SPS Jilid 1 Bab 1

==========================================================
SPS (Sayonara Piano Sonata), sewaktu ane baca LN ini, rasanya seperti Beck, Nodame Cantabile dan White Album 2 dikemas menjadi sebuah drama remaja yang begitu menarik untuk diikuti... Ane sampai kesengsem sendiri bacanya... Terima kasih pada agan Tony Yon, yang bersedia terjemahannya di-share ke blog ini... Kebetulan ane jadi penyunting di seri ini...
Lanjut ke catatan terjemahan ... Melodi dari Ah! Vous dirai-je, Maman (Ah! Haruskah kuceritakan, Bu) adalah melodi yang sama yang digunakan untuk lagu Twinkle, Twinkle, Little Star dan Alphabet Song...
Sekadar info, untuk Jilid 1 ini ane post per Bab, karena gak terlalu panjang amat dan di Jilid 1 ini ada 20 Bab (Bayangkan saja kalau dibuat per Bagian)...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Toko Swalayan di Akhir Dunia


Seiring jendela-jendela kereta yang hanya terbuka sekitar lima senti, semerbak aroma laut perlahan sudah merambat masuk.

Kala itu tepatnya Minggu saat tengah hari, dan tidak ada lagi penumpang selain diriku di kereta ini. Akan ada banyak pengunjung yang datang ke pantai ketika libur musim panas. Tapi di awal April seperti sekarang ini, masih ada cukup lama waktu hingga pantai kembali ramai didatangi. Karenanya, mungkin hanya anak SMP saja yang berlibur ke pantai di musim semi begini .... Termasuk diriku.

Kereta bergerbong dua ini berderu melewati tikungan lambat. Tembok dari pengunungan dan hutan bambu tiba-tiba lenyap dari pandanganku, lingkup pandangku meluas bersama dengan aroma laut yang semakin tajam. Rangkaian atap kereta serta pemandangan air laut bercorak tembaga tua itu menggelap di bawah langit yang mendung.

Kereta itu bergoyang lalu berhenti di sebuah stasiun kecil.

Kuambil ranselku dari rak bagasi. Saat berjalan ke peron terbuka, segera kulihat gundukan-gundukan kelabu di antara pegunungan hijau yang ada di kananku.

Aku tidak tahu kapan hal itu mulai ada, tetapi lembah yang di sana itu sudah berubah menjadi tempat pembuangan yang besar. Aku pun tidak tahu legal atau tidaknya tempat pembuangan tersebut, namun ada banyak truk dari berbagai penjuru yang datang untuk membuang alat-alat elektronik maupun mebel rongsokan ke sana. Sejenak waktu berlalu, tempat itu mendadak berubah sunyi. Begitu sunyi, hingga terasa seolah saat-saat itu merupakan lima belas menit sesudah akhir dunia
sebuah ruang yang terasingkan terbentuk karenanya. SMP tempatku bersekolah dulu berdekatan dengan pantai, lalu karena suatu hari secara tidak sengaja aku tersesat dan menemukan tempat ini, maka diam-diam kunamai tempat ini <Toko Swalayan Keinginan Hati>. Nama itu pernah muncul dalam sebuah novel, meski panjang dan sulit diucapkan, namun bukanlah masalah, karena toh, aku tidak berniat memberitahukannya pada siapa pun.


Ayahku memiliki pekerjaan aneh sebagai kritikus musik meski ini terdengar tidak sopan bagi kritikus lain, namun aku hanya mau menekankan alasan tentang tidak umumnya pekerjaan beliau bagiku. Karena hal tersebut, makanya rumahku dipenuhi dengan berbagai sound system, pita rekaman, CD, partitur musik, dan berbagai barang lainnya yang berhubungan dengan musik. Karena sudah tidak tahan, sepuluh tahun yang lalu ibuku lari dari rumah ini. Sedang aku, meski tidak memiliki rencana ataupun inspirasi kala itu, namun di malam saat aku berumur enam tahun tersebut, aku bersumpah pada diri sendiri kalau aku tidak akan pernah menjadi seorang kritikus musik.

Mari kesampingkan hal itu sejenak. Perlengkapan di rumah kami adalah barang-barang yang dipergunakan untuk bekerja, namun ayahku memperlakukannya dengan sembrono. Beliau merusak semuanya
baik pengeras suara, pemutar piringan maupun pemutar DVD. Karena jarang sekali ada yang membelikanku mainan saat masih kecil, jadi aku sering membongkari perlengkapan rusak tersebut, dan perlahan mempelajari cara memperbaiki serta merakitnya. Lalu kini, hal tersebut sudah jadi semacam setengah hobi bagiku.

