Oreshura Jilid 1 Bab 0

=========================================================
Seri baru lagi, proyek kerja sama yang baru lagi...
Kali ini dengan menggandeng teman dari Zhi-End Translation, mengambil sebuah seri yang sebenarnya sudah dikenal karena sudah cukup sukses diadaptasikan ke media anime, yaitu Oreshura...
Yah, semoga para pembaca di sini gak begitu anti sama yang berbau harem...
Lanjut ke catatan terjemahan...
Shinai adalah Pedang bambu yang digunakan dalam olahraga Kendo...
Chihuahua dan Tosa adalah jenis dari spesies anjing...

Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


_________________________________________________________
Bunga di Kedua Tangan.

Contohnya, menggenggam dua hal hebat di saat yang bersamaan.

Bisa juga merujuk pada pria yang memiliki dua gadis di saat yang sama.

                                                                 (Sumber: Digital Daijisen)

_________________________________________________________

—dalam kasusku, meski mereka adalah bunga, tapi itu lebih seperti bunga api!




Bab 0 - Pernyataan Cinta Teman Sedari Kecil Menjadi Sebuah Kekacauan



Saat itu, sepulang sekolah di awal bulan Juni, tepat setelah pergantian seragam musiman.

Aku berdiri di atas atap sekolah yang lantainya mulai menggelap.

Di hadapanku, berdiri seorang gadis yang satu angkatan denganku.

Harusaki Chiwa.

Aku sudah berteman dengannya sejak kelas satu. Dengan kata lain, dialah orang yang bisa disebut teman sedari kecil.

Kelas satu SMA. Umur 15 tahun.

Postur tubuhnya yang pendek itu hanya mencapai bahuku. Dua kibasan rambut panjang di kedua sisinya diikat menggunakan pita yang membuatnya mirip seperti telinga seekor anjing. Mata bulatnya yang besar, entah kenapa tampak polos layaknya seekor anak anjing. Roknya yang terlihat seperti masih baru itu berkibar tertiup angin.

Mungil.

Menggemaskan.

Tapi terasa amat disayangkan.

Pertama, tatap matanya yang amat disayangkan.

Melekat pada bentuk segitiga terbalik, tampak memerah. Sepertinya dia bisa membunuh dengan menggunakan tatapannya itu. Dia menengadah, menatap ke arahku ketika aku berdiri menghadapnya.

Aura di sekitarnya juga amat disayangkan.

Urat nadi tampak pada pelipisnya. Haah, haah, engahnya seperti seekor binatang buas. Aura bengisnya seolah mengatakan, Aku baru saja menusuk seseorang. Tidak ada bedanya jika kini aku menambahnya jadi dua orang. Aah? Nii-chan.

Dilihat dari mana pun, ketegangannya tampak semakin meninggi.

Chiwa yang ketegangannya sedang meninggi itu mengarahkan jari kecilnya ke arahku.

"A-aku akan me-menyatakannya padamiu!"

"...."

Dari awal saja anak ini sudah tergagap.

"Meski aku membahas soal pernyataan, yang kumaksud itu bukan seperti, Aku telah gagal! atau, Yang memakan kue itu adalah aku!"

Siapa yang sebenarnya mau repot-repot memanggilku ke atap untuk membicarakan hal-hal semacam ini?

"Pernyataan yang kumaksud di sini adalah per-pernyataan cinta!"

Aku lalu menghela napas panjang.

Ketika aku memicingkan mata karena sinar matahari yang terbenam, kutenangkan diri ini.

"Aku mengerti. Biar kudengarkan perasaanmu!"

"I-iya!"

"Fiuuh, fiuuh," Chiwa beberapa kali menarik napas dalam-dalam.

"... bisa tunggu sebentar?"

"Apa lagi sekarang?"

"Tunggu sebentar. Sebentar saja!"

Chiwa pergi ke arah pintu masuk atap untuk mengambil barang-barang miliknya yang dia tinggalkan di sana.

