Oreshura Jilid 1 Bab 6

=========================================================
Baru bisa posting, yang sebenarnya sudah lama tersimpan di draft... Oke , deh, tanpa basa-basi, langsung ke catatan terjemahan...
Panchira adalah sebuah istilah ketika celana dalam seorang perempuan sekilas terlihat dikarenakan rok yang dikenakannya tersibak...
Mengenakan bulu kucing adalah kiasan yang berarti sudah jinak...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 6 - Yang Ada Di Balik Rok Adalah Sebuah Kekacauan


Sekelumit kabar ini langsung menyebar ke seantero sekolah.

Mereka menyebutnya Pertunjukan Langsung Dorarara ~ Chihuahua .

Cerita tentang Chihuahua yang Malang pun dimuat di halaman depan koran sekolah.

Keesokan harinya setelah jam pelajaran berakhir—

Aku jadi penasaran tentang perasaan mereka berdua soal kegagalan kemarin, itu sebabnya aku pergi ke ruang klub— Chiwa dan Masuzu ternyata sudah bersimpuh di depan seperangkat peralatan teh.

"Yah, kurasa kita bisa memaklumi hal itu!" 

Chiwa dengan resah menggigit sepotong panekuk khas Jepang.

"Benar, dari sudut pandang mendapatkan perhatian lebih, ini bisa dianggap sebagai awal yang cukup bagus, bukan?"

Masuzu dengan santai menyeruput tehnya.

... tidak. Chiwa tidak mendapatkan pengalaman apa pun.

Di atas meja, terdapat botol termos, teko, cangkir, sekaligus kudapan seperti panekuk khas Jepang — semua yang dibutuhkan untuk upacara minum teh siang khas Jepang sudah siap tersedia. Sepertinya Masuzu membawa semua perabot ini dari ruang guru.

Kutaruh tas sekolahku di atas meja lalu duduk di salah satu kursi lipat.

"Intinya, adik Sakagami pasti akan mengingat nama Chiwa. Tapi jika dilihat dari sisi mana pun, Chiwa hanya akan dikaitkan dengan citra yang buruk. Iya, 'kan?" 

"Meski Chiwa memiliki reputasi yang buruk atau tidak, itu tidak akan berpengaruh. Jika adik Sakagami itu tidak mengingat nama depannya, maka tidak akan pernah ada kesempatan untuk memulainya." 

"Begitukah?" 

"Kebalikan cinta bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian. Semua hubungan antar sepasang kekasih itu dimulai dari beberapa ikatan emosional seperti ini." 

"Ah ...."

Yah, jika dikatakan seperti itu, memang tidak salah, sih.

"Biarpun begitu, Chiwa benar-benar terlalu kasar dan berlebihan. Dia bahkan membawa kotak gitar dan mengayunkannya dengan kuat." 

"Benarkah? Padahal kukira itu biasa saja." 

Kata Chiwa sambil menggigit dan mengunyah panekuknya, dia lalu memiringkan kepalanya.

"Jika kamu mencederai dirimu lagi seperti sebelumnya, hasilnya bisa tambah parah .... Memangnya kalau punggungmu tiba-tiba mulai sakit, kamu mau apa?" 

"Khawatirmu itu memang suka berlebihan. Jika terus seperti itu, kamu bisa jadi botak nanti!" 

"... walau nanti botak, aku masilh bisa pakai wig. Tapi kalau cedera di punggungmu kambuh, kamu tidak akan bisa berjalan!" 

Tanpa sadar aku menaikkan volume suara.

Chiwa behenti memakan panekuknya, lalu menundukkan kepala.

"Maaf, aku hanya bercanda. Aku terlalu terbawa suasana."

"Dasar .... Asal kamu ingat cederamu, maka itu tidak masalah."

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku akan berhati-hati."

"Bukan artinya aku mengkhawatirkanmu." 

"... hehehe."

Aku tidak tahu kenapa, tapi Chiwa terlihat sangat senang.

Bahkan setelah aku memarahinya, dia tetap saja girang. Apa gadis ini masokhis?

Sebelumnya, aku sudah menyela Masuzu karena suatu alasan, tapi dia tidak bereaksi. Dia hanya diam sambil menyeruput tehnya.

