SPS Jilid 1 Bab 10

=========================================================
Dan... Postingan setelah ini adalah postingan kebangkitan dari blog ini... Yang ditandai dengan proyek kerjasama antar fantranslation untuk seri ini...
Passion adalah suatu komposisi musik yang disusun untuk memperingati penderitaan dan kematian Kristus berdasarkan keempat Injil...

Sekali lagi ane tawarkan, kalau ada yang suka dengan seri Chuunibyou dan ingin menjadi kontributor penerjemah dalam proyek ane di seri tersebut, silakan PM ke e-mail ane atau PM ke FP blog ini di FB...
(Ngotot banget sih...)

Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 10 - Sang Burung Api, Mancanegara, Tas Obat


Malamnya, setelah selesai makan malam seorang diri, aku mulai berlatih bas. Di tengah latihan, kudengar suara nyaring dari benda-benda yang berjatuhan dari arah pintu utama.

"Oh .... Sebuah anugerah tiada tara bisa mati terkubur dalam tumpukan mahakarya musik dari berbagai zaman ...."

Di dekat pintu, Tetsurou yang mengenakan jas — sebuah pemandangan langka — sedang tertimbun oleh tumpukan CD yang berjatuhan. Beliau menatap langit-langit sambil bergumam sendiri.

"Sebelum kamu mati, tinggalkan dulu uang yang cukup supaya aku bisa tenang menjalani hidup."

Bicara soal itu, seingatku, aku sudah merapikan CD-CD ini, 'kan? Sesering apapun aku merapikannya, CD itu pasti akan ditumpuk sampai setinggi-tingginya — percuma kalau ditegur. Aku mengeluh sambil menggali tumpukan CD yang menimpa Tetsurou.

"Kalau aku mati, kamu harus menaruh partitur <Sang Burung Api> gubahan Stravinsky di dalam petiku. Jangan mainkan <Misa Massal pada D minor> atau semacamnya, mainkan saja <Passion Santo Matius>! Setelah itu aku akan menimpa catatan yang dipegang Yesus Kristus lalu bangkit kembali dalam dua hari."

"Itu tidak perlu. Pergi saja ke neraka dan jangan kembali! Bukankah sudah kuberi tahu kalau mau minum alkohol harus bilang dulu padaku?"

"Ah, hmm. Sudah lama aku tidak bertemu teman sekelasku dari sekolah musik .... Hoek ...."

Mahakarya musik dari berbagai zaman, bersama dengan satu-satunya jas mahal milik Tetsurou, menjadi kotor karena cairan berbau asam. Orang tua ini sudah hampir mati karena mabuk.

"Ahhhh. Ini harus dicuci."

Setelah muntah di toilet, Tetsurou kembali dengan wajah pucat. Bahkan setelah melihat betapa joroknya jas yang beliau kotori itu, beliau beralasan kalau itu bukan karena beliau. Hanya ada satu alasan kenapa Tetsurou berpakaian serapi ini. Yaitu konser. Mungkin karena bawaan dari pekerjaannya, makanya beliau sering menghadiri sebuah konser, meski begitu, beliau hanya punya satu setel jas. Harus bagaimana aku menghadapi kelakuannya itu? Yang penting, aku harus memberinya secangkir jus lemon hangat dulu biar beliau tidak mabuk lagi.

"Uuuuh, aku hidup kembali. Aku memang pria yang beruntung. Istriku pergi meninggalkanku, tapi Tuhan memberikanku seorang anak yang sangat peduli padaku."

Kenapa ibuku tidak berusaha keras memperjuangkan hak asuhku?

"Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan wanita. Lima teman sekelasku tidak memiliki pasangan, dan tiga di antaranya sudah bercerai!"

Tetsurou tiba-tiba dengan liriknya sendiri, menyanyikan aria <Sang Wanita yang Lincah> dari opera Rigoletto. Kututupi wajahnya dengan kantong sampah supaya diam. Harusnya beliau tahu kalau kita ini bertetangga dan jangan membuat keributan!

"Sama sepertimu yang mencoba berurusan dengan gadis itu, 'kan? Kamu sudah menyerah berlatih gitar atau apalah namanya itu, 'kan?"

"Aku masih memainkannya! Dan berhentilah memperlakukanku seperti orang bodoh!" aku menunjuk basku yang tergeletak di sofa.

"Tapi permainanmu payah, 'kan?"

"Yah, aku minta maaf kalau soal itu!" berarti suaranya terdengar sampai keluar, ya? Untuk kedepannya, kurasa aku tidak akan memakai amplifier lagi saat berlatih di rumah.

