SPS Jilid 1 Bab 6

==========================================================
Ane habis liburan, makanya gak ada menyentuh proyek satu pun...
Sesuai janji, ane bakal hidupkan lagi seri yang lama gak ane sentuh...
Ini seri yang bagus kok, ane rekomendasikan deh... Supaya menyegarkan ingatan tentang cerita seri ini, bisa agan sekalian baca kembali jilid-jilid sebelumnya di tautan rumpunan ini...
Mungkin ada yang merasa kalau gaya tulisan di seri ini weaboo banget, di samping sebagai pembeda, ini juga sebagai tantangan buat ane menulis dengan gaya ke-Jepang-an...
Selamat menikmati....
==========================================================


Bab 6 - Pemakaman, Rapat, Dana


"Jadi katamu, kamu berpapasan dengan Kagurazaka-senpai?"

Di pagi yang baru, di dalam ruang kelas, Chiaki memandang wajahku sambil menanyakan hal itu.

"Begitu, deh," jawabku dengan nada kesal. "Meski rasanya lebih tepat kalau dia yang menungguku daripada dibilang berpapasan."

"Terus ..., kamu jadi bergabung dengan klub?"

"Kenapa kamu pikir aku mau bergabung?!"

"Karena senpai itu ... orang yang pasti akan mendapatkan apa saja yang diinginkannya.”

Kagurazaka-senpai mengatakan hal yang sama menakutkannya padaku sewaktu di lapangan kemarin. Di depan ruang latihan, sambil jarinya menunjuk padaku, ia berkata, Kalau itu memang sesuatu yang kuinginkan, apa saja akan kulakukan untuk mendapatkannya, baik dengan cara jujur ataupun curang. Tidak peduli apa itu Ebisawa Mafuyu, ruangan ini, ataupun dirimu.

Sesudah ia mengatakan hal itu padaku, barisan sonata lagu berkabung gubahan Chopin terdengar dari ruang latihan, dan kebetulan berada tepat pada bagian akhir di mana angin topan mengamuk di pemakaman — untuk sesaat, aku merasa seperti akan mati.

Berhenti mengingatkanku akan hal-hal menakutkan! Meski sudah berusaha melupakannya, Chiaki justru membuat ingatan-ingatan itu kembali menyeruak di pikiranku.

"Aku pernah dengar ... kalau ia dulu sangat menginginkan sebuah gitar yang harganya satu juta yen. Karena itu ia bekerja di toko musik yang menjual gitar tersebut, dan ia pun berhasil mengetahui kelemahan ..., eh, berteman dekat dengan manajer toko, hingga akhirnya ia bisa memperoleh gitar itu secara gratis."

"Terus apa gunanya ada polisi?!"

"Kalau gitar itu saja bisa senpai dapatkan, sudah pasti Nao adalah hal mudah baginya."

Jadi maksudnya, aku tidak lebih berharga dari satu juta yen, begitu?

"Bisa satu klub dengan orang macam begitu — aku benar-benar tidak paham jalan pikiranmu."

"Tapi Kagurazaka-senpai itu sangat keren!"

Hmm ..., ia mungkin kelihatan keren kalau kulihat dari jarak dua kilometer.

"Menikahi senpai bukanlah hal yang buruk, 'kan?"

"Terserah kamu saja! Tapi karena Jepang tidak mengakui pernikahan sesama jenis, menikah di Kanada saja sana! Betul, Kanada!" dan jangan pernah kembali lagi!

"Tapi baik senpai maupun aku sama-sama tidak bisa memasak. Kenapa Nao tidak ikut kami saja?"

"Kenapa aku harus ikut segala?!"

Saat mengatakan itu pada Chiaki, pintu belakang ruang kelas terbuka, dan Mafuyu masuk ke dalam. Bel persiapan kebetulan berbunyi di saat bersamaan, seolah mengingatkan semua anak bahwa mereka masih di ruang kelas. Gadis itu melirikku dari samping, lalu duduk di kursinya tanpa bersuara. Pada saat bersamaan, aku berdiri dengan kesal dan berjalan keluar dari ruang kelas.

Langkah-langkah kaki terdengar dari belakangku.

"Kamu ini kenapa?" tanya Chiaki sambil mengejarku.

"Aku mau ke toilet! Jangan mengikutiku."

"Aku dengar dari senpai ... kalau kamu dikalahkan Ebisawa-san, ya?"

Aku menghentikan langkahku. Bel dimulainya jam pelajaran pun berbunyi, dan murid-murid yang berkumpul di koridor serasa ditelan oleh ruang kelas mereka masing-masing. Pada akhirnya, yang tersisa di sini cuma Chiaki dan aku.

