Oreshura Jilid 1 Bab 9

=========================================================
Sangaaarr... Walau rada aneh sih... Soalnya pakai nuansa chuunibyou segala... Tapi tetap saja gak mengurangi serunya adegan heroik yang dipaksakan ini...
Catatan Terjemahan...: Yukichi-san merujuk pada uang kertas 10.000 yen... Men adalah gerakan ayunan pedang yang ditujukan ke arah kepala di dalam kendo...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================

Kupikir saat itu aku sudah bergantung pada Chiwa.

Sebelumnya, masa depan itu begitu suram, tanpa harapan, dan membuat kecil hati.

Itu sebabnya, paling tidak, aku menginginkan sebuah tujuan, sebuah harapan.

Meski berpura-pura ingin membantu Chiwa, sebenarnya orang yang diselamatkan itu adalah aku sendiri.

Akan tetapi, Chiwa memercayaiku.

Itu sebabnya aku pun harus percaya.

Percaya pada diriku yang dipercayai oleh Chiwa.
__________________________________________________________


Bab 9 - Perkelahian Antarlelaki Adalah Sebuah Kekacauan


Ketika bangun tidur, setelah melihat jam, ternyata sekarang sudah jam setengah sepuluh.

"Sial, aku kesiangan ...."

Pada hari Minggu, jika aku tidak datang ke perpustakaan lebih awal, kursi di ruang belajar pasti sudah penuh.

Aku buru-buru berpakaian, memeriksa kompor, mengunci pintu lalu berangkat tanpa sempat sarapan. Pergi ke perpustakaan dengan berjalan kaki butuh waktu sekitar dua belas sampai tiga belas menit. Jika aku bergegas dan sampai dalam waktu sepuluh menit, seharusnya masih ada kursi yang tersisa.

Akan tetapi, kakiku dengan sendirinya membawaku ke arah yang berbeda.

Sekarang pukul sepuluh kurang sepuluh menit.

Kurang sepuluh menit lagi dari waktu janji kencan Chiwa.

Jarak menuju tempat janjian yang berada di depan sebuah stasiun, juga berjarak sepuluh menit jauhnya.

"Hei, hei ...."

Menyedihkan sekali aku ini.

Apa aku akan memata-matainya?

Meski dia temanku sedari kecil, aku tetap tidak boleh melakukannya, 'kan? Aku memang lelaki yang menjijikkan.

Tapi, aku penasaran.

Biar bagaimanapun aku tetap ingin tahu!

"Selamat pagi."

"Wuaaahh?!"

Aku melompat ketika mendengar suara yang tiba-tiba memanggilku dari belakang.

Saat aku bertanya-tanya siapa itu ...,

"Ma-Masuzu, toh?"

"Fufu, apa kamu tidak merasa kalau itu berlebihan, Eita-kun?"

Meski ini hari Minggu, tapi Masuzu memakai seragam sekolahnya (begitu pun aku) sambil tersenyum.

"Berjalan-jalan di sekitar sini, berarti kemungkinan tujuan kita sama, 'kan?"

"Itu artinya, kamu di sini juga untuk memata-matai kencan Chiwa?"

"Kata mata-mata itu punya konotasi negatif. Sebagai ketua Klub Jien-Otsu, aku harus mengawasi sosok berani dari anggota lain."

"Bukankah sama saja?!"

"Oh, jadi Eita-kun di sini bukan untuk itu?"

"...."

Sial.

Sedikit, sedikit lagi.

"Begitu kita yakin kalau mereka sudah bertemu, maka kita pergi."

"Baiklah, aku mengerti."

Sambil terkekeh, dia menggaet lengannya ke lenganku.

"Jangan dekat-dekat begitu! Jauh sana!"

"Oh, kenapa?"

"Mumpung hari ini kita tidak bersama Chiwa dan ini bukan waktu sepulang sekolah, kita tidak perlu terus berpura-pura, 'kan?"

