Oreshura Jilid 1 Bab 3

=========================================================
Dengan ini satu episode selesai... Mohon maaf, padahal ini bab yang pendek, tapi proses edit dari ane yang makan waktu lama...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 3 - Pacar VS Teman Sedari Kecil = Sebuah Kekacauan


Di hari berikutnya, kabar tentang Natsukawa Masuzu menyebar ke seluruh sekolah tanpa ada yang menggembar-gemborkan. Sungguh kekuatan penyebaran yang sangat menakutkan, atau harus kusebut kejangkitan. Siapa dikaitkan dengan siapa, siapa dicampakkan oleh siapa, cerita semacam ini bisa terdengar hingga radius sepuluh mil segera setelah peristiwa terjadi. Bukan karena Natsukawa menyebarkan kata-kata manis di berbagai tempat, tapi karena semangat penganut romansa melebihi semangat penganut Katolik di abad pertengahan.

Omong-omong, mungkin Natsukawa punya campur tangan dalam hal ini. Lagi pula, jika rumor tidak bisa menyebar secara efektif, dari awal dia tidak perlu memulai pernyataan palsu itu untuk melindungi <<Barrier>> pemecah ombaknya.

Setiap waktu istirahat yang kami lalui, anak-anak dari kelas lain bergegas untuk mengamatiku. Jadi itu orangnya? Terlihat sangat biasa, Kita tidak akan bisa memahami selera ojou-sama. Hanya dari komentar-komentar kejam ini, aku sudah mulai memahami perasaan Natsukawa. Hal ini memang sangat sulit untuk dihadapi.

Yamamoto dari klub sepak bola meminta jabat tangan untuk yang kedua kalinya dalam bulan ini.

"Jika kamu tidak memberikan kebahagiaan pada Natsukawa, aku tidak akan pernah memaafkanmu, yo."

Oh, Yamamoto-kun. kamu terlalu menyilaukan.

Kalau aku bisa, aku akan sangat senang menawarkan padamu hak untuk membawakan kebahagiaan pada Natsukawa. Aku benar-benar akan melakukannya.

... Omong-omong, cepat dan bantu aku! Aku mohon padamu!


XXX


Di hari itu, saat pulang sekolah.

"Manusia seharusnya tahu kapan waktunya menyerah, Eita-kun."

Kata Masuzu di sebelahku dengan sikap seorang tuan putri.

"Seperti yang dikatakan teman sekelasmu Yamada, ayo kita bekerja sama demi kebahagiaanku."

"Hanya kamu saja yang bahagia!"

Oh, lagi pula, itu bukan Yamada, tapi Yamamoto. Bagaimanapun juga, ini sudah lepas dari topik pembahasan.

Kami tidak memilih jalan utama, melainkan rute yang lebih jauh yang jarang dilalui orang. Meski cenderung lebih jauh, pilihan kami terbatas. Itu relatif lebih baik daripada pulang dengan tatapan cemburu dan bisik-bisik yang mengganggu.

Masuzu menepukkan tangannya bersamaan.

"Omong-omong, Eita-kun,"

"Apa?"

"Mulai sekarang, karena kita akan cukup lama menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah tiap harinya, tidakkah kamu berpikir kalau kita sebaiknya menghabiskan masa-masa ini dengan lebih baik?"

"... tentu, itu akan lebih berguna."

Jalur yang aku dan Masuzu ambil adalah jalur dari sekolah yang menuju ke minimarket di Jalan Ketiga. Jaraknya kira-kira 1,5 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar dua puluh menit berjalan kaki.

"Berdebat selama dua puluh menit setiap hari begini sangatlah tidak efisien. Kita seharusnya berusaha membuat ini jadi lebih bermanfaat, tentunya dengan bekerja sama."

"Lalu? Apa yang mau kamu sarankan?"

"Yah, tentu saja seperti ... membeli sesuatu untuk dimakan, pergi ke suatu tempat untuk bermain sejenak."

"Sepertinya cukup menarik. Tapi menghabiskan hari seperti ini tampaknya sedikit .... Pokoknya, aku tidak ingin mengurangi waktu yang harusnya kuhabiskan untuk belajar, beserta tugas mencuci baju dan memasak makan malam. Karena itu, sebaiknya aku mengabiskan waktu dan uang yang sesedikit mungkin."

"Kalau begitu, kurasa kita hanya bisa mengobrol saja."

"Seperti obrolan mesra antara sepasang kekasih, begitu?"

"... obrolan mesra, ya?"

"... obrolan mesra."

Baik tangan Masuzu maupun tanganku keduanya sama-sama merinding.

"Tidak mungkin."

"Mustahil."

Aku meludah ke tanah.

Masuzu meluruskan rambutnya.

"Pikirkan baik-baik, kita tidak perlu saling berdekatan sambil mengobrol mesra seperti itu."

