Oreshura Jilid 1 Bab 1

=========================================================
Betewe, walau seri ini genrenya harem, tapi ane gak punya heroine favorit loh di sini...
Tapi kalau disuruh harus memilih, mungkin Chiwa kali, ya...
Andai saja dia tutur katanya lembut dan pemalu kayak Onedera..............
Lah, kok malah curhat... Hkhkhkhkhk...
Hakata Salt dalam pengiklanan produknya terkenal dengan seruan per katanya yang dipotong demi sepotong...
Popunis adalah singkatan dari kata populer dan manis...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================

Harusaki Chiwa.

Kelas satu SMA. Teman sedari kecil Eita.

Gadis konyol. Pernah bergabung di klub kendo.

Kutipan favorit: "Jangan sungkan makan banyak-banyak."
__________________________________________________________


Bab 1 - Kehidupan SMA Dimulai Dengan Sebuah Kekacauan


Meskipun agak kurang sesuai bagiku mengatakannya, tapi aku ini antiromansa.

Aku tidak mengatakannya hanya untuk gaya-gayaan saja.

Romansa, hal-hal semacam itu, tidak lain hanyalah sebuah ilusi. Itu sebuah penyakit. Jika tidak percaya, coba lihatlah pasangan yang tertawa cekikikan setiap kali berada di depan orang-orang. Itu sangat mengganggu bagi siapa saja yang melihatnya, siapa pun pasti berharap agar mereka cepat pergi. Dan untuk alasan apa mereka saling bermesraan di depan umum? Karena seperti itulah romansa yang sesungguhnya. Di balik itu hanya ada candu yang tersebar di setiap bagian otak mereka, hingga membuat mereka kehilangan rasa malu. Sikapku terhadap orang-orang seperti itu? Aku selalu mengabaikannya karena aku tidak peduli. Tapi ketika itu menyangkut diriku, itu lain cerita. Bagiku, meski tidak berada di depan umum, aku tidak akan pernah melakukan hal memalukan itu.

Tentu saja, jika aku memberi tahu siapa saja mengenai pemikiranku ini, mereka mungkin akan menertawakannya dan menjawab,

"Tidak usah pura-pura kuat."

"Bukankah itu hanya alasan bagi orang yang tidak populer?"

Eh?

Aku, tidak populer?

Bukan itu masalahnya.

Aku punya rekam jejak soal menerima pernyatan cinta. Terasa nostalgia, itu saat aku masih TK .... Lupakan! Kejayaan masa lalu itu ..., siapa yang peduli?

Tapi sungguh, Jika orang lain memberiku respon seperti itu, aku bisa sepenuhnya mengerti. Itu terdengar sama buruknya dengan anak putus sekolah yang berkata, Jadwal belajar memang tidak kenal ampun, — benar-benar tidak punya kemampuan persuasif. Karena hingga saat ini aku tidak memiliki sedikit pun romansa dalam hidupku, mengatakan hal tersebut dengan santainya sudah pasti terdengar seperti orang yang iri.

Jika disimpulkan, itulah alasan kenapa aku tidak memberitahukannya pada siapa pun, padahal sebenarnya itulah yang kurasakan.

Dan orang yang mengajarkanku berpikir demikian adalah kedua orang tuaku.

Cerita bagaimana orang tuaku hidup bersama; mereka bertemu; mereka jatuh cinta; mereka menikah. Persis seperti drama percintaan di TV. Seluruh masa kecilku dibombardir oleh pembicaraan mengenai naik turunnya cinta mereka. Kemudian saat SMP, aku dilibatkan pada pertengkaran mereka yang tanpa akhir. Suatu hari ketika aku sudah SMA, mereka berdua pergi untuk mencari cinta sejati mereka sendiri lalu menghilang selamanya dari hadapanku, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang dipercayakan kepada salah satu kerabat untuk mengasuhku serta kuasa dari kejaksaan untuk rumah yang dijadikan tanggungan.

Kalian! Semua! Adalah! Sampah!

Aku dan kebencianku terhadap orang tuaku dan cinta itu sendiri sudah sampai di tahap penggunaan teknik periklanan Hakata Salt.

Tentu saja, pikiran logisku mengatakan kalau tidak semua orang tua seperti itu. Kebalikannya, orang-orang yang jatuh cinta dengan bahagia dan menikah adalah bagian dari mayoritas. Meski aku mengatakan kalau logikaku itu masuk akal, bagaimanapun, sesuatu seperti jatuh cinta dengan bahagia hanya untuk pamer! atau hal serupa dengan itu adalah masalah yang sepenuhnya berbeda. Lagi pula, tanpa cinta, hidup masih bisa terus berlanjut. Tidak akan ada banyak perbedaan jika aku menghindari hal-hal tidak berguna itu. Ditambah, aku juga tidak punya banyak waktu.