"Tidak. Di kota pinggiran seperti ini, kita tidak pernah tahu kapan akan berpapasan dengan murid SMA Hane. Kita tidak boleh sesantai itu."

Sambil tersenyum, Masuzu mengatakannya dengan sedikit sarkasme, bersamaan dengan itu, bisa kurasakan betapa lembut tangannya yang semakin mendesakku ini.

Aku penasaran, kenapa tubuhnya bisa selembut ini

Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu.

Kami berpapasan dengan beberapa orang yang menatap ke arah kami, hingga akhirnya sampai stasiun.

Plaza di depan tempat penjualan tiket, terdapat sebuah tempat untuk menunggu.

"Oooh ...."

Chiwa ada di sana.

Sakagami-senpai belum datang.

Dengan ponsel yang terbuka, dia berdiri di sana, tanpa bisa tenang. Bahunya menegang, yang bahkan dari kejauhan pun, bisa kurasakan kegugupannya.

Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah,

"Chiwa ..., Chiwa berpakaian modis?!"

Blus putih berlengan panjang dan celana balon pendek berpola bunga.

Terdapat renda di kerah blusnya yang memberi kesan kalau dia memakai pakaian berlapis, membuatnya terlihat begitu kecewekan. Ukuran dari celana pendeknya juga memberi kesan menantang, memamerkan dan menegaskan kerampingan kakinya.

Lumayan. Cocok dengannya ....

"Bagaimana? Akulah yang membantu memilihkannya."

"Kamu? Ternyata kamu juga bisa melakukan hal baik!"

"Yah, itu dulu pakaianku sewaktu masih kelas enam SD. Pas sekali, 'kan?"

"...."

Saat percakapan itu terus berlanjut, waktu menunjukan pukul sepuluh.

Sakagami-senpai masih belum datang.

"Apa yang ada di pikirannya sampai terlambat di kencan pertama?"

"... benar."

"Di saat seperti ini, bukankah seharusnya lelaki yang datang duluan? Boleh jadi dia punya wajah tampan, tapi paling tidak dia harus tahu dasarnya. Apa itu karena Chiwa, makanya dia menyepelekannya?"

Waktu terus berlalu dan kini sudah pukul sepuluh lewat dua puluh menit.

Belum datang juga.

"Hei, hei, ada apa dengan anak itu?"

Chiwa terlihat cemas dan sesekali sibuk mengutak-utik ponselnya. Dia mungkin sedang memeriksa pesan atau mengirim sesuatu pada senpai.

"Jangan-jangan lelaki itu membatalkan kencannya? Atau mungkin ada kecelakaan?"

Masuzu tidak menjawab dan tetap tidak berekspresi.

Situasi tidak berubah seiring waktu berlalu, hingga akhirnya kini sudah pukul sebelas.

Jumlah orang yang berbelanja perlahan terus meningkat, dan plaza di depan stasiun pun sudah dipenuhi banyak orang. Baik itu keluarga maupun pasangan. Orang-orang yang juga menunggu di tempat itu satu-persatu telah pergi dijemput pasangannya.

Hanya Chiwa seorang yang tersisa.

Berdiri di sana tanpa ada yang menemani.

"Cukup, Chiwa! Pulanglah! Abaikan saja anak itu!"

Lalu— tepat di saat itu ....

Sebuah tawa bodoh yang keras terdengar di plaza.

Rupanya itu sekumpulan murid SMA yang terdiri dari empat lelaki dan dua gadis, berpakaian ala antisosial.

"Yak, aku menang! Satu lembar Yukichi-san di tangan!"

Seorang lelaki besar berwajah kasar dan berkulit gelap tampak sedang bersemangat.

Dan di sebelahnya, dengan wajah yang tampak masam — teman kencan Chiwa — yakni Sakagami-senpai.

"Cih, masih menunggu, ya? Gadis tidak tahu diri."

"Bukankah itu bagus? Wajahnya juga manis, 'kan? Kurasa dia cocok pacaran denganmu."

"Lihat pakaiannya! Apa dia berusaha agar tampak lebih tinggi? Meski terlihat sedikit seperti vas bunga, sih."

