SPS Jilid 1 Bab 15

=========================================================
Layla adalah judul album dari Derek and the Dominos...
Dan yang dimaksud Mafuyu dengan menemukan mayat di rel kereta itu merujuk pada salah pahamnya dia pada Bab 8, yang dia kira Stand by Me adalah sebuah judul film...
Kembali, sebuah bab yang bikin nge-FEEL...
Seperti biasa, seri yang dikerjakan bareng ini, bisa agan sekalian nikmati lebih awal satu hari di Hanami Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 15 - Layla, Rel Kereta, Semua yang Telah Hilang


Ketika itu, aku sedang berada di kamarku, mendengarkan musik melalui headphone. Yang kudengarkan adalah album dari Derek and the Dominos. Saat itu hari Kamis malam — hari ketiga Mafuyu tidak masuk sekolah. Angin di luar bertiup sangat kencang, dan bisa kudengar gemerisik dahan pepohanan di sisi trotoar.

Tetsurou sedang menghadap penerbit, jadi tidak ada orang lain di rumah. Di saat begini, biasanya aku bebas menggunakan pengeras suara di ruang tamu, tapi aku terlalu malas untuk meninggalkan kamar. Makanya aku terus berbaring di tempat tidur, mendengarkan pengeras suara mini yang suaranya tidak terlalu jernih. 

Suara drum Jim Gordon terdengar dari pengeras suara, menenggelamkan suara-suara lainnya, itu sebabnya aku sempat tidak menyadari suara itu. Tidak sampai bagian pertengahan lagu, ketika melodi piano mulai mengalun, akhirnya kusadari — seseorang telah mengetuk jendela kamarku. 

Tentu saja, kupikir itu Chiaki, karena tidak ada orang lain yang melakukan hal seperti itu. Sekarang sudah larut malam, ia mau apa? Akan tetapi, setelah membuka tirai dan jendela, sepasang mata biru menyambutku. Aku tercengang.

Orang yang muncul di depan jendela — yang berdiri di perpanjangan atap — ternyata Mafuyu. Itu memang dirinya. Rambutnya yang berwarna merah tua itu terkibar tertiup angin dan terbelit pada kotak gitar yang dipanggulnya.

"Kamu ...." 

Ingin kukatakan sesuatu, tapi tidak ada lagi kata-kata yang bisa terucap.

"Boleh aku masuk?"

Tanya Mafuyu tanpa ekspresi saat melepaskan gitar dari bahunya lalu menyodorkannya padaku.

"Eh .... Ah, hmm, boleh."

Pikiranku berkecamuk, tapi aku tetap menerima kotak gitar itu dan menyandarkannya ke dinding. Terlepas dari keterkejutanku, aku tidak lupa mengulurkan tangan pada Mafuyu dan menariknya masuk setelah ia berpijak pada jendela dan melepaskan sepatunya. Saat itu Mafuyu mengenakan gaun panjang berwarna biru persis seperti yang dikenakannya saat pertama kami bertemu ..., walau kelihatanya itu membuat sulit bergerak. 

Aku masih belum bisa memercayainya. Apakah ini kelanjutan dari sebuah mimpi?

"... yang benar?"

Sewaktu melihat Mafuyu berdiri di kamarku, tidak ada yang bisa kulakukan selain bertanya.

"Apa?"

"Eh, tidak, hanya saja ... agak aneh, seharusnya kamu tidak bisa memanjat, 'kan?" Dan seharusnya tangan kanannya itu juga tidak bisa digerakkan.

"Pergelanganku masih bisa digerakkan."

Jawab Mafuyu cuek sambil menggerakkan pergelangan tangannya agar bisa kulihat. Terlepas dari pergelangannya — sikutnya sendiri sudah penuh goresan. Jadi maksudnya itu hanya jari-jarinya saja yang tidak bisa ia gerakkan dengan bebas, dan karena itu ia bisa memanjat kemari? Meski begitu ....

Mafuyu sadar jika aku menatapnya, lalu memalingkan kepalanya, berkata pelan, 

"Aku pernah mendengarnya dari Aihara-san sewaktu di sekolah, soal ia memanjat pohon dan keluar masuk kamarmu dengan bebas melalui jendela. Entah kenapa rasanya aku ... sedikit iri, karena itu kupikir aku harus mencobanya."

Tetap saja .... 

"Kenapa—" kamu muncul di tempat seperti ini? Itu pertanyaan yang sederhana, yang ditujukan langsung ke pokok permasalahan, tapi entah kenapa aku tidak mampu mengatakannya. Apa mungkin karena kupikir ia akan pergi seketika aku menanyakannya?

Pada akhirnya, aku justru mengatakan ini, 

"Bagaimana kamu tahu alamat rumahku?"

Mafuyu menatapku lama sebelum berjalan ke arah kotak gitarnya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak itu dan menyerahkannya padaku.