Yang dia keluarkan dari tas kulit itu adalah sebuah shinai.

Omong-omong, Chiwa bukanlah anggota Klub Kendo. Meski sempat tergabung dalam Klub Kendo sampai kelas 3 SMP, tapi dia tidak meneruskannya sewaktu SMA.

Biarpun begitu, tanpa maksud yang jelas, dia sudah mengambil kuda-kuda sambil memegang shinai yang dia bawa.

"Baiklah, aku siap!"

"Tidak, kamu belum siap!"

"Tapi aku merasa lebih tenang kalau seperti ini."

Memang benar, kegugupannya telah menghilang.

Ekspresinya juga menjadi lebih santai.

"Huh! Entah kenapa, aku bisa merasakan keteganganku semakin bertambah! Persiapkan dirimu!"

"Hei, bukankah ini sebuah pernyataan? Sebuah pernyataan cinta, 'kan?"

Tubuhku merasakan bahaya, aku pun mundur ke belakang.

"Benar, ini memang sebuah pernyataan. Ciaaat!"

Dengan sikap yang angkuh, Chiwa menyeret kakinya ke depan dan mendekat ke arahku.

"Tung-tunggu, tunggu! Gadis macam apa yang mengayunkan shinai selagi menyatakan cinta?"

"Jangan dipikirkan. Bahkan guruku sebelumnya mengatakan, Jangan terlalu cerewet soal yang terlihat mata."

Tentu saja aku cerewet! Ini menyangkut hidupku!

"Ta-tapi, bukankah kamu sudah tidak lagi berlatih pedang? Bukankah kamu ingin menempuh jalan romansa? Dan bukankah kamu bilang kalau kamu ingin punya kehidupan asmara seperti di manga cewek?"

Aku mati-matian berusaha membujuknya.

Tidak disangka pernyataan cinta bisa seberbahaya ini ....

"... aku paham!"

Chiha menurunkan shinai-nya.

"Maaf, ayo kita ulangi lagi. Aku akan melakukannya dengan benar kali ini."

Chiwa menjadi kaku dan menatap ke arahku.

Matanya yang hitam itu tampak berkaca-kaca seperti mata seekor anak anjing.

Rambutnya yang terlihat lembut itu berkibar tertiup angin.

Tangan kecilnya menggenggam roknya dan kemudian dia lepaskan dengan gugup.

... uh, memang kualitas unggul.

Dari penampilannya, sulit dipercaya kalau dia tidak punya pacar sampai sekarang.

"Eng, anu, Ei-kun ...."

Ei-kun.

Begitulah cara Chiwa memanggilku, Kidou Eita.

Memalukan, tolong hentikan, berulang kali kuberitahukan hal itu padanya, tapi dia tidak pernah mau berhenti, bahkan sampai hari ini.

"Ei-kun, aku masih ingat ketika kamu masih kelas 4 SD .... Saat membawa bekal makan siang ke dalam kelas, kamu terjatuh dan berlumuran kuah kari, akibatnya, kamu jadi dijuluki Orang India Ceroboh."

"... eh."

Hahaha.

Bagi kami, itu adalah cerita lama yang masih terasa lucu sampai hari ini.

"Aku ingat saat kelas 5 SD dulu, saat kamu tidak bisa menahannya, kamu berlari masuk ke dalam toilet perempuan, dan hasilnya, selama semester kedua, kamu dijuluki Si Lepas Kendali Toilet Perempuan."

"Uhuk ...."

Aku memegangi perutku dan jatuh sambil berlutut.

Chiwa, ju-julukan macam itu ... tidak pantas digunakan sebagai bahan lelucon, tahu?

"Dan selama liburan musim panas kelas 6 SD dulu, kamu menyembunyikan buku porno Doppyun Serenade yang kamu ambil dari bawah jembatan di dalam kandang anak anjing."

"Hentikaaaaaaan! Kumohon, maafkan akuuuuuuu!"

Cukup sudah,

Aku sudah berada di ambang tangisanku.