"Hei ..., Natsukawa. Boleh kutanya sesuatu?" 

"Apa itu, Harusaki-san?"

"Barusan kamu bilang kalau semua hubungan antar sepasang kekasih itu dimulai dari ikatan emosional."

"Ya?" 

"Jadi ..., seperti apa ikatan emosionalmu dengan Ei-kun? Kenapa kamu bisa pacaran dengannya?"

Bisa kurasakan jantungku berdebar kencang.

Masalah ini ada hubungannya dengan buku catatanku, karena itu aku tidak ingin begitu saja ikut berbicara.

—bagaimana caramu menyudahi percakapan ini, Masuzu?

Itulah yang kupikirkan. Namun Masuzu tersenyum dengan santai dan berkata:

"Karena dia sudah melihat celana dalamku."

Karena terkejut, separuh panekuk yang Chiwa makan tadi jatuh ke dalam cangkirnya.

"Eh .... Apa?! Apa-apaan itu?!"

"Eita-kun~ celana dalamku~ sudah dilihat semuanya." 

"... Ei-kun?"

Chiwa menapatap ke arahku dengan pandangan yang mengerikan.

"Tung-tung-Tunggu! Masuzu! Jangan bohong! Aku tidak melihat apapun!" 

"Begitulah, si pelaku menyangkal tuduhannya." 

"Eh, soal ini lagi?!" 

Aku sungguh tidak melihatnya.

Aku tidak melihatnya!

Dan itu karena angin meniup roknya dan dia tidak memakai apa-apa.

Bahkan tempo hari pun, ketika Masuzu mengangkat sendiri roknya, dia tidak menunjukan area itu.

"Ketika celana dalam seorang gadis terlihat, maka dia tidak punya jalan lain selain mendedikasikan dirinya pada lelaki itu." 

Masuzu berbohong dengan santainya ....

Lagi pula, tidak seharusnya tata krama itu kamu jadikan sebagai alasan!

"Oh, begitu. Jadi kejadiannya seperti itu ...." 

Meski suara Chiwa terdengar semakin kalem, alisnya terus saja berkedut.

Itu adalah kebiasaannya saat berusaha menahan amarah.

"Ku-kubilang bukan seperti itu! Tidak kusangka angin meniup roknya! Aku tidak melihat apa pun! Karena memang tidak ada satu pun pakaian dalam yang bisa dilihat!" 

Aku berusaha keras membela diri.

Aku tidak ingin Chiwa menganggapku sebagai orang yang mesum.

"Benar, dia memang tidak memakai apa-apa! Aku yakin itu! Karena sekejap angin bertiup, tanpa sengaja aku melihat roknya! Aku terpaku sambil terbelalak melihat roknya, namun aku tidak melihat apa pun! Jika aku bisa melihat paha putihnya yang mulus, maka harusnya aku bisa melihat celana dalamnya! Walau boleh jujur, itu mungkin saja terjadi kalau angin bertiup di antara kedua kakinya ..., atau mungkin saja celana dalamnya itu menempel ketat di pahanya! Tapi jika .... Uh, wuuaahhh!"

Chiwa memukulku.

Dia memukulku dengan keras menggunakan tinjunya.

Kupikir dia sudah tidak memukulku seperti ini semenjak SD dulu.

"Ka-ka-kamu ... mesum!" 

"Ti-tidak, Chiwa ..., percayalah!"

"Ei-kun benar-benar menjadi orang mesum. Sebagai temanmu sedari kecil, aku jadi malu!" 

Air mata memenuhi sudut mata Chiwa.

Aku telah membuat teman sedari kecilku menangis dengan kelakuan mesumku (meski itu tuduhan yang salah)

"De-dengarkan aku ..., Chiwa .... A-aku—" 

"Aku tidak mau! Aku tidak ingin mendengarnya! Berlutut sekarang, Ei-kun! Aku ingin kamu berlutut di sini seharian!" 

Aku menurut dan merendahkan  dengan punggung tegak.

Aku melepas sepatuku lalu berlutut di lantai.

"Sementara ini kita tidak akan membahas tindakan mesum Eita-kun." 

Mengabaikan penderitaanku yang berlutut di lantai dingin nan keras, Masuzu terus meminum tehnya dengan tenang.