Karena kebutuhan hobiku ini, maka setiap sekali dalam dua-tiga bulan aku mengunjungi <Toko Swalayan Keinginan Hati> yang berdekatan dengan pantai itu. Aku pergi menggunakan kereta bergoyang untuk mengumpulkan beberapa komponen berguna di sana. Saat berjalan sendirian di kumpulan rongsokan itu, aku merasa seolah-olah menjadi satu-satunya manusia yang tersisa di dunia ini, dan perasaan itu sendiri cukup menyenangkan.


Akan tetapi, bukan aku satu-satunya orang yang mengunjungi tempat pembuangan tersebut kala itu.

Saat berjalan melewati hutan dan menuju ke arah lembah, kulihat sebuah gunung yang terbentuk dari tumpukan lemari es dan mobil rongsokan yang akan terlihat meski dalam cuaca apa pun. Yang mengejutkan lagi, aku juga mendengar suara piano.

Pada awalnya, kukira kalau aku hanya asal dengar, tapi saat melangkah keluar dari hutan dan melihat ke timbunan rongsokan yang tepat di depan mataku ini, aku menyadari kalau suara piano itu bukan sekadar asal dengar. Paduan nada rendah dari bassoon terdengar seperti permukaan laut yang tenang .... Dan setelahnya, suara klarinet segera terdengar olehku.

Aku tidak tahu lagu apa itu, tapi kurasa aku pernah mendengarnya. Mungkin sebuah konserto piano abad kesembilan belas dari Negara Perancis. Tapi kenapa suara tersebut kudengar di tempat semacam ini?

Aku memanjat naik ke atap mobil bekas dan mulai mendaki timbunan rongsokan. Melodi piano itu berubah menjadi semacam sebuah musik mars. Pada awalnya, kupikir suara piano itu berasal dari radio yang masih menyala, tapi pemikiran itu pun lenyap dalam hitungan detik. Kedalaman suaranya tidak sama, itu pasti suara piano yang dimainkan secara langsung.

Aku melihat ke bawah sesampainya di puncak timbunan tersebut, dan pemandangan yang menyambutku begitu mengejutkan hingga membuat napasku tertahan.

Sebuah grand piano besar terkubur di antara rak piring dan ranjang yang rusak. Tutupnya memantulkan kilauan hitam seolah dicelupkan ke dalam air dan tersingkap keluar bagaikan sayap seekor burung. Di sisi sebelah piano, uraian rambut berwarna merah tua berayun seiring dengan keindahan suara instrumen itu.

Ternyata itu seorang gadis.

Gadis itu duduk di depan papan tuts yang miring disertai pandangan terpaku pada tangannya, alis panjangnya sedikit tertarik ke belakang. Bunyi melengking nan elok yang dimainkannya seolah bagai tetesan air hujan di penghujung musim dingin yang terpercik tetes demi tetes dari dalam piano.




Entah bagaimana aku mengenali wajahnya.

Wajah tegas dan kulitnya yang putih pucat itu bukan sesuatu yang umum di dunia ini, begitu cantik, hingga aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya; rambut merah tuanya berkerlap-kerlip bagai batu amber yang meleleh di bawah sinar mentari.

Aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi ... kenapa?

Aku tidak bisa mengingat namanya. Begitu pula dengan lagu yang dimainkannya.

Tidak ada orang lain lagi di sekitar sini, jadi harusnya yang kudengar hanyalah suara piano yang diiringi deburan ombak yang tersaring melewati hutan, lalu kenapa? Kenapa aku mendengar suara orkestra?

Langsung kusadari bahwa piano yang ada di bawahku ini mengeluarkan getaran dan sedikit suara setiap kali dipaksa memainkan nada rendah. Tidak hanya itu, sepeda yang terkubur di dalam reruntuhan di sana, peti kemas yang berkarat, layar LCD yang rusak, semuanya
semua saling beresonansi bersama piano itu.

Rongsokan yang terkubur di dalam lembah sampai ikut bernyanyi.

Namun gema musik tersebut menggerakkan ingatan-ingatanku akan orkestra yang diwakili nada-nada ini.

Mungkin itu hanyalah halusinasi pendengaranku, namun itu terasa begitu nyata.

Entah bagaimana aku tahu potongan musik yang dimainkannya, tapi sebenarnya lagu apa itu?

Kenapa
kenapa musik itu begitu menyentuh hatiku?