Aku punya ambisi sendiri. Targetku adalah masuk ke fakultas kedokteran sebuah universitas negeri lalu menjadi seorang dokter.

Biarpun begitu, masuk ke fakultas kedokteran berarti harus mempertimbangkan jumlah biayanya, dan aku tidak bisa menambah beban lagi kepada waliku saat ini, Saeko-san.

Kiryuu Saeko-san adalah adik perempuan ayahku, dengan kata lain, bibiku. Dia adalah wali yang merawatku untuk membereskan kekacauan yang dibuat orang tuaku. Pada awalnya dia berniat menjual rumah yang berantakan ini untuk menambah pemasukan, tapi setelah memikirkan perasaanku yang sulit lepas dari rumah ini, dia akhirnya pindah kemari dan tinggal bersama denganku. Jika bukan karena Saeko-san, aku pasti sudah disuruh tinggal di tempat kerabat yang sudah lama tidak kukenal. Oleh karena itu, aku memutuskan suatu hari nanti, aku pasti akan membayar hutang ini kepada Saeko-san — itu pasti.

Nama sekolahku adalah SMA Negeri Hanenoyama (disingkat Haneko). Sekolah ini terdapat sebuah kebijakan yang bunyinya seperti ini; "Sekolah akan memberi hadiah kepada murid-murid berbakat yang berupa satu tempat di Universitas Negeri" (termasuk beasiswa). Dan itu adalah sesuatu yang kukejar.

Setelah memasuki semester pertama, aku sudah berada di peringkat pertama untuk angkatanku. Bagi orang yang hasil ujiannya bisa dibliang cukup rendah selama SMP, ini adalah prestasi yang sangat mengejutkan. Aku tidak berniat untuk menurunkan semangatku, dan akan terus berusaha keras untuk mempertahankan prestasiku.

Itu sebabnya, aku tidak punya waktu luang untuk romansa.

Oleh karena itu, Kidou Eita ini telah bersumpah pada peraturan berikut ini:


1. Utamakan belajar!

2. Tidak ada cinta-cintaan! Cinta itu sangat berbahaya!

3. Tapi jangan biarkan orang lain menganggap aku homo karena melihat peraturan kedua.


Selama aku mengikuti peraturan ini, kehidupan SMA-ku pasti akan sempurna!

—tetap saja.

Masih ada seseorang.

Bahkan untuk orang sepertiku ini masih ada gadis yang selalu menempel padaku dan sama sekali tidak bisa kujauhi. Seseorang yang bisa disebut sebagai teman sedari kecil, sebuah takdir yang menyedihkan.

Yah, kenapa aku tidak mulai bercerita tentangnya?


XXX


Saat itu akhir bulan Mei, suatu hari sebuah insiden terjadi ketika para murid berganti ke seragam musim panas. Karena pekerjaannya, Saeko-san sering sekali tidak berada di rumah. Itulah salah satu alasan kenapa aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Menyiapkan makan malam, menyapu lantai, menggantung baju, semuanya adalah tugasku. Di mata orang lain, mungkin ini terlihat sangat aneh. Betul. Tapi itu hanya pada awalnya saja. Tapi sekarang, semua tugas-tugas itu sudah menjadi hobiku. Terutama saat menyiapkan makan malam, tidak hanya menjadi sebuah refleksi hasil kerja, itu juga merupakan keahlian yang sangat berguna dalam hidup.

Saat itu sudah hampir senja, sekitar jam setengah enam. Kulempar semua baju yang telah dicuci ke dalam pengering sebelum pergi keluar untuk mencari bahan-bahan makan malam. Namun aku harus menyiapkan dulu beras dan mulai memasukannya ke dalam penanak nasi. Tiba-tiba, teriakan energik "Ciaat!" dan "Yak!" terdengar dari pintu sebelah.

Dia itu sedang apa ...?

Setelah menyelesaikan sentuhan akhir dan menyiapkan penanak nasi di posisinya, aku berjalan menuruni lorong menuju pekarangan. Tidak terlalu besar, areanya berukuran sekitar tiga rak gantungan, dan kurang dari sepuluh langkah lagi untuk menuju pagar tetangga. Di seberang pagar pendek yang memisahkan kedua rumah, bisa kulihat seseorang mengenakan baju olahraga dan rok sedang mengayunkan pedang bambunya. Kupanggil dan kusapa dirinya, "Oi— Chiwa—!"

Usai menghentikan latihannya dan berbalik, keringat Harusaki Chiwa terlihat berkilau terkena remang-remang cahaya matahari.

"Hai, Ei-kun! Hari ini makan malamnya apa?"