"Kalau dipikir-pikir, mungkin membiarkan dia tidak sengaja melihatnya adalah strategi yang sangat efektif."

"Hah?"

"Sungguh disayangkan, tapi sesuai perkiraan, pria memang selalu tergoda oleh aspek wanita yang satu itu. Sebuah strategi yang sederhana namun begitu efektif." 

"Berhenti bercanda! Memangnya aku mau melakukan hal sememalukan itu?" 

"Ini sebenarnya merujuk pada panchira," ujar Masuzu dengan kepercayaan diri yang besar, kemudian melanjutkan,

"Panchira bukan berarti akan kuperlihatkan, tapi lebih ke bisa terlihat, seperti sesuatu yang tidak sengaja tertiup oleh angin."

... Masuzu memang seorang ahli strategi yang mengerikan.

Sesuatu yang cocok berada di Jien-Otsu!

"Jadi maksudmu, jika aku benar-benar menunjukkan panchira ini pada Sakagami-senpai, dia pasti akan tunduk, bersujud di kakiku?"

"Tidak ada pengaruhnya meski lelaki itu tampan atau tidak, yang pasti, malamnya dia tidak akan bisa tidur."

"Kurasa ini memang efektif ..., tapi rasanya aku sudah melewatkan sesuatu yang penting." 

"Oh, aku tidak menyangka kalau kamu bisa peka soal itu, Harusaki-san." 

"Aku juga tidak menyangka kalau kamu bisa blakblakan begitu. Setahuku kamu ini seorang ojou-sama yang bermartabat, tapi nyatanya tidak seperti itu!"

"Ya, karena kini aku sedang mengenakan bulu kucing."

"Meong~" Masuzu mengeluarkan suara kucing.

"Apa pun itu, aku menolaknya! Lagi pula, itu bukan berarti aku mau menggunakan strategi semacam tadi."

"Jadi kamu tidak percaya diri dengan celana dalammu? Pantas saja kamu masih belum punya pacar." 

"Ce-celana dalam yang kupakai sudah pasti imut!"

Yah ....

Meskipun ini begitu mendadak, aku akan menjelaskan posisi kami saat ini.

Masuzu dan Chiwa terpisah oleh meja klub, kursi mereka berdua saling berhadapan.

Aku berlutut, tidak begitu jauh dari meja, mengamati percakapan di antara dua gadis tersebut dari samping.

Karena aku disuruh berlutut di lantai, aku jadi bisa melihat ... kedua kaki mereka dari bawah meja.

Rok mereka kira-kira dua puluh senti di atas lutut, karena peraturan sekolah tidak mengizinkan rok yang lebih pendek lagi. Dengan jarak sepanjang itu, paha mereka tidak akan terlihat ketika duduk, dan belum termasuk bagian itu.

Meski begitu ....

Ya ..., meski begitu ....

"Wuuuuuuuuooaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

"A-apa-apaan ...?! Ada apa, Ei-kun?!" 

Karena terkejut, Chiwa menoleh dan memandang ke arahku.

"Bu-bu-bu-bukan apa-apa! Bukan apa-apa! Bukan apa-apa, kok!" 

"Kalau bukan apa-apa, diam!" 

Barusan, barusan .....

Selama sepersekian detik, Masuzu mengangkat roknya ....

Dari bawah meja, aku bisa melihat paha putih ramping yang menyilaukan.

Aku sangat yakin kalau ini adalah buktinya. Masuzu menggodaku, dan dia membiarkanku melihatnya dengan sengaja. Dia bahkan menjulurkan lidahnya.

Chiwa tidak menyadari situasi di luar kewajaran ini dan terus mengobrol dengan Masuzu.

"Yah, apa tidak ada strategi tempur yang lebih baik lagi?" 

"Eh .... Itu akan sangat merepotkan. Apalagi tanpa menggunakan senjata paling ampuh seorang wanita." 

Masuzu memangku pipinya dengan tangan kanan, lalu menampakkan tampang layaknya orang sedang merenung.

Dan tangan kirinya sendiri sedang memegang ujung rok.

"Woouahauuaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

"Bukankah sudah kusuruh diam?!" 

Chiwa menggebrak meja.