Barisan allegro terdengar bagai langkah tergesa yang mengalir ke muara luas di hadapan senja, di mana musik perlahan masuk ke adagio. Gelembung-gelembung not kecil dari dasar laut yang tidak terhitung jumlahnya menyeruak ke permukaan dan berangsur-angsur tersebar ke luar. Setelahnya, gemuruh orkestra kembali terdengar dari kejauhan, dan kali ini suara tersebut akan tetap lanjut beriringan—

Akan tetapi, musik itu mendadak terhenti.

Aku menahan napasku, dan menatap turun ke arah piano sembari terpaku di puncak timbunan rongsokan ini layaknya seekor kerang.

Gadis itu berhenti memainkan pianonya dan menatapku dengan pandangan tidak ramah.

Suara Orkestra yang tersamar, suara piano yang menggema, bahkan suara desiran angin yang melalui pepohonan
semuanya telah menghilang, membuatku sejenak berpikir bahwa kiamat benar-benar datang.

"... sudah berapa lama kamu berdiri di sana?"

Ia akhirnya bicara. Suaranya jernih seperti gelas anggur yang jatuh pecah ke lantai. Ia terlihat marah. Aku kehilangan pijakan, lalu terpeleset dari lemari es tempatku berdiri.

"Aku bertanya padamu, sudah berapa lama kamu berdiri di sana?"

"Eng, yah ...."

Aku akhirnya bisa bernapas setelah memaksa keluar suaraku.

"... mungkin sewaktu cadenza."

"Cadenza di awal?"

Dengan cepat ia berdiri. Rambut halus berwarna merah tuanya menjuntai dari bahunya. Saat itulah kusadari bahwa ternyata ia mengenakan gaun terusan berwarna putih.

"Jadi kamu mendengarnya dari awal?"

Mau bagaimana lagi! Terus, ia mau suruh aku apa? Melakukan tari suku Indian sambil berteriak-teriak agar bisa ia tonton? Perlahan kutenangkan diri ini sembari melihat wajah memerah dan rambutnya yang terkibar. Aku tidak berbuat salah, 'kan? Hanya saja, ia sudah datang lebih dulu daripada aku.

"Dasar cabul! Maniak!"

"Bukan, tunggu sebentar!" kenapa aku dituduh seperti itu?

"Kamu benar-benar menguntitku sampai ke sini!"

"Menguntit .... Oi! Aku ke sini hanya untuk mengumpulkan beberapa rongsokan!"

Segera seusai ia menutup tutup piano itu, ada sesuatu yang beresonansi bersamanya. Lalu, lemari es tempat aku berdiri bergetar hebat. Lemari es tersebut sedikit miring, kemudian meluncur ke bawah dengan membawa diriku.

Aku terguling menjauh dari lemari es yang miring dan kap mobil rusak itu, dan tertuju ke dasar lembah tempat piano berada. Bahuku menabrak kaki piano.

"... aduh!"

Tepat saat aku mulai berdiri, kusadari kalau wajahnya sudah tepat di depanku, dan mata biru lautnya menatapku serius. Aku terkejut dan tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa menatap bibirnya yang bergetar lembut bagai kelopak bunga kamelia.

"Kalau bukan untuk menguntitku, lalu kenapa kamu bisa ada di sini?"

"Eh? Ah, tidak, begini ...."

Ia mengerutkan keningnya. Kekuatan sihir misterius yang mengikatku agaknya sedikit melemah. Aku akhirnya bisa mengendalikan diriku, dan mulai mundur ke belakang sambil tetap duduk di tanah.

"Aku bilang, aku ke sini untuk mengambil beberapa komponen audio! Terkadang aku memang sering datang ke sini. Bukan mau menguntitmu."

"... sungguh?"

Kenapa juga aku harus berbohong? Lalu, apa gadis ini merasa kalau ia mungkin sedang diikuti seseorang?

"Pokoknya, segera pergi dari tempat ini, dan jangan bilang pada siapa-siapa kalau aku ada di sini. Kamu juga harus menghapus ingatan tentang musik yang kamudengar barusan."

"Bagaimana caranya ...."

"Kamu benar-benar ... tidak boleh ... mengatakannya!"

Matanya tampak berkaca-kaca, seolah bintang-bintang sedang berjatuhan dari langit. Saat melihatnya, aku pun jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi."

"Aku mengerti, aku akan pergi, kamu puas?"

Kuangkat ranselku ke bahu dan mulai memanjat timbunan rongsokan. Kemudian suara aneh sebuah mesin mendadak terdengar dari belakangku, dan yang mengikutinya adalah teriakan, "Ah! Yah!"

