sebuah surat bisa ditulis dengan bermacam cara, dan seingatku dia masuk ke sekolah elit terkenal di Kansai. Aku tidak ingat nama sekolahnya, tapi kurasa kami benar-benar berada di tingkatan yang berbeda. Sudah cukup lama aku tidak berkirim kabar dengannya, dan aku merasa senang karena setelah sekian lama, akhirnya aku menerima kembali surat darinya.

Namun di saat yang sama, aku merasa sedikit kecewa.

"Tidak mungkin ini semacam kebetulan, 'kan?"

Aku langsung teringat ucapan dari si pria berjubah hitam.

Inilah yang diinginkan gadis itu. Ya, hanya itu.

Bukankah kamu telah berjanji sebelumnya? Kamu harus melindunginya.

"...."

Setelah mengingat perkataan itu, aku langsung curiga kalau Hikari Yumesaki sebenarnya adalah Miyamoto.

Tapi ini mustahil.

Pada amplopnya jelas tertulis kalau alamat pengirimnya berada di Kansai, dan namanya sendiri sudah berbeda. Mustahil kalau mereka orang yang sama.

"Aku harus menulis balasannya setelah ini."

Sambil mengatakan itu, dengan hati-hati kulipat kembali surat tersebut dan meletakkannya ke dalam meja. Mungkin suatu saat aku akan membacanya lagi.

Oleh karena itu, kesampingkan dulu soal suratnya.

Aku pun kembali beralih pada catatan yang ditinggalkan Hikari Yumesaki tadi. Dan aku langsung merasa lesu tiga kali lipat saat tahu bahwa pesannya ternyata benar-benar sebuah lelucon. 

-

Dan sekarang, wujud asli dari harta karun ini adalah ... ikatan dari para kru yang baru kamu kenal! Don ....

-

"Don apa?! Jadi setelah semua ini, hanya itu saja yang mau kamu katakan?"

Seketika itu pula aku langsung murka, tapi sepertinya itu tidak perlu.

-

Itu hanya lelucon. Puzzle putih itu akhirnya selesai disusun! Plok Plok Plok!

-

Topik nostalgia ini membuatku tersenyum masam. Aku lalu mengambil puzzle putih yang terletak di sudut ruangan itu.

Tertulis di atasnya,

-

Aku malu kalau memakai celana dalam, tapi kalau baju renang sih, tidak apa-apa! 

Intinya, ini berarti bukan soal mempermasalahkan area tubuh yang tertutup. Begitu menurutku.

Bagiku celana dalam itu adalah sebuah seni pencarian hal yang tidak kasat mata.

Dengan kata lain, celana dalam alien milik Sakamoto.

Dostoyevsky!

-

Kata-kata di atas sangat berantakan dan tidak jelas maksudnya.

Aku hampir membuang puzzle itu ke tempat sampah, tapi untungnya, dia menuliskan sesuatu pada sudut puzzle,



-

Baca dari samping! Baca dari samping!

-


"Hah, password?"

Kutuliskan kata sandi tersebut pada komputer, lalu membuka folder dengan ikon hati yang diberi nama, Perasaanku yang sebenarnya.

Hanya ada sebuah dokumen yang tertinggal di sana. Dan ketika aku membukanya—

"Eh—"

Aku tak bisa berkata apa-apa.

Bagaimana mungkin?

Sebuah kenangan bangkit dari dalam diriku.

Seorang gadis kecil yang menangis di seberang sungai hari itu.

Dengan rambut panjangnya yang hitam berkilau, gadis itu menatap ke arahku,

Pemandangan sewaktu dia memegang boneka panda sambil berlinangan air mata muncul di pikiranku.

Gaun putih yang tidak cocok dipakai saat di perkemahan ....

Ingatan samar membentuk sebuah siluet di pikiranku. 

Putri Polaris! Tunggulah di sana, aku datang untuk menyelamatkanmu! Aku bersumpah atas nama Autumn Moon!

Tapi pada akhirnya, aku tidak mampu menyelamatkannya. Itu—



-

Terima kasih telah menyelamatkanku.

Wahai pahlawan hatiku saat aku kecil dulu, Autumn Moon.

Dari Putri Polaris

-




Suara nakal miliknya — yang pernah kudengar jauh sebelumnya — bergema dalam pikiranku.

Yah, mungkin saja itu hanya khayalanku.


Lanjut

0 tanggapan:

Posting Komentar