"... John Lennon?" Itu sebuah album CD — yang bertajuk <Rock 'n' Roll> — yang kudengarkan sewaktu di atap hari itu. Mafuyu membuka kotak CD tersebut dengan cekatan memakai tangan kirinya. Ada selembar kertas terlipat di atas cakram perak berkilau itu. Saat membukanya, aku melihat sebuah peta. Itu digambar dengan sangat baik. Aku nyaris tidak mengira kalau peta itu digambar dengan tangan. Peta tersebut secara akurat menyertakan bangunan-bangunan penting di dekat rumahku dan menjelaskannya secara rinci. Apa-apaan ini ....

"Orang itu menyuruhku untuk tetap tinggal di rumah dan jangan ke mana-mana," ujar Mafuyu. Orang itu? Yang dimaksud itu pasti ayahnya, "Karena itu, sebelum aku pergi ke rumah sakit, aku tidak bisa meninggalkan rumah. Saat hendak kembali pemeriksaan, entah bagaimana, CD itu tanpa sadar sudah ada di tasku."

Aku menatap wajah Mafuyu dalam keadaan setengah bingung. ia lalu memiringkan kepalanya sebagai jawaban.

"Bukankah itu kamu? Mengikutiku ke rumah sakit lalu meletakkan ini ...." 

"Siapa pula yang mau berbuat sebodoh—" 

Aku mendadak terhenti di tengah kalimat. Ada seseorang yang bisa melakukan hal bodoh semacam itu — orang yang bisa melakukan sesuatu dengan seenaknya tanpa ragu-ragu, meski ia tidak tahu itu akan berhasil atau tidak, dan tidak peduli jika itu akan menyia-nyiakan separuh harinya serta sejumlah besar upaya ....

"Itu Kagurazaka-senpai ...." 

Jadi itu yang ia lakukan saat bolos sekolah .... Omong-omong, apa sebenarnya yang ia rencanakan? Tidak disangka ia memberitahu Mafuyu lokasi rumahku .... Apa ada sesuatu yang ia ingin Mafuyu lakukan?

"Maksudmu senpai yang punya rambut sangat panjang, mata seperti macan kumbang, dan yang selalu mengatakan hal-hal aneh?" ujar Mafuyu. Begitu. Ternyata Mafuyu juga tahu siapa Kagurazaka-senpai itu, toh?

"Hmm ..., seharusnya begitu."

"Tentang senpai itu, aku selalu—" saat Mafuyu mulai berbicara, ia menyadari tatapanku dan tersentak kaget. Ia segera memalingkan wajah dan menggelengkan kepala, "Tidak, tidak ada apa-apa."

Mafuyu berjalan ke tempat tidur lalu duduk di atasnya, menempatkanku dalam situasi di mana aku tidak bisa mendekati tempat tidur ataupun keluar dari kamar — yang bisa kulakukan hanyalah bersandar di samping jendela. Mafuyu ada di kamarku sekarang — jujur saja, aku masih belum terlalu yakin dengan yang terjadi, tapi — Mafuyu benar-benar ada di sini. 

"Begini ..., eng ...," Aku memilih kata dengan hati-hati, "Aku tidak tahu ... kalau saat itu .... Jadi ..., aku minta maaf."

"Kamu tidak tahu apa?" 

"Tidak, itu ... soal ... tangan kananmu."

"Tidak perlu minta maaf. Aku justru merasa tidak enak kalau kamu meminta maaf."

Aku juga merasa tidak enak!

"Lagi pula ..., kamu tidak salah."

Setelah mengatakannya, ia pun memalingkan wajah.

"Itu bukan salahmu. Hal seperti itu kadang terjadi, bagian kanan tubuhku mendadak tidak bisa bergerak secara perlahan, bahkan, kadang aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu."

Untuk sesaat, aku tidak dapat berbicara. Bagian kanan tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak secara perlahan?

"Kenapa ... kamu mengatakannya seolah itu bukan hal besar?"

"Karena ... kurasa itu memang bukan hal besar."

Mafuyu menunduk dan menampakkan sedikit senyum. Itulah pertama kali kulihat ia tersenyum, walau itu terasa seperti ekspresi kesepian. Hatiku sedikit sakit.

"Dan aku tidak begitu peduli jika memang tidak bisa digerakkan. Tapi orang itu dan perusahaan rekamannya mungkin akan kesulitan karena hal itu."

"Ah! Eng ..., yah ..., bukankah kamu akan pergi ke Amerika? Kudengar kamu akan melakukan pemeriksaan atau operasi di sana, ya?"

"Hmm, orang itu akan melakukan tur keliling Amerika, dan beliau akan terbang besok." 

"La-lalu alasanmu kemari di saat begini ...." 

"Hmm, aku melarikan diri."

Aku mendesah keras. Ia melarikan diri? Lagi-lagi, gadis ini sepertinya suka sekali kabur dari rumah, ya?