"Benar, lagi pula ini semua hanya pura-pura."

"Asalkan itu sesuatu yang bisa kita jadikan obrolan. Contoh, acara TV yang kita tonton kemarin, itu adalah topik yang umum."

"Aku mengerti. Kalau begitu, ayo kita mulai."

Masuzu berdeham.

"Eita-kun. Apa kemarin kamu menonton acara Hukuman Ekstrim Magure?"

Wah. Orang ini tahu bagaimana caranya membuat topik diksusi yang bagus. Magure adalah acara TV favoritku.

"Tentu saja. Oh, adegan terakhir itu sangat berkesan! Kamu tahu, adegan di mana rekannya ditembak oleh si buronan, lalu entah dari mana dia mengeluarkan rokok, dan berkata, Berengsek, apa kamu tidak tahu kalau aku sudah berhenti? kalimat itu benar-benar luar biasa! Hal itu benar-benar membuatmu menantikan lanjutan episodenya! Semacam perasaan bahwa dia telah melalui segala macam rasa sakit dalam kehidupan. Hanya sedikit drama yang seperti ini di zaman sekarang! Acara ini adalah mahakarya! Pertunjukan terbaik yang pernah ada!"

Masuzu dengan risih menundukan kepalanya.

"Itu .... Aku tidak pernah berencana membuat obrolan yang seintens tadi."

"... oh, begitu, ya?"

"Lagi pula, aku tidak pernah tertarik pada acara itu."

"Lalu kenapa kamu menanyakan soal itu?"

Dasar jalang ....

Kamu membuatku menyia-nyiakan semangatku.

"Niat awalku adalah menciptakan topik di mana Eita-kun tampak agak kekurangan bahan dan memulainya dengan acara TV populer."

"Yah, tampaknya kita memang sangat kekurangan bahan obrolan, maafkan aku!"

"Hidup yang tidak memadai bisa terbantu lewat makanan dan uang, tapi apa yang bisa membantu sebuah topik yang tidak memadai?"

Apa pun itu, aku tidak bisa meninggalkan kesan miskin topik dalam pandangannya.

Dengan tidak senang, aku berkata,

"Bagaimana kalau hobi atau hal-hal yang kita sukai?"

"Lalu apa hobi Eita-kun?"

"Hmm? Hmm ...."

Tiba-tiba langsung ditanyai langsung begini, rasanya jadi sulit menjawab.

Hobiku .... Apa, ya? Kurasa menjurus pada memasak?

"Sewaktu membuat daftarnya, tolong jangan sertakan mengintip rok dari bawah tangga dan mencuri celana dalam, keduanya itu—"

"Memangnya aku pernah punya kedua hobi itu?"

Masuzu mundur dua langkah ke belakang dengan ekspresi terkejut.

"Ja-jangan bilang kalau yang tadi itu bukan lagi hobi tapi jalan hidupmu?!"

"Sudah kubilang, tidak ada yang seperti itu!"

"Aku benar-benar minta maaf. Sepertinya aku telah melukai kesan polos Eita-kun terhadap celana dalam. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau aku memperbolehkanmu melihat ...."

Masuzu menggigit bibirnya seolah-olah menyesal, kemudian mulai mengangkat roknya.

"Waaah—! Waaah—! Ahhh—!"

"Jangan teriak! Aku juga mau mengklarifikasi kecurigaanmu terhadapku soal yang tidak memakai apa-apa."

Sekelompok anak SD dan ibu rumah tangga yang sedang mengobrol memberikan tatapan dingin ke arahku.

... kenapa memandangku?!

Dasar orang-orang gila, kenapa aku yang jadi konspirator di sini?

"Celana dalam hari ini agak berani. Tidak hanya memiliki bunga di sisinya, di ujungnya, lebih tampak transparan .... Jika aku tahu kalau akan dilecehkan seperti ini, seharusnya aku memakai celana dalam yang lebih cocok untuk murid SMA."

"Berhentilah bicara seolah aku ini penjahat!"

"Sekadar informasi, warnanya hitam."

"Hitam, katamu?!"

Roknya perlahan terangkat, menunjukan kakinya yang jenjang.

Yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan buih putih dari mulutku.

Kaki putihnya yang berkilau.

Kaki itu adalah milik seseorang yang jarang keluar rumah.

Halus sekaligus kokoh, ada sesuatu yang sedikit menarik perhatian, membuat orang-orang tanpa sadar menantikan yang akan muncul berikutnya. Di ujung sana, terlihat warna hitam—

Masuzu melepaskan pegangannya dan membuat roknya kembali tertutup.

Yang terlihat hanyalah lapisan dalamnya yang bersih, roknya dengan lembut jatuh, sekali lagi menutupi kakinya.

Masuzu menjulurkan lidahnya.