Ucap dua gadis yang rambutnya diwarnai dengan cukup norak.

Apa-apaan mereka itu?

Seharusnya hari ini adalah kencan mereka berdua, tapi kenapa teman-temannya juga ikut?

Senpai ini sedang apa?

Ayo cepat minta maaf pada Chiwa!

"Tetap saja membosankan. Pulang sana, Chihuahua-chan!"

Sambil menghadap Chiwa yang bengong, senpai mengibaskan tangan, mengusir Chiwa.

"Gara-gara kamu aku jadi syok. Memangnya kamu pikir bisa berpacaran denganku?"

"Itu mustahil, 'kan? Seharusnya kamu tahu diri, Chihuahua yang Malang."

Keenam orang itu pun tertawa.

"Tapi tubuhmu benar-benar mungil, ya? Apa kamu yakin tidak memalsukan umur? Mungkin sebenarnya kamu ini masih SD, ya?"

"Aku punya kenalan dari SMP yang seorang lolicon. Apa perlu kukenalkan padamu? Kurasa dia akan menganggap dirimu manis. Yah, dalam pandangan seorang maniak."

"Kalian ini, hentikan, kasihan jadinya, tahu? Chihuahua-san sampai gemetaran. Membuatnya menangis itu kejam, tahu? Gyahaha!"

Padahal Chiwa tidak gemetaran.

Tidak pula menangis.

Dia hanya tersenyum kebingungan.

Melihat ekspresi itu, aku merasakan sebuah deja vu—

Aku tidak akan bisa berlatih kendo lagi.

"... hentikan."

Masuzu menahan lenganku saat aku hendak pergi.

"Lepaskan aku, Masuzu!"

"Hentikan! Kamu — bukan — orang — yang — seperti — itu, — 'kan?"

"Terserah, pokoknya lepaskan!"

"Semuanya akan baik-baik saja, 'kan?"

"Hah?"

"Kita tidak peduli dengan berbagai macam lika-liku cinta, 'kan?"

Ucap Masuzu tanpa mengubah ekspresinya.

Hanya saja, mata birunya berkilau menyeramkan.

"Anak bernama Sakagami itu mungkin berpenampilan layaknya seorang olahragawan keren di sekolah ..., tapi inilah sifat aslinya. Dia berpacaran dengan dua atau bahkan tiga gadis sekaligus, dan ketika sudah bosan dengan mereka, dia akan mencampakkannya dan kembali mengulangi hal tersebut, lagi dan lagi. Tabiatnya itu cukup terkenal di antara mantan-mantannya sewaktu SMP. Biarpun begitu, aku pun tidak menyangka kalau ternyata dia sampah yang sebusuk ini!"

"Berarti, dari awal kamu sudah tahu soal ini ...."

Kalau dipikir-pikir, sewaktu Chiwa menyebut nama Sakagami dulu, Masuzu tampak tidak begitu antusias.

Jadi itu alasannya.

"Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk membuat Harusaki-san belajar tentang kenyataan. Cinta adalah sebuah kesia-siaan. Kita bisa menggunakan hal ini untuk membersihkan otaknya. Penganut cinta suci seperti dirinya harus menyadari betapa tidak berguna dan konyolnya cinta itu. Jika itu berhasil, dia mungkin akan menganut doktrin antiromansa seperti kita."

"Jangan main-main!"

Kucengkeram kerah Masuzu.

Walaupun begitu, ekspresi Masuzu tetap tidak berubah.

Dia ..., bagaimana bisa dia berekspresi sedingin itu?

"Jadi, segala kegiatan klub itu hanya pura-pura, hanya main-main?"

"Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Seperti itulah Jien-Otsu. Semuanya hanya <<fake>>. Tak ada satu pun yang sungguhan."

"Tidak mungkin ...."

Bohong.

Itu pasti bohong!