"Wah, kok bisa? Apa gadis itu sebegitu hebatnya? Ah, Ebisawa Mafuyu, kan? Tempo hari kamu sempat menyinggungya. Gadis itu lumayan juga. Tahu tidak? Ada semacam pembicaraan di komunitas kami .... Coba perhatikan, pada sampul depan musisi perempuan, foto yang digunakan biasanya foto yang diambil dari samping — terutama pianis. Kalau ia cukup manis, maka foto wajahnya sedikit dimiringkan, dan kalau ia menawan, foto wajahnya diambil langsung dari depan. Aku sudah menjalani profesi ini selama 15 tahun, dan Mafuyu adalah perempuan pertama yang kuketahui difoto dari bawah — eh? Kenapa, ya, Nao-chan? Kenapa harus sampai difoto dari bawah?

"Berisik."

Kusimburkan segelas air ke wajah Tetsurou

"Kamu ini kenapa .... Belakangan ini sikap Nao-chan dingin sekali. Jangan-jangan kamu membenciku, ya?"

"Hei, Tetsurou ...."

"Hmm?"

"Apa kamu benci dengan yang namanya PPN"

"Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Jawab saja."

"Hmm, kalau ditanya benci atau tidak .... Kurasa hal itu tidak perlu ada dalam hidupku, jadi mungkin jawabannya adalah benci. Tapi aku sejak dari dulu sudah membayar PPN, jadi aku sudah lupa rasa bencinya itu."

"Hmm, jujur, begitulah perasaanku yang sebenarnya padamu."

"... apa aku boleh menangis?"

"Kalau mau menangis, di luar saja, sana!"

Tetsurou mengapit botol wiskinya di ketiaknya dan tampak seperti memang hendak keluar. Jika melihat betapa beliau bisa mengganggu tetangga yang lain, aku harus segera menghentikannya. Semoga beliau sadar dengan umurnya dan cepat tidur!

"Namun rasanya kamu tidak mungkin punya peluang pada Ebisawa Mafuyu. Soalnya .... Yah, kamu tahu sendiri, kamu ini anak seorang kritikus musik, dan ia juga tahu soal itu. Sebenarnya tadi aku baru kembali dari konser Ebichiri yang kebetulan diadakan di Jepang. Dan sebenarnya aku tadi juga sempat mengajaknya minum, tapi ia bilang kalau ia akan tampil secara langsung di TV, jadi sudah bisa ditebak kalau ia pasti menolaknya. Biarpun begitu, kami sempat saling mengobrol saat acara jamuan makan malam. Sepertinya untuk sebulan ini ia akan menetap di Jepang, setelah itu ia akan pergi jauh saat bulan Juni nanti. Mungkin ia akan balik ke Amerika."

"Sudah kubilang, kamu itu salah paham .... Eh?"

Ebichiri — ayah Mafuyu — berada di Jepang?

Dan ia akan kembali ke Amerika bulan Juni nanti. Kalau begitu, Juni yang Mafuyu katakan waktu itu ..., maksudnya itu?

"... lalu, soal Mafuyu? Apa ada yang kamu dengar tentangnya?"

"Hah?"

"Bukan apa-apa. Jadi ..., apa nanti ia akan ikut balik ke Amerika?"

Sekitar tahun-tahun terakhir ini, Mafuyu mungkin bepergian bersama ayahnya ke negara-negara di Eropa dan Amerika untuk tur internasional. Ia tidak perlu melakukan hal percuma seperti pindah ke sekolah kami hanya untuk satu bulan, 'kan?

"Ia mungkin tidak akan bermain piano lagi. Aku baru saja mendengar mengenai hal itu tadi, tapi tampaknya para kritikus sudah menulis ulasan-ulasan kejam tentang dirinya. Ia bahkan sampai pernah mengikuti kompetisi yang tidak ada hubungannya dengan Ebichiri, dan memenangkannya. Meski begitu, ia tetap saja dihubung-hubungkan dengan nama besar ayahnya.

"Ah ...."

Aku jadi ingat kejadian saat Mafuyu menatapku penuh dengan kebencian tempo hari. 
Keberadaan kritikus itu sendiri yang mengganggu. Mereka selalu saja menulis omong kosong, aku yakin kalau ia mengatakan itu.

"Gaya permainannya seakan mengundang kritikan itu sendiri. Contohnya, sikapnya yang tidak bersemangat; permainannya yang terlalu tenang; penyampaian terhadap bagian-bagian dalam sebuah komposisi yang buruk; musik yang terasa bagaikan serangga yang merayap; atau gaya bermain yang terlalu bergantung pada teknik .... Bahkan aku sendiri bisa langsung memikirkan kritikan kejam sewaktu ia bermain. Dan kalau aku mau, aku mungkin bisa menulis ulasan tentang permainannya hingga tiga puluh halaman. Tapi akan terasa bodoh kalau aku sampai melakukannya — ini bukan soal memainkan komposisi dengan bagus tapi soal memainkannya dengan cemerlang."