Eh? Dari pagi sampai sore, yang dipikirkannya cuma makanan saja.

"Kenapa kamu latihan dengan shinai?"

"Mungkin karena ada shinai yang 'nganggur?"

"...."

Menurut perhitunganku, dalam waktu dekat, orang ini bakal kecanduan mendaki gunung.

"Makanya itu, bukannya kamu sudah berhenti berlatih kendo?"

"Aku hanya berhenti dari klubnya. Terlepas dari semua rayuan seniorku, aku akhirnya bisa memutus ikatanku pada mereka."

"Bukannya kamu berhenti karena kondisi tubuhmu? Sekarang kamu malah berlatih lagi, bukannya itu bisa—"

Harusaki Chiwa tersenyum.

"Tidak masalah. Aku sudah memeriksakan tubuhku minggu lalu, dan dokter bilang tidak apa-apa kalau hanya latihan."

"... benarkah?"

"Benaran~. Ya ampun, Ei-kun suka sekali khawatir~"

Chiwa telah berlatih kendo sejak dirinya SD hingga kelas dua SMP. Ketimbang menyebutnya latihan, bisa dibilang kalau dia mendedikasikan penuh dirinya dalam kendo. Dia meraih juara keempat dalam kompetisi tim wilayah provinsi, dan juara kedua dalam kompetisi perseorangan. Tinggi badan dan kekuatannya yang tidak menguntungkan, tidak berpengaruh banyak dalam penampilannya, dia bahkan menargetkan kompetisi nasional musim panas depan.

Namun ketika di kelas tiga SMP.

Ketika jadwal kompetisi kian dekat, Chiwa menjadi korban sebuah kecelakaan lalu lintas.

Ketika Klub Kendo sedang melakukan joging untuk latihan, sebuah kargo yang terpasang pada truk secara kebetulan terjatuh, dan menimpa Chiwa yang ada di bawahnya.

Seluruh tubuhnya menderita luka yang serius, cedera pada pinggangnya bisa dibilang cukup parah.

Setelah melewati operasi besar, Chiwa menghabiskan musim panas terakhir masa SMP-nya di rumah sakit.

Meski telah mengalami insiden itu, Chiwa tetap bekerja begitu keras untuk kesembuhannya. Walau sekarang efeknya sudah tidak menganggu kehidupan sehari-hari, aktivitas berat seperti kendo itu sepenuhnya dilarang.

Chiwa tidak pernah bercerita apa-apa.

Seseorang sepertiku yang tidak pernah bergabung dalam klub tidak mungkin tahu bagaimana perasaan Chiwa.

Tapi dari sudut pandangku, Chiwa pasti telah kehilangan salah satu bagian penting dalam hidupnya.

"... jangan terlalu memaksakan diri. Pingang, seperti kata dokter, itu adalah bagian paling penting dari tubuh."

"Hmm—?" Chiwa mengernyitkan matanya seolah-olah merendahkan sesuatu. "Ei-kun kok baik banget hari ini, ya? Jangan bilang kalau itu karena kamu mau melihat celana dalamku. Ya, 'kan?"

—?!

"Si-si-siapa yang mau melihat ce-ce-celana da—"

Kegagalan yang nyata. Tersandung sesuatu yang begitu sepele.

"Ya ampun. Ei-kun pasti sudah mencapai usia di mana kamu tertarik pada hal-hal seperti ini. Apa kata celana dalam terlalu merangsang bagimu?" Chiwa tertawa dengan gembira.

Chiwa memutar tubuhnya seperti seorang balerina. Rok pendeknya yang berwarna putih terangkat oleh angin, memperlihatkan kaki sehatnya yang ramping dan jenjang. Tentu saja, celana dalamnya juga terlihat .... Tapi tetap saja, aku tidak kuasa untuk merasa sedikit senang. Kegagalan yang nyata.

"Si-siapa juga yang mau melihat celana dalam kekanak-kanakan itu?"

"Eh, tidak perlu sampai menipu diri juga, 'kali~"

Kurang ajar! Benar-benar bocah yang suka bercanda. Orang dewasa sepertiku ini tidak akan punya kesepahaman dengannya.

"Sudah. Aku mau keluar membeli bahan makan malam dulu."

"Oh, tunggu! aku mau ikut!"

"Tidak boleh. Setiap kali kamu ikut, biayanya selalu bertambah."

"Aku tidak akan membeli kudapan lagi! Kali ini aku janji!"

Jelas-jelas bohong ....

Diam-diam, dia selalu mengambil cokelat, permen karet, dan lain-lain lalu memasukannya ke dalam keranjang belanja.

Terserahlah. Meskipun kutolak, bocah ini pasti akan tetap ikut.