"Itu memang sudah rencanaku. Aku akan kabur di malam sebelum akan dibawa ke Amerika. Lagi pula hanya tangan kananku — aku juga tidak begitu peduli jika tanganku tidak bisa sembuh. Aku hanya ingin membawa gitarku dan pergi ke tempat yang jauh, jauh sekali, sampai kakiku tidak sanggup lagi bergerak .... " 

Mafuyu memejamkan erat matanya, seakan ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air matanya.

"Lagi pula, aku akan menghilang di bulan Juni."

Jadi, itu maksud perkataannya selama ini — bukan karena ia akan pergi ke Amerika untuk mencari perawatan, tapi karena ia sudah memutuskan untuk melarikan diri.

Lalu?

Sekuat tenaga kuurungkan pertanyaan itu sebelum terlontar dari mulutku.

Ia akan lari ke tempat yang jauh, jauh sekali. Lalu? Apa yang akan ia lakukan setelah itu?

Aku tahu Mafuyu pasti tidak bisa menjawab pertanyaan itu — andaipun pertanyaan itu diarahkan padaku, aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Manusia tidak berpikir jauh ke depan setelah mereka memutuskan untuk melarikan diri dari sesuatu. Mereka sangat putus asa, mencari tempat untuk bersembunyi—

".... kenapa kamu justru mencariku?"

"Karena ...," Mafuyu menatap jariku, lalu tiba-tiba mengangkat kepalanya, "Karena waktu itu kamu bilang kalau aku harus mengatakan dengan jujur apa pun yang menggangguku. Kamu masih ingat?"

Aku memang mengatakan hal seperti itu sebelumnya. Saat itu, Mafuyu bahkan meminta untuk memotong tangan kananku agar diberikan padanya, atau mengembalikan waktu sampai di masa sebelum ia mulai bermain piano — Ah! Jadi itu maksudnya? Astaga, kini aku jadi merasa ingin menangis lagi.

Ternyata Mafuyu sudah memberitahuku soal itu sebelumnya! Hanya saja aku yang tidak menyadarinya lebih awal.

"Jadi ...." 

Sepertinya Mafuyu enggan melanjutkan kalimatnya. Ia kembali menundukkan kepalanya.

"Saat ini, tanganku ... tidak bisa membawa ransel, karena itu .... Bersama ...." setelah mengatakan itu, Mafuyu kembali memejamkan matanya, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Maaf, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya."

Mafuyu tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arahku. Ia mengambil gitarnya, dan saat hendak mengambil sepatu lalu memanjat keluar jendela, aku langsung memanggilnya.

"Tunggu!"

Mafuyu menoleh. Aku kehabisan kata-kata. Ia menatap lurus ke arahku, dan yang semula ingin kuucapkan telah hancur di dalam mulutku. Sebaliknya, yang aku tanyakan justru sesuatu yang tidak berhubungan dan konyol— "Apa kamu bisa keluar lewat pintu utama saja?" 

"Memangnya tidak ada orang lain di rumah ini?" 

"Tetsurou sedang keluar. Mungkin beliau akan kembali agak lama."

"Begitu ya. Tapi ini pertama kalinya aku memanjat pohon, dan kurasa itu cukup menyenangkan."

Masalahnya, ekspresi wajah Mafuyu menyiratkan yang sebaliknya. Tidak, tunggu, bukan itu maksudku! 

"... baiklah, apa ada lagi barang bawaanmu? Atau ada lagi yang kamu tinggal di luar?"

Mafuyu terus memandangi wajahku, dan matanya berkedip kebingungan.

"... hah?"

"Aku ikut."



Ransel Mafuyu yang tidak terlalu besar tergeletak di bawah pohon pekarangan. Di bagian atasnya tergantung recorder yang dulu sempat kuperbaiki, meski aku hampir lupa kapan melakukannya. 

"Apa kamu benar-benar ikut denganku?"

"Kamulah yang menginginkanku ikut!"

"Yah, itu benar, tapi ... kenapa?"

Aku juga tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu harus ke mana setelah ini.

Yang kutahu bahwa aku tidak bisa membiarkan Mafuyu pergi seorang diri.

Kuambil ransel itu dan memanggulnya di pundakku. Ternyata ringan.

"Di mana basmu? Aku hanya melihat sarung gitar kosong di kamarmu."

Tiba-tiba Mafuyu menanyakan itu sewaktu kami masih di pekarangan yang gelap.

"Sudah kubuang."

"Eh .... Kenapa?!" 

Mafuyu tiba-tiba menjerit.

"A-apakah gara-gara waktu itu? Aku tidak begitu mengingatnya, tapi apa basmu rusak gara-gara aku membantingnya ...?" 

"Bukan, bukan karena itu. Meski tidak rusak sekalipun, aku mungkin akan membuangnya juga," jawabku, dan itu pun tidak bohong. Kalau aku mau, aku pasti bisa memperbaikinya. Apalagi aku tidak ingin Mafuyu menganggap kalau itu salahnya.

"... kenapa?" Mafuyu menjadi semakin tertekan.

Kenapa, ya? Sesaat, aku tenggelam dalam renungan.

"Karena ... aku tidak suka lagi."

"Bukankah kamu suka musik rock?"