Saat kutolehkan pandanganku, kulihat sebuah tape recorder seukuran genggaman tangan ada di atas piano, dan benda itu mengeluarkan bunyi aneh. Mungkinkah selama ini ia merekamnya ...? Kaset di dalam tape recorder itu sepertinya berputar bolak-balik. Aku tidak tahan melihat wajah cemasnya saat ia terus menggenggam tape recorder itu. Aku berjalan mendekatinya lalu kucoba menekan salah satu tombolnya.

"... apa ..., apa ini rusak?"

Ia bertanya dengan suara tersedu-sedu sambil membuka tape recorder itu dengan hati-hati. Ia memperlakukannya seperti telur yang hampir menetas.

"Ah, jangan begitu. Kamu tidak boleh langsung membukanya seperti itu."

Ia segera berhenti membuka penutupnya. Aku meletakkan ranselku di piano, dan mengambil obeng. Matanya terbelalak melihat hal itu.

"... kamu mau membongkarnya?"

"Jangan khawatir. Akan kuperbaiki dengan hati-hati."

Saat kuambil tape recorder itu dari tangannya, kusadari kalau itu bukan tape recorder biasa, melainkan tape recorder dua sisi untuk merekam dan memutar kaset. Tidak hanya dapat memutar sisi A dan B secara bersamaan, tetapi juga dapat merekam secara bersamaan. Meski begitu, label yang tertulis di tape recorder tersebut memakai bahasa yang belum pernah kulihat sebelumnya, sudah pasti itu bukan bahasa Inggris.

"Bahasa apa ini?"

"Bahasa Hunggaria," jawabnya lirih. Ternyata itu buatan Eropa. Bisa kuperbaiki enggak, ya?

Setelah kulepas sekrup dan membuka casing luarnya, yang tampak di hadapanku adalah bagian dalam yang terbuat dari komponen-komponen yang kukenali. Standar Internasional benar-benar bermanfaat.

"Apa itu masih bisa ... diperbaiki?"

"Mungkin."

Kuturunkan penutup piano lalu menggunakannya sebagai meja kerja, kemudian perlahan kubongkar tape recorder itu. Seperti yang kukira, pita magnetiknya tertarik keluar dari kaset. Pita itu mencuat keluar dan mengumpul membentuk sebuah gulungan kusut, seperti halnya timun laut yang memuntahkan organnya. Karenanya aku membutuhkan waktu cukup lama untuk melepas kaset itu.

"... maaf, apa tape recorder ini sejak awal memang sudah rusak?"

"Eh? Ah, eng ..., kasetnya tidak akan berhenti berputar meski sudah selesai, jadi pitanya akan kusut kalau tombol stop tidak segera ditekan."

Jadi begitu, penghenti otomatisnya memang sudah tidak berfungsi.

"Ka-karena kamu tiba-tiba muncul, aku jadi lupa menekannya."

Jadi, lagi-lagi ini salahku? Mending beli baru saja sana.

"Apa tape recorder ini penting bagimu?" aku berkata begitu, karena ia masih menggunakannya meski sudah rusak.

"Eh?" ia menatapku dengan terkejut, lalu menundukkan kepalanya dan berkata, "Eng ...."

Hungaria, ya. Berarti gadis ini bukan orang Jepang, ya 'kan? Dari bentuk wajahnya, menurutku ia sepertinya orang keturunan campuran. Sembari memikirkannya, aku menggali timbunan rongsokan untuk mencari beberapa komponen, hingga akhirnya operasi bedah tape recorder ini selesai setelah komponen-komponen yang dibutuhkan itu ketemu. Tape recorder itu tidak akan lepas kendali lagi, baik saat memutar ulang maupun mempercepat kasetnya.

"Yak, selesai sudah."

"Eh ..., ah, eng," wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya.

Aku hampir menekan tombol putar untuk memastikan tape recorder itu bekerja dengan normal, namun tiba-tiba ia merenggutnya dari tanganku.

"Ka-kamu tidak boleh mendengarnya."

Ia ubah volume suaranya sampai ke yang paling kecil, lalu menekan tombol putar untuk memastikannya bekerja dengan baik.

"... te-terima kasih."

Ia peluk tape recorder itu erat-erat, dan berterima kasih padaku dengan suara lemah sambil menundukkan kepalanya disertai wajah memerah. Entah kenapa, aku juga jadi merasa malu, karena itu aku berpaling dan mengangguk.

Saat semua peralatan selesai kubereskan dan memasukkannya ke dalam ransel, tiba-tiba ia bertanya,

"Kenapa banyak sekali macam-macam barang yang kamu bawa?"

"Sudah kubilang, aku suka mengutak-atik mesin, itu sebabnya aku mencari berbagai komponen di tempat ini!"