"Kamu tidak bisa langsung menganggap itu sebagai kekalahan.”

"Bukankah ia bilang kalau ... mereka yang tidak bisa memainkan alat musik tidak diperbolehkan mendekati ruang kelas itu ... makanya kamu melarikan diri. 'kan?"

"Kalau kamu pikir bisa memprovokasiku dengan ucapan semacam itu, kamu salah besar! Jangan meremehkan kurangnya motivasiku!" mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku, mau tidak mau aku jadi mengasihani diri sendiri.

"Nao tahu caranya bermain gitar, 'kan?"

"Ini tidak ada hubungannya dengan tahu atau tidaknya cara bermain gitar," dan yang lebih penting lagi .... Aku sudah membuang gitar yang dulu kugunakan, jadi untuk saat ini aku sama sekali tidak memiliki gitar.

"Tidak apa-apa kalau kamu mau berlaih dari awal lagi! Senpai sangat ahli dalam hal itu, jadi kamu bisa memintanya mengajarimu."

"Kalau memang begitu, kenapa tidak kamu minta saja senpai agar langsung mengajak Ebisawa-san bergabung ke band? Padahal ia tahu kalau Ebisawa-san sangat ahli dalam memainkan gitar, dan ingin sekalian mendapatkan ruang latihan itu sebagai ruang klub, ya 'kan?"

Aku sama sekali tidak merasa kalau hal itu ada hubungannya denganku! Aku cuma berharap mereka tidak menggangguku lagi.

Chiaki tiba-tiba membisu .... Sial, kelihatannya ia hampir mau menangis dan ingin menghajarku di saat yang bersamaan. Tapi kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?

"... apa kamu tahu alasan senpai mengajakmu bergabung? Apa kamu benar-benar berpikir kalau kamu cuma barang pelengkap setelah mendapatkan Ebisawa-san?"

Kata-kata Chiaki terdengar seolah ia memaksa itu keluar dari dalam mulutnya.

"... aku ... tidak ... tahu!"

Aku gemetar, dan mundur beberapa langkah. Punggungku membentur dinding koridor.

"Nao, kamu benar-benar bodoh! Di pemakamanmu nanti, aku akan bilang, Hidup Nao sangat membosankan!"

Ucap Chiaki sambil berlari kembali ke ruang kelas.

Dengan berat hati aku berjalan masuk ke toilet, lalu duduk di atas penutup toilet. Apa-apaan yang barusan itu?!

Bakal bagus sekali kalau aku tahu caranya bermain gitar, tapi ... itupun jika aku bisa mendapat motivasi diri setelah mendengar Mafuyu bermain gitar. Aku duduk di atas penutup toilet sambil merangkul lututku dengan kedua tangan. Suara bel pun terdengar. Aku tidak bergerak sedikitpun .... Ini adalah pertama kalinya aku membolos pelajaran ..., dan itu baru satu bulan sejak dimulainya tahun ajaran baru — bukankah itu terlalu dini? Ini langkah paling awalku menuju jalan menjadi anak SMA yang sama sekali tidak berguna!


Pada akhirnya, aku kembali ke kelas di jam pelajaran kedua. Aku adalah jenis orang yang suka menyerah di tengah jalan, aku pun tidak punya keberanian untuk pergi ke pusat permainan. Terlebih, jam pelajaran ketiga dan keempat adalah Olahraga — sungguh menakutkan jika berhadapan dengan gurunya kalau aku membolos.

Di separuh waktu istirahat makan siang, aku berjalan menuju ruang musik lama sambil berpikir kalau ada baiknya jika kuambil semua barang milikku dari sana. Tepat saat aku berjalan ke lapangan, aku bisa mendengar suara gitar; seolah suara itu mengaduk-aduk otakku. Jadi gadis itu memainkan gitar saat istirahat juga? Cih, kupikir sebaiknya aku datang lain kali saja. Tepat saat akan kembali ke kelas, pandanganku tertarik oleh sesuatu yang diletakkan di samping pintu ruangan. Itu ... kantung sampah yang berisi sampah yang tidak bisa dibakar. Kira-kira isi di dalamnya itu apa, ya?

Aku mendekati kantung sampah itu, dan mengintip ke dalam; kemarahan meledak dalam diriku. Di dalam kantung itu terdapat banyak CD — The Beatles, The Doors, Jimi Hendrix, The Clash — yang kesemuanya adalah koleksi berhargaku! Berani-beraninya gadis itu berbuat begini! Kudobrak pintu itu dengan paksa dan menghempaskannya. Suara gitar mulai menghujam telingaku, namun sesegeranya menghilang.