Pertanyaan blakblakan, yang tidak memiliki belas kasihan itu, membuat kepalaku sakit.

"Awalnya itu cukup menarik, dan rasanya luar biasa sewaktu berlatih. Tapi ...." 

Aku menutup mulutku. Kenapa ujung-ujungnya aku malah membuangnya? Aku juga tidak bisa menjelaskannya.

"... ah, kalau itu karena ..., karena aku waktu itu ...." 

Aku menggelengkan kepala dan memotong perkataan Mafuyu.

"Ayo lekas. Tetsurou mungkin akan kembali sebentar lagi."

Wajah Mafuyu terselimuti oleh gelapnya malam, dan karena itu aku tidak bisa melihat jelas ekspresi wajahnya. Tapi entah kenapa, rasanya yang ia tunjukkan saat ini adalah ekspresi kesepian.

Aku mendorong Mafuyu keluar dari pintu sambil memanggul gitarnya di bahuku.

"Kita mau ke mana?"

"Menurutmu kita harus ke mana?"

Mafuyu dan aku dengan bodohnya saling melempar pertanyaan.

Kami berdua mulai berjalan bersama, melewati jalan sepi di daerah pemukiman yang diterangi oleh beberapa lampu jalan, lalu berjalan menuju stasiun kereta.



Kulihat ada dua pria berjas berjalan ke arah kami dari tempat parkir. Aku memang pernah melihat Ebisawa Chisato hanya dari sampul CD saja, namun terlepas dari itu —walaupun aku berada dalam  jarak yang cukup jauh — aku langsung tahu kalau orang yang berjalan paling depan itu adalah ayah Mafuyu.

"Ada apa ini?"

Pertanyaan bodoh yang sama — yang pernah pula ditanyakan seseorang sebelumnya — juga datang dari mulut Ebisawa Chisato. Rambutnya disisir rapi dan dibuat kelimis, meski ada sedikit uban yang berbaur. Rautnya yang tegas dan jelas itu menampakkan amarahnya. Maki-sensei tiba di lapangan setelah mendapat telepon dari Kumiko-sensei. Setelah melihat kedatangannya, ayah Mafuyu mulai berteriak.

"Aku tidak mengira ini bisa terjadi padahal kamu ada di dekatnya! Bagaimana kalau ada apa-apa terhadap Mafuyu?!" 

"Anda tidak bisa mengharapkan saya selalu berada di sisinya, bukan?" jawab Maki-sensei dingin. Dokter paruh baya (orang itu pasti dokter, 'kan?), yang juga ikut berdiri di samping Ebichiri yang sedang marah, seolah berkata, Bawa nona muda itu ke dalam mobil, pada Kumiko-sensei lewat matanya. 

"Kenapa kamu tidak ke rumah sakit? Dengan siapa saja kamu bergaul?"

Aku memalingkan muka dan berpikir apa sebaiknya aku lari saja dari sana.

"Gitar? Kamu bilang gitar?! Kamu bercanda, siapa yang membolehkanmu memainkan benda semacam itu? Mafuyu, apa yang mau kamu lakukan dengan mempelajari gitar tanpa sepengetahuanku? Apa kamu tidak tahu pentingnya jari-jarimu itu? Kamu mungkin tidak akan pernah bisa bermain piano—" 

"Ebisawa-sensei! Tolong. Jangan sudutkan Mafuyu seperti itu!"

Maki-sensei memohon dengan suara sedih.

"Aku tidak memindahkannya ke SMA biasa supaya ia bisa memainkan benda semacam itu!"

Aku menggigit bibir sewaktu mendengarkan teriakan Ebichiri yang menusuk. Ayahnya dan sang dokter lalu memasukkan Mafuyu ke kursi belakang, seakan gadis tersebut adalah jenazah yang dibungkus kantung mayat. Tidak ada yang bisa kulakukan selain terdiam melihat semuanya. 

Tepat sebelum pintu mobil ditutup, Mafuyu dan aku saling melirik. Ekspresi di kedua matanya sama seperti dulu — tidak mampu menyuarakan apa pun, dan hanya bisa mencari sesuatu untuk diandalkan. Kedua mata itu tampak bagaikan langit sebelum turun hujan, dipenuhi awan mendung. Tidak, aku tidak bisa membiarkannya pergi seperti itu. Aku hampir bisa mendengar sebuah bisikan tepat di sampingku, namun aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, atau bergerak satu langkah pun.



Rencana pelarian kami mendapat halangan besar — kereta terakhir telah berangkat. Stasiun kecil itu berdiri sendiri di tengah kawasan perumahan, ditemani sebuah toko kelontongan yang buka sampai larut malam di dekatnya. Tidak ada seorang pun di stasiun. Sewaktu berdiri di jalan setapak yang sangat luas, satu-satunya teman perjalanan adalah bayangan kami sendiri, yang membentang karena lampu-lampu jalanan di sekitar.

"Kita harus apa?" tanyaku putus asa 

"Kita tidak akan mencari mayat di sepanjang rel, 'kan?"