"Memangnya ... itu menyenangkan?"

Pertanyaannya yang tiba-tiba itu membuatku bingung untuk menjawabnya.

"Hmm ..., aku tidak begitu yakin kalau memperbaiki mesin yang rusak adalah sesuatu yang bisa membuatmu merasa senang. Akan tetapi, semua orang tampak begitu bahagia ketika mereka mendapatkan kembali sesuatu yang mereka anggap sudah hilang."

Saat kami saling bertukar pandang, wajahnya kembali memerah, karena itu ia segera berpaling. Saat menatap wajahnya dari samping, muncul sebuah desakan untuk menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Kenapa kamu ada di sini? Atau yang lebih penting ..., Kamu siapa? Apa judul lagu yang kamu mainkan tadi? Lalu, Aku ingin dengar seperti apa musik yang sudah kamu rekam itu? Munginkah orkestra yang kudengar tadi bukan sekadar halusinasiku saja? Aku memikirkan semua hal tersebut, tapi mungkin ia akan kembali marah kalau aku benar-benar menyodorkan pertanyaan-pertanyaan itu padanya.

Ia meletakkan kembali tape recorder itu ke piano, lalu menggunakan rak sebagai pengganti tempat duduk dan mengarahkan pandangan pada kakinya. Aku ingin tetap berbincang dengannya, namun suasananya sudah tidak pas, dan aku tidak punya kesempatan berbicara. Lupakan saja, rasanya ia juga menganggapku sebagai seorang pengganggu. Mending pulang saja, deh.

Mungkin ketika nanti aku kembali ke tempat ini, aku tidak akan lagi bisa bertemu dengannya, ya 'kan? Atau mungkin ia kemari karena tidak ada piano di rumahnya? Aku memikirkan hal-hal tersebut sembari bersiap mendaki timbunan rongsokan. Tepat pada saat itu, suaranya datang dari belakangku,

"Eng—"

Aku menoleh.

Dari samping piano ia terlihat sedang gelisah. Kali ini ia tidak tampak marah, namun wajahnya memerah karena malu.

"Apa rumahmu dekat dari sini?"

Kumiringkan kepalaku.

"... enggak. Kira-kira dari sini empat jam jika memakai kereta."

"Jadi kamu mau ke stasiun sekarang?"

Ia langsung tampak lega saat kuanggukan kepala ini. Digantungkannya tape recorder itu di dekat pinggang, dan mulai mendaki lereng yang terbentuk dari rongsokan berukuran besar sembari mengikutiku.

"Jadi kamu juga mau pulang? Kalau begitu, aku tetap di sini saja, ya?"

"Tidak boleh! Jangan berhenti, tetap jalan!"

Apa-apaan itu ....

Dengan rasa kesal kuhindari timbunan rongsokan yang bergelombang itu, dan perlahan berjalan kembali ke hutan dekat lembah. Ia terus mengeluhkan tentang kakinya yang sakit dan bagaimana sewaktu ia hampir terjatuh, namun masih saja ia mau mengikutiku.

"Sebentar ...."

Kutolehkan pandanganku dan memanggilnya. Ia terkejut, dan terlihat gelisah dari jarak tiga meter di belakangku.

"A-ada apa?"

"Jangan-jangan kamu lupa jalan pulang, ya?"

Karena kulitnya lebih cerah daripada orang Jepang pada umumnya, terlihat sangat jelas ketika wajahnya memerah. Meski ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sepertinya tebakanku tepat. Mau tidak mau aku hanya bisa menghela napas,

"Yah, aku juga tersesat saat pertama kali ke sini."

Satu langkah keliru saat berjalan dari pinggir laut ke arah stasiun cukup untuk membuat seseorang tersesat.

"Ini bukan yang pertama. Mungkin ini sudah ketiga kalinya bagiku."

"Jadi kamu masih tidak bisa mengingat jalurnya meski sudah tiga kali ke sini ...."

"Sudah kubilang bukan begitu!"

"Kalau begitu, ya pulang saja sendiri."

"Uh ...."

Ia menggertakkan giginya dan menatap tajam ke arahku. Aku tidak punya pilihan selain berhenti berdebat dengannya dan berjalan keluar dari hutan tanpa berbicara. Saat dalam perjalanan, aku melihat truk berwarna ungu melewati kami, mungkin truk itu hendak ke sana untuk membuang rongsokan. Hutan kembali sunyi setelah truk itu pergi menjauh. Samar suara truk seiring gesekan ranting pohon, mengingatkanku akan keanekaragaman ensembel dari konserto piano kala itu.