"Sudah cukup main-mainnya, Ei-kun. Apa kamu lebih ingin berlutut di lorong?" 

"Ma-ma-maaf! A-aku akan diam!"

Dia melakukannya lagi ....

Kali ini, Masuzu mencengkeram tepi roknya, lalu melambaikannya ke kanan dan ke kiri seolah menggodaku dengan pakaiannya yang menggantung.

Pahanya yang padat samar-samar bisa terlihat di atas kursi.

Tanpa sadar aku mencondongkan diri ke depan.

Ini sungguh memalukan!

"Kenapa tidak kamu perlihatkan saja buku catatan itu padaku?"

"Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu melihat wasiat terakhirnya."

"Cih, dasar pelit!" 

"...!"

Untuk yang ketiga kalinya, aku berhasil menahan keterkejutanku dan mengendalikan diri.

Sekarang, dia berada di posisi yang cukup beresiko.

Di bawah meja itu agak remang, jadi sulit untuk melihatnya dengan jelas. Tapi paha putih yang sungguh mulus itu hampir terlihat sepenuhnya.

Ini aneh.

Terlalu aneh ....

Umumnya, jika tersingkap sampai sejauh itu, paling tidak, celana dalamnya itu mestinya bisa terlihat, 'kan?

Tapi karena aku tidak bisa melihatnya, bukankah artinya dia.....!

Aku mendongak, dan menyadari kalau Masuzu juga sedang melihatku.

Inilah yang disebut berbicara lewat mata. Tatapan sedingin es milik Masuzu seolah berbicara padaku,

— Bagaimana? Apa kamu melihatnya? —

Aku menatap balik Masuzu, dan menjawab dengan mata terbelalak;

— Aku tidak lihat! —

— Oh, belum cukup, toh? —

— Aku tidak bilang begitu! —

— Baiklah, akan kuangkat lebih tinggi lagi. —

— Bodoh! Itu malah tambah parah! —

— Tapi katamu tadi tidak bisa lihat. Iya, 'kan?

— Meski aku tidak bisa lihat, tapi kalau kamu terus begitu, aku pasti akan melihat sesuatu yang benar-benar berbeda! —

"Ei-kun, kamu sedang apa?"

Mendengar suara Chiwa, aku langsung tersadar.

"Wuahh!" Aku bahkan sampai berteriak.

Memalukan sekali ....

"Kalian berdua sedang apa? Sejak tadi kalian sudah saling tatap."

"Bu-bu-bukan apa-apa !"

"Benar, kami tidak sedang berbuat apa-apa."

Dengan tenang Masuzu tersenyum sambil lanjut berkata,

"Pasangan yang saling mencintai saling menatap satu sama lain, adalah hal yang sangat wajar."

"Sepertinya tidak begitu. Ei-kun sendiri tampak syok sambil berair mata."

"Itu pasti karena dia tidak terbiasa berlutut, kakinya pasti kram." 

"... ah, benar juga." 

Meski mengangguk, Chiwa masih terlihat seolah tidak yakin dengan penjelasan tadi.

Biar bagaimanapun, Chiwa tetaplah Chiwa. Dia mungkin masih belum mengira kalau kami ini bukanlah pasangan yang normal.


XXX


Beberapa menit kemudian, Chiwa pergi ke kamar mandi. Kugunakan kesempatan ini dan dengan keras bertanya pada Masuzu,

"A-a-apa apaan itu tadi?"

Masuzu menggembungkan pipinya dengan ekspresi cemberut yang tidak biasa dan berkata,

"Itu karena Eita-kun masih menuduhku tidak memakai apa-apa."

Jarang sekali melihat dirinya yang kekanak-kanakan.

Aku sampai terpaku memperhatikannya.

"Tetap saja, bisa-bisanya kamu melakukan itu tepat di hadapan Chiwa?!"

"Tapi kamu senang, 'kan?" 

"Aku ... tidak senang! Chiwa pasti akan membunuhku karena hal itu! Amarahnya yang barusan itu sungguhan!" 

"Rupanya murid peringkat atas kita ini masih bisa dijinakkan oleh temannya sedari kecil." 

Masuzu tersenyum lalu berkata,

"Harusaki-san tadi sempat mengatakan sesuatu —boleh aku tanya?"