Itu adalah hal acak yang pernah kusebutkan dulu, tapi kini Mafuyu membalikkannya padaku.

"Apa kita memang harus berjalan kaki? Itu akan terasa melelahkan!"

Lalu apa yang harus kulakukan jika kaki kanannya jadi tidak bisa digerakkan seperti dulu?

"Kudengar kalau membeku adalah cara terindah untuk mati. Benarkah?"

"Kamu tidak bisa mati membeku di Jepang saat bulan Juni begini, paham? Terlebih, aku baru sadar, ada yang mengganjal ...." 

"Apa?"

"kenapa aku yang membawa gitar dan ranselmu?"

Aku sempat lupa kalau ada gitar di punggungku, dan itu benar-benar berat.

"Karena kamu yang bertanggung jawab membawa barang bawaan!"

"Bukan itu ...," tunggu, kalau dipikir-pikir, apa tidak apa-apa?

Kupandangi Mafuyu yang menyusuri rel, lalu menyusulnya. Sosoknya dalam gaun berwarna pucat itu tampak seperti meleleh dalam kegelapan dan menghilang jika aku tidak waspada.

Setelah melewati pagar ram, kami muncul tepat di samping rel yang gelap. Saat kami berjalan menyusuri lereng yang landai, tiba-tiba Mafuyu bertanya tentang ibuku.

"Soalnya ayahmu selalu membahas soal perceraian dalam kritiknya."

Tetsurou berengsek, beliau seharusnya memikirkan posisinya sebagai kritikus musik.

"Apa kamu masih ingat ibumu?" Mafuyu menoleh dan bertanya.

"Tentu saja. Aku sudah SD sewaktu mereka bercerai, dan kami masih bertemu sebulan sekali."

"Seperti apa ibumu?"

"Beliau orang yang serius, dan itu membuatku gagal memahami alasan beliau melakukan hal bodoh seperti menikahi Tetsurou. Beliau juga sangat juga tegas jika menyangkut tata krama saat makan."

"Begitu, ya ...." Mafuyu kembali mengalihkan pandangannya pada kereta di depannya. 

Omong-omong, Mafuyu juga tinggal bersama ayahnya setelah orang tuanya berpisah. Jadi itulah alasan ia bertanya kepadaku?

"Mamaku ...," lanjut Mafuyu sembari melihat ke depan. Langkah kakinya tampak melambat sewaktu ia berjalan tanpa sadar, "Beliau pergi sebelum aku SD, namun kudengar kalau beliau menikah lagi dengan orang Jerman, dan mereka tinggal di Bonn. Bahkan tahun lalu aku sempat mencari tahu alamatnya ketika melintasi Bonn selama tur Eropa-ku."

Apa mungkin nantinya ia tersesat? Aku memikirkan itu dalam hati.

"Meski begitu, mama menolak menemuiku. Suami beliau lalu menghampiri pintu, dan dengan bahasa Inggris yang sangat sopan, beliau memintaku untuk pulang."

Mafuyu berhenti berjalan. Ia tempelkan jari kanannya yang tidak bergerak itu pada pagar ram sambil menyandarkan dahinya. Tidak bisa kulihat wajahnya, karena itu aku tidak tahu apa bahunya gemetar karena ia menangis.

"Suami beliau bilang kalau aku mirip seperti mama, jadi mama mungkin menolak bertemu karena takut akan terpengaruh oleh itu. Apalagi mama juga seorang pianis ...." 

Mafuyu akhirnya menoleh, meski tidak menampakkan ekspresi apa pun di wajahnya.

"Sehari setelahnya, kami berangkat ke London, tepat sebelum pertunjukan, jari-jariku mendadak tidak bisa digerakkan. Tapi aku ... tidak seharusnya memedulikan itu—" 

Sambil terus melanjutkan perkataannya, ia genggam erat lengan kanannya dengan jari kirinya.

"Bahkan jika bagian kanan tubuhku tidak dapat digerakkan, lalu bagian kiri, dan akhirnya, jantung berhenti berdetak dan aku mati, selama aku dimumikan dan bersama orang itu, beliau pasti akan menempatkanku di depan piano dan merasa terhibur." 

"... jangan mengatakan hal kejam seperti itu."

Mafuyu mengabaikan kata-kataku dan melanjutkan langkahnya.

Beberapa pertanyaan yang tidak berani kutanyakan tiba-tiba terlintas. Karena Mafuyu mungkin akan menghilang, jadi kuputuskan untuk mencari jawaban atas semua pertanyaanku itu. 

"Apa kamu membenci ayahmu?"

Mafuyu tidak segera menjawab. Ia dua langkah di depanku, namun ia melambat sambil menyeret kakinya.

"Aku tidak pernah merasa begitu."

Suara Mafuyu itu perlahan mendarat pada aspal, dan berguling tepat di sebelah kakiku.

"Ini bukan soal aku benci atau tidak .... Rasanya seperti aku terjebak di rawa tanpa dasar, tidak berdaya dan sendirian."