"Jadi itu alasan Mafuyu tidak bermain piano lagi?"

"Entahlah. Para kritikus lain tampaknya juga menulis tentang kehidupan pribadinya, meski itu tidak ada hubungannya dengan musik, yah, mungkin karena ia anak Ebichiri. Tahu sendiri, kalau ibunya itu orang Hungaria dan mereka sudah bercerai."

"Ah .... Jadi ia memang anak blasteran, toh."

Mendadak aku teringat kejadian saat aku memperbaiki tape recorder-nya dulu. Hongaria.

"Ah— jadi kamu tidak tahu? Yah, sebaiknya itu tidak usah dibahas lagi. Aku merasa seperti paparazzi yang sedang memburu berita."

Tetsurou membuka tutup botol wiskinya dan langsung meminumnya. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk menahannya.

Saat aku menjalani kehidupan santaiku sebagai murid SMP di Jepang, Mafuyu sudah melanglang buana ke mancanegara. Di bawah tatapan keingintahuan dan benci dari sekelilingnya, ia menjalani hidup dengan rasa takut yang menggentayangi ketika memainkan piano. Kehidupan macam apa itu? Aku tidak sanggup membayangkan itu semua.

Meski begitu, aku pun kembali ke permasalahan utama. Kalau ia memang sudah tidak ingin lagi bermain piano, kenapa kini ia bermain gitar?


Keesokan harinya, saat aku berjalan menuju kelas, kudengar teman-temanku sedang berbincang soal sebuah acara di TV.

"Acaranya ditayangkan langsung?"

"Ya, sepertinya ia sudah kembali ke Jepang."

"Mereka membahas apa saja?"

"Aku bingung dengan yang mereka perbincangkan. Yah, walau tidak sebingung saat aku mendengarkan musik klasik, sih."

"Apa mereka berdua ada kemiripan?"

"Tidak sedikit pun. Hime-sama lebih mirip ibunya?"

Setelah mendengar sedikit pembicaraan mereka, aku jadi tahu kalau mereka sedang membicarakan Ebichiri. Sekilas aku melirik ke kursi Mafuyu yang kosong.

"Pembawa acaranya juga menanyakan soal hime-sama."

"Hubungan antara ayah dan anak itu tidak terlalu harmonis, 'kan?"

Sejenak aku berpikir — mereka tahu kalau Mafuyu sebentar lagi akan datang, tapi kenapa mereka masih bergosip tentang dirinya dengan suara keras?

"Nao, ayahmu itu dulunya teman sekelas Ebichiri, 'kan?"

"... kamu tahu dari mana?"

"Maki-chan yang bilang! Beliau juga bilang, saat Ebichiri masih mengajar dulu, ayahmu selalu menggoda gadis-gadis."

Maki-sensei .... Semoga beliau tidak selalu berlebihan sewaktu bercerita pada mereka.

"Eh, jadi Nao tidak tahu tentang hime-sama sebelumnya?"

"Tapi dari yang kulihat kemarin, Ebichiri selalu mengalihkan topik setiap kali pembawa acara bertanya tentang anaknya. Apa kamu tahu alasannya?"

"Eng, begini ...."

Kulepaskan basku dari bahu lalu kurebahkan ke meja. Setelah mengumpulkan keberanian, aku pun berkata,

"Berhenti menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan dirinya, paham?"

Seluruh kelas melihat ke arahku dengan tatapan kaget. Aku berpura-pura merapikan bukuku, dan lanjut berkata,

"Jangan ganggu dirinya lagi. Ia itu bagaikan anak kucing liar yang sedang terluka — kalau kalian mendekat, ia mungkin akan langsung mencakar; tapi kalau kalian membiarkannya sendiri, ia tidak akan mengganggu. Gadis itu sudah punya sejumlah masalah sewaktu tur internasional di Amerika, itu sebabnya—"

Saat aku menjelaskannya, semua perhatian murid-murid di sekitarku langsung tertuju padaku. Bisa kurasakan sensasi menusuk pada belakang pundakku. Aku membalikkan badan, dan melihat Mafuyu sudah berdiri di depan pintu kelas. Rona merah tampak dari balik kulit cerahnya. Apa itu bawaan lahir dari ibunya yang merupakan orang Hongaria? Mata besarnya menatap ke arahku — sepertinya itu bukanlah tatapan marah, tapi lebih seperti terkejut.