Tergali sudah.

Masa laluku yang kelam sudah tergali ....

"Aku sangat menyukai Ei-kun yang melakukan itu semua."

"Jangan bohong!"

Hobi maniak macam apa yang anak ini punya?

Dengan tatapan yang terlihat bingung, Chiwa berbicara,

"Apa maksudmu bohong? Aku benar-benar ...."

"Apa yang kamu rencanakan dengan membongkar masa laluku? Apa di luar sana ada pernyataan cinta yang memberi luka mental seperti ini?"

"Tapi di manga diceritakan kalau ini akan berjalan lancar! Anak ini benar-benar mengingat semua hal itu! atau, Karena selama ini aku selalu memperhatikanmu? begitu ceritanya."

Tidak ....

Meski aku tidak tahu isi dari manga itu, tapi kata-kata semacam toilet perempuan dan Doppyun Serenade seharusnya tidak muncul di dalamnya.

"Biarpun begitu, ini sebuah pernyatan cinta, 'kan? Seharusnya kamu memuji kelebihanku, 'kan? Seperti, Kamu selalu belajar dengan sungguh-sungguh, atau seperti, Kamu mendapat nilai tertinggi dalam UTS terakhir."

"Hmm," Chiwa melipat tangannya dan memalingkan wajahnya.

"Itu semua membosankan!"

"Apa maksudmu membosankan? Bukankah sudah tugas seorang murid untuk belajar?!"

"Aku lebih suka Ei-kun yang bodoh saat SMP dulu."

"Aku pun sudah ikut kesakitan saat menjadi rekan latihanmu, jadi apa-apaan sikapmu itu?!"

"Kenapa pandanganmu meremehkan begitu? Padahal kamu lebih muda dibanding aku."

"Kita hanya beda tiga bulan sepuluh hari! Sampai kapan kamu mau bertingkah seperti seorang kakak perempuan, dasar Chihuahua yang Malang!"

Dan pada saat itu.

"Cukup, kalian berdua!"

Seorang gadis melangkah keluar dari balik bayangan tangki air.

Rambut panjang berwarna peraknya menari tertiup angin.

Dia menatap ke arah kami dengan mata birunya yang jernih itu.

Kulitnya putih seperti butiran salju, dan bibirnya terlihat berkilau seperti buah ceri.

Dengan darah campurannya, kecantikan bagai peri ini jika dibandingkan dengan Chiwa yang manis secara umum, maka gadis ini bisa disebut luar biasa cantik. Seorang tuan putri yang memiliki banyak hal berharga yang tidak mampu digapai oleh kebanyakan gadis, tidak peduli seberapa besar mereka mengharapkannya.

Teman sekelasku, Natsukawa Masuzu.

"Fiuh", dia menghela napas sambil memiringkan kepalanya.

"Aku jadi bingung, apa benar-benar mustahil bagi Eita-kun untuk menjadi rekan latihan menyatakan cinta?"

"Makanya dari awal tadi aku sudah mengatakannya, 'kan?!"

—begitulah.

Singkatnya, rangkaian pernyataan cinta tadi hanyalah main-main semata.

Chiwa yang angkuh dan suka bertindak kasar serta mempunyai otak berisi otot saja, saat ini sedang berlatih demi menjadi gadis super populer dengan kehidupan asmara layaknya di manga-manga. Berlatih. Belajar melalui pengalaman.

Dan aku diberikan peran sebagai rekan untuk latihan yang diskenarioi oleh Masuzu.

Jika kujelaskan secara detail tentang bagaimana bisa semuanya perlahan menjadi begitu rumit—

"Memalukan sekali, Harusaki-san. Padahal aku sudah sampai rela meminjamkan pacarku padamu."

Masuzu berkedip sambil menempel ke lengan kananku.

*Jyuut* urat nadi terlihat di pelipis Chiwa.


"I-itu salahku, Natsukawa Masuzu? Memangnya apa bagusnya si Ei-kun ini? Aku sama sekali tidak paham!"