"... sudah kubilang, jangan masuk seenaknya!"

Mafuyu duduk di bantal di atas meja sambil memeluk gitarnya. Kedua alisnya naik saat mengatakan hal itu, tapi aku belum mau mundur.

Aku mengangkat kantung sampah itu dan dengan marah memprotesnya. "Apa yang kamu lakukan?"

"Kabinetnya terlalu kecil, jadi aku mengeluarkannya dari ruangan."

"Kamu pikir kumpulan CD ini milik siapa?"

"Kalau bukan milikmu, pasti tidak akan kubuang!"

Aku sangat marah sampai tidak bisa menjawabnya. Apa maksudnya itu!

"Oi, karena kamu bermain gitar, seharusnya kamu menghargai para perintis besar genre rock!" dan ia seharusnya menghargai barang pribadiku juga!

"Aku tidak mendengarkan musik rock atau apalah itu namanya. Aku juga tidak tahu apa-apa mengenai musik itu. Yang pasti barang-barang itu mengganggu pemandangan dan memakan tempat. Jadi cepat bawa pergi sana!"

Mafuyu lalu mendorong diriku yang masih terkejut ini agar keluar dari ruangan dan menutup pintu. Yang terdengar di telingaku selanjutnya adalah <Sonata Piano No. 12 di A♭ mayor> Beethoven. Lagu pemakaman lagi?! Ia sengaja, ya?! Saat itu, sebuat melodi cepat tiba-tiba muncul dalam pikiranku — untuk sesaat kuabaikan lagu pemakaman tadi dan memusatkan pikiranku .... Chuck Berry!

<Roll over Beethoven>.

Berani sekali ia mengatakan kalau kumpulan CD itu memakan tempat. Padahal ia tidak pernah mendengarkan CD-CD itu sebelumnya! Sudah kuhabiskan separuh kehidupanku yang membosankan untuk mendengarkan musik rock, tapi ia justru meremehkannya? Awalnya aku ingin memukul pintu ruangan itu dengan palu karena frustasi, tapi akhirnya aku pun mengubah pikiranku. Ada hal yang lebih baik yang bisa kulakukan dengan kedua tanganku.

Kupeluk kantung sampah itu sambil berjalan kembali ke ruang kelasku. Sambil menumpuk CD-CD itu di mejaku satu demi satu, aku mulai memikirkan bagaimana cara untuk mengalahkan Mafuyu .... Meski tentu saja, aku tidak benar-benar berpikir untuk memukulnya. Para anak lelaki dari kelasku pun berdatangan. "CD sebanyak ini mau kamu jadikan dagangan, ya?" "Wah, semuanya musik barat," aku tidak memedulikan mereka meski mereka mengatakan berbagai macam hal.

Apa yang harus kulakukan ...? Bagaimana cara memberinya pelajaran? Baiklah, akan kutunjukkan betapa hebatnya musik rock. Tapi, aku tidak bisa begitu saja memberi CD secara paksa padanya, jadi—

Akhirnya kutemukan juga album Chuck Berry dari tumpukan besar CD itu. Setelah memasukkan CD tadi pada discman-ku, lalu kupasang earphone ke telingaku.

Jam pelajaran siang hari itu pun kuhabiskan dengan mendengarkan lagu-lagunya.


Aku bergegas ke rumah sepulangnya sekolah, tapi karena lupa membuka pintu pelan-pelan, alhasil, CD-CD di rumah berjatuhan mengenaiku seperti tanah longsor. Kutumpuk baik-baik serakan CD itu kembali, lalu melepas sepatuku dan berjalan menuju koridor. Dari ruang tamu terdengar komposisi gubahan Bruckner.

"Tetsurou, ada yang mau kubicarakan denganmu!"

Aku membuka pintu ruang tamu. Tetsurou sedang duduk di sofa dengan laptop di lututnya, dan beliau sedang mengetik artikel dengan kecepatan tinggi, sampai menimbulkan bunyi hantaman keras pada kibornya — laptop itu sebentar lagi pasti rusak.

Dari speaker terdengar suara gebukan timpani, dan Tetsurou mengetik pada kibor sambil mengeluarkan bunyi *darararara* bersamaan dengan tempo musik yang terdengar — sepertinya beliau tidak tahu kalau aku sudah pulang. Karena itu, tanpa basa-basi kumatikan musiknya. Tersurou melorot turun dari sofa.

"Apa yang kamu lakukan, Nak? Hal yang paling membuat Ayah jengkel adalah saat simfoni terpotong di bagian ketiga — bukankah sudah pernah Ayah bilang sebelumnya?"