"Meski kamu adalah pacarku, kita baru dua hari pacaran. Sesuatu seperti itu belum ditetapkan dalam perjanjian kita."

"Aku tidak tahu soal itu .... Sungguh tidak senonoh ...."

Aku berlutut di trotoar, lemah dan tidak berdaya.

Aku sudah dibodohi ....

Emosi seorang murid SMA yang masih suci sudah dipermainkan ....

"Bangkitlah, Eita-kun. Masa-masa bahagia kita baru saja dimulai."

Tentu saja, kami bahkan belum sampai di separuh perjalanan.

Hanya saja, itu sudah menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

"Berdirilah layaknya seorang pria, dan ayo berlanjut pada obrolan kita yang menyenangkan!"

"... kurasa begitu."

Aku mengusap air mataku.

Yah, mereka bilang semakin sering merasakan hal semacam ini, semakin kita memiliki pandangan yang optimis terhadap revolusi.

"Kalau begitu, ayo kita mulai topik lain~"

Masuzu berdeham,

"Eita-kun, apa kamu menonton Hukuman Ekstrim kemarin?"

"Ya, aku menontonnya."

"Bagaimana menurutmu?"

"Hmm — menurutku lumayan menarik."

"Kamu menonton acara seluar biasa itu dan hanya bisa berkomentar seperti tadi? Sungguh pria yang kasar!"

"Kamu— kamu, apa kamu mau main-main denganku—?!"

"Argh, pusing. Tidak peduli bahas apa, kita tidak akan pernah bisa punya obrolan yang bagus."

"Itu juga gara-gara kamu—!"

Dan tepat di saat itu ...,

"Ber-berpegangan tangan dan yang lainnya, itu tidak senonoh! Sungguh tidak senonoh!"

Chiwa menunjuk ke arah kami, wajahnya benar-benar merah.

Tasnya naik turun selaras dengan napasnya, aku berasumsi kalau dia berlari dengan kecepatan penuh dari sekolah hingga ke tempat kami kini berada.

Berpegangan tangan? Tidak, kami tidak melakukannya.

Ketika memikirkan hal itu, tanpa kusadari, Masuzu sudah merangkul erat lengan kiriku. Apa yang ada di pikiran gadis ini?

"Ei-kun, i-ini, apa-apaan semua ini?!"



Orang ini tampaknya mengejar kami karena rumor antara Masuzu dan diriku.

Chiwa benci saat ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Jika itu adalah hal yang bagus maka dia akan marah dan bilang, Tidak disangka, jika itu adalah hal yang buruk maka dia akan marah berkata, Kenapa kamu tidak bilang padaku?.

Aku penasaran jika ini akan menjadi kategori yang bagus dari kategori yang buruk.

Kurasa secara keseluruhan ini adalah hal yang bagus?

Memiliki pacar adalah sesuatu yang layak untuk diberikan ucapan selamat?

Tapi tunggu, reaksinya itu—

"Lebih dulu populer sebelum aku, kamu jadi angkuh, Ei-kun—!"

Uh.

Kenapa aku selalu menjadi sasaran?

"Ohh, Eita-kun, siapa anak kecil yang di sana itu?"

Masuzu bertingkah seolah-olah baru menyadari keberadaan Chiwa beberapa saat lalu, dia bertanya sambil sedikit memiringkan kepala.

"A-aku bukan anak kecil! Kamu saja yang terlalu besar!"

"Oke, Oke, Oke. Kamu berasal dari SD mana?"

"Aku bukan murid SD! Lagi pula, aku memakai seragam yang sama denganmu!"

"Oh, begitu ya. Apa kamu penggemar Eita-kun?"

"Siapa yang sudi jadi penggemarnya?!"

"Berarti kamu anggota Komunitas Anti-Eita, ya?"

"Apa hanya dua hal ekstrim itu saja yang ada di kepalamu?"

"Lalu kamu itu sebenarnya siapa?"

Karena beberapa alasan, Chiwa menyatakannya dengan percaya diri,

"Aku. Adalah. Teman. Sedari. Kecil. Ei-kun. Harusaki Chiwa!"

"Hanya karena teman sedari kecilnya, kamu jadi merasa berhak bersikap kasar seperti itu?"

Masuzu mengedipkan matanya, seolah mencoba menusuk Chiwa hanya dengan tatapannya.

"Mencari celah di kencan romantis sepasang kekasih sepulang sekolah, apa kamu tidak merasa kalau itu patut dihukum berat?"

Oh, Masuzu-san, jadi ini kamu sebut kencan? Sebuah kencan menyenangkan di mana aku diceramahi sepanjang jalan sebagai pencuri celana dalam atau pria membosankan dan semacamnya ...?

"... Ei-kun! Kenapa tidak bilang kalau kamu punya pacar?"