"Soal apa?" 

"Kenapa kamu dan Harusaki-san bisa sedekat itu?" 

"Karena dia temanku sedari kecil."

"Itu bukan alasan sesungguhnya, 'kan?" 

Masuzu tersenyum kecut.

"Ada banyak orang di luar sana yang masih berteman dan menjalani hidup bersama sedari kecil. Apa Harusaki-san adalah satu-satunya yang masih bersama denganmu?" 

"Meski kamu bilang begitu ...."

Sejujurnya, aku hanya bisa bilang kalau itu terjadi begitu saja.

Atau karena aku tinggal dekat dengan rumahnya?

Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, alasan itu sulit untuk dipikirkan.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya—"

Masuzu tiba-tiba menyela,

"Aku sedikit khawatir kalau Harusaki-san tidak akan datang ke klub karena kejadian kemarin. Mungkin saja dia akan bertanya tentang syarat untuk mengundurkan diri dari klub. Bahkan aku sudah memikirkan cara untuk membujuknya agar tetap tinggal —tapi sesampainya di ruang klub, aku melihat dia sudah meminum teh dengan serius. Dia sudah menunggu."

"Jadi begitu, lagi pula ...." 

Fakta bahwa Masuzu sampai berpikir seperti itu tidaklah mengejutkan.

Terlepas dari ingatan soal rechiridora, sankyuu kemarin ..., Chiwa tetap bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, meski semalam bisa saja dia sangat frustasi. Jika itu aku, aku mungkin sudah depresi selama seminggu penuh.

Tapi—

"Chiwa tidak akan pernah menyerah." 

Ucapku dengan sangat yakin.

"Kenapa?" 

"Dia tidak pernah menyerah terhadap apa saja yang berhubungan dengan kegiatan klub. Selama tujuannya belum tercapai, dia tidak akan pernah berhenti." 

Lalu kujelaskan pada Masuzu kenapa Chiwa harus berhenti dari klub kendo.

Tahun lalu, mendekati musim panas, dia mengalami sebuah kecelakaan dan dipaksa harus melepaskan tujuannya.

Meski begitu, sifatnya yang ceria itu tidak berubah, dan dia tetap berhasrat untuk mengejar tujuan yang baru.

"Ternyata begitu ceritanya ...?"

Masuzu menghela napas, menggangguk, lalu berkata,

"Kini aku sudah mengerti alasannya."

"Hah?"

"Eita-kun dan Harusaki-san boleh terus bersama, kini kamu sudah punya alasannya." 

"Eh?"

Tidak ada yang pernah berkata seperti itu.

Saat ini, Masuzu perlahan melingkarkan lengannya di pundakku.

Tubuhnya yang lembut bergesekan dengan tubuhku tanpa sedikit pun rasa malu.

Payudara yang ada di balik seragamnya menekanku, pita seragamnya kehilangan bentuk karena sebuah tekanan, dan nafasku seketika berhenti.

"Tapi, jangan lupa ...." 

Bibir merah Masuzu yang mungil itu terbuka lalu menutup.

"Jangan lupa, Eita-kun. Saat ini kamu adalah pacarku." 

Aku meneguk liur.

"Ta-tapi bukankah aku hanya seorang <<fake>>?" 

"Kamu memang <<fake>>, namun tetap milikku seorang, jadi jangan salah paham. Itu sebabnya ... jangan bersikap terlalu baik terhadap gadis lain di depanku."

Kusadari kalu punggungku sudah berkeringat.

Padahal musim panas masihlah jauh.

"Kamu .... Sebanyak apa sisi dirimu yang sungguhan?" 

"Sebanyak apa?" 

Dia lalu menjauhkan tubuhnya dariku sambil tersenyum.

"Tentu semuanya. Ten—tu — se—mua—nya  <<fake>>." 

Wanita ....

Wanita ... macam apa dia ini?

__________________________________________________________



Natsukawa Masuzu.

Murid kelas satu SMA, pacar(?) Eita,

Lidah tajam, seseorang yang baru pulang dari luar negeri.


Kutipan favorit: "Aku tidak akan berhenti memukul sampai kamu menangis."


0 tanggapan:

Posting Komentar