Itu benar.

Memang sulit dipercaya, tapi gadis yang luar biasa cantik ini 
 Masuzu  adalah pacarku.

... yah, meskipun dia bukan sekadar pacar, sih.

Tapi hal tersebut dirahasiakan dari Chiwa.

"Jika kamu tidak bisa memahami pesona dari Eita-kun, maka impianmu untuk menjadi super populer hanya tinggal impian belaka saja, tahu?"

Sambil melirik ke arah Chiwa, Masuzu semakin menempelkannya tubuhnya padaku.

"O-oi! Jangan terlalu dekat, rasanya gerah!"

"Kamu ini memang selalu pemalu. Aku juga suka itu."

Ini ....

Jangan besar kepala dulu, Masuzu.

Aku tidak akan mengalah pada daya tarik seorang wanita.

Rambutmu tidaklah wangi!

Napasmu yang meniup telingaku tidaklah terasa geli!

Belum lagi tonjolanmu yang lembut dan licin itu tidaklah menyentuuuuuh tanganku!

Uwah.

Oooh.

"Ei~-ku~n?"

Aku kembali tersadar dari lamunan singkatku.

Sambil menggigit bibir bagian bawahnya, Chiwa menengadah, menatap tajam ke arahku.

Menakutkan ....

Siapa ..., siapa yang memberikan anak ini nama panggilan Chihuahua?

Dilihat dari manapun, dia itu Tosa, 'kan?

"Jangan— jangan— jangan berani-beraninya kamu bermesraan di depanku!"

"Tapi kami ini pasangan yang sedang dimabuk cinta. Pasangan yang dimabuk cinta. Pasangan yang dimabuk cinta."

Kenapa diucapkan sampai tiga kali?

"Hmm, berbohong itu tidak baik, Natsukawa Masuzu. Dimabuk cinta? Di mananya? Ei-kun saja sedang berkeringat dingin, 'kan? Dilihat dari manapun, dia itu sedang tertekan! Iya, 'kan?!"

Tidak, alasan utama di balik keringat dinginku ini karena tekanan dari amarah yang kamu pancarkan.

... tapi aku tidak berani mengatakannya.

Hidup itu berharga.

"Oh, bukankah ini bagian sederhana dari pesona Eita-kun? Kamu itu masih kecil, jadi kamu tidak mungkin bisa mengerti."

Dengan matanya yang terlihat nakal, Masuzu dengan antusias menggaet lengannya padaku.

Wajah Chiwa menjadi semakin kelam.

"Bu-bukankah seleramu itu aneh?"

"Oh. Itu komentar yang tidak pantas dari orang yang masih suka memakai celana dalam Teddy Bear, padahal sudah kelas 1 SMA."

Tidak, tidak.

Terakhir kali Chiwa memakai celana dalam seperti itu adalah saat kelas 4 SD.

Tidak mungkin dia masih memakai—

"Me-me-me-me-mangnya masalah?!"

*Waai*

Dia membunuh dirinya sendiri—

"Soalnya aku suka Teddy Bear ...."

Melihat mata Chiwa yang berkaca-kaca, Masuzu mulai menggelengkan kepalanya.

"Sesuka apa pun dirimu terhadap itu, kamu tidak akan bisa menarik perhatian pria dengan hal itu, tahu?"

"A-a-aku tidak pernah berniat menarik perhatian pria dengan celana dalamku! Lagi pula, aku bukan orang mesum."

"Tidak. Sebagai seorang wanita, untuk memastikan kalau kita selalu siap ketika orang tersayang mengajak untuk menghabiskan malam bersama, kita harus senantiasa mengenakan pakaian dalam andalan kita."

"Kalau begitu, Teddy Bear juga tidak masalah! Itu juga tampak manis, 'kan?"

"Itu bisa dimaklumi kalau kamu seorang murid SD. Seperti yang diharapkan, seorang murid SMA itu harus bertarung menggunakan warna hitam-nya. Bukan begitu, Eita-kun?"