"Apa-apaan?! Bilang saja terus terang jika kamu memang benci!"

Mafuyu terhenyak, lalu menoleh ke belakang setelah menghentikan langkahnya. Aku juga tersentak karena suaraku sendiri, tapi aku tidak bisa begitu saja menutup mulut dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

"... kenapa kamu berbicara seolah mengerti segalanya?"

"Karena itu sudah jelas! Kamu tidak suka ayahmu! Kenapa kamu menjadikannya serumit itu? Sejak orang tuaku bercerai, sudah berulang kali kukatakan pada Tetsurou, Dasar makhluk bodoh tidak berperasaan, aku sangat membencimu! Aku tidak hanya kehilangan ibuku, tapi sosok seorang ayah! Syukurlah tidak seluruh anggota keluargaku yang ikut mati."

Mafuyu menatapku dengan wajah memerah. Rambutnya juga ikut gemetaran. Ia lalu buru-buru berpaling dan lanjut berjalan ke depan. 

Apa aku benar-benar pantas mengatakan hal semacam tadi? Aku hanya bisa memikirkan itu setelah Mafuyu mengalihkan tatapannya dari wajahku. Setelah menyesuaikan kembali tali kotak gitar yang hampir terlepas dari bahuku ini, aku segera kembali menyusul Mafuyu.



Setelah menempuh jarak sekitar empat stasiun kereta, Mafuyu mulai mengeluhkan kakinya yang sakit. Karena itu kami berjalan ke sebuah taman kecil di pinggir rel dan beristirahat di atas bangku taman. Taman itu hanya terdiri dari sebuah kotak pasir kecil, dua pasang jungkat-jungkit dan sebuah bangku. Betapa sepinya tempat ini.

"Apa kaki kananmu sakit?"

"Bukan itu saja, tapi dua-duanya. Ini tidak ada hubungannya dengan yang itu."

Sepertinya rasa sakit tersebut hanya karena kami berjalan terlalu lama. Dan aku cukup bersyukur karena ada kesempatan beristirahat, soalnya tali dari kotak gitar ini membuat bahuku sakit.

Kutengadahkan kepala melihat langit suram tanpa bintang, dan tiba-tiba, sebuah pertanyaan serius menghantamku — sedang apa aku tengah malam di tempat seperti ini? Harus apa aku setelah ini? Kugelengkan kepala, menatap ke kaki, lalu memutuskan untuk sementara melupakan pertanyaan tersebut.

"Kakiku selalu mudah lelah, dan sering sekali kram."

Kalau begitu kenapa tadi mau mencari mayat di sepanjang rel?! 

"... ah, jadi itu alasanmu tidak menginjak pedal saat bermain piano?" 

"Itu tidak ada hubungannya dengan ini. Lagi pula, tidak perlu menginjak pedal saat memainkan karya Bach." 

"Bukan itu maksudku. Kurasa kamu bisa memainkan nada panjang dengan baik walau tanpa menggunakan pedal."

"Apa sebegitu seringnya kamu mendengarkan CD-ku?"

"Karena selalu ada yang mengirim CD-CD itu pada Tetsurou, mungkin aku sudah mendengarkan setiap album yang telah kamu rilis."

"Menjijikkan."

Yang memainkannya juga dirinya, kenapa malah menjijikkan?! 

"Akan sangat bagus jika semua komposisi yang kumainkan itu dibakar."

Kalau tidak mau, ya jangan direkam.

"Jadi kamu tidak suka piano, tapi dipaksa memainkannya?"

Mafuyu mengangguk.

"Aku tidak pernah menganggap bermain piano sebagai sesuatu yang menyenangkan."

"Tapi kamu terdengar seperti bersenang-senang saat memainkan <Butterfly> gubahan Chopin?"

"Kritikus memang selalu suka menerka perasaan musisi — kadang aku bertanya-tanya apa mereka bodoh atau apa. Aku masih bisa memainkan lagu ceria meski tidak dalam keadaan senang!"

Yah ..., itu tidaklah salah.

Musik hanyalah rangkaian dari nada-nada. Hak bagi pendengarnya untuk menafsirkan perasaan yang ada di dalamnya.

"Jadi kamu membenci piano dan tidak ingin memainkannya lagi?"

"Aku juga tidak bisa lagi bermain piano. Aku hanya bisa menggerakkan ibu jari dan telunjukku saja."

Mafuyu mengangkat tangan kanannya dan mencoba menggerakkan jari-jarinya. Jari tengah, jari manis dan jari kelingkingnya menekuk dengan lemah. 

"Jika kamu menjalani pemeriksaan dan melanjutkan operasi ...," apa mungkin akan ada kesempatan untuk pulih?

"Karena itu aku kabur."

Mafuyu menempelkan tangan kanan di dada lalu menutupinya dengan tangan kiri, seolah mencoba melindunginya.

"Orang itu bilang bahwa impiannya adalah memainkan <Konserto Piano No. 2> gubahan Beethoven. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa No 2? Padahal itu bukan komposisi terkenal."