"Tapi bukankah kamu bahagia bersama kami? Entah itu sewaktu kita bertiga memakan camilan bareng di ruang klub, atau sewaktu kita berakting dengan gugupnya — bukankah kamu benar-benar tersinggung saat sandiwara kehidupan terdahulu itu hanya dianggap sketsa komedi? Atau sewaktu kamu mendengar diterimanya pernyataan cinta Chiwa itu, bukankah kamu juga ikut senang?"

Tatap mata Masuzu sama sekali tidak berubah, dan aku tidak tahu seperti apa yang dia rasakan.

"Hei! Bicara!"

"... tidak usah tanya kenapa atau bagaimana, bukankah sebelumnya kamu sudah mengatakannya sendiri?"

"Maksudmu?"

"Aku adalah iblis."

Ucapnya, lalu disertai tawa.

Tampak sebuah seringai — sebuah senyum getir.

Senyum yang sama persis dengan senyum Chiwa tadi.

Ketika dihadapkan dengan romansa, muncul pahitnya perasaan pupus harapan.

Ketika dihadapkan dengan cinta, muncul dalamnya perasaan putus asa.

Apa yang sebenarnya telah terjadi pada gadis ini di masa lalu?

Jujur saja, itu mungkin sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan diriku.

Terasa begitu gelap, layaknya sebuah gua yang menganga, jauh dan begitu dalam ....



"Hei, Masuzu."

"Ya?"

"Meski itu <<fake>>, meski itu hanya sekadar nama, secara teknis aku ini masih pacarmu."

"Kenapa tiba-tiba membahas soal ini?"

"Apa aku bukan pacarmu?"

"Kamu ini bicara apa?"

"Kalau iya, ada satu hal yang harus kuminta padamu. Meski untuk saat ini saja, tolong dengarkan bagian dirimu yang memercayai cinta yang sudah kamu kubur itu."

Kuletakkan kedua tanganku di atas bahu Masuzu, menatap dalam matanya lalu menarik napas,

"Jangan buat dirimu menyimpang, Natsukawa Masuzu!"

Kali ini, sebuah retakan muncul di senyum sempurna Masuzu.

Aku selalu merasa kalau sejak awal dia sudah menutupi dirinya dengan topeng.

"Ka-kamu bicara apa? Kamu dan aku itu satu jenis. Iya, 'kan?"

"Ya. Itu tidak perlu dipertanyakan. Kita sebuah persekongkolan, dengan sistem penilaian yang menyimpang, dengan rasa putus asa yang tidak bisa dipahami siapa pun."

"Jangan berlagak merangkai kata! Kenapa kamu mengatakan itu—"

"Karena Chiwa sosok yang luar biasa!"

Teriakku marah.

"Dia begitu blak-blakan, jujur, dan gegabah .... Bahkan ketika impiannya tentang kendo harus pupus, nada bicaranya yang ceria itu sama sekali tidak berubah. Lebih tepatnya, dia terus melanjutkan hidup dengan kekuatan bodohnya. Itu jelas amat sangat berlawanan dengan kita!"

"... benar."

Dengan suara lemah, Masuzu menundukan kepalanya.

"Anak itu ... begitu bersinar."

Bagaikan sebuah tirai, rambut keperakan Masuzu terjuntai turun ke bahunya dan menyembunyikan ekspresi wajahnya.

Kugoyang-goyangkan lengan Masuzu.

"Aku akan mendatangi Chiwa!"

Aku berjalan menjauh.

... namun.

Jari-jari Masuzu mengenggam ujung bajuku, tubuhnya gemetar.

Keadaannya kini sungguh berbeda dari sebelumnya, kekuatannya kini begitu rapuh.

"... eh?"

"Jangan pergi."

Kepala Masuzu tertunduk, dan dia terlihat seperti anak kecil yang merengek, Tidak, tidak, tidak, tidak, sambil menggelengkan kepalanya.

Persis seperti seorang anak kecil.

Aku juga pernah seperti itu, jadi aku bisa memakluminya.

Dia mirip seperti seseorang yang ditelantarkan tanpa pesan, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Seorang anak yang hanya bisa berdiri terdiam, dan sendirian.