"... ah, begini, aku tidak ...."

Aku tidak yakin kalau aku kini sedang merangkai kata untuk membuat alasan.

"Kamu memang ahli dalam menyebarkan berita, ya."

Gumam dirinya sambil berjalan ke arah kursinya. Sekelilingku pun sudah berpencar ke segala arah.

"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."

"Tolong jangan bicara padaku."

Suara Mafuyu bagaikan sepasang bilah gunting yang memotong jarak di antara kami berdua. Aku hanya bisa terdiam. Mereka yang sudah tidak di sekitarku tadi mengedip-ngedipkan mata tanda prihatin.

Chiaki yang tergesa-gesa masuk ke kelas segera setelah bel berbunyi, melintasi diriku dan Mafuyu. Ia menyadari suasana berbahaya ini.

"Ada apa ini?" ia menoleh padaku, lalu ke Mafuyu, "Kalian bertengkar lagi?"

"Aku tidak pernah bertengkar dengan anak ini, jadi jangan pakai kata lagi"

Ucap Mafuyu sambil membuang mukanya.

Chiaki hampir ingin mengatakan sesuatu, tapi aku menarik lengannya dan memohon agar jangan mengatakan apa-apa lagi.


Jangankan berbicara, bahkan Mafuyu sejak tadi tidak sekali pun menoleh ke arahku. Ia langsung bergegas keluar kelas setelah bel istirahat berbunyi.

"Ia marah ...."

"Hime-sama marah ...."

Seluruh penghuni kelas bergumam penuh penyesalan, bersama dengan tatapan-tatapan mereka yang tertuju padaku. Kali ini memang benar-benar salahku, jadi tidak ada pilihan lagi bagiku selain berdiri dan keluar kelas.

Aku berjalan ke arah lapangan menuju ruang latihan di gedung musik tua. Tidak ada gembok yang terpasang di pintu, dan pintu itu pun dibiarkan sedikit terbuka. Diam-diam kuintip ke dalam ruangan, rupanya tidak ada siapa-siapa. Ada apa ini?

Aku masuk ke dalam ruangan dan melihat gitar yang sudah tersambung pada amplifier; sebuah pick tergeletak sembrono di meja. Sepertinya ada seseorang yang baru saja masuk kemudian langsung bergegas keluar dari ruangan ini. Itu berarti, harusnya tidak apa-apa kalau aku menunggunya di sini, 'kan? Aku pun tersadar kalau aku masih belum memikirkan cara untuk meminta maaf padanya. Kenapa Mafuyu sampai semarah itu padaku?

Aku duduk di alas empuk yang diletakkan di atas meja sambil berpikir bagaimana caranya meminta maaf. Tidak sengaja kujatuhkan pick tadi ke lantai saat mengibaskan tanganku. Mungkin itu pick milik Mafuyu. Aku pun menyadari sesuatu saat aku mengambilnya — bentuknya agak aneh.

Bicara soal itu, pick adalah sepotong plastik tipis yang berbentuk segitiga atau seperti onigiri. Walau begitu, pick Mafuyu ini punya semacam cincin plastik yang menempel di kedua belah sisinya.

Kucoba untuk menyelipkan jempol dan jari telunjukku pada cincin plastik tersebut, dan posisi jariku sekarang seperti sedang memegang pick pada umumnya. Biarpun begitu, belum pernah kulihat pick yang semacam ini. Aku pernah lihat pick khusus telunjuk atau pick khusus jempol yang aman untuk jari-jemari tersebut, tapi pick dengan dua cincin plastik ....

"Jangan sentuh!"

Sebuah suara datang dari arah pintu, membuatku hampir menjatuhkan pick tersebut. Mafuyu mendorong pintu tersebut dengan pundaknya. Kukembalikan pick itu ke posisi semula kemudian menjauh dari meja.

"Anu, begini .... Aku minta maaf."

Aku menunduk dan melihatnya sedang menggenggam kantung plastik kecil berwarna putih di tangan kirinya .... Apa itu tas obat?

"Apa kamu sedang tidak enak badan?"

Mafuyu kaget mendengar pertanyaanku, dan berkata, "Bukan apa-apa," ia lalu menaruh tas obat itu di bawah bantal. Apa ia baru kembali dari UKS?

"Kamu mau apa?"

Sambil berdesah, Mafuyu menanyakan itu padaku. Ini tidak seperti caranya yang biasa ia pakai untuk mengusirku. Justru lebih menakutkan jika ia bersikap seperti ini.