Beethoven telah menulis lima konserto piano. Menurut hasil penelitian, <Konserto Piano No. 2 pada B? mayor> sebenarnya dirilis lebih awal dari No. 1, dan itu adalah komposisi yang paling jarang dimainkan di antara konserto piano lainnya.

"Akhirnya kusadari, setelah mencari-cari rekaman di masa lalu, beliau telah memainkan konserto piano lainnya bersama mama, sekaligus juga merekamnya."

Kamu—

Aku langsung membungkam mulutku.

Ingin kukatakan, Kamu berpikir terlalu jauh, tapi aku sungguh tidak mampu mengatakannya.

"Lagi pula ..., kurasa tanganku tidak bisa disembuhkan. Begitulah."

Dengan tangan kirinya, ia cengkeram erat pergelangan tangan kanannya.

"Oleh orang itu, aku dididik hanya untuk bermain piano. Begitu aku tidak lagi bermain piano, jelas aku tidak akan sanggup bangkit kembali. Itu wajar."

"Lalu kenapa kamu bermain gitar?"

Bahu Mafuyu tersentak sembari memandang ke bawah.

"Dan kamu hanya memainkan komposisi yang pernah kamu mainkan pada piano sebelumnya. Apa kamu sungguh membenci piano?"

Mafuyu menggigit bawah bibirnya selagi mencari jawaban. Ia kemudian memejamkan mata dan mendesah.

"Awalnya ..., dulu ketika aku pertama kali bermain <Tarian Hongaria> bersama mama, dengan empat tangan, aku merasa benar-benar bahagia. Saat itu aku masih berumur empat tahun, tapi kami akan selalu meletakkan ini di atas piano dan merekam komposisi yang kami mainkan."

Jari Mafuyu meraba permukaan recorder yang tergantung pada ranselnya itu.

Ternyata itu benar-benar peninggalan dari ibunya. Dan sebelumnya ia juga berkata kalau itu adalah hal yang penting baginya.

"Tapi itu baru permulaan, kemudian aku belajar bagaimana memainkan semuanya, namun mama sudah tidak ada lagi, dan aku ditinggalkan seorang diri. Yang tersisa di dekatku hanyalah piano. Setelah menyelesaikan satu komposisi, partitur lainnya akan muncul di hadapanku. Aku sempat berharap jika memainkan gitar, aku bisa mendapatkan kembali perasaan yang serupa, dan pada awalnya aku cukup terbawa suasana, tapi ...." 



Ia angkat kedua kakinya ke atas bangku, lalu merangkul lututnya dan menempelkan keningnya itu di atasnya. Terdengar jelas perasaan tertekan dalam suaranya.

"... aku menjadi lebih terengah-engah saat memainkannya, namun terasa menyakitkan jika tidak kulakukan. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Kepalaku dipenuhi kenangan tentang orang itu yang menginginkanku memainkan ini dan itu, jadi apa yang kurasakan sewaktu bermain piano sebelum itu semua terjadi? Aku tidak bisa mengingatnya, dan mungkin, entah di mana aku sudah melupakannya. Kenangan-kenangan itu tidak akan pernah kembali lagi padaku, karena aku sudah lama tidak memilikinya, sudah sangat lama. Aku tidak bisa ... mendapatkannya lagi."

Tanpa sadar mataku terpejam. Yang bisa kudengar hanyalah suara Mafuyu yang menderita.

Apa ia ... sungguh tidak bisa mendapatkannya lagi? Jika demikian, maka tidak ada yang bisa kulakukan untuk Mafuyu?

"... itu karena kamu terlalu lama memendamnya sendiri. Kamu tidak akan bisa melangkah di jalan musik jika terus seperti itu."

Tepat pada saat itu, aku teringat sebuah jawaban dari sebuah novel misteri terkenal. Jika seseorang pingsan di hutan yang sepi, apakah akan terdengar suara? Jawabannya adalah tidak. Jika tidak sampai ke telinga seseorang, sebuah bunyi tidak akan dianggap sebagai suara, melainkan getaran udara.

"Aku juga telah belajar dari Chiaki dan senpai. Jadi ...." 

Mendadak aku lupa yang harus kukatakan. Apa yang sebenarnya mau kubicarakan? Akulah yang sebenarnya menyerah! Aku tahu itu hanya akan menyakiti Mafuyu, tapi aku justru membuangnya dan berencana mengabaikan semuanya. Iya, 'kan? 

"Apa kamu ... benar-benar memutuskan untuk bergabung dengan band senpai itu?"

"Eh? Ah ..., hmm." 

Benar. Omong kosong tentang merebut kembali kepemilikan ruang latihan dan menjaga martabat music rock itu sudah tidak penting lagi. Yang kuinginkan adalah membentuk sebuah band bersama Mafuyu. Kalau saja aku bisa seperti senpai dan dengan jujur memberitahunya sedari awal .... 