"... kuberi waktu tiga menit. Cepat!"

"Iya, iya, iya!"

Serius. Bagaimana bisa tubuh sekecil itu .... Dari mana dia mendapat semua energi itu ...?


XXX


Dari rumah kami menuju pusat perbelanjaan Marutoku kira-kira membutuhkan sepuluh menit perjalanan.

Chiwa saat ini mengenakan sebuah rok berbahan jin dan baju tanpa lengan.

Baru saja bulan Mei tapi sudah memakai baju tanpa lengan .... Aku tidak tahu apakah harus menyebutnya kelewat santai atau kurang peka terhadap musim.

"Eh, eh, Ei-kun, malam ini mau masak apa?"

"Hmm? Um..."

Setelah mendapat gambaran dari pamflet tadi pagi, daftar belanjaannya sudah kusiapkan.

"Talas ala Jepang dengan sup miso ikan dan salad kedelai rumput laut."

Chiwa membuat ekspresi seolah-olah dunia akan segera berakhir.

"Da-dagingnya mana?"

"Apa kamu tidak tahu? Kacang-kacangan itu adalah dagingnya vegetarian."

"... belakangan ini Ei-kun mirip sekali sama mama."

Orang tua Chiwa adalah penggila kerja, ditambah beban kerja mereka sangat berat, biasanya mereka tidak pulang ke rumah sampai larut malam. Karena bibiku, Saeko-san, juga jarang pulang ke rumah, aku dan Chiwa hampir selalu makan malam bersama.

Masuk ke toko, kami bergegas mengambil semua produk yang memiliki harga spesial. Tiba-tiba, bau kari tercium dari sudut toko. Sepertinya mereka sedang menjual kari instan yang baru.

"Oh, sepasang saudara yang belanja bersama? Jika tidak keberatan, maukah kalian mencicipi dulu?" sambil mengenakan celemek, gadis penjaja tersebut menunjukan senyum profesionalnya.

Sejak kami kecil, kami berdua selalu dianggap bersaudara. Meski Chiwa pernah melampaui tinggi badanku sewaktu kelas tiga hingga kelas empat SD, aku selalu saja dianggap sebagai adiknya dalam hubungan saudara jadi-jadian ini. Di antara kami berdua, akulah yang selalu menganggap ini aib dalam hidupku. Sisi baiknya, pertumbuhan Chiwa sudah berhenti tumbuh sejak SD.

"Mari makan~"

Maaf, aku lewat saja. Biarpun begitu, Chiwa tidak peduli denganku dan langsung menyambar piring kertas yang dijajakan itu. Meski pendek, lengannya bisa memanjang sampai di luar jangkauan saat mengambil makanan.

"Silakan. Ada dua rasa yang bisa kalian coba, yang rasanya kuat dan yang ringan!"

Kurasa tidak ada pilihan bagiku selain ikut mencicipinya juga

... yah, lumayan.

Simpanan makanan instan milik Saeko-san sudah hampir habis, Kenapa tidak? pikirku, Walau dua itu juga terlalu banyak.

"Boleh tanya, rasa mana yang lebih populer?"

"Eh?"

"Kari mana yang lebih laku? Nanti aku beli."

Dengan sedikit ekspresi canggung, gadis penjaja tersebut menunjuk ke arah yang rasanya ringan, sedangkan Chiwa meletakkan yang rasanya berat ke dalam keranjang belanja.

"Oi, Chiwa!"

"Ini untuk Saeko-san, 'kan? Yang ini rasanya lebih enak~"

Gadis penjaja tersebut sedikit terkikik.

Eh? Memangnya kamu ibuku.

Dalam perjalanan pulang setelah kami mengantre dan membayar, aku hanya bisa berkata,

"Chiwa, tolong jangan ganggu keputusan logisku!"

"Lo-gis~?"

"Dibanding ucapanmu aku lebih percaya pada pilihan mayoritas."

"Itu sama sekali tidak ada hubungannya. Soalnya seleraku dan selera Saeko-san itu sama."

"Kamu tidak mengumpulkan data sebelumnya untuk mendukung klaim tadi."

Chiwa mengangkat bahunya cuek.

"Ei-kun sudah banyak berubah kalau menyangkut yang seperti itu. Padahal saat SMP dulu  kamu tidak sampai kecanduan berbicara serius."

"Itu normal, 'kan? Lagi pula, kita ini murid SMA."

"Eh, tapi aku lebih menyukai Ei-kun yang kikuk — kamu terlihat lebih lucu."

"Eng."

Aku sedikit kesal, jadi aku akan mencoba membalasnya.

"Kamu yang tidak berubah, masih sama seperti waktu SMP, tidak, bahkan masih sama seperti saat SD."