"Sebagai pria paruh baya yang sudah terpotong di bagian ketiga kehidupannya, apa kamu pikir pantas berbicara begitu?"

"Wah, Nao-kun, dari mana kamu memelajari balasan sekasar itu? Ayah jadi sedih ...," itu dari kritik-kritik pedasnya sendiri!

"Baiklah, sesekali harusnya kamu mendengar apa yang kukatakan, paham? Berhenti tiduran di sana, duduk yang baik — jangan bersimpuh di atas laptop! Apa kamu mau kalau itu sampai rusak?"

Seusai erangan marah dan serangkaian omelan, akhirnya aku berhasil membuat Tetsurou duduk di posisi di mana beliau bisa mendengarkanku.

"Apa ada yang ingin kamu diskusikan dengan Ayah?"

"Ya. Aku mau mengadakan rapat keluarga."

"Ada apa? Sekarang Ayah sedang tidak punya keinginan untuk menikah lagi! Tapi kalau dengan gadis seperti Chiaki, mungkin Ayah akan pertimbangkan."

"Berhenti berkhayal, dasar kriminal! Tidak akan lagi ada perempuan yang tertarik menikah denganmu! Dan bukan itu yang mau kudiskusikan!"

"Kalau begitu, apa yang mau kamu beli?"

Nada bicara Tetsurou tiba-tiba menjadi serius, dan itu membuatku lidahku tercekat selama beberapa saat karena kaget.

"Kamu ingin sesuatu, 'kan?"

"Eng ..., iya."

Aku duduk di sofa setelah menenangkan diri.

Pada dasarnya, akulah yang bertanggung jawab terhadap keuangan keluarga kami, tapi bukan berarti aku bisa menggunakannya sesukaku. Aku harus mengadakan rapat keluarga kalau ingin membeli sesuatu yang mahal.

"Aku ... ingin sebuah gitar."

"Bukannya sudah ada satu di rumah?"

"Sudah kamu rusak saat mengayunkannya sewaktu menonton pertandingan bisbol dulu! Apa kamu lupa?!”

Apa orang seperti beliau yang tidak menghargai alat musik ini, masih layak menjadi kritikus musik ...?

"... apa ini demi seorang gadis?"

Tiba-tiba Tetsurou menanyakan hal itu.

"Eh? A-apa?"

"Hanya ada satu alasan bagi seorang lelaki jika tiba-tiba menginginkan sebuah gitar. Supaya mereka bisa populer di kalangan para gadis!”

"Omong kosong macam apa itu? Minta maaf sana pada semua gitaris di seluruh dunia!"

"Ayah akan menolaknya kalau tidak kamu akui dengan jujur," aku tidak bisa berkata apa-apa. Kenapa sikapnya begitu menjengkelkan?!

"Memangnya kamu pikir berapa harga sebuah gitar? Untuk gitar yang biasa, bisa lima puluh sampai enam puluh ribu yen, 'kan? Sedangkan dari dana yang bisa kamu gunakan sesukamu, kamu hanya punya sekitar dua puluh ribu yen, ya 'kan?"

"Kenapa kamu sampai tahu persis mengenai hal ini?"

Aku merengut dan menenggelamkan diriku di sofa.

"Kenapa kamu tidak mencari uang sendiri! Cukup tulis beberapa artikel saja buat Ayah."

Tetsurou mendorong laptopnya yang ada di meja ke arahku.

"Tidak .... Aku tidak mau melakukannya lagi," kudorong kembali laptop itu. Aku pernah membantu Tetsurou untuk beberapa artikelnya sewaktu beliau sudah mendekati tenggat waktu. Awalnya kupikir kalau tidak mungkin artikel yang ditulis anak SMP bakal diterbitkan di majalah musik resmi, tapi sedikit tidak kusangka, ternyata editor benar-benar menggunakannya. Apa mungkin Tetsurou sudah sedikit menyuntingnya atau semacam itu? Omong-omong, apa majalah itu tidak apa-apa? Sejak saat itu, artikelku sering diterbitkan di majalah atau di sampul CD, dan Tetsurou akan memberikan royalti dari artikel-artikel itu.

Meski begitu, uang yang dihasilkan dari artikel itu tidak sepenuhnya masuk ke uang sakuku. Tetsurou bilang kalau tigapuluh persen adalah milikku, sementara tujuhpuluh persen akan digunakan untuk kebutuhan keluarga. Pernah kucoba sesekali memprotes dengan berkata, "Kenapa aku tidak bisa memakai semua uang penghasilanku?" dan dia menjawabnya dengan, "Karena Ayah pun begitu!" aku tidak bisa membalas jawaban itu. Alhasil, aku harus mengadakan rapat keluarga kalau ingin membeli sesuatu yang melebihi anggaranku.