"Masuzu ...."

Tepat di saat itu, aku yakin akan satu hal.

Seseorang yang butuh bantuan ... juga ada di sini.

"Bodoh ...."

Kusentil dahi Masuzu.

Dia mengangkat kepalanya dengan ekspresi kaget, dan dibarengi senyuman, aku lanjut berkata,

"Jangan menunduk. Perhatikan baik-baik!"

"... perhatikan apa?"

"Memangnya itu harus kujelaskan?"

*Puk~* aku menepuk pundak Masuzu,

"Aksi heroik pacarmu."

Aku lalu berlari menuju plaza.

"Hiiiyyaaaaaahhhhhhhh!"

Ah!

Ah ..., ini terasa melegakan!

"Hiyaaaaahhhhh — Chiwa — aaaaaaahhhhh — aku datang!"

Rasanya lepas sekali meneriakkan kalimat seperti seorang tokoh dalam manga.

Meski beberapa orang menyebut ini chuunibyo, tapi aku tidak bisa berhenti melakukannya!

"Hei, lelaki keren yang di sana, jangan ganggu Chiwa! Hiyaaahhhhhhhhh!"

Kubiarkan diriku berlari bebas dan berniat untuk menyerang punggung Sakagami-senpai dengan sebuah tendangan terbang— sayangnya aku gagal.

Ketika aku hampir mengenainya, dia tiba-tiba menghindar.

Ah, jika aku terus menyerang seberisik ini, semua orang pasti akan memperhatikan kami.

"Siapa kamu?"

"Aku teman sedari kecil Chihuahua!"

Chiwa tercengang dan bengong, sepenuhnya membeku.

"Hmm ..., baiklah, Teman Sedari Kecil, ada urusan apa?"

"Eh? Apa anak ini temannya yang ikut salah paham atau memang tidak punya otak?"

Keempat orang yang mengelilingiku menyeringai dan menunjukan niat untuk memulai perkelahian. Orang yang berkulit gelap itu terlihat cukup kuat, dia juga memakai bermacam cincin di kedua tangannya. Jika dia memukulku, aku yakin rasanya pasti sakit sekali.

"Wah, wah ... pukul dia, pukul dia!"

"Hajar dia! Hajar dia sampai dia menangis!"

Ketika kedua gadis yang bersama mereka itu bersorak, tatap mata keempat lelaki tersebut langsung berubah.

Huh! Kelompok ini memang sekumpulan pemuja Agama Cinta yang tidak berotak.

Tidak ada yang perlu kutakutkan pada mereka.

Mereka ini bukanlah apa-apa.

Karena aku ...,

"Kembali!"

"Hah?"

"Aku mendapatkan kembali ingatan kehidupan terdahuluku!"

Area plaza seketika hening.

"Nama asliku adalah <<Burning Fighting Fighter>>. Meski aku lebih kuat dari iblis kelas S dengan level ZZZ <<Triple Zeta>>, aku tidak punya minat untuk menunjukan kekuatanku! Alhasil, aku berada di kelas D. Tapi jika aku mengerahkan seluruh kekuatanku, aku bisa melenyapkan seluruh galaksi seorang diri!"

"Hah?"

Keenam anggota kawanan Sakagami serempak memiringkan kepalanya, kebingungan.

"Selagi para <<Wyverns>> menggunakan kamuflase optimal <<Illumination>> untuk menyembunyikan jejak aksi mereka, mereka tidak bisa membodohi simbol di tanganku! Karena jika mereka melakukannya, rasa sakit khayalan itu pasti akan jadi kenyataan ...!"

"Oi, kamu bicara apa—"

"Hiyaahhh!!"

Kali ini, kugunakan Jurus Rahasia Klan Naga Suci <<Dragon>>, Kuda-Kuda Elang Liar!

Jangan tanya kenapa naga bisa menggunakan kuda-kuda elang!

"Pa! Papapah!"

Lalu aku menggunakan Api Kelam Sang Takdir <<Fate's Dark Black Flame>> pada Sakagami.