"A-apa? Aku juga sudah berkembang!"

Chiwa membusungkan dadanya.

... Eh, kok itu? Kurasa tidak sampai sejauh itu.

"Lambatnya pertumbuhan payudara dikarenakan ketidakdewasaan, —jika aku menjadi dokter, aku pasti akan memintamu menjadi subyek percobaan untuk tesisku."

"So-sok pintar! Aku masih kakak yang lebih tua tiga bulan sepuluh hari darimu!"

"Itu malah semakin membuktikan ketidakdewasaanmu jika dijadikan sebagai patokan."

"Som-sombong sekali! Padahal dulunya kamu hanya si Ei-kun!! Padahal dulunya kamu hanya si Ei-kun!!"

Hahaha, kemenangan sepenuhnya ada di pihakku. Sayangnya, mengalahkan Chiwa bukanlah sesuatu yang bisa disombongkan.

Kami pun lalu pulang ke rumah dan mulai menyiapkan makan malam. Ikannya sendiri sudah dijual dalam bentuk potongan, jadi memanggangnya tidaklah terlalu sulit. Yang lebih penting adalah talas ala Jepang-nya. Itu perlu terus-menerus digoyang agar tidak gosong.

Sementara Chiwa, dia kini sedang cemberut di atas sofa sambil merangkul lututnya dan berceloteh, Ei-kun bodoh, beloon, mesum terselubung, dan nama-nama semacam itu.

Aku tidak percaya gadis seaktif dia bisa sedendam itu. Tampaknya hanya ada satu hal yang bisa kulakukan.

"Hei, Chiwa."

"Huh, aku benci Ei-kun!"

"Ada beberapa daging asap di kulkas, apa mau kugorengkan dengan kecap?"

"Hore, Ei-kun aku cinta kamu!"

"...."

Cinta bisa dibeli dengan 100 gram daging asap.

Jika dibeli dengan penawaran khusus, harganya hanya 590 yen ....

Aku mencampur semua sayuran ke dalam mangkuk dan meletakkannya di atas meja. Meskipun itu kurang menarik, kami jarang sekali memisahkan sayuran kedalam masing-masing piring, melainkan kami memakannya langsung dari satu mangkuk besar. Hal itu perlahan menjadi sebuah kebiasaan. Ditambah, piring yang kucuci jadi tidak terlalu banyak.

Kami berdua pun makan dan membicarakan berbagai topik yang tidak penting.

"Aku jadi ingat—"

"Ingat apa?"

"Di manga atau drama di TV, teman perempuan sedari kecil itu yang cenderung memasak ...."

"Betul."

"Lalu kenapa peran kita terbalik?"

Chiwa menatapku dengan sedikit bingung.

"Eh? Apa kamu mau makan masakanku?"

"... ti-ti-tidak usah!"

Aku tiba-tiba ingat diriku yang pingsan karena makanan yang pernah dia buat. Itu adalah steak panggang yang dimaniskan sampai ke tahap menggemukan. Karena kami tidak punya anggur merah, kami pun menggunakan jus anggur berkarbonisasi (0% alami) sebagai gantinya. Ketika ditanya apa motif dibalik tindakan kriminalnya itu, Chiwa menjawab, Soalnya dua anggur itu terlihat sangat mirip, lalu, Lagi pula, aku yakin rasanya akan lebih enak yang berkarbonisasi.

Semakin sedikit pengetahuan seseorang akan cara memasak, semakin besar pula kemungkinan mereka akan menciptakan resep gila ....

"Hei ...," kata Chiwa sambil mengunyah daging asapnya.

"Apa di kelasmu ada gadis yang bernama Natsukawa Masuzu, Ei-kun?"

"Oh, sepertinya ada."

Kemudian dengan semburan energi yang tiba-tiba, "Gadis itu benar-benar luar biasa! Mirip seperti tuan putri! Bahkan anak laki-laki di kelas kami terus berbicara tentangnya, karena itu mencoba melihatnya sendiri tadi. Aku sangat terkejut! Rambutnya berwarna perak, matanya berwarna biru, seperti orang-orang dari Eropa atau semacamnya. Aku juga dengar kalau keluarganya itu sangat kaya!"

"Hmm, sepertinya begitu ...," jawabku dengan samar.

"Dia juga sangat populer! Baru dua minggu bersekolah, menurut sumber terpercaya, jumlah pernyataan cinta yang dia terima sudah melebihi dua digit! Awalnya aku menganggap kalau itu hanya cerita yang dibuat oleh orang yang suka menggosip, tapi setelah melihatnya sendiri tadi, aku hampir sepenuhnya yakin! Dua digit!"

"Oh ...," setujuku dengan samar.