Akan tetapi, aku tidak perlu mengadakan rapat keluarga seperti ini kalau aku kembali menulis artikel atas nama Tetsurou. Kalau begitu, apa yang harus kulakukan dengan majalah musik yang sama sekali tidak sadar kalau sudah menerbitkan artikel yang ditulis oleh anak SMP ...? Tapi andai aku menulisnya pun, butuh waktu dua bulan agar bisa menerima royalti; dan aku ingin sesegera mungkin membeli gitar itu supaya bisa latihan.

"Tanggapan-tanggapan dari artikel yang kamu tulis cukup bagus. Kamu memang mewarisi keahlianku — hebat sekali! Kebetulan sejak pagi tadi Ayah baru bisa menulis dua baris saja, jadi tolong bantulah sedikit!"

Kuharap beliau berhenti mengatakan hal semacam mewarisi keahlian begitu. Aku tidak akan pernah mau bantu menulis artikel lagi!

"Kalau kamu tidak mau bantu, berarti harus kamu akui kalau kamu ingin membeli gitar supaya bisa populer di kalangan para gadis! Kalau tidak, Ayah tidak akan menyetujuinya."

"Kenapa kamu begitu keras kepala soal itu!"

"Karena dulu kamu sempat berlatih bermain gitar, tapi langsung berhenti begitu saja."

Aku memeluk bantal dan terdiam. Ucapan Tetsurou terkadang selalu tepat sasaran, bahkan di antara lelucon-leluconnya — kurasa itu pasti kebiasaan paling buruk miliknya.

"Memang benar, tapi ...."

"Itu sebabnya, jika seorang lelaki melakukan itu karena ingin populer di kalangan para gadis, maka bukanlah masalah! Akui saja. Soalnya saat ini kamu harus meyakinkan hatimu. Bila kamu menyerah ditengah jalan, seumur hidup kamu tidak akan punya pacar!"

Kata-kata barusan terdengar konyol, tapi entah kenapa juga terasa begitu meyakinkan. Aku hening sejenak, merenungi yang baru saja dikatakannya. Demi gadis, ya — semua ini awalnya memang gara-gara Mafuyu, tapi lebih pada alasan di mana aku ingin memberinya pelajaran ...?

"... baiklah. Aku ingin bermain gitar supaya bisa populer di kalangan para gadis. Jadi, cepat setujui!"

"Wuaah, sampai bisa mendengar kalimat konyol seperti itu dari mulut Nao-kun — Ayah jadi sangat sedih~"

"Tetsurou, kamu tidak pantas mengatakan itu!"

Aku marah dan melemparkan bantal ke Tetsurou, tapi tidak kusangka beliau mengambil laptop dan menggunakannya sebagai tameng seranganku.

"Cuma bercanda! Jangan lupa pakai namaku saat membayar, kalau tidak, mereka tidak bisa meminta bayarannya padaku."


Kemarahanku mereda setelah aku melempar koran-koran dan pisang yang separuh dimakan ke arah Tetsurou. Aku kembali ke kamarku dan merenung sambil tiduran di kasur.

Sebelum ini aku memang tidak pernah punya alat musik yang cukup layak digunakan. Toko CD musik pun sebenarnya juga memajang beberapa gitar, tapi aku tidak berniat mendapatkan barang yang kurang meyakinkan. Meski begitu, rasanya tidak nyaman jika aku mencari toko alat musik di jalanan dengan sungguh-sungguh begini. Kalau bisa, aku ingin mencari gitar yang harganya murah.

Setelah merenunginya beberapa saat, teleponku berbunyi — ternyata nomor Chiaki. Kalau aku berbicara dengannya soal keinginanku membeli gitar, ia pasti akan membuatku bergabung ke Klub Riset-Was-Wes-Wos itu, jadi untuk saat ini aku tidak akan membahasnya.

"—Nao? Jam sebegini masih terlalu cepat untukmu berada di rumah, dasar pengecut."

"Apa hubungannya? Oh, iya, ada hal ... yang ingin kuminta bantuan darimu."

"Bantuan? Memangnya ada apa? Akan kudengarkan, tapi sebagai gantinya kamu akan bergabung dengan klub kami."

"Tidak akan. Begini, apa kamu tahu toko alat musik yang cukup bagus?"

"Toko alat musik? Kenapa?"

"Untuk membeli alat musik, lah. Aku mau membeli gitar."

Aku jadi sedikit menyesal, tapi tetap saja kukatakan alasanku padanya. Sudah kuduga, ia begitu ingin tahu penyebabnya.