Tentu aku tidak melupakan efek suaranya.

"A-anak ini menjijikkan!"

"Sial?! Matanya terlihat tidak normal!"

Teman-teman Sakagami terlihat takut.

Segerombolan penonton mengelilingi kami dan tampak was-was.

"Hei, kita pergi saja, ya?"

"Abaikan saja anak ini. Tidak usah dipedulikan!"

Tampak jika kelompok Sakagami buru-buru menjauh.

... tidak akan kubiarkan mereka pergi!

"Bodoh! Kelemahanmu terlihat! Kamu benar-benar lengah!"

Kutangkap punggung Sakagami dan kugunakan berat tubuhku untuk mendorongnya jatuh.

Sambil mengangkangi perutnya, kupukuli Sakagami! Kuhantam! Kuhajar dirinya!

"Sedang apa kamu?"

Si lelaki berkulit gelap menggunakan seluruh kekuatannya untuk menendang perutku. Untunglah aku tidak sarapan .... Cairan yang naik ke tenggorokanku terasa begitu masam.

Tapi aku tidak melepaskan Sakagami.

Aku tidak akan melepaskannya.

"Minta maaf!"

"Hah?"

"Minta maaflah pada Chiwa!"

"Menjengkelkan!"

"Kamu sudah menipunya, dan berkata macam-macam padanya! Ayo minta maaf!"



"Kamu memang menjengkelkan!"

Sebuah pukulan mendarat tepat di wajahku.

Hidungku menyemburkan darah dan membuat bercak merah pada bajuku.

"Ti-tidak akan kulepaskan ...!"

Ketika Sakagami mencoba bangkit, tanpa bersuara kurangkul kakinya.

Ayo! Ini waktunya menunjukan kekuatan ZZZ milikku!

Akan kutinggalkan kemampuan kelas D ini dan menunjukan kekuatanku yang sesungguhnya!

"Hahaha! Ternyata dia lemah, dasar otaku menjijikkan!"

Wajahku ditendang berkali-kali hingga hampir hilang kesadaran.

Kenapa ....

Bangkitlah! Dengan kekuatan Klan Naga Suci! ZZZ! Lenyapkan seluruh galaksi!

Hanya di saat ini, aku bisa begitu percaya diri.

Aku ingin percaya.

Meski aku sendiri tidak memercayai kalimat-kalimat delusional yang tertulis di buku catatan itu ....

Namun aku ingin memercayai kekerenan yang terus Chiwa percayai sepenuhnya itu.

"Hei, kamu ini kenapa? Bukankah kamu si Burning apalah itu, hah? Mana semangatmu yang tadi?"

Sakagami menginjak jariku dengan sepatunya, lalu menekannya dengan kejam.

"Aaaaaaarrgghhhh...."

Sakit.

Benar-benar sakit.

Kuku jariku mungkin sudah terkoyak, dan rasanya ada benda keras masuk ke dalam dagingku .... Sakit! Sakit, sakit, sakit, sakit! Rasanya ingin menangis — sebenarnya aku sudah menangis — darah dan ingus bercucuran di wajahku, meninggalkan noda besar di tanah! Rasa sakit yang nyata ini merasuki diriku .... Sepertinya aku akan kalah.

Benar.

Terlepas dari apakah aku ini Kesatria Klan Naga Suci, atau karakter apa pun itu, rasa sakit tetaplah sakit!

Kenyataannya ..., aku tidak bisa menang.

Sakit.

Kenyataan itu benar-benar menyakitkan.

Tapi ....

"Uuuaaahhhhhhhh, sakit! Aaarrgghhhh!"

Teriak Sakagami seperti seorang gadis.

Sambil merangkul kakinya, lelaki itu pun berguling-guling di tanah.

"Berengsek! Di-dia benar-benar menggigitku ...."

Kutatap mata Sakagami yang sedang merintih itu kemudian berdiri.

"Dia melihatku ...."

"Hah?"