"Eh?"

Dia mengarahkan pertanyaan itu padaku?

"Eita-kun, yang kamu sukai adalah warna hitam yang bisa mengeluarkan kesan seksi dari seorang wanita dewasa, bukan?"

"Teddy itu lucu, 'kan? Cocok denganku, 'kan?"

Wajah Masuzu yang tersenyum, mata Chiwa yang berkaca-kaca; mereka berdua mengarah padaku.

Aku menggaruk pelipisku.

"Tidak, jika pacarku adalah salah satu dari kalian, entah apa pun pakaian dalamnya, aku tidak akan peduli."

"Ah?"

"Hah?"

"... bukan apa-apa."

Aku terus terdiam setelah merasakan tatapan mengintimidasi dari mereka.

Hanya saat seperti ini saja mereka benar-benar selaras, ya?

"Astaga, Eita-kun, hari ini kamu benar-benar kasar, tahu? Seharusnya kamu bersikap seperti biasanya, yang berkata, Celana dalam Masuzu-chan, kira-kira hari ini seperti apa, ya? Yuhu! sambil bergulung-gulung di lantai, begitu."

"Aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti itu sebelumnya!"

"E-Ei-kun, rupanya kamu selalu melakukan yang seperti itu?!"

"Sudah kubilang, aku tidak pernah melakukannya!"

"Yang namanya pelaku itu selalu mengelak."

"Siapa yang kamu maksud pelaku? Meski itu sebuah lelucon, apa itu sesuatu yang pantas dikatakan pada pacarmu?!"

"... maaf."

Masuzu meminta maaf tanpa perlawanan.

"Sebenarnya aku tidak bermaksud mengatakan hal-hal yang tidak pantas tadi. Itu kebiasaan burukku — bisa dibilang, itu adalah kebodohan masa mudaku."

"Apa-apaan itu?"

Masuzu lalu berbicara sambil merendahkan pandangannya.

"Ketika aku SMP, ada saat dimana aku ingin menjadi seperti tokoh dari suatu manga. Seorang wanita cantik dengan lidah yang kasar dan pesona seksual yang melayang disekelilingnya. Karena ingin menjadi seseorang seperti itu, aku meniru kelakuan dan cara bicaranya. Dan itu masih tertinggal dalam diriku."

"... hahaha. Aku mengerti."

Yah, bukan berarti aku tidak mengerti.

Dulu aku juga pernah ingin menjadi seperti tokoh antagonis dari sebuah manga cowok dan meniru cara bicara serta kelakuan kasarnya. Meskipun aku sebuah petasan yang bahkan tidak bisa tersulut.

"Oleh sebab itu, sama sekali tidak ada maksud di balik kata-kataku yang tidak pantas tadi. Jadi abaikan saja, jangan ditanggapi terlalu serius. Setuju, Tuan Bento Setengah Harga?"

"Julukan macam apa itu?"

"Itu artinya kamu sepadan dengan makanan yang hampir kedaluarsa."

"Kukira ada makna mendalam di balik julukan itu!"

Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya tanpa menanggapinya dengan serius?

Itu mustahil tidak peduli betapa tolerannya seseorang ....

"Ei-kun. Apa sebenarnya yang kamu suka dari gadis ini? Jangan bilang kalau kamu masokhis?"

Tanya Chiwa dengan mata yang berkaca-kaca.

"Eh? Aku sendiri ... benar-benar tidak tahu ...."

Aku lalu memandang ke arah matahari terbenam dan hanya bisa membiarkan tubuhku diterpa oleh angin.

"Itu sangat sederhana, Harusaki-san."

Masuzu menyeringai.

"Yang diinginkan Eita-kun adalah tubuhku."

"Kumohon, tidak usah lagi bicaraaaaaa!!"

—ini, yah, begitulah.

Ini cerita tentang diriku yang terperangkap di sebuah tempat di mana kekacauan merajalela.


0 tanggapan:

Posting Komentar