"Kenapa, kenapa? Apa kamu memimpikan seseorang? Eric Clapton?"

Aku tidak sama dengannya! Dan juga, Clapton masih hidup!

"Jangan-jangan ... ini soal ucapan Ebisawa-san padamu tempo hari, ya?”

Sejenak aku tidak bisa berkata apa-apa.

"Ah! Kok diam? Benar, ya~"

"... bukan begi—"

"Ehh, Nao dan Ebisawa—"

Kami berdua kembali menelan perkataan kami di tengah-tengah kalimat pada saat bersamaan. Kesunyian sejenak mengikutinya. Bisa kudengar pengumuman kedatangan kereta dari teleponnya — apa mungkin ia menelepon dari stasiun selagi dalam perjalanan pulang atau semacamnya? Chiaki akhirnya berkata.

"Baiklah, mumpung sekarang aku dalam perjalanan pulang, bagaimana kalau pergi bareng?"

"Eng ..., kamu tidak harus ikut. Katakan saja tempatnya, biar aku ke sana sendiri."

"Ah, tidak apa-apa. Aku sudah jadi pelanggan di sana, jadi akan lebih murah kalau kita bareng-bareng ke sana."

"Terima kasih, tapi ...."

"Oh! Keretanya sudah datang. Sampai ketemu lagi di stasiun."

Ia menutup teleponnya sebelum aku sempat mengutarakan pikiranku. Entah kenapa, suaranya terdengar sedikit parau. Aku jadi sedikit tidak nyaman, tapi aku tetap mengambil lima puluh ribu yen dari amplop yang berisi uang untuk kebutuhan keluarga dan memasukkannya dalam dompetku sebelum berjalan keluar rumah. Sebelum naik ke sepedaku, kuletakkan tangan ini di dada dan memastikannya sekali lagi ....

Masih terasa hangat. Ini bukan sekadar keinginan sesaat.


Untuk mencapai toko alat musik yang Chiaki tunjukkan padaku, kita harus keluar dari pintu masuk utara stasiun kereta, lalu berjalan turun melalui jembatan hingga mencapai landasan tangga di ujung. Setelah berjalan menuruni tangga, toko tersebut terletak tepat di persimpangan jalanan pertokoan dan daerah pemukiman yang cukup sepi. Toko itu diapit di antara dua bangunan besar dan agak terlihat seperti punggung buku yang tipis. Sebuah papan nama bertuliskan Toko Musik Nagashima terpasang di atas pintu masuk. Toko itu memang sedikit sempit, tapi temboknya didekorasi dengan gitar-gitar di kedua sisi, mulai dari lantai dasar hingga atap — yang membuat toko ini terlihat cukup mengintimidasi. Musik yang diputar di toko tersebut biasanya bergenre heavy metal dari Eropa Utara, yang menambah aura intimidasinya.

Chiaki berkata padaku sebelum memasuki toko, "Aku pelanggan di toko ini, jadi kalau kamu pintar menawar, kamu pasti mendapatkan harga murah dan memuaskan," aku sendiri tidak punya pengalaman dalam hal tawar-menawar, jadi aku tidak merasa terlalu percaya diri mengenai hal tersebut.

"Tapi, kenapa kamu mau bermain gitar lagi? Padahal tadi pagi kamu masih tampak tidak bersemangat."

Ujung-ujungnya ia tetap bertanya.

"Hmm— tiba-tiba saja aku merasa ingin bermain gitar."

"Kamu pikir aku baru mengenalmu kemarin? Kamu bukan tipe orang yang melakukan hal secara tiba-tiba begini, tapi ... terserahlah. Halo~"

Chiaki menggandeng tanganku lalu berjalan masuk ke toko. Bahkan di lantai dasar pun dipenuhi gitar-gitar yang disandarkan di dudukan pajangan. Aku berjalan melewati gitar-gitar itu dan berjalan masuk. Akhirnya, kami pun sampai di loket di antara tumpukan CD dan lembaran partitur – entah kenapa, perasaan nostalgia menghinggapiku.

"Apa manajer tokonya ada?"

Saat Chiaki mengatakannya, seorang pria berjalan keluar dari pintu belakang loket. Rambut berantakannya disisir begitu saja ke belakang. Padahal ia masih muda, tapi wajah capeknya itu terlihat cukup menyedihkan — bagaikan kentang yang ditelantarkan selama tiga minggu setelah diunduh dari ladang.

"Oh, Chiaki. Maaf, tapi aku sedikit sibuk sekarang ...."

"Yah, maaf, tapi anak ini cuma pengunjung biasa. Ia mau membeli gitar."