Benar-benar sebuah pengalaman mengejutkan yang membuatku kehilangan napas. Akan tetapi, keajaiban tersebut mungkin tidak akan terjadi andai gadis ini tidak memainkan piano di tempat tidak biasa semacam itu. Aku meliriknya sambil terus berjalan ke depan.

Terus, kapan aku pernah melihatnya, ya? Mungkinkah ia teman yang tanpa sadar telah kulupakan? Kenapa juga ia tanpa malu bersikap seperti itu di depanku?

Tidak mungkin juga, 'kan?

Andai aku mengenal seorang gadis yang meninggalkan kesan mendalam seperti itu padaku, tidak mungkin aku bisa melupakannya.


Usai berjalan menuju kota kecil di antara gunung dan laut yang dipenuhi lereng serta jalur melandai, mendadak terlihat pemandangan rumah-rumah yang berjejer bersamaan dengan stasiun kereta. Hampir semua lampu penghias di jalur melengkung pertokoan sudah tidak lagi menyala, sementara, bangunan bertingkat empat yang merupakan peninggalan zaman Shouwa, sudah terpajang papan iklan Glico di atapnya. Terasa begitu nostalgia. Di kiri, rambu dengan logo JR beserta nama stasiun digantung di atas tempat yang tampak seperti rumah percetakan. Tidak ada lagi makhluk bergerak selain kami berdua, juga beberapa ekor kucing yang sedang mengais sisa-sisa makanan di depan pintu toko soba ini.

"Kita sampai."

"Aku sudah tahu."

Hanya itu yang dikatakannya sebelum menyerbu masuk pintu stasiun.

Aku berdiri terdiam di tempat, memikirkan kembali apa yang seharusnya kulakukan setelah ini, bahkan aku pun tidak bisa memanggil namanya. Apa boleh buat. Ini adalah perjumpaan pertamaku dengan dirinya, dan ia juga memintaku melupakan semua hal tentangnya.

Sebaiknya aku kembali saja mengumpulkan beberapa rongsokan.

Aku berpaling darinya, dan saat hampir pergi, seseorang berkata,

"Hei, yang di sana."

Suara itu berasal dari seorang polisi paruh baya yang berjalan keluar dari sebuah pos polisi kecil di seberang bundaran bus. Sepertinya yang dimaksud bukan diriku, deh. Gadis itu membatu, dan menoleh takut-takut. Polisi itu berjalan ke arahnya dan bertanya,

"Maaf, Anda ini Ebisawa-san, bukan?"

"... eh? Eng, yah ...."

Wajahnya memucat karena terkejut.

"Ah, benar. Bahkan pakaian Anda cocok dengan yang dideskripsikan. Keluarga Anda juga sedang mencari, 'kan? Tampaknya saat terakhir kali kabur dari rumah, Anda juga pergi ke suatu tempat di sekitar sini. Pokoknya, ikut dengan saya. Saya akan hubungi keluarga Anda."

Seorang gadis yang kabur dari rumah, toh .... Dan ternyata ini juga bukan yang pertama kali baginya, yah, lebih baik aku jangan ikut campur, deh. Saat kembali berjalan dan melewati polisi itu, aku merasakan ia sedang menatapku seperti hendak memohon pertolongan. Sial, ujung-ujungnya aku malah tetap menghiraukannya.

Tatapan berkaca-kaca dan penuh harap itu seolah berkata, Seumur hidup aku akan membencimu jika kamu tidak menolongku.

Tubuhku, berhentilah. Abaikan saja dirinya.

Namun sudah terlambat. Aku bukan manusia kalau memilih diam dan menghindar setelah melihat tatapannya itu.

"Eng ...."

Sambil bercucuran keringat kutatap polisi itu, dan hendak mulai bicara. Ia hampir membawa gadis itu ke pos polisi, dan saat menoleh, ekspresi di wajahnya seperti menunjukkan kalau ia baru saja menyadari keberadaanku.

"Saya rasa bapak salah orang. Gadis ini sedang dalam perjalanan bersama saya."

"Hah?"

Ekspresi polisi itu menjadi terlihat aneh, seolah tanpa sengaja ia mengunyah bekicot atau semacamnya.

"Cepat lepaskan. Nanti kami bakal menunggu lebih lama lagi kalau melewatkan kereta yang sebentar lagi datang."

"Ah, uh .... Hmm."

Ia segera pergi menjauh saat aku mengangguk pada pak polisi itu, lalu kami berdua dengan cepat berjalan menuju stasiun kereta. Aku tidak tahu apakah ia paham yang barusan kukatakan, tapi tidak ada artinya jika terus berada di sana.