"Pacarku sedang melihatku! Wuuoooohhhh!"

Ketiga teman Sakagami lalu mengelilingiku dengan aura membunuh di wajah mereka.

Seringai mereka sebelumnya itu pun telah menghilang.

"Ini bukan lelucon, 'kan?"

"Kamu harus menghabisinya sebelum polisi datang."

"Ada kantor polisi di dekat sini. Memangnya tidak apa-apa?"

Aku berdiri sambil mengusap darah di hidungku dengan lutut gemetar. Aku tidak bisa mendengar yang mereka katakan.

"Hahaha! Kemenangan yang mudah, kalian lihat? Kantor polisi, kantor polisi .... aneh? Memangnya ada kantor polisi di dekat sini?"

Dengan kesadaran yang berangsur memudar, aku nyaris jatuh tersungkur ....

"Hentikan, sudah cukup!"

Yang berteriak barusan adalah Chiwa.

"Cukup! Jika Ei-kun terus begini, kamu bisa mati! Jangan hiraukan tiga bajingan itu! Lagi pula, aku sudah tidak peduli! Ka-kalau sesuatu terjadi pada Ei-kun, aku bisa ...."

Mata Chiwa yang berkaca-kaca tampak memerah.

Sambil terhuyung-huyung dan tertatih-tatih, dia bermaksud mendekat.

"Siapa yang kamu maksud bajingan? Dasar melon musim dingin pendek!"

Si pria berkulit gelap tampak sedang naik pitam dan terlihat siap menyerang Chiwa.

"Tung-tunggu! Kalau kamu ingin memukul, pukul aku saja! Chiwa—"

Tepat di saat itu ....

Di bawah langit cerah tidak berawan ini, sebuah tongkat tiba-tiba melayang entah dari mana.

Itu adalah tongkat aluminium panjang yang biasanya digunakan untuk menyangga pohon-pohon kecil.

Seolah membelah angin dengan liar, tongkat itu melayang menuju targetnya — menuju tangan Chiwa.

"—ini!"

Pupil mata Chiwa dipenuhi sinar membara.

Rasanya sudah sangat lama ....

Ekspresi tegang itu adalah tampang yang dia perlihatkan sebelum bertanding Kendo.

Dengan kedua tangan menggenggam tongkat, dia langsung memasang kuda-kuda tinggi.

"—meeeeeeeeenn!"

Dengan gerakan indah dan eksplosif itu, Chiwa menghantam dahi si pria berkulit gelap.

Tanpa sempat berteriak, lelaki tersebut ambruk ke belakang, tidak bergerak.

"Gadis jalang!"

Dua orang lainnya serempak berteriak sembari melayangkan tinjunya ke arah Chiwa, namun meleset. Chiwa menyelipkan diri di antara kedua lelaki itu, dengan gesit dan anggun menghindari gerakan mereka. Kerumunan di sekitar bersorak, "Wah!"

"Dora! Dorara!"

Berseru seperti saat berlatih Pertunjukan Langsung Dorarara ~ Chihuahua, Chiwa menghindar ke samping dan menghantam bagian tengah tubuh kedua pria itu dengan kecepatan cahaya! Kukira mereka akan berteriak, "Aaarghh," tapi ternyata mereka justru memegangi perut lalu jatuh berlutut.

Kemenangan seketika.

"... haha."

Mendadak kehabisan tenaga, aku pun tersungkur di lantai bebatuan.

—Chiwa benar-benar kuat!

Chiwa meletakkan shinai-nya lalu mendekati Sakagami.

"Yieieehhh!"

Sakagami menyeret tubuhnya di tanah, layaknya kecoa yang merayap ingin melarikan diri .... Citra lelaki kerennya hancur seketika.

Chiwa menghadap ke arah Sakagami ....

"Senpai, maafkan aku!"

Chiwa dengan tegas membungkuk, posisi hormatnya begitu formal dan anggun bagaikan membungkuk dalam kendo.

"Jujur saja, aku juga berbohong padamu."

"Hah?"