Saat Chiaki bermaksud menarikku ke depan pemilik toko, seseorang muncul dari pintu belakang loket.

"Pak Manajer! Senar-senar yang ada di stok sama sekali tidak sesuai— hmm?"

"Eh? Hari ini Senpai kerja?"

Aku tercengang selagi berdiri di antara Chiaki dan loket. Kagurazaka-senpai mengenakan celemek kerja berwarna hijau — dengan logo toko tercetak di sana — dan di tangannya memegang sebuah buku catatan. Bagaimana bisa? Kenapa ia ada di sini?

"Ah, rekanku Aihara. Kami sedang mengecek persediaan kami hari ini, tapi tiba-tiba kami kekurangan tenaga bantu. Omong-omong, kita bertemu lagi, Shounen. Bagus sekali. Cepat buat keputusan dan bergabunglah ke klub, oke?"

"Eng ..., ah, tidak .... Eh, kenapa?"

Aku jadi ingat kalau Chiaki pernah bercerita padaku kalau senpai bekerja di toko musik supaya bisa memperoleh gitar .... Jadi tempat ini yang ia maksud? Harusnya dari awal aku sudah tahu .... Sial, aku terpedaya! Ini konspirasi!

"Tidak usah tergesa-gesa! Ini tokoku, jadi tidak perlu sungkan."

"Eng ..., ini tokoku ...," sedikit protes dari manajer toko.

"Toko milik Manajer, toko milikku juga, 'kan? Omong-omong, jumlah senar untuk Martin Extra di stok sama sekali tidak sesuai. Apa Manajer menaruhnya di tempat lain?"

"Ah, tidak, mengenai itu ..., aku tidak tahu kalau supervisornya sedang tidak ada!"

"Manajer, kamu memang tidak bisa diandalkan ...."

Manajer toko itu terlihat seperti akan menangis.

"Kalau begitu, apa boleh buat. Shounen, aku punya waktu luang, jadi akan kubantu kamu dalam memilih. Apa yang kamu butuhkan?"

"Eh? Ya-yah, aku tidak ingin membeli apa-apa," sesegera itu juga aku berbohong.

"Ia ingin membeli gitar. Apa saranmu, Senpai?"

Potong Chiaki. Meski tidak ada gunanya aku mencoba tetap berbohong.

"Hmm. Berapa uang yang kamu punya, Shounen?"

"Yah ...."

"Oh, cukup banyak juga! Sekitar lima puluh ribu yen."

"Jangan ambil dompetku seenakmu! Dan jangan seenakmu juga melihat isinya!"

Kurebut kembali dompetku dari tangan Chiaki.

"Lima puluh ribu, ya .... Kamu hanya bisa membeli barang murahan dengan uang sebanyak itu di toko ini, tapi uangmu itu akan terbuang percuma."

"Jangan bilang begitu ...," jawab manajer toko sambil merengut. Aku memang tidak tahu siapa namanya, tapi aku mulai mengasihaninya.

"Shounen, bagaimana kalau begini? Kita akan bermain jan-ken-pon. Kalau kamu menang, akan kujual sebuah gitar seharga seratus ribu yang masih disimpan di gudang dengan separuh harga. Kalau aku yang menang, akan kupilihkan sebuah gitar yang sesuai dengan anggaranmu. Bagaimana?"

"Tunggu sebentar, Kyouko-chan. Kenapa kamu sampai selancang itu?" manajer toko itu kebingungan.

"Senpai bilang setengah harga, ya .... Memangnya tidak apa-apa?"

"Jangan khawatir. Tertulis dengan jelas pada bab pertama Das Kapital: Orang-orang menjual tenaga fisik mereka pada pembeli, bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi sang pembeli, namun untuk memperbesar modal pembeli."

"Aku tidak begitu paham ...."

"Sederhananya, hampir semua alat musik di toko ini dijual dengan harga yang terlalu tinggi, jadi kami masih akan untung meski aku menjualnya separuh harga."

"Kyouko-chan ...," manajer toko itu hampir menangis.

"Manajer toko ini mengganggu sekali. Jan-ken-pon-nya kita mainkan di luar saja, yuk. Shounen, Kamu jadi terima tantanganku, tidak?"

Kagurazaka-senpai menggenggam tanganku dan menarikku keluar toko.

Meski sangat menyedihkan bagi si manajer toko, tapi yang dikatakan Kagurazaka-senpai tadi cukup masuk akal. Atau lebih tepatnya, terlalu bagus untuk jadi kenyataan, soalnya aku tidak dirugikan sedikit pun.

"Kalau harga dari menjual murah sebuah gitar adalah aku harus bergabung dengan klub, lebih baik aku pulang saja."