Setelah membeli tiket dan melewati gerbang, kami melirik ke arah bundaran bus.

"Berhasil enggak, ya .... Omong-omong, andai kita tertangkap, kamu akan bekerjasama denganku, 'kan?"

"A-aku ...," gadis itu memegang tiketnya kuat-kuat, dan mengalihkan pandangannya dari wajahku. "Aku tidak minta pertolonganmu!"

"Baiklah kalau begitu, akan kutemui pak polisi tadi. Berbohong itu enggak baik."

Wajah gadis itu berubah merah dan terdiam tanpa kata. Meski begitu, ia memukul punggungku berkali-kali.

"Lain kali kalau kabur dari rumah, pilih tempat yang tidak bisa ditemukan oleh orang tuamu!"

"Bukan begitu! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan ...."

Jadi sepertinya akulah yang sok ikut campur urusan orang di sini. Apa mungkin ia sebenarnya membenciku? Hei, aku sudah menawarinya pertolongan!

Ia menahan kemarahannya, dan menatap tajam ke arahku, lalu berjalan menuju peron yang terhubung ke jalur Kudari. Ternyata arah pulangnya berlawanan denganku. Aku merasa sedikit lega, namun di saat bersamaan juga sedikit menyayangkannya.

Pada saat itu, stasiun memainkan musik yang menandakan kedatangan kereta. Musik yang sangat kukenal
<Dua Belas Variasi pada 'Ah! Haruskah kuceritakan, Bu'> gubahan Mozart.

"Ah ...."

Lampu bohlam di kepalaku tiba-tiba menyala. Aku ingat! Aku ingat siapa dirinya. Benar, bukankah pak polisi tadi bilang kalau marganya Ebisawa?

"Ebisawa ... Mafuyu?"

Ia sudah hampir dua langkah naik ke tangga, namun ia begitu tekejut hingga terdiam di tempat. Saat ia menoleh, wajahnya sudah memerah, dan kedua matanya terlihat bagai langit kelam berawan yang seolah segera menumpahkan hujan lebat.

Pantas saja ia tidak terasa asing bagiku
aku pernah melihatnya di sampul CD maupun di TV sebelum ini. Ia merupakan pemain piano berbakat yang menjadi pemenang termuda Kompetisi Piano Internasional yang dihelat di Eropa Timur saat masih berumur dua belas tahun. Penampilan perdananya kala itu juga mendapat tepuk tangan dari semua yang hadir. Ebisawa Mafuyu.

Gadis misterius ini telah merilis sejumlah album mulai dua setengah tahun lalu, namun ia menghilang dari dunia permusikan saat menginjak umur lima belas.

Dan sekarang, tokoh misterius itu berada tepat di depanku, memegang pagar pengaman dengan ekspresi hampir menangis.

"... kamu ... tahu siapa aku ...?"

Suaranya yang tergagap nyaris tenggelam oleh suara di persimpangan jalur kereta, namun tetap kuanggukan kepalaku sedikit. Bukan hanya tahu identitasnya, bahkan aku bisa mengingat semua judul lagu yang dirilis olehnya.

"Ya, aku tahu. Karena aku punya semua CD-mu, dan ...."

"Lupakan semuanya!"

"Eh?"

"Pokoknya, lupakan semuanya!"

Aku ingin mengatakan sesuatu, namun aku hanya bisa menatapnya berlari menaiki tangga, rambutnya yang merah tua terkibar di belakangnya. Tepat saat itu, suara *ding ding ding* yang merupakan tanda diturunkannya pembatas rel di persimpangan mulai terdengar di telingaku. Sejenak, aku hanya bisa berdiri terdiam dalam keadaan linglung.

"—Hei!"

Sebuah suara terdengar di sampingku. Aku menoleh, dan melihat sebuah siluet putih dari peron yang berlawanan. Kami bertukar pandang sejenak, lalu ia, Ebisawa Mafuyu, mengayunkan tangannya dan melemparkan sesuatu padaku.

Sebuah benda berwarna merah terlempar melewati jalur kereta. Kuangkat tangan ini dan berusaha menangkapnya, tapi benda itu mengenai pergelangan tanganku lalu jatuh dekat kakiku. Ternyata itu sekaleng cola.

Sebuah kereta kemudian melaju di antara kami.

Ia lalu masuk ke dalam, dan kereta itu meninggalkan stasiun setelah pintunya tertutup, meninggalkanku sendiri di peron. Kaleng cola itu menggelinding di lantai dan hampir terjatuh ke jalur kereta, tapi segera kuambil sebelum terlambat. Masih terasa dingin, mungkin ia membelinya dari mesin penjual otomatis di sana. Apa jangan-jangan ia membelikanku cola ini sebagai semacam tanda terima kasih?