Tanpa basa basi kukatakan, "Aku ke sini untuk meminta maaf padamu," di saat aku hendak memikirkan kalimat selanjutnya, Mafuyu berkata,

"Kenapa? Kamu meminta maaf untuk apa? Ceritakan saja soal diriku ke semua orang! Aku sama sekali tidak peduli."

"Hei, biar aku jelaskan, jadi dengarkan aku dulu," kataku sambil menahan emosi. "Kemarin, Tetsurou, yang juga ayahku, pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan bercerita soal gosip yang didengarnya dari para kritikus lain. Beliau bilang kalau ada beberapa kritikus di Amerika yang menulis hal-hal buruk tentangmu. Meski begitu, beliau tidak pernah mengatakan apa pun secara rinci, itu sebabnya—"

"Itu sebabnya kamu tidak usah meminta maaf padaku!"

Bisa kurasakan emosi yang seketika membakar wajahku.

"Berhenti menyela omongan orang lain!"

"Apa, jadi kamu ke sini untuk melampiaskan kekesalanmu padaku?"

"Bukan begitu ...." kutahan ucapanku sambil berusaha sebisa mungkin menjaga emosi. "Baiklah, aku mengerti. Aku ke sini untuk meminta maaf atas nama para kritikus yang selalu saja menulis omong kosong."

Kebiasaanku yang sering mengatakan omong kosong muncul kembali. Mafuyu mengedip-ngedipkan matanya karena kaget, yang kemudian diikuti dengan ekspresi terkejut.

"Tapi kamu bukan seorang kritikus, 'kan? Yang kutahu itu ayahmu."

"Aku termasuk di antaranya."

Mafuyu memiringkan kepalanya. Tatapannya penuh dengan kebingungan.

"Ya, itu benar. Aku sudah menulis artikel mengatasnamakan Tetsurou hingga sekitar empat atau lima kali, dan artikel itu rupanya terbit di majalah musik. Itu sebabnya, aku harusnya wajib untuk meminta maaf padamu, 'kan?"

Mafuyu lalu menggigit bibirnya. Setelah itu, ia melihat lantai kemudian menggelengkan kepala.

"Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang mau kamu katakan. Kamu sebenarnya mau mengatakan apa?"

Tiba-tiba ia berkata dengan suara yang agak bergetar.

"Kenapa? Kenapa kamu meminta maaf padaku? Padahal aku sudah sering berlaku kejam padamu."

"Jadi kamu sebenarnya sadar, ya?"

"Dasar bodoh."

Mafuyu mengangkat kepalanya. Matanya dipenuhi warna suram layaknya langit yang mendung — persis seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. Terasa lembab seakan sebentar lagi turun hujan.

"Aku tidak peduli dengan hal-hal kejam itu. Terserah bagaimana mereka menulis tentangku atau apa yang mereka tulis tentangku, aku tidak peduli. Aku tidak seperti itu .... Tidak seperti itu ...."

Samar-samar kudengar suara Mafuyu yang beriak dari kejauhan, dan perlahan terasa sulit untukku bernapas. Aku jadi berpikir — ada di mana sebenarnya dirinya itu? Gadis yang susah dipahami ini, dengan aura ungu suram yang mengelilinginya, harusnya ia berada tepat di depanku — tapi kenyataannya, seberapa jauh jarakku dengan dirinya? Kenapa ... suara dan tanganku tidak mampu menggapainya?

"Kenapa kamu peduli denganku? Ini sama seperti yang dulu. Kenapa kamu menolongku? Kumohon, tidak usah pedulikan aku lagi. Karena aku pun akan segera menghilang."

Mafuyu menyandarkan gitarnya lalu duduk di atas meja, ia rangkul lututnya hingga menyentuh dada dan membenamkan wajahnya pada kedua lengan. Kesuraman dari derasnya hujan terasa di sini, namun hujan tersebut hanya turun pada dirinya.


Aku berjalan keluar dari ruangan, tapi aku masih bisa mendengar suara samar dari hujan yang masih turun. Meski begitu, langit pada bulan Mei ini justru cerah dengan satu atau dua awan di atas gedung.

Aku berpikir dalam benakku — aku pasti melupakan sesuatu; aku pasti melewatkan sesuatu yang penting tentang Mafuyu. Meski begitu, aku tidak tahu apa itu. Hingga saat ini, aku merasa kalau aku mulai memahami sebuah hal, namun perasaan tersebut ditelan semua oleh awan mendung khayalan yang berada di dekat gadis itu. Kupaksa tubuhku untuk bergerak, serasa basah kuyup, aku pun berjalan kembali menuju kelas.


0 tanggapan:

Posting Komentar