"Tidak perlu bagiku sampai memberi syarat segala, kamu tahu? Lagi pula, tidak pernah terpikir olehku bakal kalah dari pecundang sejak lahir sepertimu," sial, ia benar-benar blakblakan.

"Baiklah, aku mengerti. Kamu akan menjual gitar yang pantas padaku tidak peduli hasilnya, 'kan? Kamu tidak akan memberiku barang cacat atau semacamnya, 'kan?"

"Tentu saja! Aku bersumpah demi nama dan reputasi toko ini!"

"Yah ..., baiklah."

"Siap? Aku akan sedikit mengalah padamu."

Kagurazaka-senpai sekilas tersenyum puas dan menunjukkan sesuatu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Itu adalah ... pick gitar. Eh? Telunjuk dan jari tengah?

Itu artinya ia tidak akan mengeluarkan ken? Eh, tunggu .... Apa itu jebakan? Ia mengecohku agar aku jatuh dalam jebakan? "Jan—ken—pon!" bersamaan dengan suara senpai, aku langsung mengeluarkan 'jan'.

Jari-jari senpai terbuka membentuk ponpick-nya terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah.

"... Shounen, kamu orang yang cukup jujur."

Ia mengelus kepalaku dengan lembut. Licik! Sebenarnya, ketimbang menuduh senpai licik, haruskah aku menyalahkan diriku sendiri karena mudah terjebak perangkapnya? Sewaktu senpai menunjukkan senyum kemenangan di wajahnya, bisa kulihat manajer toko menghela napas lega di belakangnya.

"Baiklah kalau begitu ..., aku akan pergi ke gudang untuk mencari gitar yang sesuai dengan anggaranmu."

Aku sedikit menenangkan diri dan berjongkok di tempat. Chiaki mendekat ke sampingku dan berkata.

"Nao lemah sekali, ya."

"Berisik ...."

"Kamu sudah kalah duluan saat menerima tantangan senpai tadi."

Aku mengangkat kepalaku, dan setelah melihat senpai mengambil gitar abu-abu metalik keluar dari gudang, akhirnya aku mengerti yang dimaksud Chiaki.

"Ini Aria Pro II seharga lima puluh empat ribu enam ratus yen, sudah termasuk pajak. Yah, untuk pembulatan, kuberi harga lima puluh ribu saja."

"Eng ..., kok senar empat?"

"Hmm? Masa kamu tidak tahu? Ini bas. Senar bas lebih sedikit dari gitar biasa, dan nadanya lebih rendah satu oktaf."

"Bukan, aku sudah tahu itu. Maksudku, kenapa Senpai malah menjual bas padaku?"

Aku ke sini untuk membeli gitar!

"Bas termasuk keluarga gitar, 'kan?"

"Eng ..., yah, tapi—"

Chiaki meletakkan tangannya di bahuku dan berkata.

"Karena Klub Riset Musik Rakyat kekurangan pemain bas — itu alasannya. Kamu paham sekarang?"

Butuh waktu dua detik bagiku untuk paham, sebelum aku terkejut menyadarinya — aku sudah jatuh dalam perangkapnya. Sejak awal, niat gadis itu adalah supaya bisa memilihkan gitar yang akan kubeli, itu sebabnya ia menjanjikan kalau aku akan mendapatkan gitar tidak peduli apa hasilnya. Orang yang tidak menyadari rencananya ... hanyalah diriku seorang.

"Tung-tunggu ...."

"Aku tidak tertarik mendengar kata-kata dari pecundang. Butuh nota?"

Ucap Kagurazaka-senpai sambil sekilas tersenyum. Ternyata ia juga punya sisi manis—

"Aku tidak pernah berpikir ingin memainkan bas ...."

"Yah, kamu juga tidak begitu bisa menguasai dasar-dasar bermain gitar, 'kan?"

Protes lemahku segera ditolak senpai.

"Lagi pula, kamu ingin menantang Ebisawa Mafuyu dengan gitar, 'kan?"

"Uh ...."

Untuk beberapa saat aku tidak bisa berkata apa-apa.

"Gadis itu bisa memainkan gubahan Chopin dan Liszt hanya dengan sebuah gitar. Shounen, dilihat dari kemampuanmu sekarang, tidak ada kesempatan bagimu untuk menang dengan gitar!"

Bukan berarti aku bermaksud menantangnya atau semacam itu, hanya saja—

"Akan tetapi, kamu bisa menang kalau menggunakan bas."

Kagurazaka-senpai menyodorkan bas berat itu ke tanganku—

"Akan kumenangkan dirimu."


0 tanggapan:

Posting Komentar