"aku sebenarnya sama sekali tidak menyukaimu. Lebih tepatnya, karena bertengkar dengan teman sedari kecil yang begitu bodoh, aku pun memutuskan mencari pacar. Lalu, aku memilih target secara acak. Aku minta maaf."

Usai mengatakan hal tersebut, Chiwa kembali membungkuk.

"Bisakah kamu lupakan saja semua yang terjadi hari ini?"

"Ah! Cukup! Aku tidak ingin lagi berhubungan denganmu dan tidak ingin punya hubungan apa pun denganmu!"

Sakagami berdiri, dipapah oleh kedua gadis yang bersamanya sambil mengangguk dengan cepat.

Kerumuman orang juga memanfaatkan kesempatan ini untuk membubarkan diri, dan tidak ada lagi yang menonton kami. Mereka pasti masih cukup terkejut.

Gerombolan Sakagami juga menyelinap di tengah-tengah kerumunan, merasa kesal.

"Wajahmu terlihat menyedihkan."

Chiwa mengamati wajahku yang masih tersungkur di tanah.

"Hidungmu masih mimisan. Ei-kun, apa kamu membawa tisu?"

"... aku lupa."

"Yah, mau bagaimana lagi ...."

Chiwa duduk bersimpuh di tanah lalu mengangkat kepalaku. Dia menempatkan kepalaku di atas pangkuannya. Mungkin ini yang pernah Saeko-san bilang, Pangkuan seorang teman sedari kecil memang yang terbaik, atau semacamnya.

"A-aku mau bilang sesuatu ...."

"Eh?"

"Tadi, sewaktu bagian pertarungan dengan musuh dari kehidupan terdahulu, aku hanya melakukannya karena memang sudah terbiasa. Bukan demi kamu."

"... Ei-kun memang Tsundere. Teman sedari kecil yang tsundere itu harusnya perempuan, tahu?"

"Siapa peduli? Cerewet!"

"Iya, iya. Apa terasa sakit?"

Dia menggunakan tisu untuk membersihkan darah dari hidungku.

"Di dalam hidung ini rasanya masih perih."

"Hmm, apa aku perlu menunjukkan celana dalamku? Siapa tahu kamu bisa merasa lebih baik."

Mimisanku kembali keluar. Bukankah itu malah membuatku semakin parah?

"Si-si-siapa juga yang mau melihat ce-ce-celana dalammu?"

"Hmm, jangan sungkan begitu. Tidak masalah, kok."

Dasar pendendam, teganya mengerjaiku?

Aku memeriksa sekitar dan melihat sebuah tongkat alumunium yang menggelinding di tanah.

Orang yang melempar tongkat tersebut, apa itu memang dia ...?

Aku tidak bisa melihat sosok orang itu lagi.

"Oh, Ei-kun?"

"Apa?"

"Sewaktu kamu berteriak marah tadi, kamu bilang, Pacarku sedang melihatku, ya?"

*Uhuk*

"A-a-a-apa aku bilang begitu? Aku tidak ingat."

"Ya, kamu memang bilang begitu. Telingaku mendengarnya dengan jelas~"

Nada bicaranya membuatku jengkel hingga tingkat maksimal.

Chiwa melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian ke sekelilingnya, lalu berkata,

"Natsukawa, tidak ikut ke sini?"

"Ah? Hmm, kurasa ... tidak."

Sehabis aku mengatakannya, mata Chiwa tiba-tiba berbinar bahagia.

"Kalau begitu ..., saat kamu bilang, Pacarku, itu maksudnya aku?"

Kali ini, mimisanku benar-benar menyembur.

"Ma-ma-ma-mana mungkin, 'kan ...?!"

Darahku terus mengalir, dan kesadaranku perlahan memudar ....

"Hei! Ei-kun! Ei-kun! Sadarlah! Jangan pingsan!"

Suara Chiwa terasa kian menjauh. Ini sungguh ... akhir yang melegakan.



Mundur
Lanjut

0 tanggapan:

Posting Komentar