"Oh, Ei-kun tidak tertarik? Apa kamu sudah menyerah karena dia berada di luar jangkauanmu?"

"Tidak juga."

Dia mungkin memang cantik, tapi itu tidak ada hubungannya denganku.

Lagi pula, karena beberapa alasan, sepertinya aku tidak bisa menyukainya.

Meskipun aku sudah pernah dua atau tiga kali berbicara dengannya ..., rasanya seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik penampilannya yang dielu-elukan itu. Bisa kubilang, seperti seseorang yang tidak bisa terlihat sisi dalamnya. Seseorang yang sisi aslinya tidak pernah diketahui oleh orang lain.

"Entah kenapa, rasanya aku tidak begitu menyukainya."

"... Begitu, ya?"

Chiwa mengangguk beberapa kali.

"Hehehe, makan malam hari ini rasanya enak banget."

"Masa, sih? Rasanya sama seperti hari-hari biasanya."

Aku penasaran apa yang membuatnya merasa begitu gembira. Apa daging asap saja sudah cukup untuk membuatnya ceria?

Setelah makan malam, kami berdua lalu membereskan mangkuk dan sumpit. Sesudahnya, aku mulai menyiapkan pelajaran untuk besok, sementara Chiwa mengambil beberapa manga dari tumpukan buku yang menggunung di kamar Saeko-san dan mulai membacanya di sofa.

Saeko-san bekerja di sebuah perusahaan game. Terkadang dia melakukan hal-hal seperti menulis naskah, membuat desain grafis, bahkan melakukan pengodean dan menata musik latar. Singkatnya, dia bisa melakukan itu semua. Perusahaan tersebut memproduksi galge dan otoge, yang kebanyakan ditujukan untuk anak perempuan.

Mungkin karena pekerjaannya, Saeko-san bertingkah seperti ini ketika di rumah.


Yosh! Pa~gi, Eita! Apa kamu sudah terbiasa dengan kehidupan SMA? Apa kamu sudah mendapatkan flag dari gadis yang manis?

Jadi sama sekali tidak ada kemajuan dengan Chihuahua-chan? Dengan latar belakang teman sedari kecil ini, biasanya mudah untuk mencapai akhir bahagia, apa saja yang kamu lakukan selama ini?

Jika kamu berada dalam sebuah harem, kamu harus mewaspadai kesan mereka — Jika kamu terlalu fokus pada satu gadis dan melupakan yang lainnya, suatu hari berita buruk akan tersebar.


Siapa juga yang akan berada dalam harem? Dipikirnya aku ini raja monopoli minyak dari Arab?

... pokoknya, masalah tadi jangan terlalu dipikirkan.

Agar bisa mengumpulkan informasi untuk pekerjaannya, Saeko-san memiliki banyak sekali manga cewek. Membaca manga-manga tersebut sudah menjadi kebiasaan sehari-hari Chiwa.

"Hei, tehnya sudah jadi. Kuletakkan di sini, ya?"

"...."

Chiwa tidak bereaksi, dia selalu seperti ini setiap kali hanyut dalam dunia manga.

Sepertinya dia sangat fokus hari ini.

"... *hiks* ...."

Chiwa mengambil beberapa tisu dari kotaknya dan mengusap sudut matanya lalu membuang ingus dari hidungnya.

"Andai hal itu terjadi padaku sekali saja."

"Maksudnya?"

"Romansa seperti ini."

"Memangnya seperti apa?"

"Kamu harus baca dulu, baca."

Aku membalik halaman manga yang diserahkan Chiwa ini. Dua orang teman sedari kecil sama-sama mengencani orang lain, tapi suatu hari mereka menyadari perasaan mereka masing-masing. Kemudian, setelah banyak rintangan yang dihadapi, akhirnya mereka berdua menjadi kekasih untuk selamanya —sudah ketebak.

"Klise banget."

Aku berkomentar.

"Lagi pula, teman sedari kecil itu lebih seperti kakak beradik, tidak mungkin mereka akan menjadi sepasang kekasih."

"Begitukah? Kurasa hal itu sudah pernah ada buktinya."

"Itu hanya ada di dalam buku cerita. Kita contohnya, sekali lihat dan kamu akan langsung tahu kalau itu mustahil di kehidupan nyata."

"...."

...?

Aku mengira akan mendapatkan respon, Benar juga —itu sangat mustahil, atau respon serupa lainnya .... Tapi dia malah diam.

"Be-benar juga —itu sangat mustahil ...."

Ah, akhirnya datang juga respon yang ditunggu-tunggu.

Mungkin dia hanya terlalu lelah dengan latihan kendo? Mungkin aku harus menambah lebih banyak daging lagi di makan malam selanjutnya ....