Merasa kesusahan menghadapi musuhnya, Chiwa mengarahkan amarahnya padaku.

"Soal itu ..., aku minta maaf."

Aku meminta maaf dengan tulus.

Masuzu tiba-tiba ikut bergabung,

"Ya ampun, apa pacaran dengan Eita-kun butuh izin dari Harusaki-san?"

"Ya, jelaslah! Kami telah menghabiskan banyak waktu bersama, kami tumbuh layaknya kakak beradik! Gadis asing yang baru mengenal Ei-kun selama dua bulan, bagaimana mungkin mengerti soal dia!"

"Lalu apa yang Harusaki-san ketahui tentang Ei-kun?"

"Aku tahu semuanya tentang Ei-kun! Contohnya di saat kelas tiga SD, dia menaruh susu di dalam loker dan dengan sengaja membiarkannya basi, lalu memanggil Yoshioka yang merupakan guru kelas kami dengan panggilan mama, dan juga saat lomba maraton setelah menginjak kotoran, dia dijuluki buldoser kotoran, pokoknya segalanya tentang Ei-kun!"

"Ya ampun, sekarang aku jadi lebih tahu beberapa kejadian yang menarik!"

Masuzu mendengarkannya dengan mata berkilau, bahkan dia sampai mencatat ocehan Chiwa tadi.

Aku ... tiba-tiba merasa ingin bunuh diri.

"Karena itu, kamu harus melewatiku dulu sebelum berpacaran dengan Ei-kun!"

Masuzu menggenggam kedua ujung roknya lalu sedikit membungkuk, berbicara dengan elegan,

"Aku minta maaf karena tidak menyapa sebelumnya. Aku, Natsukawa Masuzu saat ini berpacaran dengan Kidou Eita-sama, jika kamu berbaik hati merestui kami berdua, kami mohon bimbingannya."

"...."

"Eita-kun, siap melanjutkan kencan kita?"

Masuzu menggandeng lengan kiriku dan bersiap pergi, kemudian tiba-tiba Chiwa ikut menggandeng lengan kananku.

Chiwa cemberut seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya dan memelototi Masuzu dengan penuh kebencian.

"Apa masih ada lagi yang kamu inginkan?"

"Tidak ada!"

"Hmm?"

"Itu— tidak boleh! Aku tidak mau Ei-kun berpacaran dengan orang sepertimu!"

Lengan kananku ditarik, dengan kemungkinan copot yang sangat tinggi.

"Owowowowowo! Chiwa, lepaskan!"

"Baik, kuterima tantanganmu. kutantang dirimu untuk memadamkan cinta yang membara di antara kami ini!!"

"Sudah kubilang— aduh!"

Ini benar-benar bencana.

Baik Masuzu maupun Chiwa tidak ada yang mau menyerah. Masing-masing lenganku ditarik oleh mereka berdua, seperti lomba tarik tambang.

"Lihat, Eita-kun sampai berteriak kesakitan. Sebagai teman sedari kecilnya, kenapa kamu tidak melepasnya?"

"Tidak, kamulah yang seharusnya peduli pada pacarmu dan melepaskannya!"

Pada akhirnya, Masuzu tidak bisa mengalahkan tangan Chiwa yang telah terlatih dalam kendo. Masuzu kehilangan keseimbangan dan mendorongku. Itu sebabnya, aku tersandung penghalang yang ada di trotoar.

"Ahhh—!"

Aku terjatuh ke arah tumpukan sampah, sementara Chiwa dan Masuzu yang sebelumnya sudah melepaskanku, sepenuhnya aman dan tentram.

Licik sekali. Rasa sakit dan air mata selalu ditanggung lelaki!

"Eh—? Memangnya kenapa kalau kamu jatuh cinta? Akan kucari sendiri pacar yang tampan! Aku pasti akan jadi populer!"

Seperti anak kecil yang kalah dalam permainan dan hanya bisa memberikan ancaman lisan, Chiwa menghilang setelah mengucapkan kalimat tersebut.

Masuzu memberikan sebuah senyum bak seorang malaikat, memandang diriku yang jatuh di tumpukan sampah dari atas.

"Hohoho, Eita-kun ternyata cukup populer."

Aku sama sekali tidak mau peduli tentangmu!


XXX


Malam itu Chiwa tidak datang untuk makan malam. Padahal aku sudah membuat banyak hamburger kesukaannya. 

Aku mengirimkan SMS padanya dan segera menerima balasan yang berisi satu kata.

"Pengkhianat."

Pengkhianat, hore ....

__________________________________________________________




Kidou Eita.

Murid kelas 1 SMA. Sungguh membosankan. Kepribadiannya suka menceletuk.

Kutipan Favorit: "Di mana ada keinginan di situ ada jalan."


0 tanggapan:

Posting Komentar