Ebisawa Mafuyu.

Aku sudah mendengar semua CD-nya, meski tentu saja bukan aku yang membelinya. Semuanya diberikan pada ayahku secara gratis, karena beliau seorang kritikus musik. Setiap bulan koleksi musiknya bertambah sekitar beberapa ratus keping, tapi karya milik Ebisawa merupakan satu-satunya yang tidak pernah membuatku bosan saat mendengarkannya. Bahkan, urutan lagunya pun meninggalkan kesan yang dalam padaku. Kunikmati saat-saat menelusuri kilasan yang tidak disengaja dari ritme hangat di tengah melodinya yang jelas, mantap, dan tidak bernyawa itu.

Lalu kuingat kembali lagu yang dimainkannya saat di tempat pembuangan, harusnya lagu itu tidak ada di dalam CD-nya, 'kan? Jika lagu itu pernah kudengar dari CD, sudah pasti aku mengingatnya.

Sebenarnya apa yang sudah ia hadapi dan temui selama ini?

Ia bukan seseorang yang memainkan lagu segalau itu.

Kata-katanya terus terngiang di telingaku, Pokoknya, lupakan semuanya!

Kuambil kaleng cola itu, lalu duduk di bangku. Konserto piano yang membuat penasaran juga suara Ebisawa itu terus bergema di kepala hingga keretaku tiba.



Itulah yang terjadi padaku saat libur musim semi sebelum mulai masuk SMA, sebuah kebetulan yang sulit dipercaya.

Sesampainya di rumah, aku terus mengulang <Dua Belas Variasi pada '
Ah! Haruskah kuceritakan, Bu'> yang direkam oleh Mafuyu di CD-nya. Saat mendengarkannya, aku jadi teringat kembali kejadian saat itu, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menganggap semua itu hanyalah mimpi. Sebab tidak mungkin rongsokan-rongsokan itu bisa beresonansi dengan sebuah piano, dan tidak mungkin pula benda-benda itu mengeluarkan suara layaknya sebuah orkestra.

Satu-satunya hal yang bisa membuktikan kalau semua itu nyata adalah cola yang ia berikan padaku, yang kemudian menyembur mengenaiku saat kubuka tutupnya. Ya ampun, minuman berkarbonisasi itu benar-benar tidak boleh dikocok maupun dilempar. Seusai kulap lantai ini dengan kain sampai bersih, rasanya seolah sisa-sisa kepekaanku terhadap dunia juga ikut lenyap.

Meski ia menyuruhku untuk melupakan semuanya, tanpa disuruh pun pasti akan kulupakan. Aku ini orang yang sibuk, bahkan aku tidak bisa mengingat mimpi-mimpi yang kualami kemarin lusa.

Pada saat itu, jelas aku tidak menyangka bakal bertemu Mafuyu kembali di situasi semacam tadi.



7 tanggapan:

Wah,Project LN Baru ya??
Ane Baca Dulu...... I hope Great!
Thanks Gan!

Tenang saja gan, ini ane rekomendasikan banget, kok...
Kalau gak keren, gak bakal ane share...
Terima kasih kembali sebelumnya...

Sugoi na,,, *mata berkaca-kaca*

Atashi ne, LN ga daisuki, kyaaaaaa Arigatoooou~ #PLAK

ehehehe berasa keren pake bhs Nippon #digampaR

Kyaaaa bahagia sekali,, terimakasih banyak,,,, huwaaa huwaaa selama ini cuma baca yg versi RAW LN, sekarang ada yg versi bhs Indo, Arigatou ne~

terimakasih banyak,, semangaaaaaaat~

banyak LN2 Favorite~ yg majang di lappie hanya dgn mencoba mengerti dr bhs yg pas-pas'an

Terimakasih banyak~

*nunduk dalam2


dpt Link blog ini dr temen, sankyuu~

jg liat di AIA~

ARigatou~~~~~

Ganbatte kudasai ne~

mari tebarkan virus LN <3

Iya sama-sama gan...
Terima kasih atas dukungannya...

Tenang saja gan, berlanjut kok...
Sebenarnya Bab 4 sudah selesai, tinggal di-posting saja, sih...
Tapi secepatnya sore ini baru bisa ane pampang di sini...
Jadi, ditunggu saja gan...

Terimakasih, nambah lagi nih :D

<- Telat
Lama ga buka blog ini.. Rilisanya selalu di tunggu :)

Posting Komentar