"Ter-terlepas soal teman sedari kecil ini, romansa semacam ini, atau harus kubilang, hal manis ini, atau tunggu, kesetiaan dalam romansa ini, tidak buruk-buruk amat. Ditambah, aku juga sudah SMA."

Itulah alasannya.

Hal yang bagus jika dia ingin mengabdikan diri sepenuhnya pada sesuatu sebagai pengganti kendo. Hanya saja—

"Memangnya kamu mau apa?"

"Aku ingin jadi super populer!"

... yah, itu terlalu blakblakan.

"Dikagumi banyak lelaki, setelah berkali-kali jatuh bangun, akhirnya menambatkan hati pada lelaki biasa yang selalu mendukungnya dari belakang sepanjang waktu — setidaknya itulah yang harusnya kualami!"

"... Oh, begitu."

Bagaimana menjelaskannya, ya? Rasanya ini seperti buku yang bejudul, Tahap Perkembangan Cinta Chihuahua-chan.

Hal yang terdengar sedikit memilukan dari teman yang tumbuh bersama sedari kecil, tapi ....

"Sebaiknya kamu menyerah. Ini terlalu cepat sepuluh tahun bagimu!"

"Eh— apa?"

"Pertama, kata populer saja sudah mustahil. Aku tidak pernah melihatmu berdandan. Terlebih, aku ragu kamu punya banyak baju."

"Ba-baju? Aku punya banyak! Aku punya lima baju latihan!"

Aku sangat mengerti kecemasannya yang ingin menyangkal pernyataanku, tapi pada kenyataannya, dia hanya menggali lubang kuburnya sendiri.

"Ditambah, kamu tidak pernah peduli tanggapan anak laki-laki terhadapmu. Beberapa waktu lalu, kamu bermain sepak bola dengan para anak lelaki di lapangan, bahkan tanpa berganti pakaian olahraga. Kamu pun duduk dengan kaki menyilang saat memakai rok sambil terus menggoyangkan kakimu."

Setelah kebiasaan buruknya itu dibeberkan, Chiwa langsung berhenti menggoyangkan kakinya. Asal tahu saja, dia selalu menggoyangkan kakinya secara berirama sepanjang waktu.

"Dan aku tidak perlu bilang soal dirimu yang pergi ke atap hanya untuk mengelap tubuhmu dengan handuk, sambil tangan di pinggang dan menenggak susu dalam satu tegukan. Bibi Asakura bahkan bercanda Chiwa-chan mirip sekali dengan suamiku, lalu ...."

Masing-masing ikat kucir duanya mulai bergetar.

Keluarga Asakura adalah tetangga kami yang tinggal di seberang jalan. Kakek mereka adalah seorang pelatih, kadang beliau mengikuti kontes kebugaran. Dia adalah pria tua berjenggot yang tubuhnya dipenuhi oleh otot.

"Biar bagaimanapun, kamu itu adalah gadis olahraga mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pada kenyataannya, caramu menilai situasi itu hanya dengan fisik, konfrontasi langsung dan mengedepankan kekuatan saja. Ditambah, kamu itu selalu berpikir seperti anak kecil. Orang seperti itu tidak akan kuanggap sebagai seorang murid SMA ...."

"Bodoh ...."

"... eh?"

"Ei-kun super bodoh!"

Ah, dia mulai mengamuk.

"Ei-kun beloon! Beloon, beloon, beloon, beloon! Bagaimana bisa tahu kalau belum dicoba? Aku bukan orang berotot tapi tidak punya otak! Aku bukan anak kecil!"

"...."

Sambil memukul-mukul tangan dan kakinya di atas sofa, aku benar-benar ingin melihat dia membuktikan kalau aku ini salah. Saat kusadari kalau itu sudah sedikit keterlaluan, rupanya sudah terlambat. Dampaknya sudah membekas.

"Terserah, aku sudah memutuskan!" Chiwa berdiri dari sofa, "Mulai besok sampai seterusnya, aku akan menjadi orang yang penuh cinta."

"... eh?"

"Tidak hanya penuh cinta, aku juga akan jadi super populer! Jika Chihuahua-chan sudah serius, bahkan Natsukawa Masuzu pun tidak akan punya kesempatan!"

Tidak, tidak, tunggu, tunggu.

"Apa kamu tahu caranya menarik perhatian anak lelaki? Meski secara abstraknya saja?"

"Aku akan belajar dari sekarang!"

"Dan dari mana tepatnya kamu akan belajar?"

"Dari sini!"

Chiwa mengangkat sebuah manga cewek di depan wajahnya.

"Saeko-san pernah bilang kalau manga cewek itu adalah kitab sucinya percintaan. Oleh karena itu, aku harus mempelajarinya, mengingatnya, mempraktikkannya setiap hari, lalu memenangkan hadiah dalam turmamen!"