"Aku ingin memintamu bergabung dengan Klub Riset Musik Rakyat jika aku menang. Kita berempat bisa berlatih bersama sebagai band di ruang kelas itu."

"Membentuk sebuah band .... Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu." 

Ekspresi mata Mafuyu seakan sedang mencoba melepaskan burung-burung yang hendak bermigrasi pada penghujung musim gugur. Aku terpaksa mengalihkan pandanganku.

"Maaf, aku terlalu terbawa emosi saat memaksamu ikut dalam pertandingan itu. Rasanya seperti ... aku sudah memberimu kenangan yang tidak mengenakkan."

"Tidak!" Mafuyu tiba-tiba berteriak, "Tidak begitu. Saat itu ..., aku sebenarnya bisa sedikit mengingat hari-hari ketika memainkian piano dengan ceria. Terlebih, <Variasi Heroik> adalah salah satu komposisi favoritku. Suara basmu terdengar hebat — seolah menyatu dengan suara gitarku hingga menjadi suara dari satu alat musik. Itu pertama kalinya aku merasakaan perasaan semacam itu. Itu seperti sihir."

Aku hanya bisa menundukkan kepala. Jika aku membeli bas yang sama dan memodifikasinya dengan cara yang sama, apa bas itu bisa menghasilkan suara yang sama seperti saat itu? Mustahil. Satu milimeter perbedaan dan sedikit perubahan voltase akan menghasilkan perbedaan suara yang signifikan. Paduan semacam itu bisa dianggap berada dalam ranah keajaiban.

"Itu benar-benar seperti sihir. Mungkin ... seperti itu rasanya bermain dalam sebuah band?"

"Mmm, aku sempat memikirkannya sewaktu kita memainkan <Variasi Heroik>. Rasanya tangan kananku menjadi normal kembali, dan itu seolah aku kembali ke masa ketika bermain Piano bersama mama. Jika itu keajaiban sebuah band ..., maka aku juga ingin menjadi bagian dari itu." 

"Begitukah ...?" Kuangkat kepalaku dan menatapnya.

Air mata di sudut matanya itu memantulkan sinar lampu jalanan.

"Tapi aku tidak bisa melakukannya. Hal semacam membentuk band dengan orang lain itu ...."

"Tidak bisa? Kenapa?!"

Mafuyu menggeleng-gelengkan kepalanya, hampir seakan ia menggunakan keningnya itu untuk mengampelas lututnya.

"Aku tidak bisa. Soalnya aku pasti akan merusak segalanya."

"Kamu bicara apa—"

"Bukankah kamu sudah membuangnya? Gara-gara aku yang merusaknya ...." 

Gumam Mafuyu. Aku hanya bisa menelan kembali kata-kata yang akan keluar dari mulutku. Kucengkeram lenganku keras-keras.

"Aku sendiri tidak begitu mengerti ... alasan aku melakukannya saat itu."

Ketika itu, Mafuyu mengambil basku dan membantingnya ke lantai dengan kuat.

"Itu karena basmu hingga membuatku mengenang banyak hal. Padahal aku sudah menghapus semua kenangan itu! Karena ... kenangan itu ... sangat menyakitkan ...."

Mafuyu sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Ia cengkeram erat pergelangan kanannya itu dengan tangan kirinya. Apa aku harus menutup telingaku?

Pada akhirnya, dia berdesah pelan.

"... maaf."

Mafuyu tidak perlu meminta maaf. Aku lalu menggelengkan kepala.

"Akulah yang merusak segalanya. Benar ..., aku memang tidak bisa berjalan dengan kekuatanku sendiri."

Ia rangkul lututnya dan membenamkan wajahnya di atasnya.

"Dan tidak ada gunanya aku mengatakan semua ini. Basmu tidak akan kembali, dan aku sudah ...."

Suara Mafuyu tertahan.

Aku sungguh tidak ingin mendengarnya berkata seperti itu. Terlebih, aku mengikutinya bukan untuk mendengar kata-kata itu keluar dari dirinya.

Aku harus apa—

Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutku—

"Itu tidak akan begitu saja menghilang. Ayo kita sama-sama mendapatkannya lagi."

Mafuyu perlahan mengangkat kepalanya agar bisa melihatku. Matanya tampak sedikit bengkak.

"... hah?"

"Mendapatkan lagi basku. Bas yang sudah kubuang. Aku bisa memainkannya lagi setelah itu kuperbaiki."

"Ta-tapi ...." 

Mafuyu terisak.

"Kapan kamu membuangnya? Seharusnya itu sudah diangkut, 'kan?"

"Kemarin lusa. Kemungkinan diangkut oleh truk sampah."

"Apa kamu tahu diangkut ke mana basmu itu?"

"Bagaimana aku bisa tahu? Itu sebabnya kita harus mencarinya!"

Aku lalu berdiri, tapi Mafuyu masih merangkul lututnya, menatapku dengan tatapan tidak berdaya.

Kami pasti akan menemukannya.


Lanjut

0 tanggapan:

Posting Komentar