"Turnamen ...."

Itulah sikap seseorang yang tidak memikirkan hal selain olahraga.

"Contohnya ..., begini," Chiwa membalik halaman acak di dalam manga yang memperlihatkan tokoh wanitanya. "Lihat mata tokoh ini, lihat mereka! Apa ini tidak menggemaskan? Jika penampilanku sama seperti ini, aku pasti akan populer di kalangan anak lelaki."

"... tapi ...."

Mata tokoh wanita itu besarnya separuh dari ukuran wajahnya.

Dan ada banyak kilauan di matanya.

Bagaimana caranya dia meniru itu ....

"Beberapa waktu lalu, gadis yang duduk di sebelahku membaca sebuah majalah Pachi Lemon. Di sana tertulis, jika kamu menatap mata anak lelaki dari bawah, itu akan membuatmu popunis. Tampaknya menatap mata orang dari bawah itu adalah sebuah jurus rahasia. Oh, aku sangat ahli memukul orang dari atas kalau dalam kendo."

"...."

Benar-benar berotot tapi tidak berotak.

"Aku tidak akan menegurmu lagi. Apa pun yang sudah kukatakan tadi, aku minta maaf. Tolong pertimbangkan kembali."

"Eh?! Maksudmu itu apa?! Padahal Ei-kun sendiri tidak pernah jatuh cinta! Kamu juga tidak pernah menyukai seseorang!"

"Oh? Kamu sendiri?"

"... Bi-bisa-bisanya? Ei-kun, super bodoh!"

Aku malah dimaki. Ada apa dengan orang ini?

"Aku akan mulai berlatih sekarang. Manga-manga ini aku pinjam dulu, ya?"

Chiwa lalu membawa tumpukan manga itu dengan kedua tangannya.

"Ei-kun, dah~ kira-kira seminggu lagi aku pasti akan menjadi super populer, dan pada saat itu kamu akan sadar kalau Chiwa-chan memang gadis yang sempurna, sayangnya itu semua sudah terlambat!"

"Ya, sayang sekali! Memang amat disayangkan!"

Setelahnya, kuantar Chiwa keluar dari pintuku.



XXX


Satu minggu kemudian.

Di kelasku, kelas 1-A, rumor seperti ini mulai menyebar, Harusaki Chiwa dari kelas 1-E menjadi super populer, dan banyak dibicarakan para anak lelaki— tentu saja tidak.

Pada kenyataannya, rumor tersebut adalah Chiwa dipanggil ke ruang konseling. Singkatnya— Dia sudah memelototi para anak lelaki di kelasnya dengan tatapan beringas.

Dia terkadang menatap dengan pandangan kosong.

Biar bagaimanapun, rasanya mengerikan.

Kalian benar.

Aku bahkan mendengar kalau ibunya Chiwa datang sampai dipanggil ke sekolah.

Kurasa mungkin sebaiknya aku lebih banyak lagi memasakkan daging panggang untuknya malam ini.



XXX


"Wah .... Aku sudah mengikuti arahan yang ada di manga, tapi kenapa aku belum populer juga?" Chiwa melahap daging matangnya dengan air mata sambil berbicara sendiri.

"... ah?"

"Ada apa lagi?"

"Jangan bilang ... kalau aku terlalu manis untuk dihadapi?"

Tidak, itulah jawaban dalam benakku.

__________________________________________________________



Pachi Lemon Edisi Bulan April, Bimbingan Spesial Untuk Murid Baru.

Standar ukuran Popunis untuk gadis SMA!

Jawaban untuk murid bernama [Chihuahua Imut].

T1: kamu bangun tidur di pagi hari dan menyapa diri di cermin, apa yang akan kamu katakan?
J1: Aku lapar!

T2: Doi menertawakan gaya rambutmu yang baru, apa yang akan kamu lakukan?
J2: Memotong alis Ei-kun sebagai balas dendam.

T3: Teman lelakimu bercerita tentang masalah percintaannya, bagaimana caramu menyemangatinya?
J3: Ayo lari keliling lapangan 50 kali putaran!

T4: Kamu sedang kencan dengan pacarmu di sebuah restoran, apa yang kamu pesan?
J4: Sepotong daging ukuran besar!

T5 : Kamu tidak sengaja kesiangan. Karena terburu-buru, rambutmu terus bergelombang dan tidak mau lurus~ (*Hiks*). Apa yang kamu lakukan?
J5 : Omong-omong, sarapan pagi ini apa?

Nilai Popunis-mu: 5/100

Editor Pachi Lemon: Jalan untuk menjadi Popunis masih panjang. Kenapa kamu tidak coba diet saja?


0 tanggapan:

Posting Komentar